
- Dua hal yang tidak akan pernah bisa kembali, yaitu waktu, dan perkataan. Maka dari itu gunakanlah keduanya dengan sangat hati-hati, hingga hal itu tidak akan membuatmu menyesal sedikipun. -
____________________________
“Tidak. Ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku hanya ingin menjenguk kedua orang tuaku disana. Sekarang pulanglah!” Rachel kembali menyahut dengan salah satu tangan yang di gunakan untuk menyingkap tangan Leon dari bahunya.
Belum menyentuh tangannya, Leon lekas membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Sorot matanya sangat terlihat jelas jika gadis di hadapannya tengah merasa kesal, dan sudah di pastikan jika hal itu pasti karena ulah sembrononya.
“Kenapa? Kenapa kau tidak ingin orang-orang tahu mengenai hubungan kita?” Tutur Leon yang masih memeluknya.
“Karena aku tidak ingin nama baik keluargamu tercoreng hanya karena kau memiliki hubungan dengan gadis miskin sepertiku.” Mendengar itu, Leon segera melepaskan pelukannya, dan menatap kedua mata Rachel.
“Kau tidak perlu berpikir sampai sejauh itu, Rachel. Jika kelak aku di suruh menyuruh memilih antara dirimu atau hartaku, maka aku akan dengan senang hati memilihmu. Aku mohon jangan khawatirkan hal seperti itu lagi, karena selamanya hanya kau yang boleh mengisi hatiku.”
Lagi, Leon kembali mendekap Rachel, dan kedua tangan Rachel mencoba melayang untuk membalas pelukannya. Pelukannya benar-benar terasa hangat, dan begitu menenangkan, kini hanya Leon yang dia miliki, dan dia juga tidak ingin kehilangannya.
“Aku putuskan untuk ikut bersamamu besok!” Celetuk Leon, dan Rachel hanya menanggapinya dengan sebuah anggukkan.
•••
Hamburg, keduanya telah tiba di kota terpadat kedua itu. Menginjakkan kaki disana, Rachel memutuskan untuk langsung mengunjungi makam kedua orang tuanya, dia sudah benar-benar merindukan mereka, dan Leon hanya mengikutinya dari belakang.
Tiba di salah satu toko bunga, Rachel segera membeli 2 bukat bunga. Seusainya, dia langsung berjalan menuju halte agar bisa menuju tempat pemakaman. Senyumnya terus terukir dalam perjalanan, meski dia tidak bisa menemui mereka secara langsung, setidaknya dia harus tersenyum agar keduanya tidak merasa khawatir disana.
Ayah, ibu aku datang.
Di dalam bus, Leon yang tidak mendapat tempat duduk hanya bisa berdiri di sisi Rachel. Hal itu sungguh membuat Leon merasa tak nyaman, karena bagaimanapun itu adalah kali pertamanya dia menggunakan transportasi umum di tengah padatnya jam kerja. Hanya melewati satu halte, Rachel segera turun dari dalam bus, dan lagi-lagi Leon hanya bisa mengikutinya.
Sejak tadi, Rachel terus berjalan tanpa mempedulikan keberadaannya, dia berjalan seolah tak bersama siapapun, hingga akhirnya Leon pun berjalan lebih cepat lagi agar bisa menyamai langkah gadisnya, bukan menyamai langkahnya, lebih tepatnya pria itu menghalangi jalannya.
“Kau berjalan seakan kau sedang berjalan seorang diri, kau datang bersamaku, Rachel. Apa kau lupa?” Pria itu terlihat merajuk, dan Rachel menatapnya dengan sedikit terkekeh.
Reaksi seperti itu bukanlah reaksi yang di harapkan olehnya. Leon sangat berharap bahwa Rachel akan menghampirinya, meminta maaf atau merayunya, namun siapa sangka jika dia tak mendapat salah satu dari harapannya itu.
Tidak mendapat jawaban dari kekesalannya, akhirnya pria itu berjalan mendahului Rachel dengan menghentak-hentakkan kakinya, lagi-lagi hal itu mengundang tawa dari bibir Rachel. Tingkah Leon sangatlah mengejutkan baginya, karena itu pertama kalinya ia melihatnya.
Apa itu terjadi sejak tadi? Karena Leon berjalan di belakangku, jadi aku tidak mengetahuinya kapan Leon mulai di perhatikan oleh orang-orang yang lewat. Lalu, apa dia menyadari tatapan-tatapan itu?
Sudah berjalan cukup jauh, dengan cepat Rachel menyusulnya, dan langkahnya terhenti ketika melihat pria di hadapannya menghentikan langkahnya. Tidak tahu apa yang sudah membuatnya berhenti, dia pasti sedang menunggunya, begitulah pikirnya, kemudian dengan cepat Rachel mempercepat langkahnya agar bisa berdiri di sisinya.
“Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” Seseorang wanita menyahut, dan Rachel yang baru saja tiba disana benar-benar menganga mendengarnya.
Ternyata dia berhenti karena gadis itu. Dia cantik, apa Leon akan meresponnya?
Rachel terus membatin seraya memperhatikan wajah Leon, dan gadis di hadapannya secara bergantian. Menyadari adanya Rachel disana, Leon langsung menatapnya, dan pandangan mereka bertemu, namun dengan cepat Rachel mengalihkan pandangannya.
“Jadi, kau ingin bertukar nomor denganku?” Sahut Leon dengan salah satu tangan yang masih berada di dalam saku celananya, sesekali dia juga melirik Rachel. “Aku akan memb....”
“... maaf nona, dia sudah memiliki kekasih, dan orang itu adalah aku. Jadi, jangan harap untuk bisa mendekatinya.” Dengan cepat Rachel menyela ucapan Leon, dia pun lekas merangkul tangannya ke lengan pria di sisinya, setelah itu Rachel menariknya pergi dari sana.
Sebuah senyuman tersimpul di bibir Leon, dan dia sangat senang melihat reaksinya saat ini. Namun, betapa terkejutnya dia saat gadis itu melepaskan lengannya, dan sedikit mendorongnya, wajahnya bahkan memerah karena menahan kesal.
“Apa tadi itu kau hendak memberikan nomormu, hah? Apa kau akan melakukannya? Hanya karena dia cantik, dengan mudahnya kau setuju untuk bertukar nomor, kau sungguh menyebalkan, Leon.” Sahut Rachel dengan mempoutkan bibirnya, sedangkan Leon hanya tersenyum menanggapinya. “Kenapa? Kenapa diam saja? Apa kau sedang berpikir akan kembali kesana? Jika begitu kembalilah sana! Jangan hiraukan aku lagi!”
Kali ini, Rachel lah yang bergantian menghentakkan kakinya, dan Leon sangat puas melihat api cemburu dari wajah gadis itu. Semenjak mengenalnya, dirinya tidak pernah melihat Rachel semarah itu, dia bahkan tidak marah ketika dirinya pergi kencan bersama dengan orang yang akan di jodohkan olehnya, tetapi kali ini sangat mengejutkan.
Hendak mengejarnya, lagi-lagi langkahnya kembali tertahan sama seperti tadi. Kini, 2 orang gadis yang datang menghampirinya, dan Leon menatap keduanya bingung, namun dia menatapnya dengan sebuah tatapan dingin nan menusuk.
“Kak, kau sangat tampan, bolehkah kami berfoto dengan kami?” Karena jarak antara Rachel dengan berdirinya Leon sudah tak begitu jauh, Rachel masih bisa menangkap suara itu, dia bahkan ikut menghentikan langkahnya, namun dia tidak ingin membalikkan tubuhnya.
“Aku tidak bisa melakukan itu. Seseorang telah menungguku, permisi!” Balasnya dingin. Kemudian, dia langsung berlari menghampiri Rachel, dan kedua gadis itu segera berbalik memandangi punggung Leon yang menjauh dari keduanya
Ketika langkah mereka bertemu, Leon meraih tangan Rachel, dia juga tersenyum kepadanya, dan tanpa izin darinya dia langsung menarik gadis itu serta memberikan sebuah ciuman yang begitu lembut. Hingga mereka yang memperhatikan Leon sejak tadi ternganga menyaksikannya, bukan hanya itu, bunga yang berada dalam genggaman Rachel pun terjatuh akibat keterkejutannya.
"Astaga, pria itu benar-benar romantis sekali." Seseorang yang melihat semakin terpesona melihat tingkahnya.
"Hey, kenapa kau menangis?" Sahut Leon panik ketika menyadari air mata menetes dari kedua pelupuk mata Rachel
Bersambung ...