Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 11



- Rasa sakit akan di balas juga dengan rasa sakit, dan pembalasan biasanya akan di rasakan 2x lipat dari apa yang telah di perbuat sebelumnya –


_________________________


Hari telah berganti, matahari pun sudah kembali menampakkan sinarnya. Namun, kedua mata Rachel tampak enggan untuk terbuka, pagi itu merupakan hari yang buruk baginya, karena hari itu merupakan hari pertama ia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya.


Setelah berpikir panjang, Rachel segera menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Seusainya, ia lekas mengambil syal serta jaket miliknya, dan bersiap untuk menuju sebuah stasiun. Saat itu ia tengah menunggu kereta yang menuju Hamburg, dirinya merindukan kampung halamannya, tidak, ia merindukan kedua orang tuanya.


Ketika kereta yang di tunggunya tiba, ia lekas masuk, dan duduk di salah satu bangku yang kosong di sana. Kereta akan kembali melaju setelah 15 menit berhenti, saat kereta mulai menyalakan klaksonnya, kereta pun melaju, dan pandangan Rachel mulai menatap ke arah jendela.


Di tempat yang berbeda, Liana tampak kesepian karena tidak dapat melihat kehadiran temannya. Gadis itu bahkan tidak mengiriminya pesan, dia juga tidak menerima panggilan darinya. Bukan hanya Liana, sesekali Leon pun menoleh ke meja belakangnya, dan ketidakhadiran Rachel sangat membuatnya aneh.


Tiba-tiba saja ia menggebrak mejanya dengan kesal, dan hal tersebut membuat mereka yang berada di ruang kelas terkejut akan tingkahnya. Denis yang memandangnya keluar pun hanya menghela napasnya, namun ia tampak mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


“Bukankah kau bilang jika sekolah ini milik ayahmu? Tidak bisakah kau membantu temanku untuk menghilangkan skorsingnya?” Liana tiba-tiba saja menyahut, dan ia telah berdiri di sisi Leon yang tengah menatap ke lapangan dari lantai 4.


“Atas dasar apa kau berani memintaku melakukan itu? Aku rasa, aku tidak memiliki alasan untuk membantunya.” Sahut Leon tanpa menatapnya.


“Kau benar, memang tidak ada alasan untukmu membantunya. Tapi, aku memiliki alasan meminta bantuanmu. Rachel, dia adalah gadis yatim piatu, untuk memasuki tempat ini ia berjuang dengan keras, ia bahkan belajar tak mengenal waktu, itu semua dia lakukan agar dia bisa tetap bisa bersekolah. “


“Itu adalah resikonya. Lagi pula bukankah banyak sekolah yang menyediakan beasiswa? Kenapa juga dia harus masuk di sekolah ini? Yang bahkan namanya pun sudah begitu di kenal di negara ini, bukan hanya namanya, bahkan lingkungannya. Itu adalah kesalahannya.”


“Tidak! Itu bukanlah salahnya, dia memiliki alasan lain kenapa dia memilih sekolah ini. Aku rasa, meminta bantuanmu merupakan sebuah kesalahan. Lagi pula, kau adalah salah satu siswa yang selalu bertengkar dengannya, ketidakhadirannya pasti membuatmu senang.” Tutur Liana yang kemudian pergi meninggalkannya.


Alasan lain? Apakah alasan lainnya itu adalah demi bertemu dengan si ketua osis? Sungguh alasan yang ke kanak-kanakkan.


Hamburg. Rachel yang sudah tiba pun tengah berada di sebuah pemakaman. Ia menyimpan 2 bukat bunga yang ia simpan di setiap makamnya, kemudian ia duduk di tengah pusaran orang tuanya dengan tangan yang menyentuh pusaran tersebut.


“Ayah, mimpimu telah terwujud. Aku sudah masuk ke sekolah yang selalu kau dambakan tanpa harus membuatmu susah dengan biaya yang ada disana. Tapi, tahukah ayah bagaimana kehidupan disana? Bagiku itu bukanlah tempat yang cocok untukku. Tidak satu pun dari mereka yang menyukaiku, kecuali Liana.”


Air mata yang tidak ingin ia keluarkan pun akhirnya harus menetes. Rachel menarik napasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu, ia mencoba untuk menyekanya, dan berusaha untuk kembali membangun pertahanannya.


Pertahanan yang coba ia bangun pun tidak sanggup ia tahan. Lagi-lagi air matanya menetes, dan cairan itu mengalir lebih deras dari sebelumnya. Dahulu, selain orang tuanya, ia masih memiliki Evan yang selalu siap untuk menyeka air matanya, namun sekarang? Pria itu bahkan tidak ada ketika dirinya sangat membutuhkan seseorang.


2 jam lamanya ia berada di sana, dan hari pun sudah mulai terik. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Satu tempat yang ingin ia kunjungi, ia pergi menuju sekolah lamanya. Setibanya di sana, Rachel berjalan di lorong sekolah seraya memperhatikan jalannya pelajaran di setiap kelas.


“Rachel?” Seseorang memanggilnya, dan Rachel segera menoleh ketika mendengar namanya di sebutkan. “Kenapa kau disini? Apa sekolahmu tengah libur?” Lanjutnya lagi. Melihatnya membuat langkah gadis itu menghampirinya, lalu ia memeluknya dengan erat.


Seakan mengerti dengan perasaan gadis itu, orang itu memutuskan untuk membawanya menuju kursi yang berada di sisi lapangan sekolah. Terlihat jelas di raut wajahnya jika saat ini Rachel tengah memikirkan banyak hal, kemudian orang tersebut kembali menepuk pelan bahu Rachel.


“Ada apa? Bukankah seharusnya kau senang? Selain sekolah disana, kau juga bisa bertemu dengan Evan bukan?”


“Evan melupakanku, ibu Ariana. Dia bahkan tidak ingin siswa di sana mengetahui kedekatan kami, dan lingkungan disana berbeda dengan sekolah ini. Apa menurutmu aku menyerah saja?” Tutur Rachel seraya menatap lekat wajah Ariana.


“Menyerah? Setelah apa yang sudah kau lakukan untuk mendapatkan beasiswa disana? Apa kau ingin mundur dari mimpi ayahmu, Rachel?”


“Tetapi aku tidak bisa menerima perlakuan mereka. Aku melawan pun tidak berguna, karena hasilnya seperti sekarang ini, aku harus di skorsing hanya karena aku membela diriku sendiri.”


“Bukankah untuk menuju kesuksesan selalu menemui jalan yang berliku? Mungkin itu awal kesuksesanmu, dan apa yang di perbuat akan mendapat balasannya nanti, kau mengerti?” Ariana memeluk Rachel, dan gadis itu menganggukkan kepalanya pelan. “Untuk saat ini bersabarlah dulu. Jika perlawananmu yang terbuka menimbulkan konflik, lawanlah dengan cara yang cerdik.” Imbuhnya lagi.


Di jam pulang sekolah, Liana kembali menoleh ke arah tempat duduk temannya. Kali ini, ia harus berjalan pulang seorang diri, saat ia sudah berada di halte, seseorang menepuk bahunya, dan melihat kehadiran orang itu membuat Liana melangkah menjauhinya.


Orang itu sangat terkejut ketika mendapat perlakuan Liana, ia tidak mengerti dengan tindakan gadis itu, kenapa dia menjauh darinya? Walau begitu, lagi-lagi orang itu mendekatinya, dan memangkas jarak antar keduanya.


“Liana, apa kau tahu dimana Rachel tinggal?”


“Kenapa? Apa kau ingin membuatnya kembali berada dalam masalah?” Sahut Liana dengan nada yang terdengar sedikit ketus. “Dengarkan aku, kak Evan! Aku mohon padamu untuk tidak mendekatinya lagi, hubungan kalian tidak bisa seperti dulu setelah kau memutuskan untuk pergi, dan apa kau lupa? Terakhir kali kau berada dekat dengannya, dia selalu di timpa masalah. Jadi, aku mohon jauhi dia! Kau bisa lakukan itu bukan?” Sambungnya lagi.


Bersambung ...