This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Last Glow



“Saya berubah pikiran. Lagi pula sepertinya ada sesuatu yang lebih manarik di sini."


“Lalu bagaimana dengan bayangan Volfelance?”


“Illiam akan mengurusnya.” ucap Eclipse dengan santai.


Benar. Ini adalah Grand Duke Volfelance yang dikenalnya baik dulu maupun sekarang.


Leana menghela napas.


Setelah memperhatikan sekeliling mereka, ia segera menyadari bahwa mereka dikirim kei lantai tiga kediaman Duke Leon berdasarkan ornamen yang terpajang di sana.


Lantai tiga adalah area yang jarang dilalui oleh siapapun kecuali Duke Leon. Leana sendiri terkadang hanya mendapatkan izin mengunjungi tempat tersebut karena keperluan rencana mereka.


Karena hal tersebutlah Leana juga tidak sengaja menemui ruang rahasia yang menyimpan rencana yang bahkan dirinya tidak ketahui.


"Baiklah ikuti aku."


Leana berjalan duluan untuk menunjukan arah. Tanpa ia sadari Forde masih menggenggam tangannya tanpa mau melepasnya.


Mereka yang melihatnya hanya menutup mata akan hal tersebut dan berfokus pada tujuan mereka.


***


Setelah teleportasi selesai, Dean dan bayangan Alphiella mendapati dirinya di sebuah ruang bawah tanah yang terbuat dari bebatuan. Di depan mereka terdapat sebuah area lorong panjang tanpa pintu.


Dean mengeluarkan sebuah kertas dan mendekatkannya kepada area pintu tersebut. Tidak lama simbol dalam kertas tersebut menyala dan sebuah simbol lainnya muncul di tengah pintu.


Perlahan garis dalam simbol tersebut menghilang hingga tanpa meninggalkan bekas.


'Apakah rumor mengenai kutukan adalah karena sihir ini?'


Sebelumnya Leana bercerita mengenai cara kerja 'kutukan' di kediaman Duke Leon.


Sihir 'kutukan' itu sendiri tidak terlihat dan tidak membahayakan targetnya secara langsung.


Sihir kutukan pada penjara timur berfungsi tanpa tagetnya sadari. Karena tidak terlihat, siapapun yang tidak mengetahui keberadaannya akan terkena kutukan.


"Oleh karena itulah, lokasi sihir kutukan harus diketahui sebelum melanjutkan perjalanan, ya..." guman Dean.


Ia harus setidaknya bersyukur karena Duke Leon memberikan kepercayaan mengenai mansion Gwertivare kepada Leana saat ia menjadi Duchess meskipun hanya dianggap alat.


"Perhatikan sekitarmu. Laporkan jika ada yang mencurigakan, sekecil apapun itu."


"Siap ketua!"


Mereka pun memasuki area penjara yang minim dengan penerangan. Semakin mereka masuk ke dalam, aura yang menyelimuti mereka semakin dingin dan menusuk.


Dibandingkan dengan penjara, tempat tersebut lebih mirip seperti dungeon. Dean tidak henti-hentinya merasakan keanehan disetiap langkah mereka. Seakan jalur yang mereka lalui bukanlah jalur yang mereka inginkan.


Seperti penjara pada umumnya, mereka terus turun menuju area bawah tanah. Terkadang matanya memperhatikan tiap batu api yang seperti akan padam kapanpun.


Ada yang salah. Tapi dimana?


Semakin jauh, pikirannya semakin berkabut. Apakah rumor mengenai tempat ini bukanlah hanya sekedar rumor?


"Ketua!"


Dean berhenti dan menoleh kepada rekannya, Ragesten.


"Apa yang kau lihat?"


Pertanyaan itu keluar dengan pikiran kosong.


"Satu langkah di depan... Tidak ada jalan..."


"Veil."


Veil mengangguk dan mendekati Ragesten kemudian memukul wajahnya dengan keras.


"Uagh!"


"Bagaimana, apa masih terlihat?"


Ragesten yang meringis kesakitan segera kembali ke kondisi tenangnya. Ia melirik sesuatu yang dilihatnya tadi.


"Tidak ada."


Mereka pun saling menatap satu sama lain.


Ilusi.


Mereka menggunakan topeng tapi ilusi masih berpengaruh bagi mereka.


Dean menyentuh topengnya dan membuat simbol tak terlihat. Setelah selesai, simbol yang dibuatnya menyala dan kemudian menghilang.


Bayangan Alphiella mengikuti tindakan Dean sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah melalui perjalanan dengan penuh kesunyian, mereka sampai di dasar. Kegelapan dan suasana dingin yang dapat merobek kulit menyambut mereka.


Mereka segera mengeluarkan sebuah sarang dengan batu api di dalamnya. Saat di guncangkan sedikit, batu api itu menyala terang dan memberikan mereka sedikit kehangatan.


Melihat tempat tersebut, tidak aneh jika mereke yang dimasukan kesana tidak dapat kembali hidup-hidup. Tanpa perlu adanya monster pun, tidak ada makhluk hidup yang dapat bertahan di sana.


"Ayo segera cari Lorei. Pastikan kalian tidak bergerak sendirian saat berpisah."


Dengan perintah tersebut, bayangan Alphiella bergerak cepat tanpa rasa takut. Dean yang tertinggal menyadari Veil dan Liam masih terdiam di tempatnya.


"Ada apa?"


"Aku tahu ini terdengar seperti pengecut, tapi kami akan berjaga di sini." ujar Liam.


"Tidak masalah. Dengan melihat Veil saja aku sudah paham."


Veil memang selalu bertugas sebagai penjaga area luar aaat mereka bertugas namun biasanya ia adalah yang bergerak duluan setelah Dean memberikan perintah.


Untuk Veil terdiam seakan menantikan sesuatu adalah suatu pertanda bahwa akan ada yang terjadi kedepannya.


"Kalau begitu berjagalah di sini. Jika ada masalah yang tidak bisa kau tangani segera berkumpul bersama kami."


"Kami mengerti."


Dean pun pergi menyusul rekan lainnya di dalam area penjara. Karena ruangan tersebut sangatlah luas, beberapa dari mereka berpencar untuk mengecek ruangan lain yang telah ditemukan.


Ia memasuki sel penjara satu persatu untuk mengecek detail yang mungkin mereka lewati namu ia tidak dapat menemukan apapun selai ruangan kosong.


"Di sini Howl dan Deren. Lorei tidak ditemukan."


"D sini Ogrun dan Hena. Target tidak ditemukan."


"Di sini Nveri dan Melyn...."


"Di sini Yaza dan Quol..."


Laporan demi laporan diterima oleh Dean. Hasilnya sosok Lorei tidak mereka temukan.


Kenapa Lorei tidak bisa ditemukan?


Bukankah mereka sudah memastikan sendiri bahwa Lorei dibawa ke tempat ini?


"Cek kembali tempat yang kalian lewati saat kembali berkumpul. Kita tidak ingin melewatkan hal apapun yang dapat berhubungan dengan Lorei."


"Siap!"


Dean menghela napas dan memandang sekitarnya.


Jika mereka salah dan ternyata melewati Lorei di sini, ia yakin bayangan Alphiella tidak akan pernah memaafkan diri mereka.


Ia harus segera menemukan Lorei.


Dean seketika merasakan sesuatu dan mengambil posisi berjaga. Ia yakin ada sesuatu bersamanya.


Sesuatu lain yang bukan bayangan Alphiella. Ia tidak merasakan apapun sebelumnya dan tiba-tiba saja ia merasakanmya.


Dean merasa direndahkan.


Ia membalikan tubuhnya ke arah jalan masuknya dan mendapati seseorang berdiri di sana.


Melihat datangnya pria tersebut, ia mulai mempertanyakan kondisi Liam dan Veil.


"Liam! Veil!"


Dean tidak mendapat jawaban dan menjadi khawatir.


'Apakah keduanya baik-baik saja?'


Hanya keheningan yang menyelimuti Dean dan pria tersebut. Dalam keheningan ia melihat suara napas dari alat komunikasi sihirnya.


Dean merasa sedikit lega dan kemudian mengeluarkan senjatanya.


Ia merasakan hal familiar dari pria itu. Ia pun mengingat kejadian dimana Osca melabrak Leana yang sedang melepas para budak.


Dengan hal tersebut, kini ia yakin bahwa seseorang di hadapannya adalah bayangan Gwertivare.


Dari balik kegelapan, ia melihat senyuman yang membuatnya teringat akan soskk Osca. Dean pun tersenyum.


'Ternyata begitu...'


"Ketua!!"


Pas sekali.


Bayangan Alphiella yang baru saja kembali dari pencarian mereka lekas bergabung dengan Dean.


Dengan cepat pria tersebut bergerak maju dan menyerang mereka.


Dean segera menahan serangan tersebut dan melemparkannya kebelakang .


Ia memutar otaknya dan menyadari apa yang membuatnya merasa aneh dengan tertangkapnya Lorei.


Sebagai bayangan tidak ada yang meragukan kekuatan Lorei. Tapi berita tertangkapnya Lorei. Kecuali seseorang mencoba untuk mencuranginya.


Itu artinya...


"Siapa kalian...?"


Pria tersebut akhirnya membuka mulutnya.


"Apa yang kalian cari hingga sampai ke sini, wahai penyusup?"


Senyuman dan mata yang membuat bentuk seperti bulan sabit.


Dugaannya benar.


Mereka telah dijebak!


"Nyonya Leana!"


***


"Ini dia tempatnya."


Ruangan di hadapan mereka terletak di ujung lorong. Ruangan tersebut biasanya terkunci tetapi Leana secara tidak sengaja melihat apa yang berada di dalamnya.


Menggunakan simbol sihir yang diberikan oleh Alscan, pintu yang terkunci pun terbuka.


Ruangan tersebut seperti ruang baca kecil dengan lemari penuh dengan buku dan sebuah meja dan satu kursi.


Banyak kertas berserakan dimana-mana dan yang paling menarik perhatiannya adalah kertas yang berada di meja.


Di sana terdapat sebuah simbol misterius dan beberapa buku untuk memanggil sesuatu ke dunia ini.


"Ini adalah suatu tindakan tabu." ujar Eclipse menatap kertas di meja.


Leana merogoh laci meja dan menemukan sebuah kalung kristal di dalamnya. Kalung tersebut berfungsi sebagai kunci untuk pintu rahasia yang sengaja disembunyikan oleh siapapun kecuali dirinya.


Ia mendekatkan kalung tersebut ke salah satu lemari buku.


Kaclak


Suara pun terdengar dari sana dan Leana uang dibantu dengan timnya membuka pintu rahasia tersebut.


Mereka berjalan menyusuri lorong batu yang sempit dan di ujung lorong tersebut, cahaya berwarna ungu terang menyinari seisi ruangan.


Leana yang memperjelas pandangannya akan ruangan tersebut pun terkejut. Ia menemukan sosok familiar tergeletak di ruangan tersebut.


"Lorei!"