
- Jangan pernah mendekat! Karena hal itu hanya akan membuatnya terluka –
-------------
Sebuah minimarket telah di buka, dan Rachel sudah tampak bersiap di meja kasir. Ia membereskan barang yang berserakan di atas meja tersebut, dan mulai mengikat rambut panjangnya. Ketika ada pelanggan masuk, Rachel serta rekannya yang tengah mengecek barang pun menyapanya dengan ramah.
Evan yang masih tak berani untuk menghampirinya itu pun hanya menatapnya dari luar minimarket tersebut. Dengan lekat ia menatap wajah Rachel dari luar, dan ingin rasanya ia menyampaikan kata maaf pada gadis itu, maaf atas sikapnya di waktu sekarang maupun di waktu lalu.
Ketika hari sudah siang, Evan membeli beberapa makanan untuknya. Setelah mendapatkan makanan, ia berniat untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Namun, sebelum ia pergi, dengan kebetulan rekan kerja Rachel keluar untuk menyimpan bucket kosong, dan saat itu juga Evan menghampirinya.
“Dapatkah kau membantuku?” Evan menyahut pada pria yang baru saja menyimpan bucket itu. “Bisakah membantuku untuk memberikan makan siang ini untuk gadis yang berdiri di meja kasir?” Tinjaunya lagi seraya memberikan plastik yang berada dalam genggamannya.
“Baiklah, aku akan memberikannya. Apa kau mengenalnya?”
“Tentu. Namun, aku tidak bisa memberitahu siapa aku, karena jika kau menyebutkan namaku, dia tidak akan mau menerima makanan ini.”
“Masalah pribadi, ya? Baiklah kau tenang saja.”
“Terima kasih.” Setelah mengucapkan hal itu, Evan langsung pergi menjauh dari tempat itu.
Rencana awal yang sebenarnya adalah ia ingin pergi menuju suatu tempat. Namun, saat bertemu dengan Rachel, semua rencananya berubah, yang pada akhirnya ia menghabiskan waktunya hanya untuk memandangi gadis itu.
Rachel yang mendapatkan bingkisan pun merasa kebingungan, sebenarnya siapa yang telah memberikan makan siang untuknya? Rekannya itu bahkan tak memberitahu nama orang tersebut, dia tak memberitahu karena dia pun tidak mengetahui nama orang itu. Meski begitu, Rachel merasa berterima kasih pada orang yang telah memberikan bingkisan tersebut kepadanya.
Saat hari sudah mulai sore, Rachel segera beralih pada pekerjaan yang lainnya. Ketika sore menjelang, ia akan berada di sebuah restaurant keluarga sebagai seorang pelayan seperti hari sebelumnya. Meski belum lama bekerja disana, Rachel sudah sangat di senangi oleh para pekerja di tempat itu akibat kerja kerasnya.
Keramahannya lah yang tidak di miliki oleh semua pegawai yang bekerja di tempat tersebut. Karena keramahannya juga yang semakin menarik para pelanggan untuk datang ke restaurant itu, dan sebagian pegawai mengatakan bahwa kecantikan Rachel lah yang mampu membawa peningkatan pada tempat itu.
Pujian itu sungguh membuat Rachel merasa tersipu. Ketika petang menjelang, restaurant akan semakin ramai, karena memang banyak orang yang menghabiskan waktu di waktu sore hari. Saat pelanggan baru datang, Rachel di minta untuk melayani pelanggan tersebut, karena yang lainnya pun tengah sibuk melayani.
“Selamat sore. Silahkan untuk memilih pesanan yang kalian inginkan.” Rachel meletakkan buku menu di atas meja tersebut, kemudian menarik note serta penanya dari dalam saku apronnya. Matanya terbelalak ketika menyadari siapa yang menjadi tamu saat itu.
“Evan, apa yang ingin kau makan?” Orang itu menyeru dengan mata yang masih menatapi buku menu di genggamannya. “Aku ingin memakan falscher hase, dan orangensaft. Bagaimana denganmu?”
Kenapa dia sudah berada di restaurant ini? Sebenarnya berapa banyak pekerjaan yang di ambil olehnya? Apa bayaran di minimarket itu tidak cukup untukmu memenuhi kebutuhanmu sendiri? Sehingga kau memiliki 2 pekerjaan yang berbeda dalam satu hari.
Tatapan Evan tidak teralihkan dari Rachel. Sedangkan Rachel, ia sendiri pun merasa tidak nyaman dengan tatapan yang tertuju padanya. Namun, ia sangat penasaran dengan gadis yang bersama dengan Evan saat ini, siapakah dia? Apa mereka memiliki hubungan yang spesial?
“Evan, kenapa kau melamun?” Tuturnya, dan hal itu akhirnya membuat Evan tersadarkan. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah buku menu, namun ia menjadi bingung untuk memakan apa.
“Gulaschsuppe?” Gumam Rachel. Lalu, Evan kembali menatapnya saat gadis itu menyebutkan makanan favoritnya.
“Baiklah. Tunggu sebentar! Aku akan kembali, dan membawa pesanan kalian.” Tuturnya seraya mengambil buku menu pada meja tersebut, lalu ia segera pergi meninggalkan meja itu.
Setelah memberikan kertas pesanan, Rachel kembali siap untuk melayani mereka. Saat seseorang memanggilnya untuk membawakan air mineral, dengan sigap Rachel membantunya, dan Evan terus memperhatikannya tanpa enggan untuk mengedipkan kedua matanya.
Saat pesanan telah siap, Rachel kembali di panggil untuk membawa pesanan yang telah ia berikan pada bagian dapur. Ia mendorong troli makanan, dan menghidangkannya di atas meja. Rachel sungguh bekerja dengan profesional, dirinya bahkan tidak mempedulikan bahwa pelanggan di hadapannya kini adalah Evan.
“Bisa bicara sebentar?” Sahut Evan yang tiba-tiba saja datang menuju meja kasir.
“Anda ingin bicara padaku?” Penjaga kasir merasa terkesima ketika melihat pria di hadapannya saat ini, namun, tidak dengan Rachel. Ia tampak tak peduli, dan masih memainkan gelas-gelas yang ada di dekat meja tersebut.
“Bukan. Aku ingin bicara dengan gadis ini.” Evan menunjuk gadis di sisinya. “Rachel, ikut aku sebentar!” Tanpa permisi, ia langsung menarik lengan gadis itu, dan memintanya untuk ikut keluar dari tempat tersebut.
Tidak ku sangka akan melihat sesuatu yang tidak terduga. Aku rasa, mereka memang saling mengenal satu sama lain. Namun tampaknya, ketua osis itu enggan mengakuinya.
Seseorang bergumam dari jarak yang tak jauh dari mereka. Sedangkan Rachel, ia langsung menghempaskan tangan Evan, dan meminta untuk tidak sembarang menariknya lagi. Dia sungguh tidak ingin terkena masalah di tempat itu, dia tidak ingin jika ia di keluarkan hanya karena tak menjaga sikapnya yang pergi tanpa izin dari managernya.
“Kau? Apa yang kau lakukan dengan tunanganku? Kau ini hanya pelayan, beraninya kau membawa tunanganku dari acara makan bersama kami.” Entah sejak kapan gadis itu tiba di luar. Namun, apa yang di ucapkannya adalah sebuah kesalahpahaman. “Tunggu, bukankah kau si gadis beasiswa itu?” Imbuhnya lagi.
“Elena! Hentikan ucapanmu! Yang kau ucapkan itu tidaklah benar. Lagi pula kenapa kau bisa keluar? Apa kau sudah menghabiskan makananmu?”
“Bagaimana aku bisa menghabiskan makananku jika kau pergi begitu saja?”
“Maaf. Alangkah baiknya aku permisi.” Rachel menyela, dan hendak berjalan meninggalkan mereka. Namun, langkah kakinya tertahan saat Elena menahannya. Kemudian, ia berdiri di hadapan Rachel dengan menatapnya tajam.
“Saat di sekolah aku tidak bisa memberimu pelajaran, karena saat itu Evan mengancamku dengan sebuah poin. Namun, ini bukanlah sekolah, dan aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberimu pelajaran.”
“Maaf nona, aku harus segera kembali bekerja, dan aku tidak ada waktu untuk meladenimu.” Sahut Rachel yang mencoba berjalan melaluinya. Melihat hal itu membuat Elena kembali jengkel, dan mendorong tubuh Rachel hingga terjatuh.
“Elena apa yang kau lakukan?” Timpal Evan dengan nada kesalnya. “Jika kau berbuat macam-macam padanya, maka aku tidak akan segan untuk memutuskan hubungan pertunangan kita!” Ancamnya lagi.
“Lihat saja pembalasanku nanti!” Elena yang kesal mendengar itu pun langsung meninggalkan mereka. Ia memutuskan untuk pergi menuju parkiran, dan menunggu Evan disana. Sadar bahwa Elena telah pergi, Evan pun berlutut di hadapannya, dan hendak membantunya bangun.
“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.” Pungkas Rachel yang langsung masuk ke dalam.
Ha Ha Ha tidak ku sangka jika aku benar-benar mendapat tontonan yang sangat menarik. Gadis itu memang sungguh luar biasa, dia bukan hanya berani menghadapiku, tapi dia berani melawan semua orang yang berani menindasnya. Jika gadis lain yang berada di posisinya sekarang, mungkin dia akan menangis serta mengadu, tapi tidak dengannya.
Orang tersebut masih saja memperhatikan kejadian itu. Namun, setelah melihat Rachel masuk ke dalam restaurant, orang itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung ...