
- Setiap hubungan tidak akan ada yang selalu berjalan mulus. Sama halnya seperti kehidupan, pasti akan selalu menemukan liku di setiap perjalanannya. -
________________________
- 1 kemudian kemudian -
Sudah selama itu Rachel sama sekali tak bertemu dengan Leon, dia bahkan tidak menerima pesan darinya satu pun. Ingat bahwa dia melakukan itu demi pelajaran, Rachel tak berani untuk menghubunginya lebih dulu, dirinya hanya takut akan mengganggu waktu belajarnya.
Melanjutkan pekerjaannya, dia pun segera menyambut pelanggan yang baru datang serta mengantar mereka menuju salah satu meja yang masih kosong. Dengan memberikan 2 buku menu, Rachel tersenyum seraya menanyakan pesanan mereka.
"Baiklah, pesanan kalian akan segera di siapkan." Senyuman terus terukir di bibirnya.
Ketika semua sudah siap, dengan cepat Rachel membawa pesanan sebelumnya pada meja pelanggan. Mereka tampak puas dengan pelayanan yang di berikan olehnya, senyum ramah tak pernah lepas dari bibirnya, dan itu membuat mereka yang datang pun ikut merasa senang.
"Rachel, sudah waktunya kau pulang! Kenapa masih disini?" Tanya salah seorang rekan kerjanya.
"Astaga aku tidak tahu jika sekarang sudah jam 6. Aku akan pulang sekarang, terima kasih kak Airin karena sudah mengingatkanku." Ucapnya dengan sedikit terkekeh.
"Besok kau libur, 'kan?" Airin menyahut ketika teman di sisinya tengah melipat apron miliknya.
"Ada apa, kak? Apa kau ingin mengajakku pergi?" Jawabnya dengan penuh harap.
"Tepat sekali. Besok juga hari liburku, ayo temani aku pergi ke mall untuk membeli beberapa barang." Dengan secepat kilat Rachel menganggukkan kepalanya dengan cepat setelah mendengar penawaran tersebut. "Baiklah, besok jam 10 pagi aku akan menjemputmu." Airin menambahkan.
Setelah itu, Rachel lekas meninggalkan restaurant. Sebelum pulang, tak lupa untuknya mampir di salah satu minimarket, setidaknya dia harus membeli sesuatu untuk makan malamnya.
"Aku akan makan daging lagi malam ini." Rutuknya seraya mengambil kemasan daging. Telah mendapatkan semua kebutuhannya, dia segera menuju kasir agar dapat membayar tagihannya.
Berjalan santai menuju halte dengan membawa dua kantung di tangannya membuat senyumannya tak lepas dari bibirnya. Hingga setibanya dia di halte, dia melihat seseorang yang di kenalnya berada di seberang halte. Orang itu tampak keluar dari cafe.
"LEON~!" Teriaknya seraya mengangkat salah satu tangannya. Namun, sepertinya orang itu tak mendengar panggilannya, dan secara bersamaan dia juga melihat ada seorang wanita yang mengekor di belakang tubuh Leon.
Mereka tampak saling berbagi tawa, secara bersamaan senyum di bibir Rachel pun menyusut, dan salah satu tangannya pun mulai turun secara perlahan. Melihat Leon membukakan pintu mobil untuknya dengan senyuman yang begitu tulus, entah kenapa hati Rachel merasa begitu terluka.
Bus sudah datang, dia memutuskan untuk segera masuk. Dalam perjalanan, ia terus mengecek ponselnya, ia juga terus memperhatikan nama Leon yang berada di kotak pesannya. Kali ini, dia sangat ingin bertanya padanya, namun dia tak memiliki keberanian, akhirnya hal tersebut hanya bisa di pendam sendiri.
Setibanya di rumah, mood makannya hilang dalam sekejap, hingga dia pun hanya memasukkan kantung yang di bawanya ke dalam lemari pendingin. Malam itu dia hanya ingin tidur sampai fajar kembali menjelang.
Siang itu, Rachel tengah bersama Airin mengitari salah satu mall yang berada di pusat kota. Setidaknya bersenang-senang dengan Airin bisa mengalihkan pikirannya walau sejenak. Tangan Airin telah di penuhi dengan paper bag, dan mereka sudah menghabiskan 4 jam di mall tersebut.
Dalam perjalanan keduanya banyak membicarakan banyak hal, sesekali keduanya saling melempar tawa. Lelah berbelanja, Airin mengajaknya untuk makan siang, dan mereka segera menuju salah satu restaurant yang berada di mall tersebut.
Rachel tidaklah terkejut dengan apa saja yang telah di beli oleh Airin saat itu, karena sejujurnya dia pun tahu bahwa Airin memang berasal dari orang kalangan menengah, setidaknya dia masih memiliki orang tua yang masih berpenghasilan cukup, di tambah Airin merupakan anak bungsu dari 4 saudara, dan saudara yang lainnya pun terbilang sukses. Jadi, Airin tidak akan kekurangan apapun.
Seusainya mereka makan siang, Rachel memutuskan untuk segera pulang. Menolak tawaran Airin yang akan mengantarnya pulang, Rachel lekas berlari menuju halte bus. Dengan membawa satu paper bag pemberian Airin membuatnya cukup senang.
Berada di dalam bus, tangannya merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Na'as karena ponselnya kehabisan daya, dan tak bisa menyala. Mengingat bahwa dia lupa menchargernya sebelum tidur, akhirnya ponselnya pun mati di siang hari.
Tiba di halte pemberhentian, dia pun kembali berjalan menuju rumahnya yang jaraknya tak begitu jauh. Langkahnya terhenti ketika tiba di gang masuk, dia melihat seseorang yang di kenalnya berdiri di sana seraya menyilangkan kedua tangannya.
"Aku datang ke restaurant, dan mereka bilang bahwa kau libur hari ini. Aku menunggu di rumah, tapi kau tidak ada, bahkan ponselmu pun tak bisa ku hubungi." Sahutnya dengan wajah datarnya, melihat paper bag di tangan Rachel membuatnya mengernyitkan kedua alisnya. "Dari mana kau?" Timpalnya lagi.
"P-ponselku low. Ada apa kau mencariku? Bukankah kau bilang akan mempersiapkan ujianmu?" Rachel membalas, dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Kenapa bertanya? Tentu saja karena aku merindukanmu." Jawabnya yang menyeimbangi langkahnya dengan langkah Rachel.
"Kemarin aku melihatmu keluar dari cafe bersama seorang wanita, aku memanggilmu, tapi tampaknya kau tidak mendengar suaraku." Rachel sedikit terkekeh mengutarakan hal tersebut.
"Ah ya kemarin selesai belajar, aku pergi ke cafe bersama Jasmine. Jasmine, dia adalah teman belajarku, saat itu dia gadis pindahan dari New York. Dia gadis yang sangat pandai, dan dia juga sangat di sukai oleh teman-teman kampusku. Namun, kepolosannya itu sering kali di manfaatkan oleh mereka, dan aku tidak suka dengan mereka yang hanya memanfaatkan orang yang lemah."
Pria itu terus tersenyum riang ketika membicarakan sosok wanita yang menjadi teman belajarnya itu. Jelas sekali, senyuman itu sangat jarang di lihat oleh Rachel sekali pun. Membicarakan wanita lain di hadapannya, tentu saja sedikit membuat perasaan Rachel seperti terkoyak, terlebih dirinya tahu bahwa pria di sisinya sangat sulit untuk bergaul dengan seorang wanita.
"Jadi namanya Jasmine, ya!?"
"Benar. Dia tidak memiliki siapapun di sini, keluarganya berada di New York, dia benar-benar wanita yang sangat mandiri. Setelah melihatnya, dia benar-benar berbeda dengan semua wanita yang pernah ku temui, dia selalu menyelesaikan semuanya dengan sangat baik, dan bukanlah wanita yang merepotkan." Jelasnya lagi, dan mendengar itu membuat Rachel menghentikan langkah kakinya.
"Berbeda dari yang lain?" Rachel menggumam dengan menundukkan pandangannya, dan Leon yang sadar pun ikut menghentikan langkahnya seraya menoleh. "Jadi menurutmu aku ini sangat merepotkan, ya?" Tambahnya dengan menatap Leon.
"Rachel."
Bersambung ...