
- Membuatmu marah merupakan kesalahan besar yang sudah ku lakukan. -
_______________________
Tidak ingin menanggapi ucapannya, Rachel kembali menyiapkan makanan untuk mereka yang datang. Penuturan Leon benar-benar membuatnya sangat terkejut, bisa-bisanya dia menyimpan pikiran seperti itu pada dirinya.
Dia menyembunyikan soal rumah barunya hanya karena ingin memberinya kejutan, yah walau hanya sebatas rumah sewa, tetapi setidaknya tempat tinggalnya kali ini lebih baik, dan sedikit lebih besar dari tempat tinggal sebelumnya.
Merasa bahwa gadisnya tengah merajuk, dengan cepat Leon memeluknya dari belakang, namun lagi-lagi Rachel melepaskan pelukannya itu, dan langsung meninggalkannya. Dia berjalan menuju ruang tengah agar bisa memberikan makanan yang sudah di siapkan olehnya.
“Terima kasih sudah datang, maaf hanya bisa menyediakan kohlrouladen untuk kalian.” Sahut Rachel seraya terkekeh.
“Astaga, ini adalah makanan kesukaanku.” Celetuk Denis saat mendapati satu porsi kohlrouladen. Rachel sangat lega jika Denis menyukainya, dia pun segera duduk, dan dengan perasaan sakit, Leon pun ikut duduk di sisinya.
Mereka membicarakan banyak hal ketika sedang makan, namun Leon tampak diam, dia tidak ingin mengacaukan hari bahagia gadis di sisinya. Sejak tadi pun dia terus merutuki dirinya, kenapa dia harus mengutarakan hal yang tidak berguna seperti tadi? Bisa-bisanya dia mencurigainya.
Hari sudah hampir malam, Liana pun pamit untuk segera pulang, karena dia harus menyelesaikan tugas yang di berikan oleh dosennya. Melihat Liana yang berpamitan, tentu saja hal itu di susul oleh Denis, tidak mungkin juga ‘kan jika dia terus berada di sana? Sampai hal itu terjadi, sudah di pastikan jika Leon akan menghabisinya.
“Hubungi aku jika membutuhkan sesuatu.” Sahut Liana dengan memeluk temannya itu.
“Terima kasih.” Dengan senyuman terbaiknya Rachel membalas pelukannya.
Setelah melihat temannya pergi, Rachel langsung membereskan semuanya, dan lagi-lagi Leon mengikutinya ke dapur. Ia hendak membantunya, namun dengan cepat Rachel mencegahnya agar tidak melakukan hal tersebut.
“Apa kau tidak pulang?” Ujarnya yang tak memalingkan wajahnya.
“Maaf. Aku sungguh tidak bermaksud melukai hatimu, aku hanya takut jika kau pergi meninggalkanku.” Tuturnya, dan secara bersamaan Rachel pun menghentikan aktifitasnya.
Membersihkan kedua tangannya, Rachel segera membalikkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Leon. dengan menyilangkan kedua tangannya, gadis itu memperhatikan pria di hadapannya dengan begitu seksama, hingga senyuman pun terukir di bibirnya.
Tidak meminta izinnya, Rachel langsung menghampirinya, dan memeluknya dengan begitu erat. Mendapati hal itu sungguh membuat Leon merasa terkejut, namun dia pun segera membalas pelukan itu.
“Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu. Kau tidak perlu khawatir, untuk sekarang, hanya kau satu-satunya pria yang aku cintai di dunia ini.” Gumamnya, dan mendengarnya langsung membuat Leon melepaskan pelukannya.
“Apa? Untuk sekarang? Jadi, ada kemungkinan bahwa kau...”
“... kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi ke depan bukan? Tetapi bisakah berjanji satu hal padaku?” Rachel menyela ucapan pria di hadapannya.
“Sekarang ini kita sudah bukan anak SMA lagi, aku juga tidak bisa bersamamu di setiap waktu, sebisa mungkin kau harus menjaga emosimu, kau bisa lakukan itu untukku bukan?” Dengan senyuman hangat di bibirnya, Leon kembali memeluknya.
“Aku berjanji.”
Memang benar mereka bukanlah anak SMA lagi, mereka sudah lulus sejak 2 tahun lalu, dan Rachel menjadi siswi dengan nilai terbaik di sekolahnya. Melanjutkan sekolahnya? Tentu saja dia menginginkan hal tersebut, namun dia tidak bisa memaksakan kondisinya.
Biaya kuliah tidaklah murah, dan dia pun harus mencari tahu soal beasiswa jika ingin melanjutkan sekolahnya. Menjadi seorang pemain musik profesional adalah cita-citanya, karena itu dia sangat ingin mengambil jurusan musik jika dia mendapat kesempatan untuk kuliah.
Meski begitu, setidaknya kehidupannya sedikit membaik setelah dia mendapat pekerjaan tetap di salah satu restaurant keluarga. Setelah lulus, dia memutuskan untuk meninggalkan semua pekerjaan paruh waktunya, dia juga meninggalkan restaurant milik keluarga Leon, dia hanya tidak ingin di lakukan secara berbeda hanya karena dirinya memiliki hubungan dengan tuan mereka.
Dengan pekerjaan barunya, dengan upah yang dia terima, dia mencoba untuk menabung agar dia mampu melanjutkan sekolahnya. Leon sangat ingin membantunya, namun dengan cepat Rachel menolak bantuannya itu, dia tidak ingin berhutang pada siapa pun di dalam hidupnya.
“Sudah malam, sebaiknya kau pulang sekarang!” Sahut Rachel pada Leon yang tengah menyandar di bahunya.
“Aku ingin disini sedikit lebih lama lagi, berada di rumah sangatlah membosankan!” Gerutunya yang masih asyik dengan game yang tengah di mainkan pada ponselnya.
“Tetapi besok kau harus kembali kuliah. Aku berjanji akan menunggumu di gerbang seperti biasa.”
“Benarkah?” Leon tampak gembira mendengarnya, dan Rachel menganggukkan kepalanya. “Jika begitu jangan lupa mengenakan jaket yang lebih tebal lagi, ah kau juga harus menggunakan syal, karena yang ku dengar, besok akan lebih dingin dari hari ini.” Ucapnya lagi.
“Baik-baik aku mengerti, sekarang pulanglah!”
Menuruti permintaan gadis itu, Leon segera menyambar jaket serta tas miliknya, dan Rachel mengantarnya keluar hanya dengan menggunakan sweater yang tengah di kenakannya. Selesai memakai sepatunya, Leon kembali berdiri seraya menatap Rachel yang saat ini berada di hadapannya.
“Sudah kau tidak perlu keluar, kau bisa kedinginan.” Tutur Leon seraya menangkup kedua pipi Rachel, dan sesekali ia mengusapnya dengan lembut.
“Baiklah, berhati-hatilah! Hubungi aku ketika kau tiba di rumah nanti.” Balasnya dengan menganggukkan kepalanya.
Melihat senyumannya membuat Leon tak bisa menahan kendalinya, ia pun mendekatkan wajahnya pada wajah gadis yang berada di hadapannya. Dengan sedikit memiringkan wajahnya, dia berhasil menempelkan bibirnya pada bibir Rachel.
Meski terkejut dengan hal yang dia dapatkan, Rachel langsung memejamkan kedua matanya, dia juga memegangi jaket tebal Leon pada bagian pinggangnya. Tidak lama kemudian, Leon melepaskan ciumannya, dia juga tersenyum kepadanya.
“Manis.” Gumamnya, dan mendengar itu membuat wajah Rachel memerah.
Bersambung ...