
- Kebahagiaan tidak tercipta dari harta atau tahta. Namun, kebahagiaan bisa tercipta dengan sederhana ketika kau di bersamai dengan orang-orang kau sayangi, dan juga menyayangimu. –
_________________________________
Dengan cepat Rachel menganggukkan kepalanya, dan Leon cukup senang melihat reaksinya. Setidaknya tidak sia-sia dia membelikan kalung tersebut padanya, dan dia ingin gadis itu menyimpannya dengan baik.
“Berbaliklah! Aku akan memasangkannya untukmu!” Pinta Leon. Sesuai dengan permintaannya, Rachel berbalik, dan Leon segera melingkarkan kalung tersebut pada leher putih Rachel. “Berjanjilah padaku untuk tidak melepasnya!” Leon menambahkan ketika kalung itu sudah terpasang dengan baik.
“Aku berjanji, terima kasih.” Sahutnya yang langsung memeluk Leon.
Hari, minggu, bahkan bulan terus berlalu begitu cepat. Tak di sangka jika hari itu merupakan hari kelulusan bagi kelas akhir, dan menjadi pengumuman kenaikan kelas bagi yang lainnya. Acara upacara kelulusan tengah berlangsung, dan Rachel tampak duduk di salah satu bangku audience untuk menghadiri acara kelulusan Evan.
Disana ia ditemani oleh Liana, dan Rachel tidak mengatakan apapun mengenai hal itu pada Leon. Jika saja dia memberitahunya, sudah pasti Leon akan melarangnya. Mengingat hari itu merupakan hari liburan sekolah bagi para siswa, sudah sangat jelas jika Leon pasti sedang bersama dengan gadis itu, gadis yang hendak di jodohkan dengannya.
Setelah upacara selesai, tidak jauh bahwa foto-foto pasti akan dilakukan. Orang tua Evan memutuskan untuk segera kembali setelah semuanya selesai, sedangkan Evan memilih untuk berada di sekolah sementara waktu.
“Bisakah berfoto denganku?” Sahut Evan seraya menjulurkan salah satu tangannya ke arah Rachel, kemudian gadis itu pun meraih tangan Evan.
Pria itu merangkulnya, dan satu tangannya menggenggam sebukat bunga beserta piagam kelulusannya. Setelah itu, Liana mengambil foto mereka untuk beberapa kali, tidak hanya berdua, kemudian Evan meminta salah seorang untuk mengambil foto mereka bertiga.
Evan merasa senang karena akhirnya gadis itu mau datang ke acara kelulusannya. Dengan begitu setidaknya, dia memiliki kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Pria itu tersenyum kepadanya, dan Rachel mengerti arti senyuman tersebut.
Tidak ingin menatapnya terus menerus, Rachel mengalihkan pandangannya, dia bahkan berbalik agar pria itu tak bisa melihatnya bahwa saat ini dia tengah meneteskan air matanya. Liana paham dengan kondisi keduanya, bagaimanapun mereka tumbuh besar bersama, dan sudah melakukan banyak hal secara bersamaan. Sudah bisa di pastikan jika akan terasa berat bagi Rachel untuk melepas kepergiannya.
Lalu, Evan menggenggam salah satu tangan gadis di hadapannya, dan dengan cepat Rachel menyeka air matanya agar Evan tak menyadarinya. Salah jika Evan tak mengetahui hal tersebut, meski berusaha untuk disembunyikan, Evan sangat tahu bahwa gadis itu habis menangis.
“Keberangkatanku jam 11 siang nanti, dan hanya tersisa 1 jam setengah. Aku harus berangkat ke bandara sekarang.”
“Bukankah kau bilang akan berangkat sehari setelah kelulusan? Kenapa berubah?” Rachel menatapnya bingung. Sehari setelah kelulusan saja sudah terbilang begitu cepat, tetapi sekarang justru ingin langsung berangkat.
“Ayahku ingin aku berangkat sesegera mungkin, dan dia sudah menyiapkannya untukku, jadi aku tidak bisa menolaknya.”
“Gadis bodoh!” Celetuk Evan seraya menoyor pelan dahi gadis di hadapannya. “Sejak kapan kau melihatku menunda-nunda pelajaran? Aku tidak akan membuang waktuku. Tidak ada yang tahu ‘kan? Siapa tahu saja kau akan kembali ke sisiku saat aku menginjakkan kakiki disini lagi.”
Mendengar itu membuat Rachel sedikit tertawa, dan Liana pun menyunggingkan senyumnya. Hubungan keduanya benar-benar luar biasa bagi Liana. Meski Rachel tak menerima perasaan Evan, Evan sama sekali tak menyimpan dendam sedikit pun padanya.
“Mulai saat ini jagalah dirimu baik-baik. Ketika sedang sedih jangan sembunyikan itu seorang diri, jangan mengambil terlalu banyak kerja paruh waktu, atur waktu istirahatmu dengan baik, dengan begitu kau tidak akan mudah sakit. Selain itu, ketika musim dingin tiba, jaga suhu tubuhmu agar tetap hangat, dan jangan sampai demam. Jika merasa kurang sehat, jangan berpikir lagi untuk segera memeriksakan dirimu, kau mengerti?” Ucap Evan dengan senyuman hangatnya.
Lagi-lagi penuturannya itu membuat Rachel meneteskan air matanya, pria itu terlalu banyak tahu tentang dirinya, karena itulah dia merasa sangat khawatir. Dia takut jika Rachel tidak bisa menjalani kehidupannya dengan baik.
“Berhentilah menangis! Jika kau seperti ini, aku akan sulit untuk pergi.” Tutur Evan seraya menyeka air mata yang membasahi kedua pipi Rachel. “Bukankah ketika kita berpisah untuk pertama kalinya kau tidak menangis? Kenapa sekarang kau menjadi cengeng?” Imbuhnya lagi dengan sedikit tertawa kecil, dan dengan cepat Rachel pun memeluknya.
“Itu karena aku merasa sangat yakin bisa bertemu denganmu lagi. Lagi pula, kau pergi hanya untuk pindah kota, sedangkan sekarang, kau bahkan tidak mau memberitahuku kemana kau akan pergi.” Rachel membalas dengan suara paraunya.
“Aku akan ke New York. Sekarang berhentilah menangis! Kau bisa mengirimiku email atau melakukan video padaku jika kau ingin.” Senyumannya kembali terukir seraya mengusap puncak kepala gadis di hadapannya. “Baiklah, aku akan pergi sekarang! Ingat pesanku tadi, ya! Dan Liana, bantu aku untuk menjaga Rachel. Sampai jumpa.”
Evan pun pergi dengan mobil jemputannya, dan Rachel masih berdiri di gerbang sekolah seraya menatapi kepergian Evan. Setelah itu Liana mencoba untuk menepuk-nepuk punggung temannya yang saat ini masih merasa kehilangan. Bagaimanapun, Evan adalah keluarga satu-satunya bagi Rachel, dan mengetahui bahwa dia akan pergi, tentu saja itu membuatnya terluka.
“Aku harus kembali bekerja sekarang. Bagaimanapun, aku hanya meminta izin sebentar pada manager cafe. Terima kasih banyak karena sudah menemaniku, Liana.”
“Apa kau sudah merasa baik?” Sahut Liana dengan gelisah, namun Rachel segera menganggukkan kepalanya. “Baiklah jika begitu, berhati-hatilah!” Timpalnya lagi, kemudian mereka pun berpisah.
Sudah berada di cafe, Rachel segera menggunakan seragamnya serta apron miliknya yang sebelumnya dia simpan di dalam loker. Kemudian, dia kembali menjalani aktifitasnya seperti sebelumnya. Seolah tak terjadi apapun, dia menyapa para pengunjung dengan begitu ramahnya.
Terdengar kericuhan saat pelanggan baru masuk, mereka tampak saling berbisik melihat kedatangannya, dan hal itu membuat Rachel sendiri pun merasa penasaran. Dia mencoba untuk melihat siapa yang sudah membuat keributan, dan ternyata orang itu adalah Leon.
Jadi, dia kah gadis yang hendak di jodohkan olehmu itu?
Bersambung ...