Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 25



- Ketika suatu kepercayaan telah hilang. Adakah cara untuk mengembalikannya? -


________________________


“Sejak awal kau tidak ingin gadis miskin itu masuk ke sekolah kita, karena kau tahu jika dia tidak memiliki mental yang cukup. Kebaikan yang kau lakukan itu sebenarnya agar dia semakin tertindas bukan? Dengan begitu, ia tidak akan tahan, dan akhirnya meninggalkan sekolah.” Elena mengucapkannya dengan suara yang lantang.


Mendengar semua yang di katakan oleh Elena membuat sekotak makanan yang berada dalam genggaman Rachel terjatuh begitu saja. Evan melihat hal tersebut, dan ia segera menghampirinya, namun Rachel hanya menggelengkan kepalanya, kemudian berbalik untuk meninggalkan pria itu.


“Apa yang kau katakan sungguh tidak berdasar, Elena! Aku sungguh tidak berpikir sampai sejauh ucapanmu, dan kau telah merusak kepercayaan gadis itu padaku. Jika kau telah mengetahui segalanya mengenai hubungan kami, seharusnya kau tahu bahwa dia tidak memiliki siapapun selain aku.” Sahut Evan dengan nada yang terdengar tinggi.


“Memang kenapa jika aku merusak kepercayaannya terhadapmu? Hal itu tentu saja akan menguntungkan untukku, dengan begitu dia tidak akan dekat-dekat denganmu lagi.”


“Kau ingin tahu kenapa aku sangat takut jika hal itu terjadi? Karena aku menyukainya, Elena. Aku menyukai Rachel. Jadi, berhenti untuk melakukan hal lebih kepadanya!” Rutuk Evan yang langsung pergi meninggalkannya.


Apa maksud dari ucapannya? Apa dia benar-benar menyukainya? Jadi, sudah sejauh apa hubungan keduanya?


Leon yang mendengar semua pertengkaran antara Evan serta Elena pun menimbulkan beberapa pertanyaan di benaknya. Ketika melihat Elena sudah meninggalkan pelataran restaurant, Leon memutuskan untuk masuk ke dalam restaurant.


Melihat kedatangan Leon tentu saja membuat beberapa pelayan disana sangatlah terkejut, kemudian salah satu pelayan disana segera pergi memanggil manager untuk memberitahu keberadaan Leon. Mendengar kedatangannya membuat manager tersebut lekas menghampirinya.


Saat itu, Leon tengah duduk di sembarang kursi yang kosong seraya menyilangkan kedua tangannya, dan dengan kedua mata yang terpejam. Manager itupun segera membungkukkan tubuhnya, meski pria di hadapannya tak melihat apa yang sudah ia lakukan.


“Tuan muda, kenapa tidak memberitahu lebih dulu jika ingin datang?” Manager itu bertanya.


“Apa aku harus membuat janji dulu ketika aku ingin memakan sesuatu disini?” Sahut Leon membuka kedua matanya dengan nada yang terdengar begitu datar nan dingin.


“Bukan seperti itu. Jika saja kami tahu akan kedatangan tuan, kami bisa menyiapkan ruang vip untuk tuan atau mungkin bisa menutup restaurant sementara waktu.”


“Aku datang bukan untuk menutup restaurant ini. Aku disini hanya untuk makan, jadi tidak perlu merusak selera makan malamku!” Gertak Leon yang membuat manager serta beberapa pelayan disana tersentak mendengarnya. “Manager Shaw, aku ingin gadis bernama Rachel Odellina lah yang menjadi pelayanku!” Imbuhnya.


Sesuai keinginannya, manager Shaw lekas pergi ke belakang untuk memanggil Rachel. Rachel yang tengah membantu mencuci beberapa piring kotor pun terkejut ketika mendengar manager Shaw mengatakan bahwa ada seorang pelanggan yang menginginkan dirinya untuk menjadi pelayannya.


Sebelum gadis itu pergi melayaninya, tidak lupa juga untuk manager Shaw memberitahunya bahwa pelanggan itu bukanlah pelanggan biasa, dia juga tidak bisa di katakan sebagai pelanggan vip, yang terpenting tamu ini sangatlah istimewa.


“KAU?” Sahut Rachel ketika sudah tiba di hadapan pelanggan tersebut. “Untuk apa kau disini? Apa kau ingin mempermalukanku lagi sama seperti yang sudah kau lakukan ketika aku berada di cafe?” Imbuhnya lagi dengan nada yang sedikit kesal.


Sudut bibirnya, dan juga bagian mata sebelah kanannya terlihat begitu memar. Mereka bukan hanya menyentuhnya, tetapi melukainya. Aku akan mencari mereka, dan ketika telah berada tepat di hadapanku, aku tidak akan memaafkannya.


“HEY! Kenapa tidak bicara? Jika niatmu itu memang hanya untuk membuat hancur reputasiku, sebaiknya cari tempat lain saja!” Rachel membalikkan tubuhnya, dan siap untuk berjalan meninggalkan meja tersebut.


“Bukankah reputasimu memang sudah hancur? Mengenai cafe, aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.” Mendengar penuturannya membuat Rachel menghentikan langkahnya seraya mengepalkan kedua tangannya. “Kau juga bertanya kenapa aku disini? Tentu saja aku ingin makan, dan aku ingin kau yang melayaniku!”


“Jika kau memaksa ingin makan disini, cari orang lain saja untuk melayanimu!” Suara Rachel terdengar sedikit getir, dia bahkan tidak membalikkan tubuhnya sama sekali, namun manager Shaw yang memperhatikan semua itupun segera menghampirinya.


“Rachel, apa yang terjadi? Tuan muda hanya ingin kau yang melayani, dan ada apa dengan sikapmu itu? Kenapa kau tidak berlaku sopan padanya?”


“Maafkan aku manager Shaw. Tetapi, keberadaan dia disini hanya untuk membuat reputasiku hancur di sekolah, ah tidak, bukan hancur, lebih tepatnya untuk membuatku keluar dari sekolah.”


“Jaga ucapanmu itu, Rachel! Apa kau tidak tahu siapa tuan Leon? Dia adalah putra dari pemilik restaurant ini. Sebaiknya kau pulang cepat saja hari ini, dan tenangkanlah dulu pikiranmu.” Sahut manager Shaw, dan mendengar hal itu membuat Rachel langsung menatap pria yang tengah duduk.


Tanpa menunggu lagi, Rachel lekas berjalan menuju ruang loker yang berada di restaurant tersebut. Ia melepaskan seragam kerja serta apronnya, dan menyambar tasnya agar bisa meninggalkan tempat itu. Gadis itu bahkan tidak mengatakan apapun saat melewati rekannya serta manager Shaw sekalipun.


Melihat gadis itu pergi, Leon pun segera meninggalkan tempatnya, ia bahkan mengabaikan manager Shaw yang memanggilnya. Saat berada di luar, Leon meluaskan pandangannya, mencari tahu kemana arah Rachel pergi. Tidak ingin tertinggal terlalu jauh, ia pun mulai mencarinya.


Berdiri seraya menunggu lampu hijau menyala bagi pengguna jalan, Rachel masih menundukkan wajahnya. Di benaknya kali ini hanya terbayang ucapan yang di lontarkan oleh Elena, dia merasa jika dirinya telah kehilangan orang-orang yang ia sayangi.


Mobil-mobil berlalu lalang di hadapannya, namun ketika lampu hijau untuk pejalan kaki telah menyala, Rachel mengangkat kepalanya, dan ia melihat seseorang yang sangat di kenalnya tengah berdiri di seberang jalan.


Tidak mempedulikan hal tersebut, Rachel segera melangkahkan kakinya untuk menyeberangi jalan tersebut. Sama halnya dengan orang di seberang sana, orang itu menatap Rachel dengan lekat, berharap gadis itu akan menyapanya, namun apa yang di harapkannya benar-benar tidak sesuai.


Rachel, apa sudah tak ada kesempatan untukku menjelaskan semuanya? Apakah kepercayaanmu padaku sudah benar-benar lenyap? Lalu, dengan cara apa agar aku bisa meraihnya lagi?


Evan benar-benar bingung harus melakukan apa lagi, dan kali ini ia hanya mampu memandangi punggung gadis itu yang semakin lama semakin jauh.


Bersambung ...