Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 14



- Tidak ada yang bisa ku katakan lagi selain kata maaf untukmu –


_________________


Melihat Rachel yang tengah memegangi kepala bagian belakangnya membuat orang itu segera menghampirinya, dan membantunya untuk bangun. Bersamaan dengan itu, Denis pun masuk ke dalam, dan Leon segera meminta temannya itu agar membawa dirinya pergi ke rumah sakit.


Ketika hendak berjalan keluar, Leon mendapatkan tatapan yang begitu tajam dari orang yang membantu Rachel, namun Leon sama sekali tak menggubrisnya meski dirinya tahu maksud dari tatapan itu.


"K-kau baik-baik saja 'kan?" Pungkasnya.


"Aku tidak apa-apa, kak Evan. Apa pertandingannya telah selesai?"


"Pertandingan telah berakhir, score kami imbang. Sebaiknya kau kembali ke kelasmu sekarang!" Pintanya.


"Aku akan kembali setelah membereskan yang di sini, kau kembalilah lebih dulu!" Rachel mencoba tersenyum ke arahnya, dan Evan segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan ruang kesehatan.


Langkah kakinya kembali terhenti kala mengingat sesuatu di benaknya. Ia berbalik seraya menatap gadis yang tengah membereskan kotak p3k, dan ia berjalan menghampirinya dengan menghela napasnya.


Tidak sanggup mengutarakannya, akhirnya Evan memutuskan untuk tetap bungkam, dan segera berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Namun, siapa sangka jika keberadaan keduanya di ruang kesehatan di perhatikan oleh seseorang.


Setelah semua selesai di bereskan, Rachel memutuskan untuk kembali ke ruang loker agar bisa mengganti seragamnya. Setibanya ia disana, sudah tidak ada siapapun di dalam ruangan, bahkan Liana mungkin sudah kembali ke kelasnya.


Lalu, ia membuka lokernya agar dapat mengambil seragamnya, namun siapa sangka jika terjadi sesuatu pada pakaian serta rompinya. Ia membulak-balikkannya, dan itu sungguh berantakan. Seragamnya terdapat lumpur, dan itu sangatlah berantakkan, entah dari mana lumpur itu bisa mengotori seragamnya.


Tidak juga kembali di saat jam istirahat sudah hampir selesai, Liana mendatangi ruang loker, dan bertemu dengan temannya yang masih belum mengganti seragamnya.


"Kenapa masih belum..." Liana menghentikan ucapannya di saat melihat seragam Rachel. "... apa yang terjadi dengan seragammu? Kenapa bisa kotor seperti ini? Ini semua pasti ulah teman-temannya kak Elena." Umpatnya kesal, namun Rachel hanya tersenyum menanggapinya.


"Kau tidak boleh menuduh tanpa bukti, Liana. Tidak apa-apa, aku akan mengenakannya, dan menutupnya dengan jaketku. Lagi pula bagian depannya tidak begitu kotor." Tutur Rachel yang langsung mengganti seragamnya.


Kenapa mereka harus terus menerus mengganggunya? Bukankah Rachel tidak melakukan apapun kepada mereka?


Liana menghela napasnya saat melihat temannya menerima semua kejahilan siswa-siswa di sekolah tersebut. Entahlah apa yang akan terjadi jika yang di rasakan oleh Rachel menimpa dirinya, apa dirinya mampu setegar Rachel? Dia yakin tidak akan bisa.


Tidak ingin membuang waktu lagi, Rachel memilih untuk kembali ke kelasnya di bandingkan ke kantin untuk makan siang. Mengerti alasannya, Liana pergi menuju kantin seorang diri, dan membeli sesuatu disana, setidaknya ia bisa melihat temannya memakan sedikit makanan.


Pakaiannya yang lusuh membuat teman kelasnya memperhatikan dirinya dengan senyuman tak suka. Mereka bahkan saling berbisik seraya menatapnya dengan tatapan tak suka.


"Dia selalu membuat ulah. Jika seperti ini terus, kelas kita tidak akan memiliki nama baik." Bisik seorang siswi yang berjarak 3 meja dari sisi kanannya.


"Ha Ha Ha. Ada apa dengan seragamnya itu? Aku dengar dia menambahkan luka tuan muda Leon ketika di ruang kesehatan."


"Ha Ha Ha. Artinya itu semua perbuatan dari penggemar tuan muda bukan? Atau mungkin tuan Leon sendirilah yang menyuruh seseorang agar memberinya pelajaran." Mereka tampak tertawa puas akan hal tersebut.


"Lihat dia! Pintar memang, tapi selalu mencari perhatian di depan ketua osis, seolah dia mengenalnya dengan baik." Kini, seseorang di meja sisi kirinya lah yang membuka suara.


"Benar. Aku tidak menduga jika kepala sekolah kembali dari dinas hanya untuk memberikan hukuman pada kak Elena. Bukan hanya itu, wakil kepala sekolah kini menjadi bendahara." Tuturnya lagi.


"Mungkinkah dia memiliki hubungan dengan kepala sekolah?"


Ucapan-ucapan itu terus terdengar di telinganya. Namun, Rachel sungguh tak menggubrisnya sama sekali. Ia hanya mengambil buku dari dalam tas miliknya, dan mulai mempelajarinya.


Saat dirinya tengah membaca pelajaran selanjutnya, pemilik meja di depannya telah datang dengan menggunakan kruk di tangannya, dan sebelah kakinya terbalut dengan sebuah perban elastis.


"M-maaf." Gumam Leon dengan sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.


"Apa? Kau bicara padaku?" Rachel menyeru kebingungan.


"Tentu saja, memang kepada siapa lagi aku harus mengatakan maaf?" Racaunya yang langsung memiringkan tubuhnya agar mampu menatap gadis itu. "Apa yang terjadi dengan pakaianmu?" Timpalnya lagi ketika melihat pakaian gadis itu begitu lusuh.


"Apa pedulimu? Tidak ada yang tahu bukan ini perbuatan siapa?" Ucapnya tak acuh seraya memandangi buku yang berada dalam genggamannya.


"Apa maksudmu? Kau menuduhku?" Leon terdengar meninggikan suaranya hingga membuat seisi kelas menatap mereka.


"Bukankah aku tidak berkata demikian? Tetapi, jika kau menganggapnya seperti itu, aku harus bagaimana?"


"Rachel, makanlah dulu." Liana yang tiba-tiba datang memberikan roti beserta sekotak susu pada temannya, dan entah kenapa ia merasa sesuatu telah terjadi di antara dua orang di hadapannya.


Belum sempat menyantap roti yang di berikan Liana, bel masuk pun telah berbunyi, menandakan bahwa pelajaran baru telah di mulai, dan semua siswa pun kembali ke tempatnya masing-masing.


Guru pembimbing masuk, dan mulai menyimpan buku yang di bawanya. Kini, pandangannya tertuju ke arah Rachel, dan ia segera berjalan mendekatinya seraya menatapnya lekat.


"Apa yang terjadi dengan pakaianmu?"


"Maaf frau, saat aku kembali dari olahraga, seragamku sudah terkena noda lumpur." Rachel berdiri dengan menundukkan pandangannya.


"Untuk kalian semua yang ada di ruang kelas. Aku tekankan pada kalian bahwa aku tidak ingin ada siswaku yang tidak memperhatikan soal kerapian serta kebersihan pada dirinya. Jika kalian tidak memperhatikan salah satu dari keduanya, aku tidak mengizinkan kalian untuk ikut dalam kelasku. Apa kalian mengerti?" Seru guru pembimbing itu. "Jadi, silahkan nona Odellina keluar dari kelasku!" Timpalnya lagi, dan dengan berat hati Rachel pun keluar.


Setelah gadis itu keluar dari ruang kelas, seseorang mengambil susu kotak yang berada di meja Rachel, dan dengan sengaja membukanya, lalu menumpahkannya pada blazer sekolahnya. Hal itu membuat mereka yang melihat pun tampak kebingungan.


"Leon, apa yang kau lakukan?"


"Dengan begini, apa frau juga akan menyuruhku keluar?" Leon menyahut seraya berdiri dari kursinya.


"Duduklah kembali di tempatmu, Leon!"


"Maaf frau, tapi aku sudah melanggar peraturanmu, dan sepertinya aku memang harus keluar dari kelasmu, permisi!" Tidak mempedulikan keadaan kelas, Leon langsung berjalan meninggalkan kelas.


Bersambung ...