
- Apa kau tahu kenapa Tuhan hanya menciptakan satu hati? Karena Tuhan akan memberikan satu lainnya melalui dirimu, dengan begitu barulah muncul sebuah kalimat 'dua hati menjadi satu'. -
_____________________________
“Bungaku rusak.” Rengek Rachel bak anak kecil yang kehilangan mainannya.
“Ya Tuhan, aku pikir ada apa.” Leon terkekeh menanggapi hal tersebut, kemudian dia menariknya ke dalam dekapannya. “Kita akan membelinya lagi, sekarang ayo kita pergi.”
“Aku semakin menginginkan pria itu.”
“Dia bukan hanya tampan, tetapi begitu perhatian. Alangkah bahagianya jika memiliki seseorang seperti dia.”
“Masih adakah pria seperti dia di luar sana?”
Mereka semua saling berbisik, dan Leon benar-benar tidak mempedulikan hal itu. Dalam perjalanan, Leon tetap menggandeng erat tangan gadis di sisinya, untunglah tidak jauh dari makam ada sebuah toko bunga, akhirnya mereka memutuskan untuk mampir sejenak.
Membeli bunga yang sama seperti sebelumnya, Rachel pun kembali mengembangkan senyumannya, dan melihat itu benar-benar membuat Leon merasa gemas. Setelah mendapatkan bunga, keduanya kembali berjalan, dan hanya membutuhkan 10 menit dari toko bunga untuk mereka bisa tiba di pemakaman.
Senyum Rachel terus terukir ketika berjalan dengan 2 bukat yang berada dalam genggamannya. Leon yang memperhatikan itu sejak tadi merasa sedikit terluka sekaligus takjub dengannya. Bertahun-tahun dia hidup tanpa kedua orang tuanya, dan dia sanggup menjalani hari-hari itu dengan baik hingga sekarang.
Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi, Rachel.
Melihat Rachel berjongkok di antara 2 pusaran, Leon masih diam sejenak, dan tetap diam menatapi gadis itu meletakkan bunga yang di bawa olehnya. Tidak lama kemudian, Leon pun ikut berjongkok di sisi Rachel seraya merangkul bahu gadis tersebut.
“Ah ya ayah, ibu. Aku membawa seseorang yang ingin ku kenalkan pada kalian. dia adalah Leon, dia...”
“... aku kekasih dari anak kalian, paman, bibi. Kalian tidak perlu lagi mengkhawatirkannya, karena sekarang dia sudah memilikiku, dan aku berjanji pada kalian bahwa aku akan menjaganya untuk selama-lamanya.”
Kalimat itu benar-benar membuat Rachel merasa terkejut, dia bahkan sampai menoleh ketika Leon mengucapkan semuanya, namun di saat yang bersamaan, dia juga teringat akan kalimat yang di lontarkan oleh Araya padanya.
“Tetapi, apa tuan muda Leon serius berhubungan denganmu? Dia melakukan itu bukan hanya untuk bermain-main saja ‘kan?”
Kata-kata itu terulang di memori otaknya, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, dan Leon yang menyadari itu pun segera menoleh serta menatapnya bingung, dia mengernyitkan kedua alisnya, kemudian Rachel langsung tersenyum ke arahnya.
“Sudah mulai sore, apa kau masih ingin berada disini?” Ucap Leon bertanya dengan nada yang terdengar begitu lembut.
“Ayah, ibu, aku, dan Leon akan pergi sekarang. Seperti yang sudah di katakan olehnya, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi sekarang, Leon bersamaku, dia benar-benar menjagaku selama ini, meski terkadang sikapnya sedikit menyebalkan, kalian harus percaya padaku jika dia adalah pria yang baik. Sampai jumpa.”
Mendengar penggalan ‘menyebalkan’ pada kalimat yang di utarakan oleh Rachel membuat Leon sedikit tidak terima, dia terus menggerutu pelan, dan ingin rasanya ia mengajukan komplen padanya, namun dia tidak ingin merusak suasana hatinya lagi.
“Kita akan menginap di rumah lamaku, apa kau tidak keberatan? Setidaknya, disana...”
“H-hotel? Kenapa harus di hotel jika aku memiliki tempat tinggal disini? Kita tidak perlu membuang-buang uang, lagi pula kita hanya disini untuk 3 hari saja.”
“Aaahh baiklah. Tetapi apa kau yakin akan mengajakku menginap di rumahmu itu? apa kau tidak takut jika...”
“... tidak perlu berpikir macam-macam! Ingat kita masih harus bersekolah, dan rumah itu memiliki 2 kamar. Ayo cepat kesana sepertinya mau turun hujan.” Gumam Rachel yang langsung berjalan mendahuluinya, dan Leon tampak kecewa.
“Tunggu aku! Apa kau ingin melihatku di todong oleh gadis-gadis itu lagi, hah?” Celetuknya yang kembali menggenggam erat tangan Rachel, namun dengan cepat Rachel melepaskan genggaman itu, dan langsung merangkul lengan Leon dengan manja.
Tidak ingin menaiki bus, Leon membuju Rachel untuk menggunakan taksi, awalnya Rachel menolak hal tersebut, namun karena rengekkan Leon yang terus menerus, pada akhirnya dia pun mengiyakan permintaannya.
Hanya membutuhkan waktu 35 menit untuk mereka tiba di alamat yang di tuju oleh Rachel, dikarenakan mobil tidak bisa memasuki gangnya, akhirnya mereka pun berjalan untuk meneruskannya.
Dalam perjalanan, keduanya membicarakan banyak hal, mereka juga berbagi tawanya untuk sesekali, sehingga ketika seseorang memanggil Rachel, Rachel segera menghentikan langkahnya, dan menatap orang yang berada di hadapannya.
“Ibu Ariana? Astaga, aku sangat merindukanmu.” Dengan cepat Rachel berlari untuk memeluknya.
“Ternyata itu benar kau, aku pikir aku sudah salah orang.” Ariana sedikit terkekeh. “Bagaimana kabar Evan? Apa kalian sudah...”
“... kak Evan lulus dengan nilai yang baik, dan di hari kelulusannya dia langsung berangkat ke luar negeri untuk meneruskan sekolahnya.” Rachel menyela ucapan wanita di hadapannya dengan begitu bersemangat, dan Ariana pun sangat senang melihat Rachel kembali tersenyum seperti sebelumnya.
“Lalu, siapa pria ini?”
“Dia adalah Leon, dia teman sekolahku, karenanya lah aku bisa melalui hari-hari beratku selama di sekolah. Bukan hanya itu, karena bantuan darinya, mereka semua sudah tidak pernah menggangguku lagi.”
“Terima kasih karena sudah menjaganya, dan melindunginya. Aku tidak tahu kenapa kau melakukan itu semua untuknya, namun aku berpesan padamu untuk jangan menyakitinya. Rachel sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, terlebih lagi dia harus tinggal di Berlin seorang diri, akan sulit untuknya mencari seseorang untuk mengadu.”
“Aku mengerti, aku pasti akan tetap menjaganya.”
“Sudah gerimis, sebaiknya kau segera pulang ke rumahmu, aku sudah menyuruh orang untuk selalu membersihkan rumahmu, jadi kau bisa menggunakannya, dan hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu.” Ariana mengusap salah satu pipi Rachel dengan lembut, dan Rachel membalasnya dengan sebuah anggukan hingga akhirnya mereka pun berpisah.
Menempuh jalan yang berlawanan, Rachel kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya, namun Ariana sempat kembali menghentikan langkahnya, dan kembali berbalik menatap punggung mereka yang semakin berjalan menjauh.
Mereka pasti bukan hanya sekedar teman. Meski begitu aku tetap berharap bahwa pria itu bisa menjagamu dengan baik, Rachel.
Kali ini, mereka sudah tiba di rumah, dan Leon menatap Rachel dengan begitu intens, sedangkan Rachel membalas tatapan itu penuh dengan tanya. Tanpa membuka suara, Leon melangkah ke arahnya, dan Rachel berjalan mundur untuk menghindarinya.
“Leon ada apa denganmu? Kau tampak marah padaku, apa yang terjadi? Apa aku sudah berbuat salah padamu?” Timpal Rachel ketika punggungnya telah di sudutkan oleh dinding rumahnya.
Bersambung ...