
- Meski aku tak bisa menggapaimu, sebisa mungkin aku akan berusaha untuk menghapus dukamu -
_______________________
Setelah mendapatkan voucher untuk makan siang, di dalam antrian Rachel mencoba meluaskan pandangannya, dengan harapan ia bisa menemui temannya serta bicara dengannya. Ketika telah mendapatkan baki yang berisi makanan, dia juga sudah menemukan dimana Liana duduk.
Langkah kakinya membawa menuju tempat temannya, namun siapa sangka jika dia duduk bersama dengan orang yang selalu mencelakainya. Benar, Liana makan siang bersama dengan Elena beserta teman-temannya, mereka bahkan tampak tengah bicara beberapa hal.
Tidak ingin mundur, dengan terpaksa, Rachel pun duduk di tengah mereka. Di saat ia duduk, Liana lekas berdiri, dan menyudahi makannya. Elena yang menyaksikan itupun sedikit menyeringai, ia menopang sebelah pipinya menggunakan salah satu tangannya, dan menatap ke arah Rachel seraya berdelik.
“Bahkan teman satu-satunya yang kau miliki sudah tidak berpihak dengamu lagi, dan kini seluruh siswa disini tidak menginginkan keberadaanmu. Kenapa kau tidak pergi saja?” Nada bicaranya bahkan terdengar begitu sinis, dan teman-temannya pun tampak puas mendengar Elena mengutarakan hal tersebut.
“Benar. Enyah saja kau dari sekolah kami! Kau bahkan hanya mengandalkan sebuah beasiswa, kau tidaklah pantas untuk sekolah ini!” Celetuk seseorang sesaat setelah mendengar ucapan yang Elena lontarkan sebelumnya.
“Bukan kau atau kalian yang memutuskan pantas atau tidaknya aku berada di sekolah ini. Jika aku tidak pantas berada disini, maka sekolah tidak akan memilihku, dan aku tidak akan lolos dalam seleksi tersebut. Satu lagi, aku berada disini bukan untuk mencari teman. Jika bukan karena seseorang, akupun tidak ingin bersekolah di tempat yang bahkan tidak bisa menghargai orang lain sedikitpun!” Tutur Rachel dengan mengepalkan kedua tangannya.
Emosinya benar-benar memuncak, berat untuknya mengatakan semua itu, namun dia tidak bisa lagi menahannya. Sehingga ia pun menyudahi makannya, dan pergi menuju halaman belakang sekolah. Seseorang yang melihatnya pergi mencoba mengikuti langkahnya.
Seperti sudah biasa melakukannya, gadis itu berjongkok disana seraya menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Saat pertahanannya mulai melemah, ia pasti akan berada di tempat itu, menurutnya tempat tersebut sangatlah cocok untuknya, karena tidak banyak orang yang datang ke tempat itu, dengan begitu ia bisa menyembunyikan segala dukanya.
“Ada apa dengan temanmu itu? Apa saat ini, dia pun membencimu? Sama seperti yang lainnya.”
“Bahkan teman satu-satunya yang kau miliki sudah tidak berpihak dengamu lagi, dan kini seluruh siswa disini tidak menginginkan keberadaanmu. Kenapa kau tidak pergi saja?”
Ucapan-ucapan itu terus terngiang di otaknya. Benarkah apa yang dikatakan oleh mereka? benarkah satu-satunya teman yang ia miliki pun ikut membencinya? Tetapi karena alasan apa? Apa kesalahan yang telah di perbuatnya? Sehingga teman dekatnya pun menjauhinya.
Tak tega melihat Rachel sedih, orang tersebut mencoba melangkah untuk menghampirinya. Namun, ia mengubur niatnya ketika sadar bahwa gadis itu mengangkat pandangannya. Gadis itu menghela napasnya seraya mengusap sisa air matanya, dan orang itu sedikit tampak lega melihatnya.
Apa sudah benar-benar baikkan?
“Maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya.” Rachel segera membungkukkan tubuhnya berulang kali, dan ia benar-benar terkejut saat melihat orang yang berada di hadapannya saat ini. “L-Leon? Kenapa kau bisa berada disini?” Timpalnya lagi.
“Kau habis menangis, ya?” Nada bicaranya sangatlah dingin seperti biasanya, namun terdengar jelas jika ia sedikit ragu saat mengutarakannya, ia bahkan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Hah? Tentu saja tidak. Kenapa juga aku harus menangis? Bukankah sudah ku katakan untuk tidak perlu ingin tahu urusan orang lain? Itu tidak baik, dan seperti yang sudah ku ucapkan tadi bahwa...”
“... hubungan kita tidak sedekat itu.” Leon menyela, dan Rachel tersenyum lirih mendengarnya. “Aku tidak tahu untuk siapa, dan karena alasan apa kau memilih sekolah ini. Namun ingatlah! Sekolah ini sangatlah keras untuk siswi sepertimu, jika kau ingin bertahan, kau harus siap menerima hal yang menyakitkan sedikitpun, dan jika sebaliknya, aku sarankan sebaiknya kau angkat kaki dari sekolah ini.” Leon menambahkan seraya membalikkan tubuhnya.
Pria itu pergi meninggalkannya, dan Rachel mencerna segala ucapan yang di katakan olehnya. Tidak tahu apa maksud dari perkataannya, apa itu merupakan sebuah pemberian semangat ataukah sebaliknya? Kali ini, otaknya benar-benar tidak bisa memikirkan semuanya dengan baik.
Saat pelajaran di mulai pun, sesekali Rachel melihat ke arah temannya. Dia sungguh berniat ingin memperbaiki hubungannya dengan Liana. Tetapi, jika dia tidak ingin mendengarkan serta menjelaskan, maka Rachel memilih untuk mundur, karena dirinya tidak ingin menekan temannya tersebut.
Saat semua pelajaran telah selesai di lakukan, dan teman kelasnya sudah mulai meninggalkan ruang itu satu per satu, Rachel memberanikan dirinya untuk menghampiri temannya yang pada saat itu masih berada di tempatnya. Sedangkan Leon menatapi keduanya, entah kenapa dia berharap jika hubungan keduanya bisa segera membaik.
“Sedang apa? Kau tidak ingin pulang?” Denis menyahut seraya menepuk bahu temannya itu. Tepukkan itu membuat Leon tersadar dari lamunannya, lalu mereka pun bergegas pergi meninggalkan ruang kelas.
“Liana, bisa bicara sebentar? Sebenarnya ada apa denganmu hari ini? Apa yang sudah aku lakukan sampai membuatmu marah seperti ini?” Tutur Rachel dengan nada yang terdengar sangat tenang, namun Liana tampak tak menanggapi kata-katanya itu. “Kau mendengarku ‘kan?” Rachel menambahkan.
“Tinggalkan aku sendiri!”
Mendengar pernyataan temannya membuat Rachel menghela napasnya. Tidak ingin membuat suasana semakin runyam, Rachel pun memutuskan untuk pergi dari sana, sesuai dengan permintaan temannya. Dia berharap jika setelah ini, Liana akan kembali mau bicara dengannya.
Seseorang tengah memperhatikan Rachel yang mulai keluar dari gedung sekolah. Setelah memastikan bahwa gadis itu telah meninggalkan gerbang sekolah, orang tersebut mengambil ponselnya serta meletakkannya pada telinga kanannya setelah menekan beberapa digit nomor.
“Dia telah keluar! Lakukan pekerjaan kalian dengan benar!” Pungkas orang itu seraya menyeringai.
Bersambung ...