Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 48



- Tidak peduli apa yang dunia katakan tentangmu. Saat aku memutuskan untuk memilihmu, maka tidak akan ada yang bisa merubahnya. -


____________________________________


Setelah Flora benar-benar meninggalkan cafe, dengan cepat Rachel mencoba melepaskan genggaman tangan Leon. Merasa bahwa gadis itu melepaskan diri darinya, akhirnya Leon pun mengendurkan pegangannya.


Tanpa berkata apapun lagi, Rachel segera membungkukkan tubuhnya seraya berjalan menuju ruang loker, Araya yang melihat hal tersebut pun lekas menghampirinya, sedangkan Leon, dia terus menatapi gadis itu.


“Astaga, apa pelayan itu benar-benar kekasihnya tuan muda?”


“Seorang pelayan menjadi pendamping seorang pangeran? Bukankah itu terlihat seperti bebek rupa yang berharap menjadi angsa?”


Mendengar bisikkan-bisikkan itu membuat Leon mengepalkan kedua tangannya, dia juga menatapi orang-orang yang sudah mengatakan semua itu. Mendapat tatapan tajam darinya membuat mereka bungkam dalam sekejap.


“Kenapa berhenti? Memang apa salahnya jika aku mencintai orang biasa? Ini adalah hidupku, kalian orang asing tidak berhak ikut campur. Jika aku masih mendengar kalian mengatakan hal yang tidak-tidak lagi, jangan salahkan aku jika kalian akan mendapatkan sesuatu yang tidak kalian harapkan!” Timpalnya yang langsung meninggalkan tempat tersebut.


Sedangkan Rachel, ia tampak duduk di salah satu bangku yang ada di ruang loker. Araya melihat itu, dan dia segera duduk di sisi Rachel seraya menepuk-nepuk punggungnya. Sama seperti yang lainnya, Araya yang sangat mengagumi Leon sangat terkejut ketika mendengar pernyataan pria itu.


Tidak menanggapi kedatangan Araya, Rachel memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Dia bingung harus bersikap bagaimana di luar nanti, apa yang harus dia jawab ketika mendapat pertanyaan mengenai hubungannya dengan Leon? Haruskah dia mengakuinya saja?


“Apa kalian benar-benar berhubungan?” Araya bertanya dengan ragu.


“Apa?” Tutur Rachel yang langsung menoleh ke arah wanita yang terpaut 4 tahun lebih tua darinya.


“Aku bilang, apa kau sungguh kekasihnya? Apa semua itu benar? Aku tahu kau di sekolah yang sama dengannya, tetapi apa itu benar terjadi?” Imbuhnya lagi dengan menatap kedua mata gadis di hadapannya.


“Jika aku mengakuinya, apa kau akan percaya, kak? Jika aku mengakuinya, apa kau akan menjauhiku, dan berpikir negatif padaku?”


“Bodoh. Tentu saja aku tidak akan melakukan itu! Ketika kalian memang memutuskan untuk saling bersama, kenapa aku harus menghalangi kebahagiaan orang lain?” Ucapnya seraya menyentil pelan dahi gadis di hadapannya. “Tetapi, apa tuan muda Leon serius berhubungan denganmu? Dia melakukan itu bukan hanya untuk bermain-main saja ‘kan?” Araya menambahkan.


Pernyataannya membuat Rachel diam membisu, dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, dia bahkan tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Mendengar itu justru membuatnya jadi sedikit takut, bagaimana jika Leon memang berniat hanya untuk bermain-main saja dengannya?


“Bagaimanapun, seluruh kota Berlin tidak ada yang tidak mengenalnya. Siapa juga yang tidak tahu Alira Leart? Seorang wanita yang bisa melakukan apapun demi ambisinya. Aku hanya takut jika dia tak menyukaimu, dia akan melukaimu.”


“Satu lagi, jika wanita itu memang tidak merestui hubungan kalian, kau harus berjanji padaku bahwa kau akan mengikuti semua permintaan Alira, ketika dia memintamu untuk menyerah dengan hubungan kalian, maka menyerahlah, kau mengerti maksudku 'kan?”


Rachel bersyukur, setidaknya dia masih di kelilingi dengan orang-orang yang peduli dengannya. Dia merasa bahwa hal itu pasti karena dia memiliki orang tua yang baik, karena itulah Tuhan membantunya agar bisa bertemu dengan orang yang baik pula, hal itu semata-mata untuk membalas perbuatan orang tuanya.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan Rachel segera bersiap untuk pulang. Ketika sudah selesai, dia pun langsung berjalan keluar cafe serta berpamitan pada yang lainnya. Setibanya di halte, dia menunggu bus datang seraya memainkan ponselnya.


Mendapat sebuah pemberitahuan 25 panggilan tidak terjawab membuat Rachel menghela napasnya. Kemudian, dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam jaket yang ia kenakan saat ini. Bus telah datang, tanpa menunggu lama lagi, dia segera masuk agar bisa cepat tiba di rumah, dengan begitu dia mampu beristirahat lebih cepat.


Besok adalah hari liburku di cafe, dan aku sudah meminta izin pada manager restaurant untuk tak masuk selama satu minggu. Aku akan menggunakan waktuku untuk mengunjungi kalian.


Rachel membatin seraya memandangi layar ponsel yang terdapat foto dirinya ketika bersama dengan kedua orang tuanya.


Hanya melakukan satu kali transit, Rachel segera turun dari bus, dan berjalan masuk ke dalam gang. Dia berjalan dengan menundukkan wajahnya, dan kedua tangan yang sengaja di masukkan ke dalam saku jaketnya.


Saat tiba di rumah, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah kaki lain tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Lalu, dia mengangkat kepalanya secara perlahan agar dia bisa mengetahui siapa orang yang sudah mengunjunginya semalam itu?


“Leon? Apa yang kau lakukan disini?” Gumam Rachel seraya membuka pintu rumahnya.


Pria itu tidak menjawabnya, dan Rachel juga tidak terlihat menunggu jawabannya. Sadar pria itu masih bungkam, dan tak mengatakan apa-apa, Rachel segera masuk ke dalam. Hendak menutup pintunya, Leon menahan pintunya, dan langsung masuk tanpa izin darinya.


Setelah berada di dalam, Leon lekas menutup kembali pintu tersebut, hingga membuat Rachel menatapnya kebingungan. Apa yang hendak di lakukannya? Dia bahkan tak mengatakan apapun, dan dia terus menundukkan kepalanya.


Masih diam membisu, tanpa aba-aba, Leon langsung menarik gadis di hadapannya ke dalam pelukannya. Sikapnya sangat tiba-tiba, tentu saja Rachel akan terkejut dengan hal itu, namun dia tampak tak memberontaknya.


“Maaf. Aku sungguh tidak berniat membuatmu di permalukan, aku...”


“... besok aku akan ke Hamburg untuk beberapa hari.” Rachel menyela ucapan pria di hadapannya, dan mendengar bahwa Rachel akan pergi, Leon langsung melepaskan pelukannya, dia juga menatap kedua mata gadis di hadapannya.


“Hamburg? Untuk berapa hari kau disana? Apa yang akan kau lakukan disana? Kenapa begitu tiba-tiba? Apa ini semua karena diriku?” Cecarnya seraya mencengkram erat kedua bahu Rachel.


Bersambung ...