Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 33



- Aku membutuhkanmu! Sama seperti halnya jantung yang butuh untuk berdetak setiap saat-


_________________________


Menanggapi pertanyaan Leon, Rachel hanya menggelengkan kepalanya dengan begitu santainya. Menyadari hal tersebut justru membuat Leon menggeleng frustasi. Ingin rasanya ia berteriak saat itu juga, dan melampiaskan semuanya pada gadis di hadapannya.


“Kau sungguh tidak mengingatnya?” Leon kembali memastikannya seraya menatap gadis di hadapannya, dan Rachel pun mengangguk pelan. “Baiklah. Kau belum memberikan jawaban atas pernyataanku ketika di atap tadi, Rachel. Pernyataan soal perasaanku padamu.” Kini, Leon menatapnya dengan gemas.


Astaga, ternyata dia mengingatnya, ya?


“Aku sudah memberitahumu. Jadi, jangan diam saja! Cepat berikan jawabannya padaku!” Sambar Leon dengan tak sabaran.


“Bisakah kau memberiku waktu? Aku membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya. Selain itu, hal tersebut sangat tiba-tiba untukku, dan...”


“... baiklah, aku akan memberimu waktu.”


“Terima kasih banyak, Leon. Aku akan pergi sekarang, sampai jumpa.”


Tanpa memedulikan Leon, dengan cepat Rachel berlari meninggalkan halaman belakang sekolah. Ketika berada di gerbang sekolah, tak sengaja ia berpapasan dengan Evan, pertemuan mereka seolah menjadi canggung sejak kejadian di atap.


Ingin rasanya Rachel menyapa pria itu, namun tampaknya, pria tersebut tidak menanggapinya. Sikap Evan bahkan seolah tidak melihatnya, dan dia kembali melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan keberadaan Rachel.


Rachel menatap punggung pria itu yang semakin lama semakin jauh, dan dengan sengajanya seseorang menyenggol bahu Rachel hingga membuat gadis itu merasa terkejut. Orang tersebut mengangkat kedua alisnya, hal itu seakan mengartikan ‘apa yang tengah di lihatnya?’, kemudian Rachel hanya menggelengkan kepalanya.


“Aku lupa, aku harus pergi.” Lagi-lagi Rachel kembali berlari, namun kali ini orang tersebut berhasil menahannya. “A-ada apa Leon? Aku benar-benar sudah terlambat!” Tambahnya lagi.


“Biarkan aku mengantarmu!” Leon menarik tangan gadis itu, dan membawanya masuk ke dalam mobil jemputan miliknya.


Ketika Leon membukakan pintu untuknya, Rachel tampak enggan memasukinya. Dia hanya merasa tidak pantas untuk duduk di dalam sana. Tidak memedulikan apa yang berada di pikiran gadis itu, Evan langsung mendorongnya pelan agar dia bisa segera masuk.


Setelah memastikan Rachel sudah duduk dengan tenang, Leon segera menyusulnya untuk duduk di sisinya. Kemudian, dia meminta supir pribadinya untuk mengantar mereka pada salah satu cafe, mendengar Leon berbicara pada supirnya membuat Rachel menatapnya dengan penuh kebingungan.


“Dari mana kau tahu bahwa hari ini jadwalku di cafe?” Rachel sedikit menyipitkan kedua matanya, dan Leon seakan bungkam mendengar pertanyaan tersebut. “Mengenai alamat, aku tidak akan mempertanyakanmu, karena kau pernah kesana sebelumnya atau jangan-jangan... astaga.” Dengan cepat Rachel menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.


“Apa? Apa yang kau pikirkan, hah?” Nada suaranya pun mulai terdengar begitu datar.


“Eeehh kenapa aku merasa bahwa kau selalu menguntitku, ya? Bisa jadi kedatanganmu dengan teman-temanmu itu hanya sebuah alasan agar bisa bertemu denganku ‘kan? Tidak ku sangka jika kau sudah menyukaiku sejak lama.” Rachel membenarkan duduknya, dia sedikit tertawa menanggapi ucapannya sendiri.


“Benarkah?” Rachel mencecarnya seraya menunjuk-nunjuk pipi Leon menggunakan jari telunjuknya, dan pria itu membalasnya dengan sebuah anggukan. “Baiklah jika seperti itu. Lalu, dari mana kau mengetahui jadwalku?” Lagi-lagi Rachel memberikan pertanyaan yang belum ia dapatkan jawabannya.


“Sudah sampai! Sebaiknya kau turun sekarang!” Ucap Leon yang merasa terselamatkan.


Reaksi itu membuat Rachel kesal, dia bahkan belum mendapatkan jawaban apapun darinya. Merasa sudah begitu terlambat, dengan cepat Rachel keluar dari mobil, tak lupa juga untuknya berterima kasih pada Leon sebelum turun dari sana.


Melihat Rachel yang berlari masuk melalui kaca mobilnya membuat sebuah senyuman terukir di bibir Leon. Pria yang sedang mengemudi tersebut memperhatikan sikap Leon saat ini, dia juga merasa sedikit senang akan tingkah majikannya itu.


“Tuan muda, apa kau menyukai gadis tadi?” Sahut pria yang tengah mengemudi seraya melanjutkan perjalanannya.


“Aku sangat menyukainya. Apa paman Stine tahu? Dia benar-benar gadis yang luar biasa.” Leon mengubah posisi duduknya yang semula berada di kursi belakang segera menyalip agar bisa duduk di samping pria paruh baya itu.


“Tidak ku sangka, ternyata tuan muda Leon sudah besar.” Tuturnya lagi.


“Tolong jangan katakan apapun pada orang tuaku mengenai hal ini ya paman! Aku masih belum merasa yakin jika mereka akan menyetujui hubunganku dengannya.”


Stine Drawn merupakan supir pribadi Leon, dia bekerja bersama dengan keluarga Leon sudah sejak lama, bahkan ketika Leon masih duduk di tingkat sekolah dasar. Orang tuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya membuat Leon selalu merasa kesepian, karena itulah sikapnya menjadi dingin, dan sulit membuka hatinya untuk orang lain.


Akibat kesibukan orang tuanya, sangat sedikit waktu yang dia miliki untuk sekedar pergi bersama dengan mereka, karena itulah Leon tidak begitu dekat dengan kedua orang tuanya, dan dia justru lebih dekat dengan supirnya saat ini.


Bagi Leon, Stine Drawn bukan hanya sekedar supir untuknya, dia menganggap pria paruh baya itu sudah seperti keluarganya, karena beliau lah yang selalu bersama dengannya, dan beliau juga yang selalu memperhatikannya selama ini. Bahkan tidak ada satu pun hal yang di sembunyikan oleh Leon pada pria yang berada di sisinya.


Di waktu yang bersamaan, dan di tempat yang berbeda. Denis, dan Liana tampak tengah berada di salah satu taman. Tidak ada yang di lakukan oleh keduanya, mereka hanya duduk di sana seraya menatapi orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya.


“Jadi, sejak kapan kau menyukaiku, Liana?” Denis menyahut dengan tatapan yang masih menatap ke depan.


“Hah? K-kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengetahuinya.”


“Kenapa? Apa kau menyesal sudah menerima perasaanku? Jika memang kau tidak bisa melakukannya, aku tidak akan mungkin memaksakanmu, Denis. Bila memang kau tidak menyukaiku, katakanlah yang sejujurnya, karena jika kau melakukannya dengan keterpaksaan, aku rasa tidak bisa.”


“Kenapa kau bicara seperti itu?” Denis menatapnya kebingungan.


Bersambung ...