Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 03



- Kenapa harus bertemu kembali, jika tak ada satu pun janji yang di ingat. –


••••••••••


“... ah ya, kami bahkan memiliki satu kejutan lagi. Sapphire Ocean High School bahkan melirik salah satu murid di sekolah ini. Mereka bahkan ingin sekali memberikan beasiswa tambahan yang seharusnya di berikan pada masing-masing sekolah terpilih. Namun, mereka sungguh menyukai murid satu ini. Rachel Odellia, apakah dia hadir hari ini?”


Langkah Rachel terhenti saat mendengar namanya di sebutkan. Ia kembali membalikkan tubuhnya, dan sungguhkah yang ia dengar barusan? Hingga kemudian, kepala sekolah kembali memanggilnya agar segera maju ke depan bersama dengan Liana.


Nyata, ia berharap jika semua ini bukan hanya sebuah khayalan. Lalu, kakinya melangkah menuruni anak tangga audience untuk menuju panggung yang terdapat di depan sana. Semua itu memang benar terjadi di saat kepala sekolah menyerahkan bukti beasiswa tersebut.


Para guru disana memang selalu bangga dengan prestasi yang di capai oleh Rachel, dan gadis itu juga memiliki satu guru yang sangat peduli terhadapnya. Sehingga, ketika mendengar pengumuman tersebut, tentu saja membuatnya ikut merasa bahagia.


Saat acara itu selesai, semua murid disana melakukan foto bersama dengan orang tua mereka, teman, dan yang lainnya. Tampaknya hal itu tidak di lakukan oleh Rachel, Rachel hanya memandangi mereka dari bangku taman yang berada di sekolahnya.


Di saat hari kelulusan pun tidak ada yang mendampingiku. Jika ayah, dan ibu masih bersamaku saat ini, mereka juga pasti akan memberikan sebukat bunga untukku.


Seolah Tuhan mendengar semua ucapannya, sebukat bunga muncul di hadapannya, dan orang itu tersenyum ke arahnya. Lalu, dia pun duduk di sisi Rachel seraya mengambil kamera dari dalam tasnya. Melihat orang itu, membuat Rachel merasa sedikit tenang, walaupun pikirannya entah berada dimana.


Orang itu mengambil foto dirinya bersama Rachel, dia juga mengabadikan semuanya, dan berhasil membuat gadis itu tersenyum kembali. Namun, tidak lama kemudian, ia kembali muram sehingga orang yang bersamanya merasa kebingungan.


“Kau memikirkan Evan?” Sahut orang itu seraya menatap lekat kedua mata Rachel.


“Ibu Ariana tahu dari mana?” Rachel menyeletuk. Benar, orang yang bersamanya saat ini adalah salah satu guru yang peduli dengannya. Usianya terbilang masih muda, dia peduli dengan Rachel, karena gadis itu mengingatkannya pada adiknya yang berada di luar negeri.


“Terlihat jelas di kedua matamu. Apa kau berharap ia akan datang?” Mendapat pertanyaan itu membuat Rachel menganggukkan kepalanya. “Apa kau sudah menghubunginya atau memberitahu tentang hari ini? Mungkin saja dia lupa.” Tambahnya lagi.


“Aku sudah mengiriminya banyak pesan. Namun, memang dua bulan terakhir ini, dia sudah tidak pernah memberi kabar padaku lagi. Aku ingin memberitahunya jika aku bisa satu sekolah dengannya, namun itu tidak bisa ku lakukan.” Tutur Rachel dengan raut wajah yang terlihat begitu kecewa.


“Bukankah lusa kau akan berangkat ke Berlin? Pekan depan kau akan di sibukkan dengan pendaftaran ulang disana, mungkin kau bisa bertemu dengannya.”


“Anda benar bu, dia pasti akan terkejut saat melihatku disana.” Tawa Rachel kembali terdengar, dan Ariana merasa lega melihat tawa gadis itu lagi. “Simpan kamera ini, dan bawa kamera ini bersamamu!” Imbuhnya lagi.


•••


Hari yang di tunggu oleh Rachel telah tiba, ia akan melakukan daftar ulang di sekolah barunya. Dia juga mendapat tempat tinggal dengan biaya sewa yang murah, meski awalnya Liana menawarinya tinggal bersama, namun Rachel enggan menerima hal tersebut, dia hanya tidak ingin bergantung pada orang lain.


Daftar ulang telah di lakukan, ia juga mendapatkan 5 seragam, 2 seragam musim panas, 2 seragam musim dingin serta satu seragam olahraga. Mendapat double seragam membuatnya merasa bersyukur, setidaknya dia memiliki pakaian ganti.


Sayangnya, harapannya tak sesuai yang di inginkannya. Dia tidak bisa bertemu dengan orang itu, yang ia dapatkan justru tatapan tajam dari siswa-siswa yang berada di sekolah itu. Namun, semuanya tak di ambil pusing olehnya.


“Kegiatan sekolah akan di lakukan satu bulan lagi. Satu minggu sebelum masuk, kau akan di beritahu mengenai kelas yang akan kau tempati. Kalian tenang saja, kami tidak membedakan antara murid regular dengan murid beasiswa.”


“Kami mengerti.” Sahut Liana serta Rachel bersamaan.


Di hari yang sibuk itu, Rachel berkeliling kota Berlin, dia berkeliling bukanlah untuk berjalan-jalan, melainkan mencari kerja paruh waktu yang ada di kota itu. Liana yang mengetahui rencananya itu pun hanya mampu menggelengkan kepalanya.


Mau bagaimana lagi? Liana tidak bisa melarangnya, sekeras apapun dia meminta Rachel untuk tidak melakukannya, tetap saja gadis itu akan bersikap lebih lagi agar bisa bekerja. Setelah berjalan sedikt jauh, ia melihat sebuah brosur yang tertempel pada kaca jendela di salah satu restaurant disana.


Tanpa berpikir panjang, Rachel langsung mencabutnya, dan menemui manager disana untuk menanyakan brosur tersebut. Melihat tingkah temannya membuat Liana menepuk dahinya sendiri. Tidak lama kemudian, Rachel keluar dengan wajah yang gembira, ia mendapatkan pekerjaan itu.


Tak terasa jika waktu berlalu begitu cepat, upacara penerimaan siswa-siswi baru pun telah selesai di lakukan, dan mereka bersiap untuk memasuki kelasnya masing-masing. Untunglah Liana, dan Rachel mendapat kelas yang sama, kemudian ketika dalam perjalanan menuju ruang kelasnya tidak sengaja Liana menubruk tubuh seseorang.


“Maafkan aku kak, aku sungguh tidak sengaja.” Liana membungkukkan tubuhnya berulang kali.


“Karenamu rokku menjadi kotor. Aku tidak mau tahu, kau harus membersihkannya sampai tidak terlihat nodanya sedikit pun.” Pungkasnya, dan Liana terkejut saat mendengarnya. “Ikut aku!” Ucapnya yang langsung menarik tangan Liana.


“Tunggu!” Kini, Rachel membuka suaranya, dan menarik kembali tangan temannya itu. “Temanku sudah meminta maaf padamu. Tidak seharusnya kau melakukan hal demikian, jika memang ingin memintanya untuk membersihkan rokmu, gunakan bahasa, dan cara yang baik!” Timpalnya lagi.


“Kalian ini siswi baru disini, dan kalian tidak mengenal siapa aku. Ah ya ku dengar kalian juga siswi yang mengandalkan sebuah beasiswa? Itu lebih tidak pantas lagi untuk berhadapan denganku, seorang Elena Aleit.”


“Maafkan aku kak, kami memang tidak mengenal siapa dirimu. Meski kami hanya mengandalkan beasiswa, itu artinya kami memiliki kualitas serta kuantitas untuk memasuki sekolah ini. Walau dengan beasiswa, itu sudah membuktikan jika sekolah membutuhkan murid seperti kami!”


“Sombong sekali kau, kau...” Elena hendak melayangkan sebuah tamparan pada Rachel. Melihat itu membuat Liana hendak menggantikan posisinya, namun tangkapan seseorang lebih cepat dari gerak Liana, dan akhirnya Liana atau pun Rachel tidak terkena tamparan tersebut.


“Elena, hentikan, dan jaga sikapmu!” Sahut orang itu.


“Aaahh kakak ketua osis.” Suara ricuh itu terdengar dari gadis-gadis yang melihatnya.


Suara ini?


Rachel mendelik sedikit, dan dapat melihat jelas pemilik punggung pria yang menolongnya. Hanya melihat dari belakang sudah bisa di kenali olehnya, dia adalah orang yang ia cari selama ini, dan akhirnya ia bisa bertemu dengannya lagi.


“Pergilah ke ruang ganti, dan ganti pakaianmu! Setelah itu kembali ke kelas! Jika tidak, aku akan memotong poinmu!” Sahutnya, dan Elena tampak menuruti perkataannya.


“Kak Evan, sungguh itu kau? Aku senang karena bisa bertemu denganmu lagi. Aku...”


“... sebaiknya kalian segera masuk ke kelas sebelum guru pembimbing kalian masuk, dan kalian tidak ingin mendapat masalah baru lagi ‘kan?” Titahnya dengan nada yang dingin.


Kenapa? Kenapa dia berubah? Dia bahkan mengabaikanku, dia bicara seolah tidak mengenaliku. Apa yang terjadi padanya? Apa dia malu jika orang-orang disini sampai tahu bahwa dia mengenali gadis sepertiku?


Rachel, dari banyak sekolah favorit, kenapa kau harus masuk kesini? Kenapa?


Bersambung ...