
- Apapun, dan bagaimanapun kondisimu. Kau akan tetap menjadi orang nomor satu di hatiku. -
__________________________
Tidak senang di beri perintah oleh gadis di hadapannya membuat Leon mendengus kesal. Ketika pandangannya menoleh ke sisi lain, dia sangat terkejut saat melihat Rachel sedang menikmati beberapa makanan bersama dengan Denis.
Keduanya bahkan tak menghiraukan pertengkaran akan dirinya, dan juga Liana. Mereka justru asik berbicara, dan melihat Rachel tertawa akibat ucapan Denis membuat Leon mengepalkan kedua tangannya, ia pun lekas berjalan menghampirinya.
“Yaaakk~ apa yang lakukan disini? Urusi kekasihmu, dan pergi dari sini!” Leon membungkukkan tubuhnya seraya menatapi Denis dengan tajam.
“Kau mengusirku? Aku ini temanmu, apa kau lupa?” Jawab Denis yang masih memegangi buah.
“Teman, ya? Lalu, untuk apa kau duduk disini, dan bicara dengan Rachel tanpa memikirkan aku, hah?” Kini, nada suaranya terdengar sedikit meninggi.
“Beraninya kau memarahi Denis, huh?” Liana mendorong pelan bahu Leon agar bisa menyingkir dari hadapan pria yang tengah duduk.
“Kalian berdua!” Sambar Rachel dengan menyilangkan kedua tangannya. Mendengar suara itu lekas membuat Liana serta Leon menoleh ke arah sumber suara tersebut. “Berhenti bertengkar atau keluar dari rumah ini!” Tambahnya lagi seraya menatap tajam ke dua orang yang tengah berdiri.
Mendengar ucapan itu membuat keduanya diam, sedangkan Denis hanya terkekeh melihat reaksi antara Liana, dan juga Leon yang langsung diam saat mendengar perintah dari gadis di hadapannya.
- 3 tahun kemudian -
Di kala musim dingin, seorang gadis tengah berdiri di sisi pintu gerbang salah satu universitas. Dengan memegang beberapa bingkisan di tangannya, dia tampak menundukkan wajahnya seraya memainkan kakinya, sesekali juga ia menoleh ke dalam, mencari tahu apa orang yang di tunggunya sudah keluar atau belum.
“Hey lihat gadis itu? Kenapa dia sering sekali datang kemari?” Salah satu mahasiswa berbisik seraya menunjuk ke arah orang tersebut.
“Biarkan saja, lagi pula itu tidak merugikanmu!”
Ucapan itu terdengar di telinganya, meski begitu dia tidak memedulikan apa yang mereka lontarkan. Gadis itu pun tersenyum tipis ketika mendengar semuanya, kemudian dia kembali menoleh, namun orang yang di tunggunya belum juga tiba.
Sudah 2 jam dia menunggu disana, dan dia pun masih tetap menunggunya. Orang yang di tunggunya pun tak menerima panggilan serta membalas pesan singkatnya, hingga dia pun hanya bisa menghela napasnya.
“Rachel? Apa kau sedang menunggu Leon?” Seseorang yang mengenalnya pun menghampiri gadis itu, dan mendengar itu membuat sang punya nama menganggukkan kepalanya pelan. “Aku rasa dia akan pulang terlambat.” Tambahnya lagi.
“Huh? Memang apa yang terjadi? Apa dia memiliki kelas tambahan?” Ujarnya dengan penuh tanya.
“Kau tahu ‘kan bagaimana sikap Leon? Dia sedikit tak terkontrol ketika seseorang membahas mengenai keluarganya. Kesal mendengar celotehannya, dan mengejek dia sebagai anak broken home, Leon meninju wajah orang itu, hingga dia sedang menjalani hukuman.”
“Denis, kau tidak berbohong ‘kan?”
“Aku tidak berbohong, namun orang yang mencari masalah itu telah di keluarkan, dan mengenai hukuman itu, Leon lah yang meminta dosen agar bisa menghukumnya. Jika tidak meleset, mungkin dia akan keluar 30 menit lagi.”
“Ah baiklah terima kasih karena sudah memberitahuku.” Rachel tersenyum
Setelah Denis pergi, Rachel kembali berdiri seorang diri seraya menanti kedatangan Leon. Dia sedikit khawatir setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Denis, bagaimana bisa Leon lepas kontrol? Namun, mendengar Leon meminta di beri hukuman akibat perbuatannya membuat Rachel sedikit terkekeh membayangkannya.
Bagaimanapun dia sangat gengsi, mendengar dia meminta hukuman pada dosen, pasti akan terdengar langka, dan lucu sekali.
Rachel membatin, dan terkekeh walau hanya memikirkannya.
“Ehem. Aku mendengarmu tertawa, apa terjadi sesuatu yang lucu?” Seseorang berdeham hingga membuat Rachel terkejut sekaligus tersenyum melihat kedatangannya.
“Kau sudah datang? Aku pikir kau akan datang 25 sampai 30 menit lagi, tidak ku sangka kau akan datang secepat ini.” Rachel menyembunyikan semua pikirannya, namun tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan tawanya.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Rachel. Apa yang sedang kau pikirkan, dan apa yang membuatmu tertawa?”
“Tidak ada.” Dengan cepat Rachel menggelengkan kepalanya. “Lalu, bisakah kita pergi sekarang?” Imbuhnya lagi yang langsung menangkup lengan pria di sisinya.
Keduanya pun berjalan bersama menuju halte. Yah, kali ini Leon sudah mulai terbiasa menggunakan transportasi umum semenjak bersama dengan Rachel, meski terkadang ia sering mendapat tatapan yang membuatnya risih, dia tak memedulikannya selama ada Rachel di sisinya.
Setibanya mereka di salah satu rumah sewa yang memang tak begitu besar, Rachel menyunggingkan senyumannya saat Leon memberikan tatapan yang penuh dengan tanya. Kemudian, dia memasuki rumah itu, dan dia sangatlah terkejut saat ada orang di dalam rumahnya.
“Selamat datang di rumah barumu, Rachel.” Sahut orang itu dengan memegang party popper.
“Kenapa kalian tidak memberitahuku bahwa akan datang kemari?” Sahutnya ketika melihat 2 orang yang di kenalnya.
“Denis? Kau juga? Apa yang kalian lakukan disini? Jangan bilang kau sudah mengetahui soal rumah ini? Dari mana kau mengetahuinya?” Leon menyambar maju ketika melihat temannya ada di dalam sana.
“Tentu saja aku mengetahuinya dari Liana.” Dengan sedikit menggaruk kepala bagian belakangnya, Denis sedikit terkekeh saat mendapat tatapan tajam dari temannya itu.
“Jadi, hanya aku seorang saja yang baru mengetahui soal rumah sewamu ini, huh?” Kini Leon membalikkan tubuhnya untuk menatap Rachel. Dia berdiri seraya bertolak pinggang, tak lupa sorotan mata yang tajam itu mencoba mencari jawaban dari gadis di hadapannya.
“Hey ini bukanlah hal yang besar. Aku membawa sedikit makanan untuk kita, ayo kita makan!”
Liana, dan Denis duduk di ruang tengah seraya membereskan kekacauan yang sudah mereka lakukan. Sedangkan Rachel menuju dapur untuk menyiapkan makanan, dia tak sendiri disana, dia di temani oleh Leon yang masih kebingungan.
Seminggu tidak bertemu dengannya membuat Leon merasa telah melewatkan banyak hal. Bagaimana bisa Rachel menyembunyikan hal seperti ini pada dirinya? Membantu gadis itu membuka jaket tebalnya, Leon langsung menarik lengan gadis itu agar bisa menghadap ke arahnya.
“Selain rumah ini, apalagi yang kau sembunyikan dariku?” Tanyanya dengan sorotan mata yang penuh selidik. Dia bahkan mencengkram kedua bahu Rachel dengan sedikit khawatir. “Aahh atau jangan-jangan kau pergi berkencan dengan pria lain selama kita tidak bertemu?” Imbuhnya lagi.
“Yak~ apa yang kau pikirkan? Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, huh?” Racau Rachel yang langsung menghempaskan tangan pria itu dari bahunya.
Bersambung ...