Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 16



- Saat sebuah masa lalu dapat terulang, akulah orang pertama yang akan mengulangnya –


____________________


Tidak terasa waktu sekolah pun telah tiba, dan Rachel tengah merapikan letas dasi serta rompinya. Kemudian, ia mengenakan blazernya serta membalutnya lagi dengan jaket tebalnya, setelah itu barulah ia berangkat menuju halte.


Bus sangat ramai pagi itu, namun untunglah ia masih mendapat tempat duduk. Karena ujian tengah semester akan di adakan dalam waktu dekat, Rachel tidak pernah jauh dengan bukunya, berharap jika hasilnya tidak akan mengecewakan.


Setibanya di gerbang sekolah, Liana yang melihat temannya tengah berjalan pun langsung menghampirinya, dan merangkul lengannya. Rachel tersenyum menyadari hal tersebut, lalu mereka pun berjalan menuju kelas secara bersamaan.


“Kau membawa seragam olahragamu ‘kan?” Seru Rachel dengan kedua tangan yang berada dalam saku jaketnya.


“Astaga aku melupakannya, bagaimana ini? Lagi pula ini ‘kan musim dingin, apa akan tetap melakukan pelajaran itu?” Liana menggerutu dengan nada yang terdengar sedikit kesal.


“Kita bisa melakukannya di lapangan yang berada di dalam, itu yang ku dengar sebelum libur.”


“Jika begitu aku katakan saja pada herr Tian bahwa aku tengah datang bulan, dengan begitu pasti akan aman.” Seru Liana, dan Rachel terkekeh mendengar alasan yang akan di buat oleh temannya itu.


“Bisa bicara sebentar?” Entah dari mana Evan datang, dan ia menghadang jalan keduanya. Evan menatap Rachel, juga Liana secara bergantian, mengerti dengan tatapan itu, Liana meninggalkan temannya lebih dulu, dan bergegas menuju kelas seorang diri.


Setelah memastikan Liana telah pergi, Evan meluaskan pandangannya ke sekelilngnya, dan Rachel menatapnya dengan senyum mirisnya. Apa pria ini masih mengkhawatirkan hal lain? Jika dia masih merasa takut akan reputasinya, kenapa juga harus menemuinya secara terang-terangan?


“Sebaiknya kita bicara setelah jam sekolah berakhir saja.” Sahut Rachel yang lekas berjalan meninggalkannya, namun dengan cepat Evan menahannya, dan meminta gadis itu untuk menghadap ke arahnya.


“Baiklah. Hubungi aku jika sudah selesai!”


Apa yang mereka lakukan? Setelah apa yang sudah dia lakukan, masih punya nyali juga untuk mendekatinya. Benar-benar tidak tahu diri.


Lagi-lagi seseorang memperhatikan keduanya, entah sengaja atau tidak, yang jelas ia menatapnya dengan tatapan tak suka. Hingga kemudian, ada siswa lain yang menatapnya dengan tajam seraya menggerutu pelan, dan Rachel pun memperhatikannya.


Saat langkah kakinya kembali melaju, siswa-siswa yang di lintasinya tampak memandangnya dengan membisikkan sesuatu, itu memang hal biasa baginya, namun tatapan hari ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya, hingga Liana kembali menghampirinya dengan napas tersengal.


“Papan... pengumuman.” Ujar Liana yang masih mengatur napasnya, dan Rachel lekas berjalan menuju papan pengumuman yang tak jauh dari tempatnya ia berdiri.


“Kenapa dia selalu merusak martabat sekolah kita? Kehidupan sekolah tampak tenang sebelum kehadiran gadis itu.” Siswa kelas 3 menggerutu kesal saat menatap foto yang terpasang di papan pengumuman itu.


Dengan cepat Rachel menerobos di antara kerumunan agar mampu melihat jelas apa yang telah terjadi, dan mencari tahu alasan dari sikap mereka yang semakin kesal dengan dirinya. Bisikkan-bisikkan tak enak kembali terdengar kala gadis itu melihat fotonya yang tengah bekerja terpasang disana.


“Lihat, dia masih memiliki wajah untuk datang ke sekolah setelah apa yang sudah dia lakukan.”


“Aku dengar dia memiliki hubungan dengan kepala sekolah, mungkin itu yang membuatnya besar kepala.”


“Gadis berwajah tebal.”


Kedua tangan Rachel terkepal, emosinya tertahan dengan pandangan yang tertunduk. Kenapa tidak ada hari tenang untuknya di sekolah itu? Kenapa mereka selalu saja mencari-cari kesalahannya? Dan kenapa mereka bisa berasumsi bahwa dirinya memiliki hubungan dengan kepala sekolahnya.


Tidak ingin terpancing, Rachel langsung mencabut foto-foto itu, dan langsung meninggalkan kerumunan itu. Tidak peduli meski mereka semakin mencacinya, sedangkan Liana mencoba menahan lengannya, namun Rachel sungguh mengabaikannya, dan berlari sebisanya agar bisa menjauh dari sana.


Evan melihat serta mendengar semua bisikkan-bisikkan tak mengenakkan tentang Rachel. Kemudian, ia bergegas mencari gadis itu, ia tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya, saat ini ia hanya ingin menenangkan gadis itu saja.


Ditemukan, Evan melihatnya berada di halaman belakang sekolah. Gadis itu tengah berjongkok dengan memeluk kedua lututnya, dapat terlihat jika ia terluka dengan semua yang terjadi hari ini. Evan melangkahkah kakinya agar lebih mendekat dengannya, hatinya ikut merasa terluka ketika melihat kondisi gadis di hadapannya saat ini. Bagaimana tidak, dia bahkan tidak bisa melindunginya sedikit pun.


Hal ini merupakan kali keduanya Evan melihat Rachel seperti sekarang. Pertama saat dia kehilangan kedua orang tuanya, dan kedua saat ia mendengar semua cacian tentangnya. Gadis itu tidak pernah berubah, dia selalu berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dari orang lain, meski begitu, Rachel tidak pernah mampu untuk menyembunyikannya dari Evan.


Melihatnya membuat Evan tersadar, entah berapa banyak rasa sakit yang ia tahan selama bersekolah di tempat itu, dia bahkan tidak pernah menanyai kabarnya, dan gadis itu tidak pernah menghubunginya sedikit pun, hingga semuanya membuat Evan merasa sangat bersalah.


“Apa terasa begitu menyesakkan?” Gumam Evan yang ikut berjongkok di hadapannya, dia mengusap kepala Rachel, sehingga gadis itu mengangkat kepalanya.


“Sebentar lagi jam pelajaran di mulai, sebaiknya aku masuk ke kelas!” Rachel menyahut, dan mencoba berdiri, tak lupa juga untuknya mengusap kedua pipinya yang basah. Kemudian, langkah kakinya tertahan saat seseorang memegangi pergelangan tangannya.


“Menangislah jika masih belum merasa lega!” Pungkasnya dengan nada yang begitu lembut. Entah sudah berapa lama gadis itu tak mendengar kalimat hangat itu, sehingga membuat dirinya kembali menundukkan pandangannya, dan air mata kembali menetes, lalu Evan membawanya ke dalam pelukannya.


Sebenarnya sedekat apa hubungan mereka?


“Hey apa yang kau lakukan disini?” Denis menyeru pada Leon yang tengah berdiri dengan sebuah tatapan yang begitu intens. Merasa di abaikan, pandangan Denis mengikuti arah pandang temannya, dan ia melihat seseorang tengah berpelukan disana. “Bukankah itu Rachel, dan ketua osis? Apa yang mereka lakukan? Tidak ku sangka jika mereka memiliki hubungan special.” Gumamnya, dan hal itu membuat Leon segera pergi meninggalkan tempat itu.


Bersambung ...