Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 39



- Bukan berarti orang yang sering tertawa itu tidak pernah menyimpan luka. Karena boleh jadi tawanya itu hanya sebuah pelarian dari rasa luka yang tengah di alaminya. –


_______________________________


Musim semi telah tiba, dan banyak juga yang menantikan musim tersebut, salah satunya Rachel. Tibanya musim semi dengan hari ulang tahunnya hanya selisih 2 minggu, namun entahlah apa yang harus di rasakan olehnya saat ini.


Biasanya orang tuanya akan membuat pesta kecil untuknya, dan mereka akan makan bersama di rumah dengan menikmati makanan kesukaannya yang di buat oleh tangan ibunya sendiri. Selain itu, dia akan mendapat hadiah dari ayahnya.


“Rachel, cepat kemari!” Suara pria baruh baya memanggilnya, dan setelah mendengarnya, dengan cepat Rachel berlari menghampirinya. “Astaga, tidak perlu berlari seperti itu, nak.” Tambahnya lagi seraya mengusap puncak kepala putrinya.


“Ha Ha Ha. Aku hanya terlalu bersemangat, ayah. Ada apa memanggilku? Ayah pasti mau memberiku hadiah bukan?” Rachel terkekeh seraya menyodorkan kedua tangannya dengan tangan terbuka.


“Ayah memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu. Ini untukmu!”


Pria paruh baya itu memberikan sebuah kotak pada putrinya, dan dengan senang Rachel menerimanya. Tanpa menunggu lagi, dia langsung membuka kotak tersebut dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya.


“Maafkan ayah hanya bisa memberikan itu untukmu!”


“Aaiish, apa yang ayah katakan? Syal ini akan berguna untukku, ayah tenang saja! Terima kasih banyak. Sebagai gantinya, aku akan masuk ke Sapphire Ocean High School, aku berjanji.” Rachel mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri. “Aku menyayangimu, ayah.” Sambungnya yang langsung memeluk ayahnya.


“Rachel, ajak ayahmu kemari. Makanan sudah siap, dan tolong bawakan pemantik api untuk menyalakan lilinnya.” Teriak wanita dari arah dapur.


“Ayo ayah! Aku akan membuat permohonan besar kali ini.”


Mengingat semua kenangan masa lalunya membuat Rachel kembali mengukir senyumannya. Itu juga merupakan terakhir kalinya ia merayakan ulang tahunnya bersama kedua orang tuanya. Kemudian, mengingat kecelakaan yang telah merenggut nyawa mereka membuat Rachel meneteskan air matanya.


Orang yang bersama Rachel pada saat itu kebingungan ketika melihatnya menangis. Tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya, sejak tadi dia melamun, kemudian dia tersenyum, hingga akhirnya harus berakhir dengan sebuah air mata.


“Rachel, kau baik-baik saja ‘kan?” Liana menyahut seraya mengguncang pelan bahu Rachel. “Kenapa kau menangis? Apa kau sakit?” Tambahnya lagi.


“Aku baik-baik saja, aku hanya sedang merindukan ayah, dan ibuku.” Balasnya seraya mengusap kedua pipinya yang basah.


Keduanya tengah berada di perpustakaan sekolah, dan tak sengaja seseorang mendengar perbincangan mereka. Setelah itu, orang tersebut segera duduk di hadapan Rachel, dia menatap Rachel dengan begitu lekat, dan Rachel yang melihat kehadirannya sedikit tersenyum.


“Apa kau ingin mengunjungi mereka? Jika tidak keberatan, aku bisa mengantarmu. Lagi pula, aku juga sudah lama tidak mengunjungi paman, dan bibi. Selain itu, aku juga merindukan kota kelahiranku.”


“Aku akan mencari buku yang lain dulu.” Sahut Liana yang tidak ingin berada di tengah-tengah mereka. “Astaga, semoga Leon tidak melihat ini.” Gerutunya lagi setelah menjauh dari sana.


“Tidak perlu repot-repot, kak. Kau harus menyiapkan pelajaran untuk ujianmu, sebaiknya kau belajar dengan baik. Dengan begitu kau bisa mendapat nilai yang bagus ketika kelulusan nanti.” Rachel menyahut dengan nada yang terdengar begitu hangat.


“Sebentar lagi adalah ulang tahunmu. Bisakah pergi bersamaku untuk yang terakhir kalinya?”


Apa? Ulang tahun? Jadi, sebentar lagi ulang tahunnya? Bodohnya aku sampai tidak mengetahuinya.


Leon yang sejak tadi berada di sana terus menguping pembicaraan mereka. ingin rasanya dia muncul di tengah mereka, namun dia masih ingin melihat reaksi Rachel ketika sedang bersama dengan pria itu. Akankah dia menjaga jarak atau mungkin sebaliknya.


“Rachel, kau mau ’kan?” Evan masih bertanya dengan penuh harap.


“Ujianmu tidak lama lagi akan berlangsung, aku tidak ingin pikiranmu terbagi.”


“Tetapi ulang tahunmu itu setelah ujianku berakhir, jadi kenapa pikiranku harus terbagi?”


“Aaahh benaar juga. Baiklah aku akan pikirkan dulu, selain itu aku juga harus menghargai perasaan Leon. Sekarang aku harus kembali ke kelas lebih dulu.”


Setelah meninggalkan perpustakaan, Rachel tidak pergi ke ruang kelas seperti yang sudah di katakan olehnya. Leon yang tengah mencari keberadaannya pun tidak bisa menemukannya. Kemudian, ia merogoh sakunya, dan mencoba menghubunginya.


“Halaman belakang sekolah.” Rachel menyahut ketika panggilan terhubung. Tak mengatakan apapun lagi, panggilan langsung di akhiri oleh sebelah pihak, dan dengan cepat Leon melangkah ke tempat dimana Rachel berada.


“Apa yang kau lakukan di sini, hah?” Leon mengusap puncak kepala Rachel yang saat itu dia tengah berjongkok seraya memeluk kedua lututnya. “Ayo kembali ke kelas!” Pintanya lagi.


Mengikuti intruksi darinya, Rachel segera berdiri, dan Leon menggenggam tangannya. Ketika Leon hendak melangkah, Rachel tampak diam di tempatnya sehingga membuat pria di hadapannya berbalik.


Tidak mengucapkan apapun, Leon masih diam seraya menatapnya dengan begitu lekat. Mungkin gadis itu tengah menimbang-nimbang ajakan dari Evan? Mungkinkah dia ingin pergi bersama dengannya? Terlihat jelas jika raut wajah Rachel tengah merasakan kebimbangan.


“Ada apa? Jika kau ingin meminta izinku untuk pergi bersama dengan Evan, aku tidak akan mengizinkannya, karena hari itu kau akan pergi bersama denganku. Jadi, kau tidak perlu bingung lagi, ayo pergi!” Timpalnya yang kembali menarik tangan gadis itu, namun lagi-lagi langkahnya kembali tertahan. “Ada apa lagi?”


“Dari mana kau tahu bahwa kak Evan mengajakku pergi?”


“I-itu, tidak sengaja aku mendengar pembicaraan kalian saat di perpustakaan. Jadi, 2 pekan lagi ulang tahunmu, ya? Maaf aku tidak mengetahuinya.” Setelah mengucapkannya, Leon menundukkan pandangannya. “Aku pikir, aku sudah tahu banyak tentangmu, ternyata masih belum.”


“Tidak apa-apa. Lagi pula hanya sebuah tanggal bukan?”


“Tetap saja itu berarti. Jangan lupa untuk katakan pada orang itu bahwa kau akan pergi denganku, ingat!” Ucapnya dengan penuh penekanan, sehingga hal tersebut mengundang sebuah senyuman dari bibir Rachel, dan wajah Leon terlihat begitu tersipu ketika melihat gadis di hadapannya tersenyum seperti itu.


Bersambung ...