Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 44



- Bersama denganmu membuat hal yang terlihat sedikit menjadi terasa sangat berlimpah. -


________________________________


Pagi telah tiba, terdengar suara deringan ponsel di dalam ruangan tersebut. Melihat pemilik ponsel masih terlelap dengan begitu nyenyak, akhirnya panggilan itu tak bisa di terima olehnya. Pemanggil tampak tak menyerah dengan apa yang di lakukan sebelumnya, hingga ponsel kembali berdering.


Semakin lama, deringan itu terdengar sampai ke alam mimpinya, dan orang itu membuka matanya dengan begitu terkejut. Setelah mengatur napasnya, dia langsung menyambar ponsel miliknya, melihat nama yang terlihat di layar membuatnya benar-benar terlonjak, kemudian ia pun segera menerimanya.


“Apa yang kau lakukan, hah? Kenapa tidak menerima panggilanku sejak tadi?” Terdengar teriakkan dari orang di seberang sana. “Rachel, jawab aku! Apa yang sedang kau lakukan? Aku sudah menunggu diluar hampir 1 jam, dan kau tak kunjung keluar.” Imbuhnya lagi.


“APA? 1 JAM?” Rachel tampak tak percaya, dan ia segera menoleh pada jam yang terpasang di dinding rumahnya. Melihat jarum jam sudah berada di tengah-tengah angka 8, dan 9 membuat dia langsung terduduk. “Astaga, maafkan aku! Bisakah kau menungguku sebentar lagi?” Tambahnya dengan nada yang panik.


“Kau mau menyuruhku menunggu berapa lama lagi? Setidaknya suruh aku untuk menunggu di dalam, dengan begitu...”


Belum menyelesaikan ucapannya, Leon sangat terkejut saat pintu rumah gadis itu terbuka. Dia menyimpulkan senyumannya, dan langsung turun dari mobil. Bukan hanya itu, dia pun segera mengakhiri panggilan teleponnya.


Walau pintu terbuka, dia tak melihat Rachel keluar. Hingga dia tiba di ambang pintu, dia terkejut melihat penampilan Rachel saat ini. Tanpa berkata sepatah katapun, Rachel kembali menutup pintu rumahnya, setelah itu dengan cepat dia berlari ke kamar mandi miliknya, dan melihat itu membuat Leon sedikit terkekeh.


30 menit kemudian, Rachel telah selesai dengan semuanya, dan dia hanya bisa menundukkan kepalanya di hadapan Leon. Sedangkan Leon, pria itu sedang menatapnya dengan tajam seraya menyilangkan kedua tangannya.


“Apa ucapanku di telepon semalam masih kurang jelas? Bukankah aku mengatakan bahwa jam 8 aku...”


“... aku sudah meminta maaf padamu bukan? Apa kau tidak bisa memaafkan kesalahan kecilku itu?” Rachel menyela ucapan pria di hadapannya seraya mempoutkan bibirnya.


“Ayo berangkat!” Sahut Leon yang langsung menggandeng tangan gadis di hadapannya.


Kemudian, Leon membukakan pintu untuknya, dan dia terkejut saat Stine tidak ada di kursinya. Belum masuk ke dalam mobil, Rachel justru memandangi Leon, namun dengan tajamnya pria itu membalas tatapannya. Tak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, Rachel segera masuk, dan duduk dengan manis di dalam mobil.


Leon yang sudah berada di dalam pun segera melajukan mobilnya. Dengan memegang erat sabuk pengaman yang terpasang pada tubuhnya, Rachel masih memandangi pria di sisinya. Tidak di sangka jika pria itu akan mengemudi sendiri, namun kemana dia akan membawanya?


“Apa ini boleh?” Sahut Rachel.


“Apa?” Leon sedikit menoleh.


“Walau bagaimanapun usiamu masih belum cukup untuk mengemudi sendiri. Jika terjadi sesuatu buk...”


Setidaknya ucapan Leon bisa menenangkannya, setidaknya ucapannya bisa di percaya. Tidak tahu juga kemana pria itu akan membawanya, selama perjalanan Rachel hanya diam seraya memandangi jalanan melalui jendela mobil.


Tidak terasa sudah hampir 3 jam mereka berada dalam perjalanan, dan Rachel pun sudah tampak bosan berada di dalam sana. Hingga akhirnya dia memutar tubuhnya untuk miring ke arah Leon, dia menatapnya dengan mempoutkan bibirnya. Menyadari itu, Leon segera menoleh, dan sedikit menaikkan kedua alisnya.


“Sebenarnya kita akan pergi kemana? Aku sudah lelah duduk terus seperti ini.” Rachel memprotesnya, dan Leon hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.


Leon bahkan tak menjawabnya, dan itu semakin membuat Rachel bosan. Tidak mendapat jawaban dari pria di sisinya, gadis itu kembali menatap ke jalanan, dan menopang dagunya dengan salah satu tangannya. Lagi-lagi hal itu membuat Leon tersenyum, kemudian dia pun mengusap pelan kepala Rachel.


“Bersabarlah! Sebentar lagi kita akan tiba, dan rasa lelahmu akan terbayarkan.”


Seperti perkiraannya, 30 menit kemudian mereka tiba di tempat tersebut. Melihat wajah tempat itu saja sudah membuat Rachel tahu dimana mereka saat ini. Sudah mendapatkan tiket masuknya, Rachel menahan langkah Leon, dan menatapnya dengan begitu lekat.


“Ayolah!” Tutur Leon seraya menggandeng tangan gadis di sisinya.


Jasmund National Park. Merupakan sebuah cagar alam di Jasmund semenanjung, Jerman. Terdapat hutan beech serta tebing kapur terbesar di negaranya, dan ditambah dengan pemandangan laut yang indah. Melihat laut dari atas tebing benar-benar begitu menyenangkan, dan itu yang tengah di rasakan oleh Rachel saat ini.


Kedua matanya memandang takjub ke arah lautan tersebut. Air yang biru, dan tenang membuatnya ingin mendekat ke sana, kemudian dia menatap Leon dengan kedua mata yang penuh harap. Mengerti akan tatapan itu membuat Leon menganggukkan kepalanya, dan membawanya untuk turun.


Bukan hanya di ajak untuk mendekat ke laut tersebut, Leon bahkan mengajak Rachel untuk menaiki kapal agar bisa mengelilingi lautan itu. Dengan mengabaikan Leon, gadis itu berdiri di ujung kapal dengan berpegangan pada pembatas kapal seraya menatap pemandangan yang sungguh luar biasa.


Kemudian, Leon mengambil ponselnya, dan memfoto gadis itu tanpa izin darinya. Dia merasa senang karena bisa membuatnya tersenyum seperti sekarang, setidaknya beban yang di rasakannya hilang untuk sementara. Lalu, dia menarik Rachel agar berfoto bersama dengan dirinya.


“Apa kau menyukainya?” Sahut Leon seraya merangkul bahu gadis di sisinya.


“Aku sangat menyukainya, terima kasih.” Gumam Rachel yang masih tak melepaskan pandangannya dari lautan itu.


25 menit kemudian, mereka harus turun, dan keduanya memutuskan untuk mengelilingi hutan. Dalam perjalanan, Leon sama sekali tak melepaskan genggamannya, dan Rachel pun tampak nyaman dengan hal itu.


Penat berjalan, mereka duduk untuk sejenak, dan Leon membawakan sebotol air mineral padanya. Sejak tadi, Leon tak bisa menghilangkan senyuman dari bibirnya. Ketika melihat Rachel sedang menenggak airnya, dalam sekejap senyuman di bibir Leon pun ikut meredup.


“Sejak kapan kau menggunakan gelang? Dan dari mana kau dapatkan gelang ini?” Sahut Leon yang menarik tangan Rachel dengan paksa.


Bersambung ...