Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 12



- Jika dengan sikap dinginku, aku bisa menyembunyikan perasaan itu darimu. Maka aku akan melakukannya –


___________________


"Apa yang bisa ku lakukan untuk menebus kesalahanku itu?" Evan tampak frustasi akan semua itu.


"Bawa Rachel kembali. Apapun caranya hapuskan skorsingnya!" Imbuh Liana yang langsung menaiki bus ketika bus telah datang di perhentian, dan Evan hanya menundukkan kepalanya mendengar hal tersebut.


Kali ini, Rachel tengah duduk di salah satu cafe bersama dengan Ariana, karena jam sekolah sudah usai, Ariana berniat untuk mengajak muridnya makan bersama. Awalnya Rachel menolak, dan ingin kembali menuju Berlin, namun Ariana tampak tidak menyetujuinya sebelum gadis itu makan.


Tidak banyak yang ia makan, ia hanya memakan dessert yang ada di cafe tersebut dengan secangkir ice latte di mejanya. Ketika menenggak minumannya, ponselnya berdering, tidak tahu siapa pemilik nomor ponsel itu, karena namanya tidak terdaftar dalam kontaknya. Dengan ragu ia menerimanya, kemudian meletakkannya di telinga kanannya, dan mencoba untuk mendengarkannya.


"Nona Odellina, aku Steve Larch kepala sekolah Sapphire Ocean High School, memintamu untuk kembali masuk seperti biasa."


"B-benarkah? Lalu, bagaimana dengan masa skorsingku?"


"Hal itu merupakan suatu keliruan, dan aku menghapus masa skorsingmu. Aku akan memberitahukan hal ini pada setiap guru pembimbing. Maaf atas kekeliruan yang sudah terjadi padamu."


Saat panggilan berakhir, senyuman Rachel kembali terlukis di bibirnya, dan secara spontan ia berpindah posisi menjadi duduk di sisi Ariana. Ia memeluknya erat, dan Ariana kebingungan dengan sikap gadis di sisinya saat ini. Entah apa yang telah terjadi padanya, dan siapa yang sudah menghubunginya itu sehingga membuat moodnya membaik dalam sekejap.


"Kepala sekolah menghubungiku, dan mengatakan jika masa skorsingku di hapus." Ulas Rachel dengan nada yang bahagia, dan mendengar itu pun tak kalah membuat Ariana bahagia.


Setelah makanan habis, Rachel memutuskan untuk kembali ke Berlin agar dapat menyiapkan pelajaran esok. Ariana mengantarnya menuju stasiun, dan memberikan beberapa makanan kecil untuk gadis itu.


•••


Paginya, Rachel sudah bersiap dengan seragam sekolahnya, wajahnya pun berbinar ketika seragamnya kembali melekat di tubuhnya. Tidak lupa pula ia memasukkan seragam olahraganya ke dalam tas, dan ia segera menuju halte agar bisa lekas berangkat.


Membutuhkan waktu 40 menit untuknya agar bisa tiba di sekolah, dan ketika berdiri di depan gerbang, ia menatapi gedung sekolahnya dengan senyuman yang terlukis di bibirnya. Saat hendak melangkah, ia kembali mendapatkan tatapan sinis dari siswa disini, namun entah kenapa, hari itu jauh lebih sinis dari sebelumnya.


Tidak ingin memusingkan hal tersebut, Rachel berjalan menuju kelas, dan saat ia berada di dalam, seseorang menatapnya dengan tatapan tidak percayanya, namun ia segera berlari menghampirinya ketika orang yang baru saja masuk benarlah Rachel.


"Ini sungguh kau? Aku bahagia sekali, Rachel. Bukankah masa skorsingmu adalah 7 hari? Kenapa bisa?" Tuturnya, dan Rachel tersenyum akan hal tersebut.


"Aku juga tidak menyangka bisa masuk secepat ini. Tapi, kemarin sore kepala sekolah menghubungiku, dan memintaku untuk masuk. Tidak tahu apa yang terjadi."


"Aku tahu siapa yang melakukan ini semua. Ini pasti karena kak Evan bicara dengan kepala sekolah, pasti seperti itu. Kau harus berterima kasih padanya!"


"Apa? Tapi kenapa dia melakukan itu?" Kedua mata Rachel membesar.


"Kemarin saat pulang sekolah, dia mengatakan padaku bagaimana caranya untuk memperbaiki semuanya, dan aku memintanya untuk melakukan sesuatu padamu, salah satunya menghapuskan masa skorsmu itu."


Tanpa sadar, melihat senyuman Rachel membuat seseorang yang menatapnya merasa tenang. Lebih tepatnya ia merasa senang karena melihat gadis itu kembali bersekolah. Hingga pelajaran pun akhirnya di mulai.


Kembali ke tempatnya, guru pembimbing pun masuk, dan mulai menerangkan pelajaran hari itu. Mereka tampak tenang mendengarkan penjelasan pembimbing tersebut, dan mereka terlihat santai saat melakukan pelajaran tersebut.


"Baiklah, minggu depan kita akan melakukan ujian harian. Persiapkan diri kalian! Karena aku akan memberikan poin tambahan pada nilai kalian nanti. Apa kalian mengerti?"


"Mengerti frau." Sahut mereka bersamaan, dan sudah saatnya mereka berganti pelajaran olahraga. Lalu, mereka semua pergi ke ruang loker untuk mengganti pakaian.


Hendak memasuki ruang loker, Rachel melihat seseorang tengah berdiri memandang lapangan dengan pakaian olahraganya. Tidak di sangka jika jadwal pelajarannya akan sama dengan orang itu, hingga membuat Rachel memberanikan diri untuk berjalan menghampirinya.


"B-bisa bicara sebentar?" Gumamnya pelan seraya menggenggam erat baju olahraganya. "I-itu. Kak Evan, terima kasih banyak." Imbuhnya lagi yang kini mencoba memberanikan dirinya untuk menatapnya.


"Terima kasih? Untuk apa?"


"Karena kau sudah membantuku menghapus masa skorsku. Aku benar-benar berterima kasih padamu."


Aku sendiri saja sangat terkejut dengan kejadian pagi tadi. Kenapa semua itu bisa terjadi, bahkan kepala sekolah sampai melemparkan sisa skorsnya pada Elena.


Evan mencoba mencerna semuanya, namun ia cukup bahagia ketika melihat Rachel telah kembali. Sadar dengan lamunannya, ia pun menghela napasnya dengan kasar.


"Tidak perlu berterima kasih. Aku harus pergi sekarang, permisi." Nada suaranya terdengar begitu dingin.


Tidak mengerti apa yang di lakukan pria ini, sebenarnya apa yang di inginkan pria ini pada Rachel, terkadang ia baik, namun terkadang ia menjadi dingin, seolah memang tidak ingin orang-orang di sana mengetahui hubungan keduanya.


"Hey gadis beasiswa! Apa yang kau lakukan disana? Apa kau ingin kembali di skors karena telat masuk jam pelajaran?" Celetuk Leon dengan nada dinginnya, namun Rachel langsung memalingkan wajahnya, dan segera kembali ke ruang loker untuk berganti pakaian.


"Apa kita bermain basket saja hari ini?" Denis yang baru tiba pun menyahut seraya merangkul bahu temannya.


"Baiklah, dan kau menjadi lawanku. Bagaimana?"


"Aku terima tantanganmu itu tuan muda." Ucap Denis. Lalu, keduanya pun segera berjalan menuju lapangan. "Apa kau sudah tahu mengenai kabar Elena, dan juga wakil kepala sekolah? Elena mendapat skors, dan wakil kepala sekolah harus turun jabatan karena mengambil tindakan tanpa sepengetahuan kepala sekolah." Lanjutnya lagi.


"Siapa peduli? Sekarang lebih baik kau bentuk timmu!"


"Tidak perlu tim. Aku ingin menantangmu 1 lawan 1, hanya untuk 1 round saja. Apa kau setuju?"


Bersambung ...