
Dengan suara keras, sesuatu tiba-tiba saja muncul di hadapan Newt dan Lumine pada suatu pagi.
Sebuah tumpukan kertas dibawah cahaya mentari pagi terlihat seperti sebuah petunjuk harta karun di mata mereka.
Keduanya meneliti benda yang berada di hadapan mereka selama beberapa menit, seakan mengantisipasi apapun yang dapat jeluar dari benda tersebut.
Dengan perlahan, Newt pun meraih salah satu lembar kertas tersebut dan membaca apa yang tertulis di dalamnya.
Tidak, lebih tepatnya hanya bebetapa kata saja yang dapat masuk di kepalanya.
Sebagai anak yang kehilangan keluarganya sejak kecil, tidak banyak yang dapat dipelajari oleh Newt.
Banyak kata yang belum mampu ia pahami saat matanya terjatuh pada kalimat demi kalimat di kertas itu.
Newt tidak mengetahui apa yang mendorongnya tetapi ia dengan gigih mencari kata demi kata hingga ia dapat memahami maksud dari kalimat tersebut.
Pada satu titik, Newt mulai memahami apa sebenarnya tumpukan kertas tersebut.
Tumpukan kertas itu adalah sebuah jurnal yang dimiliki oleh seseorang dengan inisial N.P.
N.P adalah seorang penyihir dari menara sihir dan jurnal yang kini berada di tangannya menceritakan kisah hidupnya.
Semua cerita yang di dalamnya berputar pada pandangan N.P dan sekitarnya.
Untuk pertama kalinya, Newt melihat pandangan baru yang tidak pernah diketahuinya. Membentuk perasaan yang sangat kuat di benaknya seiring berjalannya waktu.
Saat ia telah mencapai titik akhir kata yang terukir pada kertas terakhir, Newt menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan kosong tapi juga penuh.
Ia mulai bertanya-tanya apakah perasaan inikah yang dirasakan setiap orang ketika membaca cerita disebuah buku berlapis kulit yang terlihat sangat mahal itu.
Membawanya ke dunia lain tanpa harus menggerakan satu jari pun.
Ia menutup mata dan menarik napasnya perlahan sebelum membuangnya. Mencoba untuk menenangkan perasaan yang berputar di benaknya.
Newt terdiam. Mereka ulang kembali tiap kata yang telah ia lalui selama beberapa bulan hungga tidak jarang melupakan waktu dan sekitarnya.
Hal lucu yang ditemuinya adalah saat Lumine mulai mencurigai bahwa Newt lebih mencintai jurnal tersebut dibandingkan dengan dirinya.
Itulah kali pertama Newt tertawa lebih hingga membuat saudarinya hanya dapat menatapnya lebar dengan mulut terbuka.
Newt kembali membuka matanya. Lalu sesuatu yang tidak ia ketahui kembali mendorongnya.
Ia mulai memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi padanya dengan di dasari oleh pengalaman N.P.
Newt pun membuat keputusan untuk mengikuti langkah miliknya.
Hanya dengan modal nekat dan persiapan yang seadanya, Newt pun memulai perjalanannya dalam membangkitkan kekuatan sihirnya.
Meski sedikit sedih dan khawatir karena harus meninggalkan Lumine di panti tempat mereka tinggal, Newt dengan percaya diri berjalan maju ke masa depan yang dinantikannya.
Melewati hutan yang diselimuti rumor gelap oleh penduduk yang tinggal di dekatnya, berjuang melawan hewan buas yang tinggal di dalamnya, mencoba untuk bertahan dalam kerasnya kehidupan di sana, Newt pun sampai pada tempat tujuannya.
Dengan mata yang lemas, tangannya menutupi cahaya yang bersinar langsung dari celah pepohonan.
Tidak jauh di hadapannya, sebuah pohon besar bersinar di tengah area luas tersebut, dikelilingi oleh kegelapan hutan yang tiada habisnya.
Newt dengan hati-hati berjalan mendekati pohon tersebut.
Ia pun meraih pohon tersebut dan menyentuhnya. Tidak terjadi apa-apa.
Atau itulah yang dipikirkannya dengan perasaan kecewa mengikuti dibelakangnya.
Saat jemarinya terlepas dari pohon tersebut, sebuah cahaya seperti kunang-kunang muncul dari tanah dan menyelimuti area tersebut.
Newt yang sedikit panik dengan cepat memperhatikan sekitarnya. Perlahan perasaan hangat mengalir dalam tubuhnya.
Membuka matanya kembali, ia melihat aliran aura yang berterbangan di sekelilingnya.
Inilah yang para penyihir sebut sebagai 'Mana'.
Newt senang karena perjuangannya membuahkan hasil. Ia berhasil membangkitkan kekuatan sihirnya!
Setelah puas bermain sedikit dengan kekuatan barunya, sosok Lumine terpintas di benaknya dan ia segera bersiap untuk kembali.
Saat melihat tanaman yang familiar di ujung area tersebut, Newt mengingat kembali kejadian terjadi di jurnal dan mulai mengumpulkan beberapa tanaman obat tersebut.
Saat ia kembali, desa tempatnya tinggal terlihat sedikit suram dan sepi.
Lumine menjelaskan kepadanya bahwa terdapat kabar jika sebuah penyakit datang melanda beberapa bagian wilayah di dunia.
Newt menatap kumpulan tanaman yang berhasil ia kumpulkan dengan perasaan gundah.
Ia kembali menatap Lumine dan mengingat bagaimana N.P juga menceritakan bahwa ia memiliki seorang adik perempuan yang tidak dituliskan namanya.
Newt semakin merasakan setiap kejadian yang mulai tumpah tindih dengan yang dituliskan di jurnal dan perasaan buruk terbentuk di benaknya.
Ia berharap apa yang terjadi di jurnal tersebut tidak terjadi kepada mereka. Namun ia terlalu naif.
Sekeras apapun ia mencoba menghindarinya, alur buruk terus datang menghampirinya.
Pada akhirnya, Newt yang tidak dapat sepenuhnya mencegah wabah yang menimpa wilayah mereka membuat Lumine membangkitkan kekuatannya sebagai Saintess.
Tidak butuh waktu lama hingga kabar mengenai lahirnya Saintess mencapai kota suci.
Sebelum para pendeta dapat mengambil Lumine darinya, Newt mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai kota suci, Saintess dan kekuatan Lumine yang ternyata tidak seperti yang ia bayangkan.
Kekuatan Lumine justru memiliki fungsi lain yang tidak ada hubungannya dengan wabah yang menimpa mereka.
Oleh karena itulah ia mencoba untuk membuat perjanjian dengan perwakilan kota suci saat mereka membawa Lumine pergi.
Setelahnya Newt pergi untuk ke menara sihir untuk memperdalam pengetahuannya.
Ia sekali lagi menggunakan pengetahuannya dari jurnal tersebut dan membentuk koneksi serta membuktikan berbagai petunjuk mengenai keburukan dibalik menara sihir.
Dalam kurun waktu 4 tahun, Newt berhasil meraih posisi dua tingkat dibawah arahan pemilik menara sihir.
2 tahun kemudian, Newt memulai rencananya untuk membongkar keburukan menara sihir dengan bantuan rekannya.
Saat ia mengambil alih posisi pemilik menara sihir, Newt diharuskan untuk memilih marga untuk disandingkan dengan namanya. Dengan begitu ia tidak akan direndahkan oleh siapapun diluar menara sihir.
Mengingat sosok N.P diujung pikirannya, ia pun membantuk marga 'Poteire'.
Tidak lama kemudian, Newt yang merenungi perjalanan hidupnya yang penuh berbagai kejadian bahkan sebelum mencapai angka dua puluh kembali menghadap jurnal yang sudah dibukukan dengan rapi.
Berkat jurnal tersebut, ia dapat memiliki kehidupan yang jauh lebih baik, lebih dari yang dibayangkannya. Mendekati ideal.
Ia bahkan menghindari alur dimana ia harus sepenuhnya terputus dari Lumine karena status mereka.
Matanya masih tidak lepas menatap jurnal tersebut dan perlahan berbagai pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terpintas dibenaknya mulai bermunculan.
Meski telah menduduki posisi pemilik menara sihir dan memiliki julukan 'jenius' di punggunggnya, Newt masih belum menemukan jawaban yang diinginkannya.
Newt mungkin sudah menemukan jawabannya sendiri meski tidak puas dan siap menyudahi tanda tanyanya mengenai jurnal tersebut.
Jika bukan karena kabar mengenai eksistensi penjaga labirin sihir—Newt Poteire mungkin sudah menyerah.
***
"Sayang sekali, kekuatan tersebut bukan berasal dari menara sihir."
Telsia menjatuhkan jawabannya dengan lantang bahkan sebelum mereka dapat mengambil napas baru.
Newt mengalihkan pandangan ke bawah. Senyuman tipis terbentuk di wajahnya.
"Begitukah... Saya sudah sedikit menduganya." nada kecewa terdengar dari mulutnya namun matanya tidak memancarkan perasaan yang sama dengan suaranya.
Lebih tepatnya, perasaan seperti rasa penasaran akan kemungkinan lain serta rasa syukurnya akan keajaiban yang didapatkannya jauh lebih besar dibandingkan segala kenyataan negatif yang dihadapinya.
"Tapi, bukankah kau sudah memiliki teori bahwa jurnal tersebut dikirim dari masa depan?"
Newt perlahan mengangkat kepalanya. Binar baru terlihat di matanya, menangkap jawaban yang selalu ingin ia dengar.
"Saat ini kau adalah pemilik menara sihir berkat jurnal tersebut. Tidak menutup kemungkinan jika dirimu di masa depan telah menemukan rumus yang tepat untuk menggunakan sihir waktu."
Kali ini giliran Leana yang terkejut.
"Tapi jika itu dari masa depan--"
"Benar. Newt Poteire dengan kekuatannya, berpikir bahwa ia menggunakan sihir waktu, mengirimkan jurnalnya ke cabang dunia lain dengan waktu di masa lalu." potongnya.
Mata Telsia yang menatap luruh Newt kini beralih kepada Leana yang membeku.
Apapun kata selanjutnya yang akan keluar adalah sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan akan terjadi.
"Sosok asli N.P adalah Newt Poteire dari dunia asalmu, Leana."
Leana menarik napas dan mereka semua terdiam.
Informasi yang dikeluarkan Telsia terlalu besar untuk mereka pahami secara pangsung.
Leana mendapati matanya kembali bertemu dengan pantulannya di permukaan teh.
Leana pun membuka mulutnya dengan sedikit ragu.
"Kenapa anda menceritakan semua ini kepada saya?"
Newt menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat dibaca.
"Saya sendiri tidak tahu." Jemarinya mengelus gagang cangkir tanpa alasan. "Saya hanya merasa bahwa ini adalah hal yang harus saya lakukan."
Ia pun menambahkan.
Leana membuka mulutnya dan menutupnya lagi. Perasaan yang familiar tumbuh di benaknya.
"Pada akhirnya saya hanyalah manusia." ucapnya dengan lemah.
Sekuat dan setangguh apapun pemilik menara sihir, perasaan kesepian yang tidak dapat dijelaskan karena telah memegang sesuatu yang seharusnya tidak mereka pegang tidak dapat mereka tangkal.
Leana tidak dapat membayangkan betapa lega perasaan Newt saat membagikan cerita itu kepadanya.
Kepada dirinya yang juga berpikir bahwa kini ia mungkin saja tidak berdiri di tapak yang sama dengan orang-orang di sekitarnya.
Leana mendengus dengan senyuman.
"Terima kasih."
"Tolong jangan ambil kata-kata saya."
Newt ikut mendengus dan mengalihkan pandangannya. Ia seperti telah terbebaskan.
Matanya melihat ke arah cahaya baru disaat kakinya kembali memulai langkah baru.
Lumine yang sedari tadi terdiam hanya tersenyum melihat keduanya.
Sepertinya pertemuan keduanya adalah sesuatu yang bagus bagi mereka.
Seperti perbincangan yang ditujukan untuk melepas perasaan terpendam mereka kepada orang yang tepat.
"Kalau begitu aku akan pamit duluan. Kalian nikmatilah waktu ini untuk berbincang sesuka kalian."
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Telsia menghilang bersama dengan sihir angin miliknya. Kini mereka kembali pada tiga orang.
"Marchioness, saya tetap ingin membayar keteledoran saya sebelumnya, apakah ada yang anda inginkan dari saya?"
"Ya? Apa??"
Leana mengedipkan matanya. Pikirannya masih mencerna kata-kata yang dilontarkan oleh Newt.
Ia tidak percaya hal tersebut tidak lepas dari pikiran sang pemilik menara sihir selama ini.
Lumine yang memperhatikan reaksi Leana pun menyadari sesuatu dan menepuk sekali tangannya.
"Benar juga, bukankah labirin pengujian akan dimunculkan sebentar lagi? Bagaimana kalau anda menyiapkan jimat perlindungan atau keberuntung untuk Marquis?"
Keduanya menoleh pada Lumine.
"Jimat?"
Menggali ingatannya, Forde sudah memiliki cukup banyak sihir perlindungan dari mantelnya dan senjata sejatinya sendiri sudah dibubuhi oleh sihir unik pilihannya.
Jimat memang adalah hal yang bagus untuk diberikan kepada suaminya, namun ia masih belum mengetahui kekuatan apa yang ingin diberikan kepada suaminya.
Leana selalu berharap agar Forde dapat kembali selamat dengan utuh, jadi apakah ia perlu menambah perlindungan untuknya?
"Jimat adalah ide yang bagus. Saya bisa memberi bubuh sihir sesuai yang anda inginkan."
Leana menghentikan pikirannya dan menatap Newt dengan terkejut.
Sang pemilik menara sihir sendiri yang akan membubuhi jimatnya?!
Seketika perasaannya menjadi berat.
"Itu... Sangat saya hargai..."
Newt memperhatikan Leana yang bersikap aneh. "Hmm... Apakah ada sesuatu yang masih anda bingungkan?"
Leana mengangguk pelan.
"Benar. Meskipun harapan utama saya adalah keselamatannya, saya juga ingin memberikan sesuatu yang unik dan terbaik untuknya."
"Unik dan menarik, hm. Seperti apa?" ucap Newt, ikut berpikir bersamanya.
"Seperti..."
Dipikir lagi, bukankah Leana sudah menyiapkan berbagai jenis alat dengan bubuh sihir di Alphiella?
Ia telah menulis berbagai macam bentuk alat yang dibutuhkan kepada Alscan yang dengan segera disiapkannya.
Alat untuk membantu mereka memenangkan perang besar nantinya.
Leana kembali berpikir keras, meninggalkan Newt dan Lumine yang masih menunggu jawabannya.
Pandangan keduanya saling bertemu untuk sesaat, membentuk komunikasi dan persetujuan tanpa kata.
"Marchioness, saya permisi sebentar."
"huh?"
Newt bangkit dari tempatnya dan meraih anting komunikasi Leana. Seketika beberapa lingkaran sihir terbentuk di dekatnya. Lebih tepatnya di hadapan anting tersebut.
Leana membeku ditempat, tidak berani untuk bergerak. Membiarkan Newt meneliti alat sihir yang digunakannya.
"Sihir telepati, huh? Sungguh inovatif. Sayangnya saya dapat membuatnya menjadi lebih baik lagi." ucapnya dengan nada sedikit merendahkan.
Lingkaran sihir tersebut berputar dan meningkatkan cahayanya untuk beberapa saat sebelum akhirnya meredup dan menghilang.
Setelah puas dengan hasil yang dibuatnya, Newt pun berkata.
"Saya tahu kalau Alscan adalah orang yang unik. Meskipun ia berbakat namun sihirnya masih belum seberapa."
Jika membandingkan Newt dengan Alscan, tentu saja kekuatan mereka akan terasa seperti langit dan bumi.
Meski begitu Leana tahu bahwa dibandingkan dengan kesempurnaan, Alscan lebih menuju pada kemungkinan akan ide baru.
Oleh karena itulah Leana sedikit kesal saat Newt membuat komen tentang Alscan.
Saat ia ingin membalas perkataannya, Newt membuka mulutnya lebih cepat.
"Bagaimana jika kita bertemu di lain waktu untuk membahas hal ini? Saya bisa mengunjungi kediaman anda jika anda memberi saya undangan. Lagi pula saya perlu bertemu dengan Alscan yang tidak memberikan laporan selama dua bulan terakhir."
Leana mengernyit mengingat kediaman dimana Alscan berada adalah Alphiella dan ia belum berencana untuk membuka hal tersebut kepada orang luar.
"Bagaimana kalau kita membahas hal tersebut di tempat anda saja?"
Newt menaikan sebelah alisnya. "Di menara sihir? Mengapa?"
"Selain memberikan anda keuntungan jika terjadi sesuatu, saya juga merasa kediaman anda akan lebih cocok untuk menghindari perhatian dari luar."
Leana mengalihkan sedikit pandangannya. Memalsukan batuk untuk menutupi alasan penuh kebohongan yang dikeluar mulutnya dengan lancar.
Semua yang dikatakannya tidak sepenuhnya kebohongan. Ia benar-benar memikurkan cara untuk tidak menarik perhatian dengan membuat pertemuan mereka ke arah bisnis daripada pribadi.
"Baiklah. Jika anda tidak masalah, saya akan mengirimkan undangan kepada anda. Dan tolong bawa Alscan bersama anda." Newt menggunakan nada berat di akhir kalimatnya.
Leana hanya dapat mengangguk dan berdoa akan keselamatan batin Alscan nantinya.
Setelah beberapa menit berbincang, dengan Lumine yang akhirnya ikut membuka topik bersama mereka, pertemuan mereka pun berakhir.
Newt menghilangkan jejak pertemuan mereka dan mengubah interior tempat tersebut kembali kesedia kala.
Lumine menarik jubah Newt sebelum keduanya berpisah.
"Kak Newt, soal Paladin di luar..."
"Tidak masalah, aku akan memanipulasi ingatan mereka."
Newt menepuk pundak Lumine sekali untuk meyakinkannya. Kemudian pandangannya mengarah pada langit-langit.
Ia menutup matanya seakan mencoba untuk merasakan sesuatu. Memastikan sesuatu.
"Hmm, sepertinya ada yang lain selain paladin di luar."
"Ah, itu adalah bawahan saya."
Leana segera menjawabnya untuk menghindari kesalahpahaman. Ia pun menambahkan.
"Anda tidak perlu repot-repot menghapus ingatan mereka karena mereka diharuskan untuk mengetahui kegiatan saya."
"Bagaimana saya bisa mempercayai anda?"
"Eksistensi mereka sangat dirahasiakan bahkan oleh sang Kaisar sekalipun. Saya rasa mengetahui keberadaan mereka sudah cukup."
"Mereka itu apa? Aku bisa merasakan sihir yang asing."
"Saya tidak dapat membukanya disini. Saya akan menjelaskannya dipertemuan kedua kita, di tempat yang lebih aman jika anda tidak keberatan."
"Hmm... Baiklah, tidak masalah."
Newt mengayunkan tangannya dengan pelan di udara.
"Semua sudah beres. Kesadaran paladin akan kembali saat kalian keluar ke are festival. Mereka tidak akan mengingat kunjungan kalian ke sini."
"Terima kasih kak." Lumine memberinya senyuman dan Newt membalasnya.
"Jaga dirimu baik-baik." Newt beralih kepada Leana. "Sampai jumpa di pertemuan kita selanjutnya, Marchioness. Saya sangat menikmati pertemuan kita."
Dengan akhir katanya, Newt menghilang bersama dengan sihirnya.
Bersamaan dengan cahaya yang semakin meredup dengan hilangnya sihir Newt, Lumine dan Leana pun berjalan keluar dari tempat tersebut.