Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 37



- Lupakan apa yang terjadi di belakang, dan mari kita buat hal yang baru untuk hari ini, besok, dan seterusnya. –


____________________________________


“Aku bertanya seperti itu bukan karena aku tidak mempercayaimu. Aku hanya ingin tahu, apa tidak boleh?” Umpat Rachel kesal seraya membuka tutup botol dengan kasar, dan langsung menenggaknya sembarangan.


“Aku tidak tahu kapan itu terjadi, mungkin bisa di katakan saat pertama kali aku bicara denganmu.” Leon menjawabnya dengan santai, namun senyumnya sedikit terukir pada bibirnya.


Mendengar penuturan yang di ucapkan oleh Leon membuat Rachel untuk mencoba mengingat-ingat pertemuan pertama mereka. ia terus memutar otaknya, karena yang dia ingat, pertemuan mereka bahkan tidak pernah berujung baik.


“Hey! Ini tempatku! Aku yang datang lebih dulu darimu!”


“Berhak? Ha Ha Ha. Apa aku tidak salah mendengarnya? Dengar baik-baik nona! Kau itu hanya seorang gadis yang bisa masuk tempat ini karena beasiswa, itu artinya kau tidak pantas membicarakan soal hak kepadaku! Kau harus tahu, ayahku merupakan pemilik sekolah ini, sangat mudah untukku menendangmu keluar jika aku mau!”


Benar, pertemuan mereka saat itu adalah di ruang kelas. Keduanya memperebutkan meja yang berada di kelas tersebut, kemudian dengan sombongnya pria itu mengatakan bahwa dirinya merupakan seorang putra pemilik sekolah, dan mengingatnya benar-benar membuat Rachel merasa kesal.


“Jangan melamun!” Dengan gemas Leon mencubit kedua pipi Rachel. “Jika kau melamunkan pria lain, maka aku tidak akan memaafkanmu, Rachel!” Tambahnya lagi hingga hal tersebut membuat Rachel mengernyitkan kedua alisnya.


“Aku ini tidak sedang memikirkan pria lain. Justru aku sedang mengingat pertemuan kita. Kau bilang menyukaiku ketika pertama kali kau bicara padaku? Tetapi bukankah saat itu kau memulai pertengkaran denganku? Bukan hanya itu, kau juga mengolokku. Jadi, apa yang berkesan dari kejadian itu? Bahkan sampai sekarang pun aku begitu merasa kesal jika mengingatnya.” Rutuk Rachel.


“Yah, mungkin karena pertengkaran itu aku menyukaimu. Kau bukan gadis yang bisa mengalah, dan membiarkan dirinya tertindas. Kau benar-benar ingin melindungi dirimu sendiri, tidak peduli meski lawanmu itu lebih tangguh darimu.”


“Kau benar. Aku selalu ingin melindungi diriku sendiri, karena aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri. Jika bukan menyerahkannya pada diriku, aku harus mengandalkan siapa lagi?” Sahut Rachel dengan senyum tipisnya.


Sorotan matanya benar-benar tersimpan luka yang begitu mendalam, dan Leon sungguh tak bisa membiarkan kesedihan itu terus melekat pada diri Rachel. Lalu, tangan Leon mulai menggenggamnya erat, namun raut wajah Rachel masih belum terlihat tenang.


“Kenapa kau memilih Saphhire Ocean sebagai tujuan sekolahmu? Aku pernah dengar bahwa kau memilih sekolah itu karena memiliki alasan lain. Apa alasan lain itu agar bisa bertemu kembali dengan Evan?”


Kali ini, penuturan Leon membuat Rachel menoleh ke arahnya. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu, dan kenapa dia bisa memiliki pikiran seperti itu terhadapnya. Meski keduanya tumbuh besar bersama, bukan berarti dia harus mengikutinya.


“Kenapa kau diam saja? Jadi benar, ya?” Leon kembali menyahut.


Seakan napas Rachel tercekat saat menceritakan soal ayahnya. Dia kembali merindukan masa-masa ketika mereka masih berkumpul, rasanya begitu hangat, dan kehidupannya terasa begitu ringan karena dia memiliki kebahagiaan yang sangat utuh.


“Secara kebetulan, aku mendengar bahwa Sapphire Ocean High School tengah membuka jalur beasiswa, dan guruku mendaftarkanku. Sejak itu aku menjadi semakin giat agar bisa meraih peluang itu, dengan begitu aku akan meringankan beban ayahku sekaligus bisa membuatnya bangga. Namun sayangnya, ayahku tidak bisa menyaksikan keberhasilanku mendapatkan beasiswa itu.”


“Kenapa tidak bisa? Apa kau tidak memberitahunya?” Mendengar penuturannya membuat Rachel menatapnya.


“Dia sudah tidak ada di dunia ini lagi.” Kemudian, air matanya menetes dari kedua pelupuk matanya. “Ayah, dan ibuku sudah tak bisa ku temui lagi untuk selamanya. Mengingat tidak memiliki siapapun disini, maka dari itu aku harus bisa melindungi diriku sendiri.” Pandangannya pun sontak tertunduk.


Rasa sesak kembali memenuhi relung hatinya, air matanya terus mengalir tiada henti. Leon yang menyaksikan itu pun merasa tak tega, sehingga dia membawa gadis di sisinya ke dalam pelukannya, dan Rachel semakin terisak di dalam pelukan Leon.


“Setelah ini, jangan katakan bahwa kau tidak memiliki siapapun lagi, karena sekarang kau memilikiku. Selain itu, kau bisa mengandalkanku untuk hal apapun, dan kapanmu kau mau. Aku tidak akan membiarkanmu terluka, dan tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu meski sehelai rambut pun.”


Pelukan itu terasa begitu hangat untuknya, dan tanpa sadar sepasang mata melihat keduanya tengah bersama. Orang tersebut tersenyum tipis saat menyaksikan kedekatan keduanya, dan dia benar-benar menyesali perbuatan yang sudah di lakukan sebelumnya.


Jika saja saat itu aku tidak mengabaikanmu, mungkin hubungan kita tidak akan jadi seperti ini. Maafkan aku, Rachel. Aku harap jika pria itu tidak akan mempermainkanmu ke depannya, dan benar-benar bisa di percaya.


Evan merasa pilu melihatnya, namun dia juga tidak bisa memaksakan Rachel untuk menerima dirinya kembali. Bagaimana pun dialah yang sudah membuatnya kecewa lebih dulu, dan dia harus menerima konsekuensi atas perbuatannya.


“Terima kasih.” Rachel melepaskan pelukannya seraya mengusap kedua pipinya yang basah, dan Leon tersenyum ketika melihat gadis di sisinya sudah merasa lebih baikkan dari sebelumnya. “Dan mari kita jalani hubungan kita.” Tambahnya berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin.


“Apa? Jalani bagaimana maksudmu?” Leon menatapnya penuh dengan kebingungan.


“Bodoh! Bukankah tadi kau meminta jawaban dariku? Bukankah kau memintaku untuk menjawab pernyataanmu ketika di atap saat itu? Dan itulah jawabanku, jangan membuatku mengatakannya lagi!” Ucap Rachel dengan menyilangkan kedua tangannya. Selain itu, dia juga mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Jadi, jadi kau menerimaku? Begitu ‘kan maksudnya?” Kini, suara Leon benar-benar terdengar begitu bersemangat, dan dengan pelan Rachel menganggukkan kepalanya. “Astaga, aku bahagia sekali, aku benar-benar bahagia.” Timpalnya lagi yang kembali menarik Rachel ke dalam pelukannya.


Bersambung ...