Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 60



- Tidak banyak yang ku inginkan, dengan adanya kau berada di sisiku, itu sudah benar-benar lebih dari cukup. -


__________________________


"Apa yang kau inginkan untuk makan malam?" Sahut Rachel yang masih tak melepas pandangannya dari bahan-bahan yang tengah dia siapkan.


"Hah? Apa?"


"Kau melamun, huh?" Ulasnya, dan hal itu membuat Leon sedikit terkekeh. "Aku bertanya, kau ingin makan malam dengan apa?" Imbuhnya lagi yang kemudian Leon pun berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju dapur.


"Aku ingin eintopf, kau bisa membuatnya, 'kan?"


Tidak menjawab pertanyaan pria itu, Rachel segera berlalu untuk membuka lemari pendinginnya, untunglah dia masih memiliki daging di dalam sana. Tengah membersihkan daging itu, tiba-tiba saja Leon memeluknya dari belakang seraya menyandarkan dagunya pada bahu Rachel.


Sejenak pergerakan tangan Rachel berhenti ketika deru napas Leon berhembus di lehernya, dia bahkan sempat memejamkan matanya akibat hal itu, hingga dia pun kembali membukanya, dan melanjutkan aktifitasnya untuk mencuci daging yang berada di tangannya.


Melepaskan tangan Leon yang melingkar di pinggangnya, Rachel kembali berjalan melaluinya. Dia mencoba untuk memotong daging tersebut, namun lagi-lagi Leon melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, hingga membuat Rachel hanya bisa menghela napasnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Rachel?" Leon tampak memejamkan matanya. "Aku bukan paranormal yang mampu menebak-nebak pikiran orang lain, aku ingin tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu ketika berada di sisiku." Tambahnya lagi.


"Kenapa? Kenapa kau begitu ingin tahu perasaanku?" Rachel membalikkan tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Leon, namun tangan Leon masih melingkar di pinggang wanita tersebut.


"Karena sesekali kedua matamu memperlihatkan sorotan yang penuh akan tekanan, pilu serta luka, seakan kau menyimpan begitu banyak beban ketika tengah bersamaku."


"Tekanan, ya? Terkadang hal seperti itu memang aku rasakan. Ketika mendengar cibiran mereka saat berada di sisimu, terkadang memang aku merasa tertekan, dan berpikir bahwa yang di katakan mereka memanglah benar. Aku seorang gadis miskin yang yatim piatu, mana bisa bersanding dengan pria yang bergelimangan harta sepertimu. Hal itu seperti seakan aku hanya memacarimu karena harta, itu yang selalu mereka pikirkan. Tetapi, ketika melihatmu tersenyum padaku, dan sadar bahwa kau akan selalu bersamaku, aku mencoba untuk mengabaikan mereka, karena bagiku dengan kau berada di sisiku, itu sudah lebih dari cukup."


"Kau segalanya bagiku, Rachel. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, dan seperti yang sudah ku katakan padamu, bahwa aku pasti bisa menemukanmu dimana pun kau berada."


Dengan cepat Leon menarik tubuh Rachel ke dalam pelukannya. Seakan enggan untuk melepaskannya, Leon tampak semakin mengeratkannya tiap kali Rachel mencoba untuk melepaskan diri.


Kesal karena pria itu tak kunjung melepaskan dirinya, Rachel pun mencubit pinggang Leon hingga dia meringis kesakitan yang akhirnya mau tidak mau harus melepaskan pelukan tersebut. Wanita itu tertawa ketika melihat wajah kesal dari pria di hadapannya, kemudian dia kembali berbalik, dan segera menyelesaikan masakannya.


Tidak terima dengan perlakuannya, Leon kembali memeluknya dari belakang, dan menangkup dagu Rachel agar menoleh ke kiri, kemudian Leon mendekatkan wajahnya, namun dengan cepat Rachel mengembalikan pandangannya saat sadar apa yang hendak di lakukan oleh pria itu.


"Ayolah hanya sedikit. Anggap saja sebagai ganti rugi karena kau menyakitiku." Ucapnya manja yang kini menyandarkan dagunya pada bahu Rachel.


"Jika kau seperti itu, aku tidak akan bisa menyelesaikan masakanku." Gerutu Rachel yang memasukkan daging pada tumisan buatannya.


Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Rachel merutuki dirinya saat melihat Leon meninggalkan dapur. Bagaimana bisa dirinya mengikuti kemauannya? Terlebih mereka hanya berdua di rumah, tentu saja dia enggan melakukannya karena takut keduanya akan lepas kendali, hingga terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Membayangkannya saja sudah membuat Rachel bergidik ngeri, karena itulah dia berniat untuk meminta pria itu segera pulang sebelum pukul 8 malam, jika pria itu pulang lewat dari pukul 8, maka habislah dia, sudah di pastikan jika Leon tidak akan bisa pulang akibat di tutupnya akses jalanan.


Setelah masakan telah selesai, dengan cepat Rachel menyajikannya di atas meja. Sedangkan Leon yang sudah menyilangkan kedua kakinya pun tampak siap untuk menyantap makanan tersebut. Tanpa menunggu Rachel yang tengah menyiapkan air untuk keduanya, Leon langsung menyantapnya karena sudah tidak bisa mengendalikan rasa laparnya.


Melihatnya menikmati masakan buatannya membuat Rachel mengukir senyumannya sehingga dia pun duduk di hadapan pria itu seraya ikut menyantap makan malam miliknya.


"Siapapun suamimu kelak, dia pasti akan sangat bahagia jika menikmati makanan buatanmu." Sahut Leon dengan mulut yang masih di penuhi makanan.


Entah itu pujian atau bukan, ketika mendengar kalimat itu Rachel menghentikan pergerakan tangannya, dan menatap pria di hadapannya yang masih menikmati makanannya. Tidak tahu apakah dia sadar dengan ucapannya atau tidak, yang jelas itu terasa begitu menyakitkan saat mendengarnya.


Kenapa dia bicara seperti itu? Aku memang tidak berharap akan memiliki suami yang kaya raya sepertinya, tetapi mendengarnya mengucapkan hal itu secara langsung, agak sedikit mengecewakan. Apakah akan semudah itu bagimu melupakanku di kemudian hari? Lalu apa maksud ucapanmu yang tidak akan pernah meninggalkanku, Leon?


Tanpa sadar air mata menetes dari kedua mata Rachel, namun dengan cepat ia menyekanya agar Leon tak menyadari hal tersebut. Perlahan dia kembali memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya, tetapi ucapan yang di dengarnya masih terus terngiang di benaknya.


"Ah terima kasih atas makan malamnya." Sahut Leon yang telah menghabiskan makanan miliknya. "Dan yah aku lupa, ada yang ingin ku katakan padamu." Timpalnya lagi.


"Katakan saja!"


"Mulai besok, dan untuk 2 minggu ke depan, kau tidak perlu menungguku di gerbang kampus. Aku akan belajar bersama temanku, dan seminggu kemudian aku akan menjalani ujian kenaikan semester. Jadi,..."


"... aku mengerti. Aku sudah selesai, sebaiknya kau segeralah kembali sebelum jalanan benar-benar di tutup." Rachel menyela ucapannya seraya membereskan perlatan makannya.


"Tetapi kau belum menghabiskan makananmu. Bagaimana bisa kau mengatakan sudah selesai, dan membereskannya begitu saja?"


"Ayo ku antar keluar!" Dengan cepat wanita itu merangkul lengan Leon agar bisa menggiringnya keluar rumah, namun tak lupa sebuah senyuman terukir di bibirnya.


Rachel, ada apa denganmu?


Bersambung ...