
- Jika bersembunyi hanya akan membuatmu semakin terluka, maka aku akan keluar untuk menjadi pelindung untukmu -
_______________________________
“Gadis aneh.” Celetuk Leon dengan nada datarnya yang kemudian kembali duduk di tempatnya. Sebenarnya, jantung pria itu berdegup cepat ketika gadis di hadapannya mendekatkan wajahnya, namun dia sungguh tidak ingin kehilangan harga dirinya, maka dari itu ia memutuskan untuk menghindar sebelum gadis itu menyadari sesuatu.
Denis keluar dari keramaian siswa. Wajahnya tersenyum senang, dan melihat itu membuat Rachel merasa yakin jika dia pasti mendapat peringkat yang baik di daftar tersebut. Tidak ingin menyerah, gadis itu mencoba menerobos untuk melihatnya juga, namun Denis menahannya saat dia menyadarinya.
Liana yang baru datang, dan melihat Denis tengah tersenyum pada Rachel pun seketika membuatnya terdiam sejenak. Dia selalu merasa jika Denis menyukai temannya, karena jika di lihat-lihat pria itu selalu berbuat baik di saat yang lain memusuhinya, dan itu membuat hatinya merasa iri pada Rachel.
“Tidak perlu maju ke depan untuk melihatnya. Kau bisa mempercayakan penglihatanku.” Lagi-lagi dia tersenyum hangat pada Rachel, dan itu membuatnya bingung. “Selamat, kau...”
“... apa yang kau lakukan dengannya? Jika sudah kenapa masih berlama-lama disini?” Leon menyambar dengan dinginnya, dan Rachel benar-benar membenci sifatnya itu.
“Manusia dingin.” Gerutu Rachel pelan, Denis yang mendengar itu pun membelalakkan matanya ke arah gadis di hadapannya, namun ia sedikit terkekeh menanggapi hal tersebut.
“Apa kau bilang?” Leon yang tampak mendengarnya pun benar-benar geram. Di saat gadis lain tergila-gila padanya, justru Rachel berani merutukinya dengan wajah yang tak acuh.
“Hey sudah-sudah. Kalian raja, dan ratu sekolah ini, kenapa harus bertengkar? Aah aku sungguh iri pada kalian.” Denis menyatukan tangan Leon, dan juga Rachel bersamaan. Ia mengguncangkannya seraya tersenyum bahagia. “Leon, kau berada di peringkat 1, dan Rachel kau berada di peringkat 2. Kalian sungguh menakjubkan.” Lagi-lagi ia tersenyum lebar.
“APA?” Leon, dan Rachel bersamaan. Hal tersebut membuat mereka yang tengah berkumpul menoleh ke belakang. Saat melihat Leon berada di sana, para gadis mengerumuninya, dan hal tersebut hampir membuat Rachel terjatuh, beruntung Denis mampu memeganginya.
Kenapa lagi-lagi harus Rachel, dan Rachel?
“Tuan Leon selamat untukmu. Selain tampan, ternyata kau cerdas. Kau benar-benar pria yang sempurna.”
Pujian terus menghampiri Leon, dan itu benar-benar membuatnya tidak nyaman. Keberadaan Leon saat ini merupakan sebuah keberuntungan untuk Rachel, kemudian ia menuju papan pengumuman, bukannya tidak mempercayai ucapan Denis, hanya saja dia ingin melihatnya sendiri.
Sebelum melihat papan pengumuman, Rachel sempat memejamkan kedua matanya lebih dulu, dan saat membukanya ia terlonjak senang. Dia benar-benar berada dalam peringkat 2, ia sedikit melompat karena merasa girang, dan tanpa sadar ia memeluk Denis.
Pria itu senang melihat gadis dalam dekapannya tersenyum, dan baru kali ini dia melihat Rachel dengan senyum bahagianya. Leon yang melihat itu pun menjadi geram, hingga memutuskan untuk menerobos kerumunan untuk pergi meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan apapun.
“M-maafkan aku.” Tutur Rachel saat sadar dia telah melakukan hal yang tidak seharusnya, sedangkan Denis mengedikkan kedua bahunya, seolah mengatakan jika itu bukanlah masalah. “Tetapi, kau juga berada di peringkat 3, kenapa ucapanmu seakan hanya aku, dan dia yang masuk peringkat?” Tambahnya mendelik ke arahnya.
“Temanmu menunggumu, aku akan kembali ke kelas.” Tidak menjawab, Denis justru menunjuk ke belakang, dia pun kembali tersenyum sesaat sebelum meninggalkannya. “Selamat kau juga masuk dalam 10 besar.” Bisik Denis saat melewati Liana.
Melihat Liana yang berdiri tak jauh darinya membuat Rachel berlari menghampirinya. Ia pun memeluknya dengan begitu bahagia, namun sesuatu terasa berbeda dengan temannya itu, sehingga Rachel melepaskan pelukannya, dan menatap temannya.
Tanpa berkata apapun, dan tanpa berniat melihat papan pengumuman, Liana segera meninggalkan Rachel disana. Sikapnya benar-benar membuat Rachel kebingungan, tidak biasanya Liana bersikap seperti itu. Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya? Apa dia sudah melakukan kesalahan?
Ketika hendak menyusulnya, seseorang menariknya begitu saja, dan itu sangat membuatnya terkejut. Orang itu menaikkan kedua alisnya seraya tersenyum ke arahnya, menyadari siapa yang telah membawanya membuat Rachel tersenyum, ia bahkan memeluknya dengan senang.
“Aku masuk 3 besar, kak. Aku sangat bahagia.” Senyuman serta sikapnya yang sekarang sangatlah di rindukan oleh orang yang berada dalam pelukan Rachel. Dia ikut merasa senang melihat kebahagiaannya sekarang.
“Aku tahu. Karena itulah aku membawamu kemari. Tapi, bisakah kau melepaskan pelukannya?” Evan sedikit tertawa saat pelukan tersebut semakin terasa sangat erat, dan dengan cepat gadis itu melepaskannya.
“Maaf.” Balasnya seraya tertawa kecil. “Aku juga melihat namamu berada di peringkat 4, dan maaf karena peringkat nilaiku lebih tinggi darimu.” Rachel menjulurkan lidahnya, dan hal itu membuat Evan mencubit kedua pipi gadis di hadapannya.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Tiba-tiba saja Elena datang. Melihat kedatangannya yang secara mendadak membuat Rachel menjaga jarak dari Evan. “Tampaknya kau sangat senang bermain-main denganku, ya?” Elena menatap tajam ke arah Rachel.
“Maafkan aku, kak. Aku akan kembali ke kelas sekarang.” Tidak ingin mencari masalah, Rachel pun segera meninggalkan tempat itu, yang kemudian langkahnya di tahan oleh Elena.
“Apa aku sudah menyuruhmu pergi? Aku bahkan belum melakukan apa-apa padamu.” Elena membalikkan tubuhnya seraya menyilangkan kedua tangannya.
“Elena, biarkan dia pergi!” Evan membuka suaranya dengan nada yang datar, dan melihat tatapan tajam dari pria itu membuat Elena merasa kesal. “Kembalilah ke kelas, Rachel!” Pintanya yang di balas anggukkan oleh gadis itu.
Ketika tiba di kelas, Liana tampak enggan menatapnya, dan itu semakin membuat Rachel kebingungan. Dia hanya mendengus kesal melihat perubahan Liana kali ini, namun ia akan mencoba bicara padanya saat jam pulang nanti, berharap jika temannya itu mau mengatakan apa kesalahannya.
Pelajaran dimulai, dan wali kelas merasa senang karena kelasnya memiliki siswa yang berbakat. Berkat nilai itulah, mereka yang berada dalam 5 besar mendapat poin tambahan, dan itu akan membantunya pada kenaikan kelas nanti.
Pelajaran demi pelajaran telah selesai di lakukan setengahnya. Sekarang waktunya untuk beristirahat, dan lagi-lagi Liana mengabaikannya, dia bahkan pergi meninggalkan kelas tanpa mengucapkan apapun. Leon yang menyadari itupun langsung menoleh ke belakang.
“Ada apa dengan temanmu itu? Apa saat ini, dia pun membencimu? Sama seperti yang lainnya.” Timpalnya seraya tersenyum mengejek.
“Kenapa kau sangat pedulikan hal itu? Aku rasa kita tidak memiliki hubungan yang dekat. Jadi, tidak perlu mencampuri atau ingin tahu urusan orang lain.” Balas Rachel dengan dinginnya. Kemudian, ia meletakkan tasnya, dan langsung bergegas meninggalkan kelas untuk mencari temannya
Bersambung ...