
- Ketahuilah! Semua yang ku lakukan adalah sebuah bentuk rasa kepedulianku padamu. –
__________________
Saat itu Leon tampak melihat Rachel tengah berjongkok seraya memeluk kedua lututnya. Merasa ada seseorang yang berdiri di hadapannya, gadis itu menengadahkan kepalanya agar mengetahui siapa orang tersebut, dan siapa sangka jika salah satu pria yang tak menyukainya lah yang datang saat itu.
“Untuk apa kau disini?” Sahut Rachel.
“Kau tidak melihat blazerku? Lagi pula, membolos satu kali bukanlah hal yang buruk.” Leon mencoba duduk, dan meletakkan kruknya tepat di sisinya.
- 4 bulan kemudian -
Hari yang berat sudah berlalu begitu cepat, dan Rachel tampak menikmatinya meski yang di laluinya tak semudah kelihatannya. Namun, berkat adanya Liana yang selalu berada di sisinya, ia mampu melewati semuanya dengan baik.
Hari itu merupakan awal musim dingin, dan sekolah memberikan libur selama 3 hari. Bagi siswa lain, hari libur itu mungkin akan di gunakan untuk bersantai, pergi bersama dengan teman atau menghabiskan waktunya dengan hal lain yang menyenangkan, namun berbeda dengan Rachel. Gadis ini tampak memenuhi jadwalnya dengan pekerjaan paruh waktu yang ia miliki.
Merupakan jam pulang kerja, cafe tempat Rachel bekerja akan lebih menjadi ramai, dan hal itu akan membuat pekerja disana menjadi lebih sibuk. Rachel melayaninya dengan begitu ramah, senyumannya pun terus terukir di bibirnya, menandakan jika ia merasa senang dengan apa yang tengah ia lakukan kali ini.
“Rachel, bisa tolong bawakan pesanan ini ke meja nomor 23?” Sahut seseorang dari dalam dapur, dan Rachel segera menghampirinya.
“Serahkan saja padaku.” Timpalnya dengan senyum hangatnya.
“Astaga gadis itu benar-benar pekerja keras.” Umpatnya ketika melihatnya berjalan membawa baki.
“Bahkan senyumannya terus terukir, apa dia tidak merasa pegal membagikan senyumannya terus menerus seperti itu?”
“Bibi, apa maksudmu? Dia tersenyum bukankah sudah sewajarnya? Meski begitu aku senang ketika melihatnya bekerja seperti itu, dia sungguh penuh semangat.” Sambar salah satu pelayan pria ketika mendengar seseorang membicarakan Rachel.
Setelah mengantar pesanan tersebut, Rachel melihat seseorang melambaikan tangannya, dan dengan cepat ia menghampirinya. Pelanggan itu membutuhkan tambahan segelas air mineral, kemudian Rachel bergegas mengambilkan untuknya.
Tidak lama setelahnya, ia beristirahat sejenak di dekat meja kasir, hingga tamu-tamu cafe disana kembali bertambah, dan membuat pelayan semakin kesulitan mencari jeda walau beberapa detik saja. Hari itu sungguh menjadi hari yang paling melelahkan untuk mereka.
Merasa sudah cukup sedikit beristirahat, ia kembali bekerja, dan bergantian dengan yang lainnya. Tak lupa ia mengenakan apron untuk menutupi bagian depan seragam kerjanya, ia juga mengikat rambutnya sebelum ia melayani pelanggan
“Selamat sore, ada yang ingin kalian pesan?” Sahut Rachel seraya mengeluarkan note serta pena dari dalam saku apronnya.
“Kami akan pesan zwetchenkuchen 2 porsi, dan...” Ucapannya terhenti saat melihat Rachel berdiri disana. “... hey, bukankah kau siswi kelas 1 di sekolah kami? Dia teman kelasmu ‘kan, Leon?” Timpalnya lagi, dan Leon menatapnya dengan santai.
“Lalu, kenapa?” Ucapnya tak acuh, dan kembali menatap buku menu yang berada dalam genggamannya.
“Rachel.” Sahutnya saat membaca pengenal yang terdapat pada apron gadis itu. “Apa yang kau lakukan disini? Apa itu tidak memalukan? Kau adalah siswi sekolah elit, dan tidak sepantasnya kau melakukan pekerjaan berat. Itu akan merusak nama baik sekolah.”
“Tidak ada!” Leon menyahut seraya menutup buku menu yang berada dalam genggamannya.
“Baiklah, pesanan kalian akan segera di sajikan, permisi!”
Setelah memberikan note pesanan, Rachel segera menuju toilet. Gadis itu membasuh wajahnya setelah mendengar kalimat ‘nama baik sekolah’. Apa bekerja paruh waktu pun di larang? Apakah pekerjaan itu sangat memalukan? Sehingga akan membuat nama baik sekolah tercoreng, dia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikir orang-orang yang berada di sekolah itu.
Kemudian, ia kembali, dan pesanan itu pun telah siap. Rachel segera membawanya serta meletakannya dengan hati-hati, namun mereka tampak menatapnya dengan senyum yang memiliki penuh arti, mereka tidak tahu lagi apa yang sedang di pikirkan gadis itu. Hanya ada satu orang dari 5 orang disana yang tak mempedulikan hal itu, yah dialah Leon.
Tak menggubris sikap temannya, Leon mengambil pisau kue, dan segera memotongnya. Lalu, Rachel pun segera meninggalkan meja tersebut tanpa sepatah kata pun, hingga salah seorang dari mereka kembali menahan langkahnya.
“Bawakan kami air mineral!” Leon menyeru tanpa menatapnya sedikit pun, dan Rachel segera membawakan permintaannya.
“Selamat menikmati.” Gumamnya dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
Malam semakin larut, dan Rachel telah berada di rumah sewanya. Kedua tangannya tampak menjinjing kantung plastik yang berisikan bahan makanan. Setelah melepaskan jaket tebal serta syalnya, ia kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuknya.
Ketika musim dingin datang, akan terasa enak jika ia memasak eintopf. Makanan yang berisikan kentang, daging, dan sayuran akan sangat cocok untuk di santapnya. Untunglah ia memiliki uang yang cukup untuk membeli sedikit daging, setidaknya hanya untuk dirinya saja.
Membutuhkan waktu 45 menit untuknya membuat masakan tersebut. Saat hendak menyantapnya, ia teringat akan kedua orang tuanya. Biasanya, ibunya lah yang akan memasakan makanan itu untuknya. Bagaimanapun, eintopf adalah makanan favoritnya, dan akhirnya ia kembali menyimpan sendok yang berada dalam genggamannya seraya memijat dahinya.
Air matanya menetes di saat bayangan orang tuanya muncul di dalam benaknya. Tidak ada yang ingin ditinggalkan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya, namun takdir lah yang membuat gadis itu menjalani semuanya seorang diri.
Belum memakannya, ia mengambil ponselnya. Gadis itu mengingat satu nama dalam pikirannya, dan ia hendak mencari nama tersebut di kontak ponselnya, namun mengingat apa yang sudah terjadi, ia mengubur niatnya, dan kembali menyimpan ponselnya.
Evan, sejak tinggal di Hamburg, dan saat musim dingin tiba, terkadang pria itu meluangkan waktunya untuk mampir ke rumah Rachel, setidaknya untuk menikmati eintopf buatan ibu dari gadis itu. Hampir setiap hari ia berkunjung walau hanya untuk makan, namun hal tersebut tidak membuat ibu gadis itu merasa repot atau semacamnya, wanita itu justru merasa sangat senang ketika Evan mengunjungi rumahnya.
“Bibi, ini merupakan makanan terbaik, aku sangat menyukainya.” Evan menyeru dengan kondisi mulut yang penuh, dan wanita setengah baya itu pun tersenyum menanggapinya.
“Makanan ibuku memang tidak ada duanya bukan?” Kini seorang gadis menyahut.
“Kau benar, Rachel. Jika perlu, aku akan terus berkunjung demi menikmati masakanmu bibi.”
“Kapanpun kau ingin datang, datanglah Evan! Rumah ini akan selalu terbuka untukmu, dan hanya kau yang dapat ku percaya untuk menjaga putri nakalku ini!”
“Ha Ha Ha. Bibi tenang saja, aku akan selalu menjaganya sampai kapan pun itu.”
“Berhenti bicara! Jika kau terus bicara, aku akan menghabiskan semua makanannya.” Rachel menyeru, dan akhirnya ia kembali berebut makanan oleh Evan. Sedangkan ibunya Rachel hanya menatap mereka dengan senyuman hangatnya.
Bersambung ...