Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 29



- Saat kau terluka, katakanlah semuanya padaku! Karena mulai saat ini, aku akan menjadi obat untuk setiap luka yang kau rasakan. –


_____________________________


Rachel menatap orang di hadapannya dengan begitu geram. Bisa-bisanya dia melakukan hal tersebut tanpa izin darinya sedikitpun, dia bahkan melakukannya di sekolah. Tatapan orang itu terlihat menyesali perbuatan yang baru saja di lakukannya, namun Rachel ingin tahu maksud dari sikapnya barusan.


“Kenapa kau diam saja, kak?” Rachel menyahut seraya menatapnya dengan begitu lekat. “Jika kau diam seperti ini, maka kau membuatku memiliki kesimpulan sendiri. Jika kau diam, maka aku akan berpikir bahwa yang ku dengar beberapa hari lalu memang benar adanya. Selain aku, ada siapa lagi yang berada di tempat ini?” Lanjutnya lagi seraya meluaskan pandangannya.


“Aku tidak membawa siapapun selain kau, dan aku benar-benar tidak melakukan hal yang di bicarakan oleh Elena. Kenapa kau tidak mempercayaiku, Rachel?”


“Kak Evan. Aku bukannya tidak mempercayaimu, namun semua yang di katakan olehnya sangatlah masuk akal. Setiap kali aku berada di dekatmu, hampir semua siswa disini...”


“... aku tidak melakukannya, apa kau tidak mendengarnya, hah?” Evan mencengkram kedua bahu Rachel dengan erat, dan membiarkan tubuh gadis itu semakin dekat pada tubuhnya.


“Lepaskan aku, kak. Kau memegangku terlalu erat, ini sangat menyakitkan.”


Telinga Evan seakan menutup setiap suara yang masuk, dan ia benar-benar mengabaikan ucapan gadis di hadapannya. Rachel terus merintih, memintanya untuk segera melepaskan genggamannya, namun Evan masih tak mempedulikannya, dan justru memberikan sebuah tatapan yang begitu tajam.


Tatapan itu penuh dengan kesedihan serta luka yang pilu. Dengan sangat jelas Rachel melihat pria di hadapannya tengah menahan air matanya agar tidak terjatuh, hal itu benar-benar membuatnya merasa sedih, namun hatinya menolak untuk memberinya kesempatan.


Air mata Rachel menetes, dan Evan masih tak mempedulikannya. Kedua bahu gadis itu terasa keram, namun dia sudah kehabisan tenaga untuk memberontak. Semakin dia memberontak, semakin erat juga Evan menyengkramnya. Hingga seseorang datang seraya mendorong tubuh Evan, dia juga menarik Rachel, dan membiarkan gadis itu berada di belakang tubuhnya.


“Apa kau sudah gila? Dia kesakitan, dan kau membiarkannya.” Sambarnya dengan tatapan yang begitu tajam, dan tangannya masih memegangi pergelangan tangan Rachel.


Kenapa? Kenapa dia menolongku? Kenapa dia datang secara tiba-tiba?


Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di dalam benaknya ketika melihat orang itu datang menolongnya. Genggamannya pun terasa begitu hangat, dan ini kali pertamanya Rachel merasakan hal seperti sekarang saat berada di dekatnya.


“Ini tidak ada urusannya denganmu, Leon! Pergilah, dan biarkan aku menyelesaikan urusanku dengannya!” Tutur Evan yang terdengar begitu frustasi.


“Menyelesaikan apanya? Apa dengan menyakitinya bisa menyelesaikan semuanya? Aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu.” Leon menyahut, dan Evan memberikan sebuah tatapan yang begitu mematikan. “Kenapa? Apa kau ingin mengancamku dengan jabatanmu di sekolah ini? Lakukan saja! Karena aku tidak takut!” Tantangnya.


“Aku rasa kau sudah mendapatkan jawaban darinya. Sekarang, berhentilah mengganggunya!” Ucap Leon yang langsung mengajak gadis itu meninggalkan atap.


“Aku menyukaimu, Rachel!” Gumam Evan seraya menundukkan pandangannya. Mendengar itu membuat langkah kaki Rachel, dan juga Leon terhenti. “Kau pasti bertanya-tanya bukan kenapa tiba-tiba aku menciummu tadi? Itu karena aku menyukaimu, Rachel. Aku sangat takut kau menjauhiku, aku benar-benar takut saat tidak memiliki kepercayaan darimu lagi.” Evan mencoba menatapnya.


Beberapa kalimat Evan membuat Leon mengepalkan kedua tangannya, rahangnya bahkan mengeras, dan ingin rasanya ia meninju wajah pria itu. Sedangkan Rachel, ia mencoba untuk berjalan mendekat ke arahnya, namun Leon langsung menahannya seraya menggelengkan kepalanya.


Seakan terhipnotis, Rachel mengikuti apa yang di perintahkan oleh pria di sisinya. Dia pun menundukkan kepalanya, dia juga merasa terkejut saat mendengar penuturan Evan yang begitu mendadak, dia benar-benar tidak tahu jika Evan menyimpan perasaan seperti itu padanya, dan dia juga tidak tahu sejak kapan pria itu merasakannya.


“Terima kasih karena kau sudah menyukaiku. Aku juga menyukaimu, sangat menyukaimu. Namun, rasa sukaku padamu hanya sebagai seorang kakak, bukan sebagai pria. Maafkan aku, kak.” Tutur Rachel yang masih menundukkan pandangannya. “Bukan hanya itu, aku juga sangat berterima kasih padamu, karena kau pernah membantuku banyak hal disini, dan aku juga dengar bahwa kau yang menolongku saat aku berada dalam masa skorsing. Terima kasih banyak.”


“Aku tidak melakukan apapun mengenai hal tersebut, Rachel. Setelah aku cari tahu, orang di sisimulah yang sudah melakukannya.” Evan menatap Leon dengan begitu tajam. “Maafkan aku, aku tidak akan mengganggumu lagi jika kau memang tidak menginginkannya.” Timpalnya yang langsung meninggalkan tempat itu.


Melihat Evan yang melaluinya tanpa memandangnya sedikitpun memang membuat perasaan Rachel tercampur aduk. Pria itu bahkan dengan sengaja menubrukkan bahunya ke bahu Leon. Setelah dia pergi dari sana, Leon juga segera mambalikkan tubuhnya, dan siap untuk pergi.


Sedangkan Rachel, ia masih menatapi Leon dengan begitu lekat. Ketika Leon hendak melangkahkan kakinya, dengan cepat Rachel menghadang jalannya, ia berdiri tepat di hadapan pria itu seraya menatap kedua matanya secara lekat, dan Leon tampak enggan untuk membalas tatapan gadis itu.


“Apa benar yang di katakan oleh kak Evan?” Tutur Rachel.


“Soal apa? Bukankah dia mengatakan begitu banyak hal?” Nada dinginnya kembali terdengar. “Minggir! Aku tidak memiliki waktu lagi disini.” Tuturnya seraya menepis bahu Rachel agar tidak menghalangi jalannya.


“Apa kau yang membantuku dari masa skorsing? Dan memberikan sisa skorsku pada kak Elena? Lalu, apa kau juga yang membuat kakaknya turun jabatan? Mengingat kau putra dari pemilik sekolah ini, aku rasa semua yang di katakannya memang masuk akal.” Sahut Rachel, dan Leon menghentikan langkahnya.


“Jika memang aku yang melakukan semua itu, apa kau ada masalah?” Kini, Leon membalikkan tubuhnya, ia juga berjalan mendekat ke arah gadis itu, dan memberikannya sebuah tatapan yang begitu tajam.


“K-kenapa k-kau melakukan itu? K-kenapa juga kau tiba-tiba datang kesini, dan membantuku? Lalu bagaimana kau bisa tahu jika disini ada orang? Apa kau sengaja mengikuti kami? Jadi, apa alasanmu melakukan semua itu? Bukankah kau sangat membenciku?”


“Jadi, yang mana dulu yang harus ku jawab?” Leon mulai menyeringai ke arah gadis itu, dia bahkan mendekatkan wajahnya pada wajah gadis di hadapannya, dan sikapnya itu membuat Rachel memundurkan langkahnya.


Bersambung ...