Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 17



- Seandainya waktu bisa di putar, aku ingin membuat pertemuan kita terasa menyenangkan –


_______________________________


Melihat temannya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun membuat Denis mengernyitkan keningnya, dia juga mengangkat kedua bahunya yang kemudian mengejar langkah Leon. Denis merangkulnya, dan entahlah apa yang sedang berada dalam pikirannya temannya kali ini, pria di sampingnya sungguh sulit untuk di tebak.


Merasa lega, Rachel melepaskan pelukan itu, namun pandangannya masih tertunduk lemah. Entahlah sampai kapan mereka akan terus mencelanya seperti sekarang, entah bagaimana membuat mereka jera dengan semua perbuatannya, lagi pula tidak mungkin untuknya memberi pelajaran pada mereka satu per satu, karena pada akhirnya, itu akan berimbas pula padanya.


“Terima kasih, kak. Aku akan kembali ke kelas sekarang.” Sahut Rachel yang langsung membenarkan tasnya, lalu pergi meninggalkan Evan seorang diri di halaman belakang sekolah.


Apa yang harus aku lakukan? Semua tidak berjalan dengan yang ku harapkan, ada atau tidaknya aku, dia tetap mendapat perlakuan seperti itu.


Evan terus menatap punggung gadis itu yang semakin lama semakin menjauh. Pikirannya berkecamuk menjadi satu, dia tidak tahu harus melakukan apa demi mengembalikan senyum di wajah gadis itu.


Setibanya di ruang kelas, Liana menghampirinya, demi menyembunyikan lukanya, Rachel mencoba tersenyum pada temannya itu. Meski teman kelasnya terus mencibirnya dengan bisikkan yang tak mengenakkan, Rachel mencoba untuk menepis semua itu, dan hal itu membuat Leon sedikit menoleh ke belakang.


Pelajaran di mulai. Rachel tampak tak bisa berkosentrasi dengan pelajarannya saat itu. pikirannya seperti bercabang, dan membuatnya tak bisa fokus pada saat itu. Hari itu adalah hari terberat dari hari berat sebelumnya.


“Rachel, apa kau mendengarkanku?” Guru pembimbing memanggilnya, namun Rachel masih tidak menggubrisnya.


“Hey, frau memanggilmu!” Leon menoleh seraya mengetuk meja gadis itu, dan hal tersebut mampu membuatnya sadar dari lamunan panjangnya.


“M-maafkan aku frau, aku sedang sedikit kurang sehat.” Sambar Rachel.


“Jika begitu, sebaiknya pergilah ke ruang kesehatan!”


“Tidak apa-apa frau, aku akan tetap berada disini. Jika aku pergi ke ruang kesehatan, aku akan tertinggal kelasmu, dan itu pasti akan membuatku kesulitan dengan ujian yang akan datang.”


“Penjilat!” Suara itu terdengar dari sisi kiri Rachel, dan tentu saja mampu di dengar olehnya. Bukan hanya dirinya yang mendengar itu, Leon yang dapat mendengarnya itu pun segera melirik ke arah sumber suara.


Pelajaran kembali dimulai, dan Rachel mencoba untuk memfokuskan pikirannya. Bayangan ayahnya terlintas di benaknya, bagaimana semangatnya beliau ketika hendak memasukkan dirinya ke sekolah tersebut, dan itu mampu membuat Rachel untuk membangun kembali pertahanannya.


Ketika pelajaran telah berganti pada pelajaran olahraga, mereka lekas keluar dari ruang kelas untuk menuju ruang loker. Tidak membawa seragamnya, Liana tetap ikut serta keluar, dan berjalan menuju ruang guru untuk bertemu dengan gurunya untuk meminta izin agar tak mengikuti pelajarannya.


Seusainya, mereka berkumpul di lapangan yang berada di dalam, dengan begitu mereka tetap bisa berolahraga meski musim dingin telah tiba. Ketika siswa lain membuat barisan di lapangan, Liana hanya duduk di sisi lapangan seraya menatapi teman-temannya.


“Dia tidak bisa fokus dalam pelajarannya hari ini, tidak tahu siapa yang sudah memasang fotonya ketika sedang bekerja.” Ucap Liana yang masih menatapi punggung Rachel. “Memangnya hal seperti itu tidak boleh di lakukan? Apa sekolah melarang kita untuk mengisi waktu luang dengan bekerja paruh waktu? Jawab aku kak Evan!” Lanjutnya lagi.


“Tidak ada larangan untuk hal itu. Hanya saja, sekolah kita terkenal di kalangan orang-orang atas, dan kau tahu sendiri bagaimana pandangan orang lain tentang sekolah ini. Sekolah sangat memikirkan reputasinya, tidak! Bukan sekolah, melainkan orang yang ada di dalamnya, dan beberapa orang itu berpikiran jika pekerjaan seperti itu di nilai rendah, dan tidak pantas di lakukan bagi siswa yang belajar di sekolah ini.”


“Tetapi, tidak sepantasnya orang itu mempermalukannya, dia bahkan di sebut-sebut sebagai simpanan kepala sekolah hanya karena sisa skorsingnya di berikan pada kak Elena. Kenapa kau tidak memberitahu mereka jika kaulah yang meminta kepala sekolah untuk melakukan itu? Dengan begitu, tuduhan tersebut tidak akan berlaku lagi untuknya.”


“Aku tidak bisa lakukan itu, Liana.” Tutur Evan yang kemudian Liana menoleh saat mendengar pernyataannya. “Aku pun tidak tahu kenapa kepala sekolah mengetahui hal ini, dan membalikkan keadaan. Lagi pula, aku tidak memiliki hak apapun untuk mengubah hal tersebut.” Timpalnya seraya membalas tatapan Liana.


“Jika bukan kau, lantas siapa? Rachel tidak mengenal siapapun disini selain aku, dan juga dirimu, kak.”


“Argh!” Rachel merintih ketika sebuah bola mengenai dahinya. Evan yang melihat itu pun segera turun dari tempat duduknya. Namun, Leon sudah tampak membantu gadis itu. Tidak menginginkan bantuan darinya, Rachel segera menepis tangan pria itu dari lengannya.


Kemudian, Rachel berjalan menuju sisi lapangan, dan menghampiri temannya yang berada disana untuk beristirahat. Liana memberikan sebotol air mineral padanya, dan Evan tersenyum ke arahnya seraya menyeka keringat yang keluar dari dahinya.


“Lihat itu! Dia pasti sengaja membenturkan dahinya pada bola, dia tahu ketua osis ada disana. Benar-benar hanya untuk mencari perhatian darinya saja.” Begitulah yang di ucapkan salah satu siswi saat melihat Evan menyeka keringat Rachel.


“Sebaiknya perhatikan sikap kalian sebelum mengatakan hal tersebut! Katakan saja jika kalian iri padanya!” Celetuk Leon dengan tatapan tajamnya, kemudian ia berjalan melalui mereka.


“Baiklah, kita sudahi sampai disini. Kalian bisa kembali ke ruang kelas kalian!”


Saat mereka meninggalkan lapangan, Evan masih duduk di sana. Dia merasa bingung harus melakukan apa lagi agar mampu melindunginya. Sebelum menuju ruang loker, Rachel memutuskan untuk pergi menuju ruang kesehatan, dan siapa sangka jika seseorang mengikutinya.


“Bisakah kau berdiri dengan kuat ketika tengah di lapangan tadi? Karena dirimu, team kita kalah satu angka!” Leon menyeru seraya menyilangkan kedua tangannya, dan Rachel terlihat mengabaikan pria itu. “Apa kau mendengarkanku?” Ucapnya menarik salah satu lengan gadis itu.


“Aku mendengarmu, tetapi tak perlu menyentuhku!” Sahut Rachel seraya menepis pegangan tersebut.


“Kenapa? Apa hanya ketua osis itu yang boleh menyentuhmu? Apa hebatnya dia? Bahkan dia pun hanya menumpang di sekolah ini, apa kau lupa jika sekolah ini milik ayahku? Akan sangat mudah untukku mengusir kalian berdua dari sini jika aku mau!”


“Entah apa yang sudah aku lakukan pada kalian sampai-sampai kalian membenciku, dan kau bahkan menginginkanku untuk pergi.” Mendengar penuturannya membuat Leon merasa begitu geram, akhirnya ia meninggalkan ruang kesehatan seraya menendang pintu, dan Rachel sedikit terkejut akan hal tersebut. “Bukankah akulah yang seharusnya marah? Dia telah memasang foto-foto itu, dan berlaku seolah tak terjadi apapun. Apakah semua orang kalangan atas memiliki pola pikir sepertinya?” Rachel membatin dengan kesal.


Bersambung ...