
- Bagiku, kau adalah duniaku. Karena itulah aku selalu merasa dunia seakan berhenti saat kau berada di sisiku. -
__________________________
Hari terus berlalu, dan ujian tengah semester pun tengah dilaksanakan. Sekolah tampak tenang, karena mereka yang masuk sedang berpikir keras untuk mengisi lembar jawaban yang berada di hadapannya.
Bagi mereka yang menyimak serta mengasah pembelajaran yang telah di berikan mungkin akan terasa mudah untuk mengerjakannya, namun akan sebaliknya jika mereka tak memperhatikannya sama sekali.
Waktu sudah berlalu selama 45 menit, dan Rachel terlihat telah menyelesaikan soal yang di terimanya. Setelahnya, ada Leon serta Denis yang menyusul, lalu mereka yang telah selesai pun segera meninggalkan kelas. Selagi menunggu pelajaran selanjutnya, Rachel memutuskan untuk membaca catatan miliknya.
"Hai, kau benar-benar cepat menyelesaikannya. Apa soal itu terlihat mudah bagimu?" Seseorang duduk di sisinya seraya menyodorkan sekaleng minuman, dan Rachel tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih." Rachel mengambil minuman tersebut, dan menyimpannya ke sisinya. "Kebetulan ada beberapa soal yang ku kuasai. Bagaimana denganmu, Denis?" Imbuhnya lagi.
"Itu sangat sulit. Tetapi, saat aku mulai menyerah, seakan otakku mengeluarkan semua jawabannya, dengan begitu aku bisa menyelesaikannya." Denis tampak tertawa mengutarakan hal tersebut.
"Kau luar biasa." Tawa Rachel pun membersamainya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini? Ikut aku ke halaman belakang! Ada yang ingin aku katakan padamu!" Seseorang yang baru datang menyahut.
"Kenapa tidak bicara disini saja, Leon? Duduklah!" Balasnya seraya menepuk-nepuk tempat duduk di sisinya.
"Denis." Ucapnya lagi dengan tatapan tajamnya, dan akhirnya Denis pun menghela napasnya serta mengikuti langkah kaki temannya yang sudah berjalan lebih dulu.
"Lanjutkan belajarmu, dan maafkan sikapnya itu ya." Denis tersenyum dengan di balas anggukkan oleh Rachel.
Ketika mereka telah meninggalkannya, Rachel kembali memfokuskan pikirannya pada buku yang berada dalam genggamannya. Buku pun tertutup, dan langkah kakinya membawa dirinya menuju toilet, tak lupa ia membawa buku tersebut bersama dengannya.
Saat membuka pintu toilet, dua orang siswi yang melihatnya pun hanya tersenyum sinis. Tidak ingin mempedulikan mereka, Rachel langsung masuk ke dalamnya, dan ia dapat mendengar jelas apa yang tengah mereka bicarakan diluar pintu itu.
"Kau tahu? Aku sangat tidak menyukainya."
"Aku pun begitu, dia selalu bertengkar dengan tuan Leonku, dan selalu cari perhatian dengan kakak kelas."
"Kau benar. Bukankah itu sangat menyebalkan?" Rutuknya. "Sudahlah ayo kita pergi!"
Memastikan mereka telah pergi, Rachel segera keluar dari dalam toilet, dan mencuci kedua tangannya di westafel. Memang tidak mudah setiap waktu yang di laluinya, baginya, orang-orang disana menganggapnya sebagai musuh besar. Jika di pikir, dirinya bahkan tidak mengenal mereka.
60 menit kemudian pelajaran terakhir di mulai, dan pikiran Rachel mulai terpecah akibat ucapan-ucapan buruk yang selalu mencecarnya. Waktu sekolahnya masih sangat lama, dan entahlah apa dirinya akan tahan sampai kelulusan tiba.
Jarum jam terus berputar, jam ujian hampir berakhir, dan Rachel tampak baru mengerjakan soal-soal di kertasnya. Pikirannya mencoba untuk fokus, meski semua tidak berjalan sesuai dengan keinginannya, namun ia terus berusaha melakukan yang terbaik.
Saat jam berakhir, beruntung karena Rachel telah menyelesaikannya, meski ia merasa tak yakin dengan jawaban yang di tuliskan olehnya. Setelah mengumpulkan jawabannya, ia lekas merapikan alat tulisnya, dan ia menyambar jaket tebal serta syalnya.
“Tentu saja. Hari ini jadwalku di cafe, dan pukul 7 malam aku akan berada di restaurant. Jika kau menemuiku, datang saja saat jam istirahatku. Kau tahu pukul berapa bukan?” Balas Rachel yang siap meninggalkan tempatnya.
“Aku akan datang untuk belajar bersamamu.”
“Boleh kami bergabung dengan kalian?” Seseorang tiba-tiba saja menyambar dengan memberikan senyuman terbaiknya. Melihatnya membuat Liana begitu terkejut, dan ia terlihat salah tingkah melihat orang itu. sedangkan Rachel, ia sedikit tertawa melihat kelakuan temannya.
“Denis? Apa kau yakin? Kau siswa cerdas di kelas ini, apa kau...”
“... kenapa? Bukankah kalian juga cerdas? Namun, kalian tetap belajar bersama.” Lagi-lagi Denis menyimpulkan senyumannya, hanya melihat senyumannya saja sudah membuat wajah Liana memerah. “Sebutkan saja kapan, dan dimana kalian akan bertemu. Lalu, aku dan Leon akan datang.” Tambahnya.
“Siapa bilang aku akan datang? Untuk apa kau pergi bersama mereka? Kita akan belajar berdua tanpa melibatkan mereka, ayo pergi!” Sahut Leon yang langsung meninggalkan ruang kelas.
“Tampaknya dia tidak malu. Baiklah, bagaimana jika lain waktu? Kalian mau ‘kan?” Ucapnya masih dengan senyuman yang melekat di bibirnya, dan Liana menganggukkan kepalanya. “Satu lagi, maafkan sifat Leon tadi itu ya.” Imbuh Denis seraya mengedipkan sebelah matanya, lalu ia bergegas mengejar temannya.
Liana tampak masih menatapi punggung Denis dengan begitu lekat, wajahnya masih memerah, dan begitu terpesona. Melihat temannya seperti itu membuat Rachel menepuk dahinya sendiri, kemudian ia segera menyadarkan temannya dengan cara mencubit sebelah pipinya.
“Argh kenapa kau mencubitku?” Protesnya seraya mengusap pipinya.
“Mau sampai kapan kau terus menatapnya? Aku akan pergi sekarang!” Tutur Rachel yang langsung berjalan meninggalkan ruang kelas, lalu Liana segera mengejarnya, dan merangkul lengan temannya tersebut.
•••
1 minggu setelah ujian, hasil terpajang jelas di sebuah papan pengumuman khusus. Papan tersebut hanya berisi nilai-nilai para siswa mulai dari peringkat 1 sampai dengan 50. Saat pagi tiba, sudah banyak siswa yang menghampirinya untuk melihat apa mereka masuk dalam peringkat 50 besar?
Berbeda dengan Leon, baginya semua itu tidaklah penting, karena itu hanyalah sebuah peringkat, lagi pula tidak ada yang di dapat hanya karena masuk 50 besar, begitulah pikirnya. Di saat mereka tengah sibuk melihat nama-namanya, Leon hanya duduk di salah satu bangku seraya menunggu temannya yang sibuk mencari namanya.
“Aduh.” Seseorang meringis, dan mendengar hal tersebut membuat Leon yang mendengar pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
Kenapa dia selalu berbuat ceroboh, sih?
Melihatnya membuat Leon bangun dari duduknya, ia berjalan ke arah orang itu, dan berdiri seraya memperhatikannya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, dan tanpa ada niat membantu sedikit pun.
“Untuk apa sibuk-sibuk mengantri hanya untuk sekedar nama, dan peringkat? Apa itu sangat penting untukmu?” Celetuk Leon dengan nada dinginnya. “Ah aku lupa jika kau merupakan gadis beasiswa, tentu saja peringkat sangatlah penting untukmu. Jika tidak mendapat nilai yang bagus, pasti akan sangat memalukan bukan?” Ejeknya dengan sedikit tertawa.
“Jika tidak berniat untuk membantu tidak perlu banyak bicara! Kau sendiri untuk apa berada disini? Bukankah hanya sekedar nama, dan peringkat?” Rachel membalasnya seraya mencoba bangun. Jawaban yang di berikan gadis itu membuat Leon bungkam.
“A-apa kau begitu penasaran? Aku berada dimanapun tidak ada urusannnya denganmu.” Kedua bola mata Leon tampak berputar, ia benar-benar mengalihkan pandangannya dari tatapan gadis di hadapannya.
“Begitukah? Aku rasa bahasa tubuhmu mengatakan hal lain.” Rachel mendekatkan wajahnya, mencoba mencari tahu kebenarannya.
Bersambung ...