This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
The Emperor



Sejak awal Leana sudah menduganya. Ia tahu cepat atau lambat, hal tersebut pasti akan terjadi. Tetapi ia tidak menyangka bahwa akan secepat ini terjadi.


Dengan ragu ia kembali melirik amplop dengan cap emas di hadapannya. Dilihat dari segi manapun amplop tersebut berasal dari kekaisaran.


Kemungkinan bahwa amplop itu berisi undangan untuk menghadap sang kaisar sangatlah tinggi.


Leana menghela napas.


"Jika kamu tidak mau datang, maka tidak perlu datang."


Leana melotot pada Forde dibelakangnya yang masih berfokus pada pekerjaannya dengan satu tangannya yang melingkar ditubuhnya.


Ia memukul dan mencubit tangan itu dengan kuat berkali-kali namun kondisinya tidak berubah sama sekali.


Ia belum membuka surat tersebut tetapi Forde seakan sudah bisa membaca masa depan.


Ia kembali menghela napas berat untuk alasan yang berbeda.


"Forde, kamu tahu kan kalau ini adalah surat dari kekaisaran?"


"Iya, aku tahu."


"Kalau begitu bukankah kita wajib datang?!"


Forde menoleh kepada Leana.


"Aku tidak peduli. Jika kamu tidak mau datang, bilang saja tidak bisa datang."


'Tidak, tidak. Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu, Forde?!"


Meskipun ia adalah seorang Marquis, sang Kaisar masih memiliki posisi lebih tinggi darinya.


Forde kembali kepada pekerjaannya sementara Leana masih mengernyit keheranan.


Leana kembali mencoba untuk melepaskan diri tetapi kekuatannya tidak menyanggupi suaminya. Ia pun memasang wajah masam.


"Aku akan datang ke istana. Aku sepertinya tahu topik pembicaraan nanti akan dibawa kemana, terlebih aku merasa akan tidak sopan jika menolak undangan penting ini."


"Jika kamu baik-baik saja, maka aku tidak akan menghentikanmu. Tetapi kuminta agar kamu tidak memaksakan dirimu juga."


Leana tertawa kikuk di dalam benaknya.


Mengingat bagaimana ia adalah orang yang tidak berguna di Grandall pada kehidupan pertamanya, ia merasa tidak tenang jika tidak berbuat sesuatu.


Selain itu, Leana memiliki alasan lain akan keraguannya untuk bertemu dengan sang kaisar.


Forde menyelesaikan pekerjaannya kemudian menghadap kembali kepada Leana.


"Leana, kamu tidak perlu menanggung beban sendirian. Sama seperti kamu ingin menolongku, aku juga ingin menolongmu. Jadi mari kita melengkapi ya?"


Leana kehilangan kata-kata dan hanya dapat mengangguk. Wajahnya tersipu kemerahan karena senang suaminya sangat pengertian kepadanya.


Suami idaman para wanita. Setidaknya itulah tampak depannya.


Setelah mengetahui dua kehidupan Leana, Forde lebih membuka dirinya dan keduanya saling mengisi satu sama lain.


Sebagaimana Leana memilih Forde sebagai harapan terakhirnya, Forde pun memerlukan Leana sebagai tujuan hidupnya.


Tidak ada alasan bagi mereka untuk mengalami hal buruk kecuali perang yang akan datang.


Dengan perasaannya yang sedikit menjadi ringan, ia memanjakan dirinya kepada Forde dan mengumpulkan tenaga agar dapat menghadap sang kaisar nantinya.


***


Leana yang gugup dan khawatir terus menggenggam tangan Forde. Pikirannya terus bertempur dengan perasaannya untuk menenangkan diri bahkan ia melupakan kekhawatiranmya terhadap tangannya yang mungkin saja berkeringat.


Forde diam-diam tersenyum melihat sosok istrinya yang sedikit aneh namun juga segar di matanya. Momen mereka saat berdua sangatlah berharga hingga ia berharap waktu tidak pernah berjalan.


Setelah menghela napas dan mengumpulkan keberanian, ia pun mengangguk kepada Forde dan Forde pun memberi isyarat kepada penjaga yang berdiri di depan pintu aula singgasana.


Penjaga itu mengangguk dan berjalan menuju gagang pintu dan membukanya.


"Marquis Forde Grandall dan Marchioness Leana Grandall menghadap Yang Mulia Kaisar!"


Saat Leana menangkap pemadangan di dalamnya, ia mengingat kehidupan pertamanya.


Benaknya bercampur aduk dengan perasaan ragu, gugup dan juga nostalgia.


Dahulu ia beberapa kali datang ke hadapan sang kaisar dengan Duke Leon untuk memberikan laporan kepadanya.


Pandangan sang kaisar kepada mereka selalu dingin seakan mencoba menilai mereka. Tatapan mencurigai dan tidak tertarik yang selalu dilihatnya diberbagai tempat.


Rasa ketidaksukaan sang Kaisar kepada keduanya dapat dirasakannya tanpa perlu diberitahukan hingga membuat Leana seperti ditusuk oleh jarum selama pertemuan mereka berlangsung.


Pada saat itu Leana tidak mengetahui bahwa sebenarnya sang Kaisar selalu mempertanyakan kredibilitas Duke Leon hingga ke tahap mencurigainya. Ia selalu berpikir bahwa Duke Leon memiliki banyak musuh dan orang yang tidak menyukai dirinya. Salah satunya adalah sang kaisar.


Hingga pada titik ia dikhianati oleh Duke Leon, barulah matanya terbuka akan semua petunjuk dan kenyataan mengenai keburukan Duke Leon yang selalu ia tutup dalam hatinya.


Saat ia mengedipkan matanya lagi, siluet masa lalu menghilang dan berganti pada kejadian saat ini.


Tidak seperti dahulu, kini sang kaisar dihadapannya menatapnya dengan hangat. Seakan ia telah menanti kedatangannya.


Terasa sangat tidak familiar dan sedikit mencekik tapi ia merasa lebih bebas daripada yang dahulu.


Forde dan Leana pun membungkuk untuk memberi salam kepada sang kaisar.


"Selamat siang, Yang Mulia. Saya Forde Grandall dan istri saya, Leana Grandall menghadap Yang Mulia Kaisar Solfilyan."


Kaisar mengangkat tangannya untuk menyudahi salam mereka.


"Angkat kepala kalian."


Leana memperhatikan sang Kaisar. Penampilannya tidak jauh berbeda dari apa yang diingatnya di kehidupan pertama.


Rambutnya yang bercampur antara emas dan perak, matanya yang berwarna hijau kekuningan.


Sekali pandang saja semua orang sudah dapat mengetahui bahwa sosok dihadapannya memiliki aura kuat melebihi siapapun.


'Pada masa mudanya, sang kaisar dikenal sebagai ahli pedamg nomor satu setelah mengalahkan Duke Doverbell yang merupakan ahli pedang.'


Sang kaisar yang memberikan keadilan bagi rakyatnya, baik itu bangsawan maupun rakyat jelata.


"Marquis, Marchiness. Pada hari ini saya memanggil anda karena--"


"Grand Duke Eclipse Volfelance menghadap Yang Mulia Kaisar!"


Leana terkejut melihat sosok familiar datang ditengah pertemuan mereka dengan sang kaisar.


Eclipse dengan penampilan penuh wibawa memasuki ruang singgasana dengan anggun.


Ia tahu bahwa Eclipse adalah keponakan dari sang kaisar, tapi untuk melihat keduanya berada di satu ruangan yang sama adalah sesuatu yang langka di mata publik.


"Maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia. Apakah saya terlambat?"


Kaisar mendengus melihat Eclipse yang datang tanpa menjaga sikapnya sebagai bangsawan.


"Tidak. Kami baru saja ingin memulai pembicaraan."


Bersamaan dengan Eclipse yang datang ke tempat Leana dan Forde, pintu dibelakangnya tertutup.


Leana tertegun.


"Tuan Eclipse, kenapa anda ada di sini?"


"Hmm? Tentu saja untuk bertemu dengan sang kaisar. Lagi pula aku bukanlah orang yang lepas tangan, terutama jika situasi ini di sebabkan oleh saya."


Benar. Kaisar memanggilnya karena laporan yang diberikan oleh Eclipse. Dari yang ia baca dari informasi yang diberikan Adde, Eclipse memberitahukan kaisar bahwa Leana memiliki penglihatan akan masa depan.


Leana pun memberi cap tidak sopan kepada Eclipse yang telah membocorkan hal penting tersebut kepada orang lain.


"Melanjutkan yang tadi terpotong, saya ingin bertemu dengan Marquis dan Marchioness adalah untuk membahas mengenai penemuan di kediaman Duke Gwertivare." ucap kaisar.


"Seperti yang Marquis ketahui, semua yang berhubungan dengan labirin sihir akan bersifat internasional. Jika informasi mengenai campur tangan Duke Gwertivare terhadap labirin sihir terdengar keluar, Kekaisaran Solfilyan akan mendapat kecaman keras dari seluruh negara."


Leana sedikit tersentak saat pandangan kaisar menuju kepadanya.


"Marchioness, saya dengar anda mendapatkan sebuah penglihatan. Bisakah anda menceritakan mengenai penglihatan anda tersebut?"


Eclipse yang menyadari tatapan panas dari Leana melambai ke arahnya. Melihat hal tersebut membuatnya semakin kesal.


Dibelakang Leana, Forde menatap tajam Eclipse hingga ia segera berhenti dan membenahi dirinya.


Sang kaisar hanya dapat terheran dengan tingkah laku tamu dihadapannya.


"Ekhm!"


Perhatian ketiganya pun kembali kepada sang kaisar.


"Jadi bagaimana, Marchioness"


"Soal itu..."


Sang kaisar mengikuti arah pandangan Leana yang mengarah pada sekelilingnya. Ia pun menatap Forde.


"Bagaimana pendapatmu, Marquis Grandall?"


Forde dengan tenang menjawab.


"Saya tidak berani menolak permintaan dari anda, Yang Mulia. Namun jika diperbolehkan, saya tidak ingin istri saya menceritakan sesuatu yang tidak ingin ia katakan." ujar Forde.


Sang kaisar mengangguk setuju dan kembali menatap Leana seakan meminta jawaban pasti darinya.


Ia pun menelan kegugupannya dan menjawab.


"Baiklah, Yang Mulia. Saya akan menceritakannya kepada anda."


Leana menceritakan mengenai portal labirin sihir dan perang dunia dengan monster yang muncul dari portal tersebut.


Cerita tanpa bukti tersebut terdengar zeperti omong kosong. Namun melihat bagaimana Marquis Grandall dan Grand Duke Volfelance terdiam dengan ekspresi serius, sang kaisar merasa ia harus mempercayainya.


"Dunia akan hancur hm..." sang kaisar mengetuk jari telunjuknya pada singgasana sembari berpikir.


Masa depan yang diketahuinya kini terlalu suram untuk ia bayangkan namun merupakan cahaya baru untuk mengubahnya.


Matanya yang berenang kembali kepada Leana dengan ekspresi serius.


"Dengan pengetahuan ini, apakah anda berpikir untuk mengatasi labirin sihir sendirian?"


Benar. Selama ini Leana mencoba untuk mengatasi semuanya sendirian. Ia bahkan tidak pernah berpikir untuk meminjam kekuatan kaisar untuk membantunya.


Dengan mulutnya yang sedikit terbuka, tidak ada satupun kata yang dapat keluar darinya. Leana merasa seperti orang yang beda rahasianya diketahui oleh orang lain.


"Saya dengar anda membuat membuat kontrak dengan penjaga labirin."


"Itu benar Yang Mulai."


"Apakah anda berpikir untuk menggunakan kekuatan penjaga labirin sihir untuk menghentikan kemunculan portal labirin?"


"Saya tidak bisa menangkalnya, Yang Mulia."


"Maksudnya anda yakin bahwa kekuatan penjaga labirin sihir dapat menghentikan portal?"


Leana tidak yakin sepenuhnya, tetapi ini adalah satu-stunya cara yang harus ia ambil.


"Biarkan aku yang menjawab, Leana."


"Telsia!"


Dengan nama yang tidak sengaja ia sebutkan, sebuah cermin sihir muncul dihadapan mereka dan menampilkan sosok penjaga sihir.


Kaisar dengar cepat mengetahui siapa sosok yang terpantulkan di hadapannya.


"Apakah anda yang mereka sebut penjaga labirin sihir?"


"Benar sekali. Senang bertemu dengan anda, wahai kaisar Solfilyan."


Meskipun terdengar sedikit tidak sopan dihadapan sang kaisar, Telsia tetap bersikap tenang dan acuh tak acuh.


"Ini adalah suatu keberuntungan. Saya sempat berpikir untuk bertemu dengan anda meski hanya sesaat."


"Saya menampakan diri karena saya merasa keberadaan saya sedang dibutuhkan saat ini."


Leana tersentak saat Telsia melirik kepadanya. Forde pun mendekatkan Leana kepadanya dengan waspada.


Telsia hanya mendengus melihatnya.


"Mengenai labirin sihir yang sedang anda bicarakan. Bisa dibilang, bisa saja saya menghentikannya tetapi tentu saja dengan sebuah bayaran yang besar." ujarnya.


"Sayangnya saya tidak berencana untuk mengorbankan diri saya untuk dunia ini." tambahnya.


"Apakah anda ingin mengatakan bahwa orang di dunia ini harus dikorbankan untuk menghentikan labirin sihir?"


"Lebih tepatnya, yang dapat menghentikan labirin sihir di dunia ini hanyalah orang dari dunia ini saja. Saya sebagai penjaga sekaligus pengamat labirin sihir tidak diperbolehkan untuk campur tangan dengan masalah di dunia ini."


"Tetapi bukankah labirin sihir adalah tanggung jawab anda?"


"Di dunia yang berbeda, labirin sihir dianggap sebagai ujian bagi penghuni dunia tersebut."


"Ujian, huh?"


"Oleh karena itulah, izin atas pergerakan saya ini hanya sejauh memberi petolongan kepada penghuni dunia ini. Saya hidup berdasarkan kehendak labirin sihir dan untuk melawan kehendak tersebut adalah sebuah hal yang tabu."


Telsia menjentikan jarinya dan memunculkan hitungan mundur kemunculan labirin sihir.


"Duke Gwertivare mungkin telah tertangkap namun pelaku utama dari kejadian ini belum ditemukan.


"Apa maksudnya itu?"


"Seseorang membantu dan memberikan informasi kepada Duke Gwertivare untuk mengacak jadwal labirin sihir."


"Tidak hanya urutan tempat dan kemunculan tetapi juga waktu kemunculannya." tambahanya.


Kaisar terkejut dengan pernyataan Telsia. Ia mulai merasakan pusing di kepalanya. Mata hujauh kuningnya menatap lurus Telsia dengan serius.


"Anda bilang akan membantu kami, bukan? Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi portal labirin?


"Buatlah persatuan dari berbagai negara untuk menggabungkan kekuatan mereka agar dapat mengalahkan labirin."


Kini semua orang di sana terkejut.


"Membuat persatuan dengan negara lain?" ucap Eclipse.


"Portal labirin adalah saat lima labirin sihir muncul secara bersamaan dan membuat portal untuk membuka dimensi lain. Untuk menghentikan terbentuknya portal, setiap labirih harus dikalahkan untuk mematikan sistem portal di dalamnya." Jelas Telsia.


"Apakah menyatukan kekuatan dapat menyelesaikan masalah portal labirin?" tanya Forde.


"Dengan kekuatan yang ada sekarang, kalian mungkin tidak akan dapat menghentikan terbentuknya portal. Oleh karena itulah saya sudah membuat solusi untuk menutupi kekurangan tersebut."


"Solusi apa yang anda maksudkan?" tanya Forde.


Telsia pun mulai menjelaskan solusi yang direncanakannya. Dengan setiap kata, mata mereka yang berada di ruangan tersebut melbar tidak percaya dengan penjelasan tersebut.


Leana pun tertegun kepada Telsia yang bertindak sangat jauh untuk menyelamarkan dunia ini. Ia menjadi terharu.


Telsia yang selesai menjelaskan menatap lurus sang kaisar.


"Jadi bagaimana jawaban anda, wahai kaisar Solfilyan?"


Kaisar memegang dagunya dan menutup matanya. Memikirkan keputusan penting yang akan dibuatnya.


Ia pun membuka matanya dan berdiri dari singgasananya. Dengan aura yang menyilaukan, ia pun memberikan jawabannya.


"Baiklah. Saya akan menerima saran anda, wahai penjaga labirin sihir."