Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 18



- Perbaikilah masa lalumu ketika kau memiliki waktu serta kesempatan untuk memperbaikinya ! –


______________________


Setelah merapikan peralatan yang telah di gunakan, Rachel mengembalikan semuanya pada tempat sebelumnya. Dia pun segera bergegas meninggalkan ruang itu, namun siapa sangka seseorang datang seraya menutup rapat pintu ruangan tersebut.


Setiap gerak-geriknya selalu saja ada yang mengawasi, tidak tahu itu semua hanya kebetulan atau memang sudah di rencanakan. Ketika orang itu memasuki ruang kesehatan, seseorang dari luar memperhatikannya seraya menyilangkan kedua tangannya.


Entah apa yang akan dilakukan oleh mereka di dalam. Tetapi, kenapa harus dengan gadis miskin itu lagi? Semenjak kehadirannya, kau selalu saja menghindar! Rachel, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti.


Elena, yah dia terus menggumam dalam batinnya saat melihat orang itu memasuki ruang kesehatan. Sedangkan orang yang di maksud itu tampak menundukkan wajahnya, dan Rachel memandangnya penuh dengan kebingungan. Merasa sudah telat, ia berjalan menuju pintu, namun orang itu enggan untuk pergi, dan masih memegangi gagang pintu.


“Ada apa? Ingin mengatakan sesuatu?” Rachel menyeru seraya menatapnya, namun ia masih tidak mendapatkan jawaban apapun. “Kak Evan, bicaralah! Jika tidak, aku akan terlambat masuk kelas.” Imbuhnya lagi.


“Maafkan aku.” Gumamnya pelan. Meski begitu, Rachel masih mampu mendengarnya dengan jelas, ia juga tampak tersenyum saat mendengar kalimat itu. Kini, Evan memberanikan diri untuk menatapnya, dirinya merasa terkejut saat melihat gadis itu tersenyum. “Kenapa? Apa aneh mendengarku mengucapkan kalimat 'maaf'?” Tambahnya.


“Tidak. Tetapi, untuk apa kak Evan meminta maaf? Aku tidak merasa jika dirimu membuat kesalahan. Aku akan kembali sekarang!” Tidak menggubris ucapan gadis itu, Evan masih berdiri untuk menghalangi langkahnya. “Kak, aku harus kembali! Jika kau masih memiliki sesuatu yang ingin di ucapkan, aku akan menghubungimu setelah pulang sekolah.” Tuturnya yang kemudian Evan pun menggeser tubuhnya serta melepaskan genggamannya pada gagang pintu.


Merasa sudah begitu terlambat, Rachel segera berlari menuju ruang loker, dan tampak ada yang aneh dengan pintu loker miliknya, pintunya tampak sedikit terbuka, karena seingatnya ia sudah menutupnya dengan rapat sebelum pergi ke lapangan.


Langkahnya perlahan mendekat, dan pikirannya mulai berpikir yang tidak-tidak saat melihat hal tersebut. Kini, ia hanya berharap jika tidak terjadi sesuatu yang buruk, hingga ia pun benar-benar membuka pintunya.


Salah satu tangannya mengepal ketika melihat pintu loker terbuka lebar, ia pun memukuli dahinya dengan tulang jarinya. Terlihat selembar kertas tertanggal di sana, kemudian ia segera menariknya, dan membacanya kata demi kata. Setelah membaca isi pesan tersebut, Rachel sangat yakin jika penulis pesan itulah pelaku sebenarnya.


- Ini hanya permulaan. Menjauhlah jika tidak ingin hal lain terjadi padamu! Sangat mudah untuk menyingkirkanmu. Pergilah dari sekolah ini, dan aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. -


Tidak tahu siapa yang sudah mengerjainya lagi kali ini, bahkan ia juga menerima ancaman, sehingga membuatnya merasa frustasi. Tetapi, dia tidak ingin menyerah hanya karena hal kecil, dia tidak ingin mengecewakan ayahnya. Dia hanya ingin mewujudkan mimpi ayahnya meski semua sangat berat di laluinya.


Kemudian, Rachel menutup kembali pintu lokernya, ia juga menyobek kertas tersebut, dan memutuskan untuk segera ke kelasnya. Mengingat kembali tulisan itu, ia merasa tahu siapa yang melakukan hal demikian, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membalasnya. Akhirnya, ancaman itu hanya mampu di telah mentah-mentah olehnya.


Terlambat. Kali ini, Rachel benar-benar terlambat. Guru pembimbing telah berada di ruang kelasnya, dan ia pun segera membungkukkan tubuhnya setelah membuka pintu kelasnya. Pembimbing itu menatapnya dengan begitu lekat, dan tak kuasa menghadapinya, Rachel menundukkan wajahnya seraya menautkan kedua tangannya tepat di depan tubuhnya.


“Apa maksudmu tidak mengganti seragammu? Apa kau pikir ini masih di pelajaran olahraga?”


“Aku lelah denganmu, Rachel. Kenapa kau selalu membuat masalah di sekolah ini? Apa kau sengaja menghilangkannya? Apa kau ingin membangkang dari peraturan sekolah?”


“Tidak frau. Aku sungguh tidak tahu kemana seragam milikku itu, dan aku bukannya ingin membangkang, hanya saja semua terus terjadi padaku di luar keinginanku. Aku...”


“... hentikan Rachel! Kau tahu ‘kan peraturan sekolah ini?” Pembimbing wanita itu menyela ucapan gadis itu, dan membuat Rachel mengangkat wajahnya agar mampu menatap guru di hadapannya. “Kau tidak bisa mengikuti pelajaran jika tidak menggunakan seragam yang seharusnya, apa kau mengerti dengan peraturan itu?”


“Aku mengerti, frau.”


“Aku sarankan sebaiknya kau pulang untuk hari ini, karena akan percuma jika kau disini. Kau tetap tidak akan bisa mengikuti pelajaran setelah pelajaranku selesai, dan kembalilah esok. Pastikan jika kejadian ini tidak terjadi lagi!” Mendengar itu, Rachel hanya menganggukkan kepalanya yang kemudian berjalan untuk mengambil tasnya.


“Gadis pembuat masalah! Tidak harusnya kau berada di sini!”


“Sebaiknya tidak usah kembali lagi besok, keberadaanmu hanya akan merusak nama baik kelas ini, dan juga nama baik sekolah.”


Celaan demi celaan bagaikan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Rachel di sekolah itu. Dia sedikit mulai terbiasa akan semuanya. Namun, berbeda dengan Rachel, Leon tampak geram menatapi mereka ketika dirinya harus mendengar celaan yang di lontarkan untuk gadis penghuni meja di belakangnya, bahkan kedua tangannya terlihat siap untuk memberi pelajaran pada mereka kapan pun ia mau.


“Hentikan semuanya!” Pembimbing itu menyela ucapan siswa yang lainnya. Setelah mendapatkan tasnya, ia segera pergi meninggalkan kelas serta sekolah untuk hari itu.


Tidak memutuskan untuk pulang, Rachel memilih pergi ke minimarket, dan mempercepat jam masuknya. Melihat kedatangan Rachel yang begitu cepat membuat salah satu dari 2 pegawai disana tampak kebingungan. Tidak biasanya gadis itu datang lebih cepat dari jam seharusnya.


Setibanya disana, Rachel lekas mengganti pakaiannya, dan menuju gudang untuk mencatat pemasukan barang serta pengeluaran pada hari itu. Kemudian, seseorang menghampirinya seraya mengambil buku yang berada dalam genggamannya.


“Terjadi sesuatu padamu?” Serunya, dan Rachel menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Ini belum waktunya kau pulang, dan kau sudah datang lebih awal.” Wanita itu kembali menambahkan, lalu Rachel mencoba mengembangkan senyumannya.


“Tidak terjadi apapun, dan entah kenapa hari ini kita di minta untuk pulang lebih awal. Mungkin karena ujian tengah semester sudah dekat.” Ungkapnya seraya merebut kembali buku besar yang berada di tangan wanita tersebut.


“Sejak kapan hal itu berpengaruh dengan jam sekolah?” Wanita tampak kebingungan, dan Rachel sedikit terkekeh melihat wajah wanita di hadapannya. Demi mencegah mendapat pertanyaan lebih banyak lagi, Rachel segera meminta rekannya itu untuk keluar, dengan begitu dirinya dapat fokus pada pekerjaannya.


Bersambung ...