
“Diana…”
Diana Wordlock adalah saudari tiri
Leana menatap saudari tirinya tersebut dengan tajam. Untuk bertemu dengannya adalah sebuah kesialan bagi Leana. Sepertinya hari pesta yang seharusnya ia nikmati sepenuh hati sangatlah buruk baginya karena ia harus bertemu dua orang yang dibencinya.
Leana merasa jika ia tidak segera pergi, ia akan bertemu dengan ibu tirinya. Ia memutar otak untuk segera pergi dari tempat itu. Ia merasa tidak nyaman dengan perkumpulan dimana saudari tirinya berada.
“Bukankah sudah lama semenjak kau menampakan dirimu di pesta, nona Leana?”
Dari panggilannya saja, sepertinya Diana tidak pernah berubah. Ia selalu merendahkan Leana seakan hal tersebut merupakan hal yang harus dilakukan.
Akan tidak sopan jika Leana pergi setelah ia dipanggil jadi ia berjalan mendekati mereka. Dengan senyuman, Leana menyapa balik dengan percaya diri.
“Lama tidak berjumpa, Diana.”
“Benar sekali, sangat lama. Setelah sekian lama tidak muncul di pesta, akhirnya kau muncul. Kemana saja kau selama ini?” ucap Diana.
“Aku berada di kediaman Grandall seperti biasa.”
‘Ahh, mulai lagi…’ pikir Leana.
“Begitukah? Lalu bagaimana bisa aku tidak mendengar kabar darimu? Aku sudah mengirimimu banyak surat tetapi tidak ada satupun yang dibalas.”
Dengan akting sok menjadi korban, Diana memulai aksinya dalam mempermalukan Leana.
‘Dasar tidak tahu malu.’ Batin Leana.
Selama dua tahun kepergiannya ke Grandall, tidak ada satupun surat yang menunjukan rasa perhatian kepada dirinya di dalamnya. Surat-surat yang datang dari kediaman Wordlock hanyalah tekanan dari ibu dan saudari tirinya. Ia bahkan tidak mendengar kabar dari ayahnya.
Mengingat apa yang terjadi dikehidupan pertamanya, ia menduga bahwa ayahnya sudah menyerah tentang dirinya. Ia sangat kecewa.
‘Apa yang aku harus lakukan untuk menutup mulutnya itu…’
Leana yang dahulu mungkin sudah murung dan mengecilkan hati mendapatkan tekanan dari orang lain tetapi dirinya sekarang adalah orang yang berbeda. Leana sekarang adalah orang yang sudah tidak punya waktu untuk memikirkan cibiran dari orang lain.
Saat ini mata penuh antisipasi tengah tertuju kepadanya. Sepertinya Leana harus segera membalas serangan dari saudari tirinya itu.
“Surat? Surat apa yang kau maksud, Diana?”
Dengan jawabannya ini, semua orang yang menjadi saksi mungkin menganggap Leana sebagai wanita yang tidak punya hati. Tapi ia tidak peduli lagi.
“Ya ampun…”
“Jadi benar, nona Leana…”
Leana menghela napas dalam hatinya. Melihat dari reaksi mereka, sepertinya Diana juga telah membuat rumor tanpa dasar tentang dirinya.
Rasanya ia ingin segera menyuruh salah satu anggota bayangannya untuk mencari tahu informasi mengenai rumor mengenai dirinya karena penasaran.
“Jahat sekali! Tentu saja surat yang selalu kita tukar untuk berbincang satu sama lain!”
Leana mulai lelah dengan akting buruk Diana. Secara mental tentunya.
“Memangnya apa yang kita bicarakan dalam surat yang selalu kita tukar, Diana?” tanya Leana dengan dingin. Pandangan tidak suka semakin menusuk dirinya, tetapi ia tidak peduli.
“Kenapa kau menjadi sombong seperti ini Leana! Aku hanya khawatir dengan dirimu. Aku selalu khawatir, jadi aku menulis surat untuk menanyakan kondisimu!”
Diana telah mengeluarkan akting bersedih namun Leana hanya memasang ekspresi datar. Ia sama sekali tidak tertarik.
Diana yang melihat tersebut sedikit bingung dengan sikap Leana yang tidak menjadi seperti biasanya, tapi ia tidak terlalu khawatir karena ekspresi dingin Leana hanya akan menambah rasa tidak suka bagi orang yang menyaksikan mereka.
“Semenjak kau menikah dan menjadi Marchioness, kau jadi tidak membalas surat-suratku lagi. Bahkan undangan pesta minum tehku saja kau tidak datang!”
Kali ini teman Diana ikut mengeluarkan suaranya.
“Benar. Saya juga mengundang anda ke pesta minum teh beberapa kali tetapi anda tidak datang!”
“Saya juga!”
“Dasar wanita sombong!”
Leana masih tidak bergeming. Yang ada, suasana hatinya malah semakin jatuh. Tangannya sangat gatal untuk memukul mulut mereka.
Tahu apa mereka tentang Leana untuk mengatakan hal-hal tidak berdasar seperti itu. Leana kembali menghela napas, kali ini dengan disengaja agar mereka dapat melihatnya dengan jelas.
“Daritadi saya tidak mengerti apa yang kalian semua katakan.” Ucap Leana.
Nada tegas yang dikeluarkan Leana membuat mereka tersentak. Begitu juga dengan Diana.
“Surat yang selalu kita tukar? Untuk menanyakan kondisiku? Sejak kapan kita melakukan hal tersebut, Diana?”
"Leana..." Diana mulai mengeluarkan air mata dan menutup mukanya.
“Nona Leana! Ucapan anda sangat kejam!” seru wanita di samping Diana. Ia mencoba untuk menenangkan Diana.
Aahh, mau sampai kapan ia bercekcok membahas hal tidak masuk akal ini.
“Siapa yang kejam, ucapan dari orang yang benar-benar tidak tahu tentang topik pembicaraannya atau ucapan dari orang yang berbohong?”
Wanita itu tersentak.
“A-apa maksud anda…”
“Berbohong?! Kau mengatakan aku berbohong, Leana?!”
Diana membuka suara untuk menghentikan kata-kata Leana, namun ia tetap melanjutkannya.
Leana mengeluarkan surat dari Diana yang isinya memamerkan kebahagiaannya dan merendahkan Leana. Ia membuka surat tersebut dan menujukannya kepada mereka.
Diana seketika menjadi pucat.
Dahulu Leana selalu membuang surat dari kediaman Wordlock karena tidak tahan dengan tekanan mereka namun ia bersyukur karena belum membuang satu surat yang belum lama ini dikirimkan kepadanya.
Awalnya ia hanya berjaga-jaga jikalau bertemu dengan Diana, dan benar saja kejadian ini terjadi. Sangat beruntung dirinya karena Diana mengungkit topik mengenai surat.
Leana tidak habis pikir pernah takut dengan orang bodoh dan egois seperti Diana.
“Leana! Apakah kau tidak malu menunjukan hal pribadi kepada orang lain?!” seru Diana.
Ia mencoba untuk mengambil surat tersebut namun Leana segera menariknya.
“Apa yang harus dimalukan? Bukankah jika memang surat ini berisi kata-kata penuh kekhawatiranmu itu kepadaku maka seharusnya tidak apa-apa, bukan? Justru semua orang akan makin menyukaimu ‘kan?” ucap Leana dan membuka surat tersebut.
Wanita lainnya dari perkumpulan Diana maju dengan ragu.
“No-nona Leana, mau bagaimana pun, mengumbar percakapan dengan seseorang…”
Leana meliriknya dengan tajam dan ia pun mundur ketakutan.
Dengan nada sedikit senang ia pun membaca surat tersebut.
“Mari kita lihat, ‘Leana tersayang saudariku yang menyedihkan, bagaimana kabarmu? Apakah masih menyedihkan? Sepertinya takdirmu memang selalu menyedihkan…’ “
“Leana!” Seru Diana.
Leana segera mundur menghindari Diana sembari melanjutkan kata-katanya.
“Haahh… Membaca kata-kata yang buruk membuatku lelah. Bagaimana kalau kau saja yang membacanya?”
Leana menyerahkan surat tersebut kepada mereka. Rasa penasaran yang kuat mendorong mereka untuk membaca surar tersebut dengan seksama. Ekspresi mereka berubah saat membacanya.
Dengan cepat Diana segera merampas surat tersebut dan meremasnya. Ia kemudian menatap Leana seakan ingin membunuhnya.
Leana sangat puas melihat reaksinya.
“Jahat sekali Leana! Kenapa kamu membuat surat palsu seperti ini!” ujar Diana dengan airmata palsunya.
“Jika memang itu palsu, kenapa kau langsung meremasnya tanpa melihat isinya?”
“—!"
“Bahkan amplop yang dikirimkan bersamanya juga memiliki cap resmi keluarga Wordlock.”
Diana terdiam, tubuhnya bergemetar. Surat ditangannya semakin kehilangan bentuknya.
Diana menggertakan giginya dengan oenuh amarah.
“Dasar tidak beretika…” gumam Diana.
“Apa?”
“Untuk seseorang yang baru muncul kembali ke publik, caramu dalam mempermalukanku ini sangat tidak tahu malu, Leana!” seru Diana.
“Sebelum kau berbicara tentang etika, perbaiki etikamu terlebih dahulu. Jangan pikir aku tidak tahu bahwa kau merendahkanku sedari awal kita bertemu.” Ucap Leana dengan tegas.
“…!”
“Aku adalah Marchioness Grandall, Nona Diana. Dibanding dirimu yang belum membuat nama untuk diri sendiri, aku tidak sudi diberi nasihat oleh seseorang yang etikanya saja tidak benar.” Tambah Leana dengan nada dingin.
“…”
“Dari seluruh bualanmu mengenai kehidupan bahagiamu itu, sampai sekarang pun kau belum berdampingan dengan siapapun. Akan lebih baik jika kau menjaga sikapmu. Ini adalah saranku sebagai saudarimu, Nona Diana.”
Leana kini gantian menatap wanita lainnya yang terlihat bingung dan syok dengan kejadian dihadapan mereka.
Akan lebih baik jika mereka memutar otak dan memperbaiki pandangan mereka yang sempat dicuci oleh Diana itu.
“Nona sekalian, mengenai undangan teh yang kalian maksud, Saya minta maaf karena tidak dapat menghadirinya. Selama ini saya sedang dalam masa beradaptasi dan mencoba untuk membantu suami saya dalam mengurus kediaman Grandall.” Jelas Leana
“Tetapi salah saya juga karena tidak membalas dan memberitahukan kondisi saya yang sebenarnya ke publik. Pada dasarnya saya sendiri tidak ingin mengumbar kondisi saya yang sekiranya tidak perlu diketahui oleh publik. Saya hara panda dapat memahaminya.” Tambahnya.
“Dan juga…” Leana menatap mereka tajam. “Saya tidak tahu rumor apa yang beredar tentang saya tetapi jika anda sekalian ingin mengetahui kebenarannya maka anda harus melihatnya secara langsung dengan mata kepala anda sendiri mulai sekarang.”
“Kalau begitu saya permisi, nona sekalian.” Leana pun berjalan pergi meninggalkan Diana dan teman- temannya.
Kini ia harus kembali kepada prioritas utamanya hari ini.
***
“Selamat malam Count Vivaldi. Bisakah saya meminta waktu anda sebentar?”
Count Clovis Vivaldi menghentikan percakapannya dan menoleh kearah Leana yang mendatanginya.
Ia kembali menoleh kepada tamu yang sebelumnya berbincang dengannya dan mengangguk kepada mereka sebelum akhirnya kembali menghadap Leana.
“Tidak masalah, Marchioness Grandall. Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?”
“Saya ingin berbicara mengenai sebuah bisnis. Oleh karena itulah, apakah kita bisa berbicara di ruang pribadi? Ah, tentu saja Countess juga boleh ikut.” Ucap Leana dan menoleh kearah Countess Vivaldi.
Countess Vivaldi terlihat bingung dan menatap suaminya. Saat keduanya mengangguk, Count Vivaldi pun menjawab.
“Baiklah. Ayo kita pergi ke ruang pribadi untuk membahasnya.”