
- Berhentilah menoleh ke belakang! Jalani hidupmu dengan baik, dan berbahagialah! –
_____________________________
Tubuh Leon masih terasa membeku ketika mendengar suara klakson tersebut, namun dia berusaha untuk menoleh ke belakang, dan seketika dadanya merasa sesak saat melihatnya. Dengan cepat ia berlari ke tengah jalan untuk menghampiri orang tersebut.
“Kenapa masih berdiri disini? Ayo pergi!” Leon menariknya keluar dari jalanan itu.
Setelah berada di pinggir, Leon langsung memeluk tubuh gadis di hadapannya. Ia merasa sangat lega melihatnya baik-baik saja. Entah apa yang akan terjadi jika dia benar-benar tertabrak, mungkin Leon tidak akan berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri.
Akibat kejadian tadi, Rachel masih merasa sangat shock. Bisa-bisanya dia melakukan hal ceroboh yang bisa membahayakan hidupnya sendiri. Kakinya yang lemas, dan hampir tak berdaya itu pun hampir terjatuh ke tanah, namun dengan cepat Leon menahannya.
Tidak mengatakan apapun, Leon melepaskan blazer sekolahnya, dan mengikatnya tepat di pinggang Rachel. Bukan hanya itu, Leon juga merebut tas yang berada di punggung Rachel. Karena tas miliknya sudah di bawa oleh supirnya, Leon meletakkan tas milik Rachel pada dadanya.
Setelah itu, dia memutuskan untuk menggendong Rachel di punggungnya. Dalam perjalanan tidak ada yang mereka ucapkan sepatah kata pun, Rachel yang masih terkejut, dan Leon yang masih sedikit merasa kesal.
Dalam gendongan itu, Rachel menenggelamkan wajahnya pada bahu sebelah kanan Leon, pegangannya pun terasa semakin erat, dan Leon menghentikan langkahnya saat menyadari hal tersebut.
“Lain kali jangan melakukan hal ceroboh seperti itu lagi!” Tuturnya, dan gadis itu hanya menganggukkan kepalanya meski masih menyembunyikan wajahnya. Kemudian, Leon kembali melanjutkan langkahnya.
“Apa kau marah padaku?” Gumam Rachel mencoba menatap wajah Leon dari arah samping. Mendengar pertanyaan itu, lagi-lagi Leon kembali menghentikan langkahnya. “Maaf.” Imbuhnya ketika tidak mendapat respon apapun dari pria itu.
Masih tak menjawab pernyataannya, Leon mempercepat langkahnya, dan dia membawa Rachel menuju taman yang jaraknya tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Setibanya disana, Leon menurunkannya, dan Rachel masih menatapnya dengan penuh harap.
“Diam disini, dan jangan pergi kemanapun sebelum aku kembali!” Pintanya yang kemudian berjalan meninggalkannya.
Tidak tahu kemana Leon akan pergi, sembari menunggunya, Rachel pun duduk di bangku yang ada disana. Musim semi akan segera datang, dan itu merupakan musim favoritnya, karena saat musim semi tiba, dia akan melihat banyak bunga yang bermekaran. Selain itu, saat musim semi tiba, maka hari ulang tahunnya pun semakin dekat.
Sudah hampir 25 menit Leon pergi, dan dia masih belum kembali juga. Tidak tahu kemana dia pergi, sesekali Rachel menoleh ke belakang, namun dia tak terlihat juga, Leon bahkan masih membawa tas miliknya saat pergi.
Merasa bosan menunggunya, ingin rasanya dia pergi dari sana, namun jika dia sampai melakukannya, sudah pasti Leon akan lebih marah padanya, dan dia tidak ingin hal itu terjadi, pria itu bahkan masih enggan untuk bicara banyak padaya.
“Yaaakk~ apa yang kau lakukan?” Leon yang baru datang langsung berteriak begitu saja, mendengar itu tentu membuat Rachel terkejut.
“Sebenarnya ada apa denganmu? Apa aku tidak boleh duduk?” Pungkasnya membela diri.
“Berdiri!”
“Aku bilang berdiri!” Leon kembali menekankan kalimatnya. Merasa kalah, Rachel pun mengikuti permintaannya.
Setelah Rachel berdiri, Leon berjalan mendekat ke arahnya. Sebelum itu, dia meletakkan tas yang berada di dadanya ke bangku disana. Kemudian, dia melepaskan blazer yang masih terikat di pinggang gadis itu.
Rachel kebingungan melihat sikap Leon saat ini, sebenarnya apa yang akan dia lakukan pada blazernya. Yah, setelah melepaskannya, pria itu kembali mengikatkannya lagi pada pinggang Rachel. Setelah memperhatikannya, Rachel barulah mengerti apa maksud dari pria di hadapannya.
Menyadarinya membuat Rachel tersipu, ternyata Leon begitu memperhatikan dirinya. Blazer yang sebelumnya menutupi bagian belakangnya, saat ini pria itu mengubah blazernya menjadi di bagian depan, dengan begitu Rachel bisa duduk dengan nyaman.
Ternyata dia benar-benar menghargai seorang wanita.
Masih terpesona dengan sikap manis Leon, Rachel menatapnya dengan sebuah senyuman miliknya. Sadar sedang di tatapi, Leon langsung menyerahkan sebotol air dingin padanya, kemudian ia kembali menenggak cola miliknya.
Astaga, dia bahkan sudah membukakannya untukku. Kenapa dia manis sekali, sih. Tidak ku sangka pria yang begitu dingin memiliki hati selembut ini.
Setelah meminumnya, Rachel kembali menatap Leon dengan begitu lekat. Sikap Rachel saat ini benar-benar membuat Leon merasa semakin kesal, kemudian dia membalas tatapannya, sehingga Rachel sedikit terkejut saat tatapan pria itu terasa begitu mematikan.
“Kenapa? Apa kau lebih senang menatapiku secara sembunyi-sembunyi?” Tuturnya dengan nada yang datar.
“Cih. Dia masih marah ya ternyata.” Umpat Rachel dengan pelan.
“Menurutmu apa yang harus aku lakukan ketika melihat seseorang yang ku sukai berpelukan dengan pria lain yang bahkan sudah jelas bahwa pria itu memiliki perasaan untuknya? Apa kau pikir aku harus tertawa kegirangan begitu? Hanya orang bodoh yang melakukan itu!”
Pendengarannya tajam sekali. Dia bahkan mendengar ucapanku yang sangat pelan. Melihatnya marah benar-benar menyeramkan untukku.
“Kenapa sekarang diam saja? Sudah tahu dimana letak kesalahanmu?” Kini Leon menatapnya begitu tajam, kemudian Rachel mencoba untuk mengalihkan pandangannya darinya, namun dengan cepat Leon menahannya agar wajahnya tetap melihat ke arahnya. “Rachel, bisakah berhenti bermain-main denganku?” Saat ini suaranya sudah terdengar sedikit tenang dari sebelumnya.
“Bermain-main? Aku sedang tidak melakukan hal itu padamu. Apa kau merasa di permainkan olehku?” Rachel menatap kedua matanya. Kenapa pria di hadapannya bisa mengajukan hal seperti itu.
“Apa kau masih membutuhkan waktu untuk menjawab pernyataanku padamu? Apa kau masih ingin membuatku menunggu? Berapa lama waktu yang kau butuhkan agar bisa menjawab pertanyaan itu?” Leon sudah merasa frustasi saat ini, dia bahkan mengacak-ngacak letak rambutnya.
“Kenapa kau menyukaiku, Leon? Apa yang membuatmu menyukaiku? Sejak kapan kau menyukaiku?” Sahut Rachel, dan mendengar pertanyaan itu membuat Leon menatap wajahnya dengan begitu lekat.
“Kenapa kau mempertanyakan hal itu padaku? Apa kau tidak mempercayaiku, dan juga perasaanku?”
Bersambung ...