
- Adanya sebuah perbedaan bukan berarti tidak bisa bersatu. Lihatlah pelangi! Meski mereka berbeda warna, namun mereka tetap bisa menjadi satu. –
__________________________________
“Kau melarangku untuk bertemu dengannya. Lalu, dimana kau saat itu? Aku bahkan menunggumu selama 3 jam disana, tanpa kepastian kapan kau akan datang. Aku lelah, sebaiknya kau pulang!”
“Tidak bisakah kau menungguku sedikit lebih lama lagi?”
Tidak menjawab pertanyaan Leon, Rachel memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumahnya, dan Leon juga tampak tak mencegahnya. Dia masih diam terpaku di sana, kedua tangannya terkepal, dan pandangannya pun tertunduk.
“Tuan muda, sebaiknya biarkan dia sendiri dulu. Dia membutuhkan waktu untuk ...”
“... jika begitu kita pulang sekarang, paman stine.” Dengan rasa kecewa, Leon segera pulang ke rumahnya.
Ketika mendengar suara mesin mobil yang menyala, Rachel berjalan ke arah jendela rumahnya, dia menatap kepergian Leon melalui jendela tersebut. Bukan hanya Leon yang kecewa karena di abaikan olehnya, Rachel pun sama kecewanya. Hari yang sangat di tunggu-tunggu olehnya seakan hancur tanpa adanya penjelasan.
Setelah itu, Rachel duduk di kasur lantai miliknya. Dia menatapi tiga kotak yang diberikan oleh Evan sebelumnya, dan menatapi pergelangan tangannya saat ini, lalu sebuah senyum sedikit terukir di bibirnya. Setidaknya, ulang tahunnya kali ini dia tidak merasa kesepian.
Dengan senyumnya, Rachel mencoba membuka kotak berukuran sedang, dan Evan tampak ingin membantunya ketika melihat gadis di hadapannya kesulitan membuka kotak hadiah tersebut, namun gadis itu tidak mengizinkan Evan untuk membantunya sedikit pun.
Kotak sudah hampir terbuka. Ketika tangannya bisa meraih sesuatu di dalamnya, Rachel mengernyitkan kedua alisnya, dan Evan hanya tersenyum menanggapi hal itu. Hingga kotak itu benar-benar terbuka, Rachel menatapi barang tersebut, dan Evan secara bergantian.
“Kenapa kau, dan ayahku sangat gemar memberiku sebuah syal?” Keluhnya, namun Evan tertawa menanggapinya. Melihat reaksinya sekarang membuat dia sangat merindukan momen ketika mereka masih sering pergi bersama.
“Karena kau mudah demam ketika musim dingin tiba.” Evan menjawabnya dengan enteng.
“Dan jawaban yang sama seperti ayahku. Sekarang aku akan membuka hadiah untuk tahun ini.”
Berbeda dari kotak sebelumnya, kotak yang sekarang terlihat besar, dan tak membutuhkan waktu lama untuknya membuka kotak tersebut. Setelah menarik pita yang terlilit pada kotak besar, Rachel segera mengangkat tutupnya, dan dia lekas menarik isi yang ada di dalamnya.
“Sekarang apa lagi? Jaket tebal?” Kini, kedua matanya menatap Evan dengan begitu tajam.
“Selain syal, kau juga membutuhkan jaket agar tubuhmu tetap hangat.” Evan sedikit terkekeh saat ini.
“Baiklah aku terima jawabanmu itu, sekarang yang terakhir!” Mengambil kotak yang belum terbuka, Rachel langsung merebutnya, namun dia tampak kecewa dengan ukurannya. “Kenapa kotak hadiahnya jadi lebih kecil? Bukankah seharusnya semakin besar?” Protesnya seraya mempoutkan bibirnya.
“Kotak pertama syal, lalu jaket, jangan bilang jika ini topi?” Rachel mencoba menebak-nebaknya.
“Mana mungkin topi bisa di masukkan ke dalam kotak sekecil itu.”
“Benar juga.” Gumamnya. Kemudian, dia langsung membuka kotak tersebut, dan dia sedikit tertegun melihat isinya. Menurutnya itu sangatlah indah, dan benar apa yang di katakan oleh pria di sisinya, dia menyukainya. Hingga Evan mengambil benda tersebut dari dalam kotak.
“Simpan gelang ini dengan baik, dan aku tidak mengizinkanmu untuk menjualnya.” Ucapnya seraya memasangkan gelang tersebut pada pergelangan tangan Rachel.
“Aku tidak sejahat itu, kak. Mana mungkin aku menjual pemberian orang lain, kau menyebalkan.” Gerutu Rachel, dan Evan membalasnya dengan sebuah tawa kecil.
Hari telah berganti, dan hari itu merupakan hari terakhir mereka menjalani ujian kenaikan kelas. Ruangan pun benar-benar tampak hening ketika mereka tengah mengerjakan lembaran soal yang telah di bagikan.
Kini, Rachel tampak sedikit frustasi, karena dia belum mempelajari materi hari itu dengan baik, dan itu sedikit membuatnya kesulitan. Meski begitu dia berusaha untuk melakukan yang terbaik, dan setelah ujian selesai, ketika hari libur tiba, dia memutuskan untuk berlibur di Hamburg beberapa hari.
50 menit berlalu, Rachel meninggalkan mejanya serta lembar jawabannya. Dia telah menyelesaikan ujiannya, hingga tak lama setelahnya, Leon juga ikut meninggalkan tempatnya. Setibanya di luar, dia menoleh ke kanan, dan ke kiri untuk mencari keberadaannya, namun gadis itu tidak ada. Merasa yakin dengan satu tempat, Leon segera berjalan ke sana.
Saat ini dia sudah berada di halaman belakang sekolah, dan benar saja jika Rachel berada di sana. Gadis itu tengah duduk seraya menguncangkan kakinya, pandangannya pun tampak tertunduk, sehingga Leon langsung duduk di sana tanpa meminta izin darinya sedikitpun.
“Maaf.” Mendengar suara dari sisi kanannya secara tiba-tiba tentu saja membuat Rachel terkejut, namun dia mencoba untuk menyembunyikan keterkejutannya itu dengan kembali menundukkan pandangannya. “Malam itu, tanpa memberitahuku, ibuku mengadakan acara makan malam bersama dengan salah satu keluarga temannya. Dia memaksaku untuk tetap berada disana, dan dia...”
“... menginginkan terjadinya perjodohan.” Rachel menyela ucapannya, dan dia masih terlihat menundukkan kepalanya. Penuturan Rachel sontak membuat Leon menoleh ke arahnya. Menyadari tak ada respon dari pria di sisinya, Rachel tersenyum tipis. “Jadi benar ya?” Gumamnya lagi.
“Maafkan aku. Maaf karena aku tidak memberimu kabar saat itu.”
“Tidak apa-apa.” Gadis itu mulai menghela napasnya dalam-dalam. “Jadi, apa yang akan kau lakukan saat ini? Haruskah kita mengakhiri hubungan ini?” Rachel menambahkan seraya bangun dari posisinya, dia juga tampak membelakangi Leon ketika mengatakannya. Pernyataannya itu sungguh membuat Leon sangat terkejut.
“Kenapa kau bicara seperti itu?”
“Mau bagaimana lagi? Ibumu sudah menyiapkan seseorang untuk menjadi pendampingmu kelak. Keluargamu pasti menginginkan menantu yang sederajat, dengan begitu mereka bisa merasa tenang, dan bahagia. Sedangkan aku? Apa yang aku miliki? Kita memang dari dunia yang berbeda, dan aku sadar itu. Mungkin tidak seharusnya...”
“... apa maksudmu, hah? Kebahagiaan itu tidak bisa di ukur dari seberapa banyak harta yang kau miliki. Kebahagiaan tidak bisa di ukur dengan setinggi apa derajatmu. Kebahagiaan yang sesungguhnya hanya bisa di dapatkan ketika kau bersama dengan orang-orang yang kau sayangi, dan menyayangimu dengan tulus!” Timpal Leon yang meraih bahu Rachel agar gadis itu bisa menghadap ke arahnya.
Bersambung ...