
- Ketika aku mencoba berusaha mengubur sebuah kecurigaan, bisakah kau menjaga baik-baik sebuah kepercayaan yang sudah ku berikan? –
_________________________________
“Dari mana kau tahu bahwa Evan pergi di hari yang sama pada hari kelulusannya?” Leon masih menatap kedua mata gadis di hadapannya. mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Leon membuatnya bungkam. “Kenapa diam? Jawab aku, Rachel.” Cecarnya yang semakin memperdekat jarak keduanya.
“I-itu, a-aku datang di hari kelulusannya, dan dia berpamitan padaku.” Rachel membalas seraya menundukkan pandangannya, dia benar-benar tak berani menatap Leon kali ini, karena sudah sangat di pastikan bahwa pria itu akan marah besar kepada dirinya.
Mendengar jawaban yang keluar dari bibir gadis di hadapannya membuat Leon memundurkan langkahnya, dia menghela napasnya dengan berat seakan tengah menahan emosinya agar tetap stabil.
Sesulit itukah untuk tidak menemuinya? Sesulit itukah menuruti permintaanku?
Leon terus menggerutu dalam batinnya, sesekali dia memijat dahinya dengan pelan, dan Rachel menatap Leon yang tengah bersandar pada dinding, dia memberanikan dirinya untuk mendekat ke arah pria itu, bagaimanapun dia bersalah, dan harus meminta maaf padanya.
“Maaf, tetapi aku sudah berjanji padanya bahwa aku akan datang untuk...”
“... kau tidak perlu meminta maaf, sebaiknya sekarang beristirahatlah!” Leon menyela ucapan Rachel, dia mencoba untuk tersenyum, dan melihat sikapnya justru membuat rasa bersalah Rachel semakin besar.
“K-kau tidak marah?” Rachel kembali menyahut dengan ragu, namun sebisa mungkin dia mencoba menatap wajah Leon yang masih menyunggingkan senyumnya.
“Tidak, lagi pula itu sudah berlalu. Namun, jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi.” Tangan Leon mencoba mengusap puncak kepala Rachel, dan dia masih tetap memberikan senyum terbaiknya, meski sebenarnya dia memanglah kesal, namun seperti yang di katakannya, kejadian itu sudah berlalu, dan bisa dikatakan jika hal itu impas, karena saat itu Leon sendiri pun pergi bersama dengan seorang gadis yang hendak di jodohkannya.
••••
Ajaran baru telah di mulai, dan kali ini Denis lah yang menggantikan Evan sebagai ketua osis. Pada awalnya, mereka menunjuk Leon untuk menduduki jabatan itu, namun Leon enggan untuk mengikuti hal-hal yang merepotkan.
Sama seperti sebelumnya, baik Denis, Liana, Rachel maupun Leon masih berada di satu kelas yang sama meski yang lainnya sudah benar-benar berubah, yah semua itu adalah rencana Leon, dia tidak ingin mereka semua harus berbeda kelas, sebenarnya itu hanyalah alibinya agar tetap bisa bersama dengan Rachel.
Leon, dan Denis berjalan di lorong sekolah, dan semakin banyak mata yang memandang mereka dengan terpesona, baik untuk senior maupun junior yang baru bergabung di sekolah tersebut.
Menyadari kedua pria itu tengah berjalan menghampirinya, Rachel, dan Liana pun akhirnya menghentikan langkahnya demi menunggu mereka. Leon yang melihat Rachel telah menunggunya pun langsung berlari menghampirinya, seolah wibawanya hancur hanya karena seorang wanita, dan Denis hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap temannya yang satu itu.
“Selamat pagi gadisku.” Leon tersenyum lebar ke arah Rachel. Liana yang berada di sisinya pun sedikit terkekeh melihat tingkah pria di hadapannya itu.
“Selamat pagi.” Denis yang baru datang pun menyapa mereka seraya tersenyum hangat pada Liana, dan tentu saja Liana membalas senyuman itu. “Sudah ayo kita ke kelas! Sebaiknya kita tinggalkan mereka.” Bisik Denis yang langsung merangkul Liana agar menjauh dari kedua sejoli di sisinya.
“Aku rasa, sebaiknya kita juga harus bergegas ke kelas.” Sahut Rachel, dan di balas anggukkan oleh Leon.
“Benar, mereka bagaikan pangeran sekolah.”
Para siswa junior saling berbisik ketika melihat Leon, dan juga Denis. Tidak mempedulikan hal itu, Leon justru mengumbar kedekatannya pada gadis di sisinya, dia hanya ingin menekankan pada gadis-gadis itu bahwa dirinya tidak akan pernah tergoda dengan mereka.
Setibanya di kelas, Rachel duduk tepat di depan Liana, sedangkan Leon memutuskan untuk duduk di sisi kanan gadis itu, sungguh dia tidak bisa jauh darinya walau hanya sesaat sekalipun. Lagi-lagi Denis hanya bisa menepuk dahinya sendiri ketika melihat tingkat kegilaan temannya itu, namun mau bagaimana lagi? Dia juga tidak bisa mencegahnya agar Leon tidak bersikap seperti demikian.
Bel jam pelajaran pertama pun berbunyi, dan mungkin jika sekolah lain akan sedikit bersantai di hari pertamanya, namun tidak dengan Sapphire Ocean High School, semua jam pelajaran benar-benar di gunakan dengan semestinya, dan tidak ada satu pun pembimbing yang di perbolehkan untuk meninggalkan kelas selama pelajaran tengah berlangsung.
Ketika pembimbing mereka masuk pun tak ada kericuhan yang terjadi pada kelas tersebut, mereka akan diam dalam sekejap untuk memperhatikan pelajaran yang sedang di terangkan, sangat tenang, dan benar-benar menenangkan.
“Baiklah, adakah yang bisa menjelaskan teori asam-basa Brosnted-Lowry?” Pembimbing itu mengangkat salah satu tangannya yang masih menggenggam spidol. “Yuki, apa jawabanmu?” Tambahnya ketika melihat salah satu siswinya mengangkat tangannya.
“Asam merupakan zat yang memberikan 1 H+ pada pasangan reaksinya. Sedangkan basa merupakan zat yang menerima 1 H+ dari pasangan reaksinya.”
“Tepat sekali. Terima kasih Yuki atas jawabanmu. Sekarang duduklah kembali.”
“Terima kasih, Herr.”
“Lalu, alat apa yang di gunakan untuk mengukur derajat kesamaan asam atau basa? Tentunya alat yang akurat, ada yang ingin menjawabnya lagi?” Sahutnya lagi yang berjalan mengelilingi setiap celah di masing-masing baring. “Bagus, katakan Liana!” Imbuhnya.
“pH meter, Herr.”
“Yah benar Liana, sekarang pertanyaannya adalah kenapa harus pH meter?” Pembimbing pria tersebut sudah kembali di depan kelas, dan menatapi siswanya yang masih memperhatikannya, namun semuanya tampak diam ketika dia mengutarakan pertanyaan tersebut. “Rachel, apa kau bisa menjawabnya?” Dia menambahkan saat melihat Rachel tengah mencatat di bukunya.
“Karena pH meter merupakan alat pengukur pH dengan ketelitian yang sangat tinggi. Bukan hanya itu, pH meter juga dapat menyatakan pH larutan sampai dua angka desimal pada suhu tertentu.” Setelah menjawab pertanyaan itu Rachel kembali duduk.
“Bravo! Aku menyukai jawabanmu, Rachel!”
“Terima kasih Herr Alfian.” Rachel kembali berdiri hanya untuk sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Di hari pertama ini, aku benar-benar sangat senang berada di kelas kalian. Awal yang sangat menyenangkan. Baiklah, karena jamku sudah habis, aku harap pelajaranku bisa membuat kalian mengerti, dan kalian bisa bertanya padaku jika memiliki sesuatu yang tidak di mengerti. Sampai bertemu lagi.” Alfian meninggalkan ruang kelas, dan para siswa berterima kasih secara bersamaan.
“Tidak kusangka jika kau semakin pandai, ternyata aku tidak salah memilihmu menjadi pendampingku.” Leon terus bergumam seraya menatapi Rachel dari samping.
Bersambung ...