
- Senyummu adalah milikku, tangismu juga milikku, begitupun dengan rasa sakit yang kau rasakan, dan alangkah baiknya jika aku saja yang menanggung rasa sakit yang tengah kau alami. -
______________________________
“Tenggorokannya membengkak serta langit-langitnya ikut mengalami ruam, kemungkinan itu akan membuatnya kesulitan untuk memakan sesuatu.”
“Tetapi dia baik-baik saja bukan?” Leon menyahut lagi dengan tatapan tajamnya. "Apa ada hal lainnya lagi?" Tambahnya.
“Ya, dan hanya itu saja, anda bisa menemuinya.”
Tanpa menunggu lagi, Leon langsung melewati dokter yang berada di hadapannya, dan dengan cepatnya dia sudah berada di sisi ranjang tempat gadis itu berbaring. Memegangi tangan Rachel dengan erat, sesekali dia juga mengusap dahi gadis itu.
25 menit kemudian, salah seorang perawat mendatanginya, dan meminta Leon untuk menemui dokter di ruangannya. Hasil tes darah sudah keluar, maka dari itu Leon di minta untuk datang, tanpa mengulur waktu, Leon bergegas menemui dokter tersebut.
Ketika berada di dalam ruangan dokter yang sebelumnya menangani Rachel, sebelum di suruh pun Leon sudah duduk lebih dulu, dan dokter itu pun tampak tak mempermasalahkannya, bagaimanapun dia tahu dengan siapa dirinya bicara.
“Melihat hasilnya, Rachel mengalami alergi. Apa dia tidak mengatakan apa-apa pada anda mengenai alergi yang di alaminya?”
“Dia tidak mengatakan apapun padaku, jadi apa yang harus di lakukan agar alerginya membaik?” Timpal Leon seraya menyilangkan kedua tangannya.
“Karena masih tidak terbilang parah, dengan memberikan antihistamin sudah cukup, dan dia akan mulai membaik.”
“Hanya itu saja? Apa kau yakin jika antihistamin saja cukup?” Kini, Leon sedikit gusar.
“Tentu saja cukup, karena kita akan menggunakannya dengan dosis yang sedikit lebih tinggi agar dapat menekannya. Selama proses penyembuhan perhatikan makanan yang harus di konsumsi olehnya, seperti yang sudah kubilang bahwa tenggorokannya sedikit membengkak, jadi jangan memberikan makanan yang berat padanya.”
“Apa ada lagi?”
“Hanya itu saja tuan muda.”
Bangun dari duduknya, Leon segera meninggalkan ruangan dokter tersebut, dan memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Rachel. Setibanya disana, dia terkejut karena melihat gadis itu justru sudah duduk dengan menyandar pada sandaran ranjangnya.
“Hey, kenapa kau bangun, hah? Kembalilah berbaring!” Pinta Leon yang membantu gadis itu untuk kembali berbaring, dan dia juga membenarkan letak bantalnya agar Rachel bisa kembali berbaring.
Mengikuti permintaannya, Rachel segera berbaring seraya menatap lekat wajah pria di sisinya, dan Leon tersenyum saat membalas tatapan itu. Hingga ponselnya berdering, kemudian Leon merogoh saku celananya, dan segera menerima panggilan tersebut.
“...”
“Tetapi aku tidak bisa meninggalkan Rachel sendiri.” Ucapnya gusar. Rachel yang mendengar itu pun hanya bisa mengernyitkan dahinya.
“...”
Mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi, Leon menghela napasnya dengan kasar. Lalu, dia membalikkan tubuhnya, dan kembali berjalan mendekat. Rachel menatapnya dengan penuh tanya, namun Leon hanya menggelengkan kepalanya.
Tidak percaya dengan gerak tubuh pria itu, Rachel langsung mengernyitkan kedua alisnya seraya menatapnya tajam, mengerti akan tatapan itu, Leon pun terkekeh menanggapinya, kemudian dia kembali menghela napasnya.
“Denis menghubungiku, dia mengatakan bahwa paman Stine datang ke sekolah, dan aku harus pulang untuk sejenak, dia takut jika paman Stine kembali sendiri, dia pasti akan terkena ocehan ibuku, dan bisa-bisa paman Stine...”
“.... p..per..gilah.” Rachel mencoba menyelanya dengan tangan yang masih memegangi lehernya.
“Kau yakin? Apa kau akan baik-baik saja?” Leon kembali menyeru dengan ragu, namun Rachel segera menganggukkan kepalanya. “Jika begitu aku pergi dulu, ah ya kau seperti ini karena kau alergi terhadap ikan tuna, kenapa kau harus memakannya jika kau memiliki alergi, hah?” Tambahnya.
“a...ku ti..dak tahu ji..ka a..ku me..mi..liki a..lergi.”
Penjelasannya itu membuat Leon kembali mendesah, hingga akhirnya dia pun berpamitan untuk pulang, dan berjanji akan kembali secepatnya. Dia juga memutuskan untuk bermalam di rumah sakit agar dapat menemaninya, mengerti dengan semua itu, gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Di tempat yang berbeda seorang pria tengah membawa segelas kopi menuju ke salah satu bangku, tiba di tempatnya, dia tampak tersenyum dengan seseorang yang berada di hadapannya, dia juga menyerahkan gelas yang di bawanya pada orang tersebut.
“Kau hanya memesan satu?” Jarinya berhenti mengetik ketika menyadari bahwa temannya datang dengan menyerahkan segelas es kopi kepadanya.
“Aku sudah memesannya jauh sebelum kau datang, Joy. Apa kau tidak melihat gelas di belakang laptopmu?” Sahutnya yang kemudian duduk di hadapan gadis itu.
“Ha Ha Ha. Itu artinya aku datang begitu terlambat, ya? Maafkan aku, tidak ku sangka jalanan begitu ramai, dan aku harus terjebak macet.” Sesalnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kenapa kau mengkhawatirkan itu? Aku tidak masalah menunggumu, ini laporan analisis yang sudah di simpulkan.” Dia menyeru dengan menyerahkan beberapa laporan yang di pegang sebelumnya.
“Aku jadi tidak enak padamu, Evan.” Joy tampak terkekeh ketika menerima laporan yang diberikan oleh pria di hadapannya.
Joy tampak meneliti kata demi kata yang tertulis di dalam kertas genggamannya. Laporannya terperinci dengan begitu rapi, mungkin dengan begitu mereka bisa mendapatkan nilai yang baik jika seperti itu.
Evan membiarkan punggungnya menyentuh sandaran yang ada pada kursinya, dengan menyilangkan kedua tangannya, dia menatap gadis di hadapannya yang tengah memeriksa laporan miliknya.
Joy, dan Evan tengah mengerjakan sebuah laporan yang menyangkut paut dengan kehidupan masyarakat, karena dalam tugas tersebut harus membuat tim dengan jumlah 2 orang, akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi satu kelompok.
Selain keduanya memiliki jurusan yang sama, mereka juga sempat menjadi satu tim ketika sedang melakukan proses penerimaan mahasiswa baru, setelah itu keduanya pun kian dekat hingga saat ini.
“Bisakah aku menambahkan sesuatu di dalam laporan yang sudah kau uraikan ini?” Joy meminta izinnya, namun matanya masih menatap kertas yang berada dalam genggamannya, dia juga sedikit menggigit-gigit ujung pena miliknya.
Bersambung ...