Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 62



- Hanya bersama dengan dirimu, itu sudah cukup untuk membahagiakan untukku. -


___________________________


Tanpa menanggapi panggilan dari pria di hadapannya, Rachel segera melaluinya, dan melanjutkan langkahnya agar bisa tiba di rumahnya secepat mungkin. Melihat wanita itu telah berjalan lebih dulu membuat Leon mengikutinya dari belakang.


Bodoh. Apa yang sudah aku katakan? Dengan santainya aku memuji wanita lain di hadapannya.


Leon terus menyesali perbuatannya, dan dia sadar jika Rachel pasti merasa kecewa dengannya kali ini. Lebih lagi ketika mendengar tanggapannya tadi, seolah wanita itu tersindir dengan ucapan yang telah dia lontarkan sebelumnya.


Dalam perjalanan, Leon terus memukuli bibirnya. Hingga tiba di depan pintu, Rachel berbalik, dan Leon menatapnya polos, lalu Rachel mencoba tersenyum kepadanya. Senyuman itu, Leon benar-benar tidak menyukai senyumannya kali ini, dia tahu apa arti di balik senyumnya itu.


“Aku sudah sampai, terima kasih sudah mengantarku. Aku lelah, dan ingin beristirahat, jadi sebaiknya kau pulanglah! Bukankah kau harus menyiapkan ujianmu?” Tuturnya dengan lembut.


“Apa besok malam kau ada waktu? Rasanya sudah lama kita tidak makan malam bersama.” Leon melangkah mendekatinya, namun dengan cepat Rachel melangkah mundur.


“Aku sedang tidak ingin kemana-mana sepulang kerja besok, aku rasa aku hanya ingin beristirahat saja.”


“Baiklah jika begitu biar kita makan bersama di rumahmu saja, bagaimana? Aku akan memesan makanannya, bukankah itu sama saja?” Pria itu masih terus membujuknya.


“Seperti yang sudah ku bilang, aku hanya ingin beristirahat.” Senyum itu terus melekat di bibirnya, dan tampak jelas jika Leon sangat kecewa dengan jawabannya. “Aku akan masuk sekarang, sampai jumpa!” Membuka pintu rumahnya, tanpa memedulikannya lagi, Rachel pun segera masuk, dan kembali menutupnya.


Saat pintu berhasil di tutup, dia berdiri memunggungi pintu tersebut. Dengan menghela napasnya, senyum yang sedari tadi dia tampilkan pun memudar, dadanya terasa begitu sesak ketika mengingat wajah Leon yang tampak berbinar setiap membicarakan teman wanitanya.


Sama halnya dengan Rachel, Leon yang masih berdiri di luar pun bingung harus berbuat apa kali ini. Cuaca semakin dingin, dan mengingat bahwa dia telah berdiri sangat lama di luar, membuatnya menggigil, lalu memutuskan untuk segera kembali.


Berbeda dengan Denis, dan Liana yang semakin lama semakin lengket bak amplop dengan perangko. Hubungan mereka terlihat berjalan mulus, bahkan Denis berniat untuk membawa hubungan keduanya jenjang yang lebih serius lagi.


Baik Denis maupun Liana sudah saling bertemu dengan orang tua mereka, dan mereka pun tidak keberatan dengan hubungan putra-putrinya, mereka menyetujuinya. Orang tua Denis juga meminta mereka untuk mengadakan acara pertunangan.


Pertunangan mereka akan berlangsung sekitar 6 bulan ke depan, dan kabar bahagia tersebut tidaklah di simpan seorang diri oleh Liana, tentu saja dia harus memberi kabar baik itu pada sahabatnya, namun dia tak bisa menghubunginya sama sekali.


“Kau tidak perlu mencemaskannya, Leon pasti sedang bersama dengannya. Kau tahu ‘kan bahwa dia begitu posesif dengan Rachel? Dia pasti tidak akan membiarkan wanitanya untuk mengaktifkan ponselnya jika sedang bersama dirinya.”


Teman? Apa teman yang di maksud Leon adalah Jasmine? Beberapa bulan ini, mereka bahkan terlihat begitu dekat, dan banyak menghabiskan waktu bersama. Leon, aku harap kau tidak mengabaikan Rachel.


“Apa aku harus pergi ke rumahnya saja?”


“Tenanglah sedikit, Liana. Salju semakin tebal, kau tidak boleh pergi sembarangan. Mungkin saja Rachel sedang bekerja bukan?” Denis mencoba menenangkannya, dan Liana pun hanya menganggukkan kepalanya. Berharap bahwa temannya benar baik-baik saja.


New York. Evan tampak sedang memperhatikan wanita yang sedang memperbaiki laporannya. Berbeda dengan Evan yang ternyata berhasil menyelesaikan tugas akhirnya, sedangkan Joy harus merevisinya lagi karena ada beberapa kesalahan pada laporannya.


Merasa kesal karena tak kunjung selesai, dia pun menutup laptopnya dengan begitu kencang. Dia terlihat merengek seraya menyandarkan punggungnya pada kursi yang tengah di dudukinya, bukan hanya itu, wanita itu juga menghentak-hentakkan kakinya.


“Bagaimana jika aku menunda kelulusanku saja untuk tahun ini?” Joy menyahut dengan santai, dan ucapannya di sambut dengan sentilan di dahinya oleh Evan.


“Apa yang kau pikirkan itu, hah? Jika hal seperti ini terjadi lagi di tahun depan, depan, dan di depannya lagi, bagaimana kau bisa lulus? Apa kau ingin menetap disini seumur hidupmu?”


“Tidaaaakk~ aku tidak ingin berlama-lama disini. Maka dari itu bantu aku, hm hm?” Wanita itu tampak memelas di hadapan Evan, sesekali dia mempoutkan bibirnya, dan Evan hanya bisa menghela napasnya menanggapi hal tersebut.


“Berikan laporanmu padaku!” Dengan menunjukkan wajah girangnya, Joy segera memberikan laporan yang sudah di buat sebelumnya pada pria di hadapannya. Bukan hanya itu, dia bahkan membalikkan laptopnya ke arah pria itu. “Apa maksudmu menghadapkan laptopnya ke arahku?” Evan menatapnya.


“Jika ingin membantu tidak boleh setengah-setengah, itu tidak baik.” Joy tersenyum menang seraya menaikkan kedua alisnya berulang kali. “Aku akan pesankan minum untukmu, tunggu disini!” Tanpa rasa bersalah, wanita itu meninggalkan Evan yang sedang menggeleng menghadapi tingkahnya itu.


Ketika hendak mengetik laporan milik Joy, sebuah notif di ponselnya berbunyi. Sebuah email masuk, dan dia begitu terkejut ketika melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya. Sudah sangat lama mereka tidak saling berhubungan, dan yah dirinya sangat ingin tahu kabar gadis kecilnya itu.


Kak Evan, apa kabarmu? Tidak tahu apa emailmu ini aktif atau tidak. Tetapi, tiba-tiba saja aku memikirkanmu. Ha Ha Ha, aku sungguh tidak tahu diri bukan? Menghubungimu setelah sekian lama, dan berkata bahwa sedang memikirkanmu.


Membaca pesan tersebut membuat Evan tersenyum, namun bukan Evan jika dia tidak mengetahui pesan tersembunyi dari kirimannya tersebut. Pria itu selalu berhasil mengetahui apa yang tengah di rasakan olehnya, yah memang tidak ada satu pun yang bisa di sembunyikan oleh orang itu darinya.


“Kau membaca apa sampai tersenyum seperti itu?” Sambar Joy yang tiba-tiba berdiri di sisinya, dan melirik ke arah layar ponsel milik Evan.


Bersambung ...