Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 53



- Apa kau tahu apa yang memberiku kekuatan untuk melalui hari ini? Karena aku memikirkan bahwa akan kembali bersamamu di hari esok. –


____________________________


Sudah kehilangan mood makannya, Leon memutuskan untuk pergi ke ruang kelasnya, namun dia meminta Rachel untuk kembali melanjutkan makan siangnya. Rachel tidaklah egois, ketika tahu bahwa pria itu lebih memilih ke kelas, maka Rachel pun berjalan mengikutinya.


Sadar bahwa Rachel, dan Leon meninggalkan kantin tanpa makan sedikit pun, akhirnya Denis membelikan sesuatu untuk temannya, sedangkan Liana pun sudah memegang satu roti kesukaan Rachel beserta dengan susu strawberry kesukaannya.


Keduanya berjalan mencari keberadaan mereka, dan untunglah mereka berada di kelas, hingga tak membuat keduanya kesulitan untuk menemukannya. Denis duduk di meja depan Leon, namun dia memutar kursinya agar dapat menghadap ke arahnya, dan Liana memilih untuk berdiri seraya menyerahkan makanan yang di bawanya.


“Kau harus makan, Rachel! Jika kau seperti ini, maka paman, dan bibi pasti akan merasa sedih. Bukan hanya itu, mungkin mereka akan memarahiku.” Gumamnya, dan itu berhasil membuat Rachel tersenyum.


“Terima kasih, Liana.”


“Kau juga belum memakan apapun, aku membelikan roti yang sama dengan milik Rachel, namun aku tidak membelikanmu sekotak susu, aku membeli air untukmu.” Denis menyeru seraya menyerahkan makanan yang berada dalam genggamannya.


“Roti isi ikan tuna? Kau sudah berapa lama berteman denganku, Denis? Aku tidak menyukainya.” Tak menggubris makanan yang di berikan temannya, Leon kembali berkutik dengan pensil serta bukunya.


“Mau bertukar denganku? Punyaku roti dengan isi daging.” Dengan cepat Rachel menyodorkan roti miliknya ke arah Leon, dan Leon tampak menerimanya dengan senang hati.


Sikapnya sekarang benar-benar sangat sulit untuk di tebak. Aku rasa hanya Rachel seorang yang mampu menghangatkan hati serta perasaan Leon. Aku harap hubungan kalian akan berlangsung lama, aku tidak bisa bayangkan apa yang terjadi pada Leon jika hubungan kalian berakhir.


Walau terkadang merasa kelelahan dengan sikap temannya, Denis merasa bersyukur, setidaknya kali ini Leon memiliki seseorang yang bisa mengontrol emosinya. Selain ayah serta supir pribadinya, Leon tidak pernah mau menurut pada siapapun lagi.


Ayahnya tidak bersama dengannya, dan Stine juga tidak selalu berada di dekatnya, jadi hanya Rachel satu-satunya orang yang lebih sering bersama dengannya. Karena masih memiliki waktu istirahat, baik Leon, dan Rachel pun segera memakan makanan yang diberikan oleh temannya itu.


“Ini sangat enak.” Tutur Leon yang begitu menikmati makanannya.


“Itu hanya roti biasa saja, dan kau seperti orang yang baru pertama kali mencobanya.” Denis menggelengkan kepalanya ketika melihat wajah temannya.


“Roti itu diberikan dari tangan Rachel, tentu saja itu bukan roti biasa.” Kini nadanya kembali terdengar dingin ketika menenggak air minum yang berada dalam genggamannya, matanya sedikit melirik ke sisi kirinya, dan melihat Rachel tampak diam seraya memegangi lehernya, roti yang di makannya pun belum habis.


Dengan menutup botol yang baru di tenggaknya, Leon langsung memutar tubuhnya agar bisa menatap gadis di sisinya. Ada yang aneh dengannya, tiba-tiba saja wajahnya terlihat pucat, dan kulitnya sedikit mengalami ruam.


“A..ku p...perlu ke to..toilet.” Suaranya terdengar serak, dan gadis itu tampak kesulitan untuk bicara.


Meninggalkan roti yang belum habis di mejanya, Rachel mencoba berjalan melalui mereka semua, dan Leon masih begitu khawatir dengannya. Baru tiba di ambang pintu ruang kelas, tubuh Rachel tiba-tiba terjatuh, Leon yang menyadari itu pun langsung berlari ke arahnya, begitupun dengan Denis, juga Liana.


“Buka matamu, Rachel! Apa yang terjadi padamu sebenarnya?” Risaunya.


“Bawa dia ke ruang kesehatan saja!” Sahut salah satu siswa.


“Sejak kapan kalian peduli dengannya? Bukankah kalian senang melihatnya seperti ini?” Sahut Leon dengan tatapan dinginnya.


“Cepat bawa dia, Leon! Aku akan memanggil pembimbing yang bertanggung jawab atas ruangan kesehatan.” Denis menyahut, dia mencoba meleraikan keributan yang mungkin akan terjadi.


“Buatkan keterangan izin untukku, dan Rachel. Aku akan membawanya ke rumah sakit!” Tanpa menunggu jawaban dari temannya, Leon langsung menggendong gadis itu di punggungnya, tidak lupa juga dia meminta bantuan Liana untuk memasangkan blazer yang di kenakannya untuk di ikatkan pada pinggang Rachel.


Meminjam mobil yang di bawa oleh Denis, Leon langsung melajukan mobil tersebut menuju rumah sakit terdekat. Kali ini, perasaan khawatirnya sudah sampai ke ubun-ubunnya ketika melihat ruam di kulit Rachel semakin terlihat.


15 menit kemudian keduanya tiba, dan Rachel langsung di bawa untuk mendapatkan penanganan. Dokter mengambil sedikit darah dari gadis itu untuk mengujinya di laboratorium rumah sakit tersebut, karena melihat dari gejalanya dia seperti seseorang yang terkena alergi.


“Bagaimana keadaannya?” Leon menyambar ketika melihat salah satu dokter keluar dari ruangan dimana Rachel berada.


“Maaf, tuan muda Leon yang pergi bersama dengan gadis itu? Apa hubungan tuan dengan nona itu?”


“Haruskah kau mengetahuinya? Kau hanya seorang dokter, dan tugasmu memeriksa serta memberitahu keadaan pasien pada walinya. Katakan padaku, apa yang terjadi?” Sorotan matanya menajam dalam seketika, tidak peduli jika dokter di hadapannya memiliki usia yang lebih tua darinya.


“Maafkan kelancanganku, tuan. Kami sedang menguji darahnya di lab, dan membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit untuk mengetahui hasilnya. Sementara, kita sudah memberikan pereda nyerinya, namun...”


“.... apa? Katakan dengan jelas, dan jangan bertele-tele!” Sambarnya yang semakin tidak sabaran.


Bersambung ...