Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 04



- Jika satu janji saja tak mampu ditepati, untuk apa mengutarakannya begitu banyak? –


••••••••••••


Ketika berada di ruang kelas barunya, Rachel menyimpan tasnya pada salah satu tempat duduk yang masih kosong, begitu pun dengan Liana. Saat hendak mendudukinya, tiba-tiba saja seseorang datang, dan langsung mendudukinya tanpa permisi sedikit pun.


“Hey! Ini tempatku! Aku yang datang lebih dulu darimu!” Sahut Rachel yang merebut tas orang itu, dan memindahkannya ke meja belakang.


“Lalu, kenapa? Kau memang datang lebih dulu. Tapi, aku yang menempatinya lebih dulu. Jadi, sebaiknya kaulah yang menyingkir!” Orang itu menarik kembali tasnya, dan membawa tas Rachel menuju meja belakang.


“Tidak bisa! Siapa yang datang lebih dulu, dialah yang berhak!”


“Berhak? Ha Ha Ha. Apa aku tidak salah mendengarnya? Dengar baik-baik nona! Kau itu hanya seorang gadis yang bisa masuk tempat ini karena beasiswa, itu artinya kau tidak pantas membicarakan soal hak kepadaku! Kau harus tahu, ayahku merupakan pemilik sekolah ini, sangat mudah untukku menendangmu keluar jika aku mau!”


“Jangan karena orang tuamu pemilik sekolah ini, kau bisa melakukan hal sesuka hatimu tuan muda. Aku disini memang karena sebuah beasiswa, itu artinya sekolah ini membutuhkan siswi sepertiku!” Tidak ingin berlanjut lebih jauh, akhirnya Rachel segera menyingkir dari sana, dan duduk di bangku belakang. Merasa kesal, orang itu bangun dari duduknya, ingin rasanya ia melanjutkan perdebatan itu.


“Leon, hentikan semua ini! Kita tidak menggunakan kekerasan pada seorang gadis!” Tutur salah seorang temannya yang menahan bahu Leon agar bisa mengontrol emosinya.


“Kau! Aku akan memberimu pelajaran nanti, lihat saja!” Rutuk Leon yang menatap tajam ke arah Rachel.


Tidak lama setelah itu, guru pembimbing pun datang. Pelajaran pertama di hari pertama, yaitu fisika. Setiap kali guru itu menjelaskan langkah demi langkah, dengan teliti Rachel mencatatnya di sebuah buku catatan yang ia miliki.


Mulai dari penjelasan, contoh soal, dan lainnya, Rachel benar-benar menyimaknya. Berbeda dengan yang lain. Yang lain tampak kebingungan dengan apa yang di jelaskan oleh guru pembimbing mereka, Liana pun merasakan hal yang sama.


“Baiklah. Apa ada yang ingin kalian tanyakan soal penjelasan yang sudah ku sampaikan?” Guru wanita itu meluaskan pandangannya pada setiap siswa/i nya yang berada di dalam ruang kelasnya. “Yah, Denis? Apa yang ingin kau tanyakan?” Sambungnya ketika melihat salah seorang muridnya mengangkat salah satu tangannya, namun matanya masih memandangi catatannya.


“Bisakah Frau¹ Eriana menjelaskan kembali contoh soal yang bagian kedua?”


“Apa salah satu dari kalian ada yang bisa membantu teman kalian? Atau kalian pun masih belum memahami soal tersebut?” Eriana selaku guru pun mencoba mengetes muridnya yang berada di ruang kelas tersebut, dan ketika ia hendak menjelaskannya, tidak di sangka jika salah seorang muridnya mengangkat tangannya. “Yah kau, apa kau bisa membantu Denis menjawabnya?” Sambungnya lagi.


“Mungkin aku bisa membantunya.”


“Sebutkan siapa namamu!”


“Rachel Odellia, Frau.”


“Baiklah Rachel, silahkan kau maju ke depan, dan menerangkannya kembali pada Denis, juga pada temanmu yang lainnya.”


Eriana memberikan spidolnya pada Rachel, dan Rachel mencoba menghapus ulang jawaban yang di berikan oleh gurunya. Ia akan mencoba menerangkannya menggunakan caranya sendiri. Sebelum ia menghapusnya, Rachel meminta izin gurunya lebih dulu, dan meminta izin agar ia bisa menggunakan caranya sendiri dalam menyampaikan jawaban tersebut. Setelah Eriana mengizinkannya, Rachel lekas memberikan penjelasan.


“Aku yakin, kalian pasti bertanya-tanya bagaimana cara mengubah kecepatan mobil dari 10 m/s menjadi 30 m/s bukan? Dan kenapa jawabannya bisa menjadi 10 s?”


“Benar, apa kau bisa merincikannya lagi untukku?” Sahut Denis, dan Rachel tersenyum menanggapinya.


“Aku akan memulainya, tertulis jelas jika kecepatan pada ketinggian dari tanah (Vt) yaitu 30 m/s, dan kecepatan awal (Vo) 10 m/s, sedangkan percepatannya (a) adalah 2 m/s. Frau Eriana sudah menjelaskan rumus dari soal tersebut, yaitu Vt\= Vo+a.t. karena ‘t’ belum terlihat nilainya, maka kita putar balik rumusnya menjadi, t\= Vt-Vo.a. Apa sampai sini kalian sudah memahaminya?”


“Yah kami mengerti, Rachel.” Salah seorang dari mereka menyahut, dan mendapat respon positif membuat Rachel senang. “Bisakah kau menyelesaikannya sampai akhir?” Sambungnya lagi.


“Baiklah. Dengan begitu, kita hanya memindahkan angkanya saja! t\= Vt-Vo.a (t\= 30-10.2\=10 s). Hanya seperti itu, mudah bukan?” Ucap Rachel dengan senyum kecilnya.


“Apa kalian mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Rachel?” Eriana kembali membuka suara, dan murid disana pun mengatakan iya secara bersamaan. “Baiklah, kau bisa duduk kembali, Rachel!” Imbuhnya lagi.


Tidak ku sangka jika gadis beasiswa itu ternyata sungguh bisa menjelaskan semuanya dengan begitu mudah.


Leon tampak menggerutu melihat kepandaian teman kelasnya. Tidak, dia tidak menganggap gadis itu sebagai temannya. Baginya, tidak ada orang yang ingin berteman dengannya, mereka yang datang hanya ingin memanfaatkannya, dan tidak ada yang tulus untuk berteman dengannya.


Meski Denis bukan salah satunya, tetapi tetap saja selain Denis, orang-orang mendekatinya hanya karena memiliki maksud tertentu. Selama dia hidup, tidak ada yang berani untuk menentangnya, namun mengingat kejadian pagi tadi dengan Rachel, ia merasa jika gadis itu sungguh memiliki nyali karena berani melawannya.


Jam pelajaran selesai, jam istirahat pun berbunyi. Ketika mereka berhambur keluar kelas, Rachel tetap di ruang kelasnya, dan membuka buku pelajarannya. Liana yang sangat mengenal temannya itu pun lekas merebut buku itu dari tangan Rachel, ia menutupnya, dan memberikan sebuah voucher makan siang.


“Jangan terlalu fokus dengan buku-bukumu itu, Rachel. Orang cerdas pun membutuhkan asupan agar bisa berpikir! Jika perutmu kosong, kau tidak akan bisa berpikir panjang, jadi ayo ikut aku!”


Akhirnya mereka pun bergegas menuju kantin, dan ketika sudah mendapatkan makanan yang ia inginkan. Dengan cepat mereka mencari tempat kosong, melihat seseorang yang di kenalinya, Rachel mencoba melangkahkan kakinya menuju tempat itu. Namun, mengingat kejadian sebelumnya, ia kembali menahan langkahnya, dan memutar tubuhnya untuk berbalik.


Ia menghampiri Liana, dan menyimpan cathering yang berada di genggamannya. Saat ia duduk di tempat tersebut, seseorang juga menyimpan catheringnya di tempat Rachel duduk. Terkejut akan hal itu, Rachel menengadahkan kepalanya untuk mencari tahu siapa yang telah mengganggu waktu makan siangnya.


“Pindah! Aku ingin duduk disini!” Ujar orang tersebut, dan Rachel tampak mengabaikan kehadirannya. Ia tetap duduk diam di sana seraya memasukkan satu sendok makanannya ke dalam mulutnya. “Aku sedang bicara padamu! Apa kau tidak mendengarnya?” Merasa kesal, orang itu melempar cathering Rachel, dan para siswa disana pun menoleh ke arah keributan tersebut.


Note: Frau adalah panggilan siswa pada guru wanita.


Bersambung ...