
Karena kegelapan yang tiba-tiba, Leana tidak dapat melihat sekitarnya. Namun ia segera mendekati jendela yang memancarkan cahaya bulan.
Dengan hati-hati ia mendekat dan mengintip keluar. Tidak hanya di tempatnya tetapi seluruh kastil menjadi gelap.
Kemudian ia dapat mendengar Dean menyambungkan komunikasi dengan Leana.
“Nyonya! Apakah anda baik-baik saja?”
“Dean! Bagaimana kondisi kalian? Bagaimana dengan target kita?”
“Kami sedang mengawasi situasi. Target kini telah berpindah ke ruangan pribadi dan masih tetap di sana dengan beberapa penjaga diluar ruangan.”
Leana mengingat kembali denah istana. Tempatnya berada sekarang seharusnya di tidak jauh dari ruangan di mana target. Jika ia segera ke sana maka ia punya cukup waktu untuk mengecek keadaan targetnya.
“Ada di mana ruangan itu?!”
“Ruangan kedua setelah anda belok kanan dari lorong yang berada di samping kiri tangga aula pesta.”
“Ingat bahwa malam ini target akan menjadi korban penculikan! Kita tidak tahu siapa pelakunya jadi berhati-hatilah!”
“Saya mengerti.”
Sambungannya pun terputus.
Leana segera berjalan cepat menuju ruangan targetnya. Ia berjalan dengan sangat hati-hati dan membuat dirinya terlihat seperti orang yang
sedang panik.
BRAGH
Bersamaan saat ia berbelok ke lorong kanannya, tidak jauh dari tempatnya terdapat seorang pria tinggi dengan jubah hitam berdiri dibawah sinar bulan. Ia terlihat tengah membawa seseorang di bahunya.
Saat pria berjubah tersebut menoleh kearahnya, Leana refleks membeku dan seketika pria tersebut melemparkan sesuatu kearahnya.
Leana bersiap menghindari serangan tersebut, namun seseorang menarik tangannya.
“Nyonya!”
Leana tersungkur ke lorong tempatnya datang dan saat ia membuka mata, Hardie tengah dalam posisi melindunginya. Ia melirik tempatnya berdiri tadi dan mendapati beberapa pisau menancap di dinding.
“Tuan Hardie!”
“Nyonya, apakah anda baik-baik saja?” tanya Hardie masih siaga.
“Sa-saya baik-baik saja.”
“Baguslah kalau begitu. Ayo kita segera bergerak ke tempat aman!” ujar Hardie dan membantu Leana untuk segera bangkit.
“Ba-Baiklah!”
Tanpa menoleh ke belakang, Leana mengikuti langkah Hardie. Ia segera menyambungkan komunikasi ke Dean.
“Dean!”
“Target sudah bergerak meninggalkan istana. Kami akan segera menghentikannya. Apakah anda baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja. Maaf karema aku tidak dapat membantumu, jadi setelah ini semuanya kupercayakan pada kalian.”
“Serahkan pada kami.”
Hardie menuntun Leana di lorong yang gelap dan saat mereka berjalan menuju arah cahaya, mereka sampai di taman istana. Di sana para tamu undangan berkumpul untuk berevakuasi dari gelapnya istana.
Selain cahaya rembulan, tidak ada penerangan yang dapat membantunya melihat lebih jauh dari apa yang bisa ia lihat sekarang.
Tidak jauh dari mereka, ia dapat mendengar obrolan para kesatria istana yang sedang menangani masalah pemadaman.
“Bagaimana? Apakah sudah ada yang memanggil penyihir istana?”
“Mereka sudah memanggilnya namun entah kenapa kristal api masih belum dapat dinyalakan.”
Leana berpikir pemadaman istana hanyalah pemadaman biasa, tetapi jika sang penyihir istana saja belum bisa mengatasinya maka situasi saat ini jauh lebih gawat dari yang ia kira.
‘Apakah musuh juga menggunakan sihir untuk menahan kristal api agar dapat menyala lagi?’
Saat Leana tengah berpikir, Hardie yang menemukan Forde segera memanggilnya.
“Tuan Forde! Saya menemukan nyonya Leana!”
“...!”
Saat Hardie melampai kearah majikannya, Forde dan Iscan lekas datang ke tempatnya. Forde segera mengambil tangannya seakan memastikan keberadaannya di sana. Ia dapat melihat Iscan memasang ekspresi yang sama dengan suaminya.
“Leana! Kamu tidak apa-apa?! Kamu tadi pergi ke mana?!” seru Forde dengan khawatir.
“Ma-maafkan aku Forde. Setelah aku berbincang dengan Count Vivaldi dan istrinya, aku sedang mencari kamar kecil tapi aku tersesat.” Jelas Leana.
Forde merasa sedikit lega karena kini Leana sudah ada bersamanya. Jika istrinya terluka sedikit saja, ia akan mengejar pelaku kejadian ini hingga keujung dunia.
Iscan yang berada di sampingnya pun membuka suara.
“Nyonya, saya lega anda-baik baik saja. Maafkan saya yang tidak berada di dekat anda disaat seperti ini .” Ucap Iscan.
“Tidak masalah, tuan Iscan. Tidak ada yang menyangka akan terjadi seperti ini.” Ucap Leana dengan segera.
Ia tidak bisa membuat Iscan menanggung rasa bersalah karena kelalaian Leana dalam menjalankan rencananya.
“Untung saja kamu tidak apa-apa. Tetap di dekatku, kita akan segera pulang ke Grandall.”
Leana mengangguk dan Forde pun menatap Hardie.
“Kerjamu bagus, Hardie.”
“Keselamatan nyonya adalah salah satu tanggung jawab saya, tuanku.” Jawab Hardie.
Forde menoleh kearah pasukannya berada dan kemudian berseru.
“Weiss, aku serahkan padamu!”
Weiss yang melihat komandannya telah menemukan istrinya pun mengangguk dan menjawab dari kejauhan.
“Saya mengerti, komandan!”
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Forde pun membimbing Leana bersamanya.
“Leana ayo kita pulang.”
Forde tidak melepas tangannya dan menuntunnya keluar dari istana. Ia dapat melihat lima pilar yang sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan juga mengenai kejadian saat ini.
Sekali lagi Leana berdoa akan keberhasilan dan keselamatan bayangannya.
***
“Kalian sudah siap?” tanya Dean.
“Kami sudah siap.” Jawab Veil.
“Saya siap, ketua!” jawab Ilya.
“Ayo cepat! Aku sudah gatal untuk bergerak!” Seru Eson dengan pelan.
“Ssst! Jangan berisik, jika kau ketahuan bagaimana?!” Seru Liam.
“Berhenti ribut, kalian berdua.”Ujar Xero.
Mengetahui tingkah bawahannya, Dean mulai mengkhawatirkan nasib dari misi mereka. Ia dapat merasakan kepalanya sedikit berdenyut menghadapi mereka.
Meski begitu, ia yakin dan percaya kepada mereka yang sudah dilatihnya hingga menjadi anggota bayangan yang mampu menyaingi seorang professional.
Target mereka dalam misi kali ini adalah perwakilan dari kerajaan Rozen yaitu Marquis Verrit Giovanne.
Berdasarkan cerita kehidupan pertama majikannya, Marquis Giovanne menghilang selama satu minggu pada hari pertama pesta perayaan. Ia ditemukan oleh Grand Duke Volfelance dengan bantuan bayangan.
Jika ditanya mengapa Leana kini menyuruh mereka menggantikan bayangan Grand Duke dalam menyelamatkan Marquis Giovanne maka jawabannya adalah karena setelah Grand Duke memyelamatkannya ia mendapatkan kekuatan tambahan dari Marquis.
Kekuatan yang dimaksud bisa dalam berbagai bentuk dan terlebih Grand Duke telah ditambah sebagai tamu spesial di kerajaan Rozen.
Karena penyelamatan itu pula, Grand Duke berhasil menghindari perang yang mungkin saja terjadi diantara kekaisaran Solfilyan dan kerajaan Rozen.
Hal tersebutlah yang menguak rumor mengenai kekuatan Grand Duke mampu menutup kasus tersebut hingga tidak tersisa di dunia ini.
Dean yang mengingat bahwa Leana bukanlah seperti Grand Duke yang memiliki kekuatan besar, mulai khawatir dalam membandingkan keduanya.
Mungkin karena Leana tidak memiliki kekuatan besar itulah yang membuat mereka sekarang memiliki misi untuk menyelamatkan Marquis dalam rangka satu hari.
Ia tidak dapat memikirkan orang gila lain selain majikannya.
‘Dibilang berapa kali pun, dia tidak akan mau mengubah pikirannya.’ Sungguh majikan yang merepotkan.
Dean kembali memperhatikan target mereka dengan seksama dari kejauhan. Semua terlihat normal saja hingga pada akhirnya pencahayaan di seluruh istana menghilang.
‘Sudah dimulai!’
“Veil, Liam, Eson, Ilya, Xero!”
“Siap laksanakan!”
Dean segera memberi aba-aba dan mereka bergerak ke posisi masing-masing sementara ia sendiri akan mendekati target. Ia pun menyambungkan komunikasi kepada Leana.
“Nyonya! Apakah anda baik-baik saja?!”
“Dean! Bagaimana kondisi kalian? Bagaimana dengan target kita?”
“Kami sedang mengawasi situasi. Target kini telah berpindah ke ruangan pribadi dan masih tetap di sana dengan beberapa penjaga diluar ruangan.”
Dean memperhatikan pintu ruangan Marquis dan mengantisipasi seseorang menerobos masuk.
“Ada di mana ruangan itu?!”
Saat mendengarkan pertanyaan Leana, perasaannya mulai tidak enak. Ia seakan bisa membaca tindakan majikannya selanjutnya.
“Ruangan kedua setelah anda belok kanan dari lorong yang berada di samping kiri tangga aula pesta.”
“Ingat bahwa malam ini target akan menjadi korban penculikan! Kita tidak tahu siapa pelakunya jadi berhati-hatilah!”
“Saya mengerti.”
Dean menghela napas berat dan mengacak rambut biru dongkernya dibalik jubah. Majikannya terlalu gegabah untuk ia hadapai, dan sekarang tangannya terlalu penuh untuk memikirkan hal tersebut.
PRAGH
Dean segera menatap pintu Marquis yang sudah terbuka lebar dengan para penjaga yang sudah tumbang.
‘Sejak kapan!?’
Ia tidak mendapat laporan dari siapapun dan tiba-tiba saja musuh mereka sudah berdiri di sana dengan santai.
Saat Dean akan bergerak, musuh mereka menoleh kearah kiri mereka dan saat ia mengikuti arah pandangannya ia mulai panik.
‘Nyonya!’
Dean mulai bergerak namun serangan musuh mereka jauh lebih cepat darinya. Saat pisau yang dilempar musuh mulai mendekati majikannya yang terdiam, ia dapat melihat seseorang dari balik bayangan di samping majikannya. Dean segera berhenti.
‘Dia… Tuan Hardie?’
Mengetahui majikannya sudah aman, ia kembali menoleh kearah musuhnya namun sosoknya sudah tidak ada di sana.
‘Sial! Apakah dia adalah bayangan?’
Gerakannya terlalu cepat dan terlalu sunyi untuk diketahui. Sungguh seorang bayangan sejati seperti digambarkan oleh Leana.
Apakah ia bisa melakukannya?
Tidak, ia harus bisa melakukannya.
Dean bertekad untuk mendedikasikan hidupnya pada kehidupan baru yang diberikan oleh majikannya.
“Kapten, Eson dan Liam tengah mengejak target!”
“Bagus, Jangan sampai kehilangan dia!”
Dean mengeluarkan sebuah benda bulat seperti Kompas yang juga dapat berfungsi sebagai radar. Ia memperhatikan posisi rekannya yang tengah mengejar musuh mereka dan ia pun mulai bergerak pergi.
Dengan menggunakan teknik ‘Light Speed’' Dean bergerak cepat menyusul rekannya dan dalam beberapa saat, ia dapat melihat mereka dari belakang.
Mereka pergi semakin jauh dari istana dan jika mereka tidak segera menghentikannya, mereka bisa kehilangan target mereka saat keluar perbatasan.
Saat musuh keluar dari perbatasan dan akan mulai memasuki hutan, sesuatu mendorongnya hingga menghantam tanah dengan keras. Veil segera menangkap target mereka yang sempat melayang di udara sementara yang lain datang mendekati musuh.
Saat ia sudah cukup dekat, ia dapat melihat musuh yang mereka kejar tengah mencoba untuk bangun. Kini jubahnya terjatuh dan tidak menutupi wajahnya.
Dean hanya menatapnya dengan tajam. Merasakan aura dingin dari belakangnya, ia dapat merasakan amarah dari rekannya terhadap musuh mereka.
Semua anggota bayangan Alphiella saat ini tahu siapa identitas dari musuh dihadapan mereka saat ini.
Tidak hanya dirinya, semua anggota bayangan merasa tidak sabar untuk setidaknya menghantam pria dihadapan mereka.
“uuhh… apa-apaan… kalian…” ringis pria tersebut.
Ia perlahan bangun dan mencoba untuk memasangkan kembali jubahnya. Ia pun menoleh kearah Dean dan yang lainnya.
“siapa… kalian…”
Pria dihadapan mereka adalah Osca. Mata dari dalang pembentukan organisasi bayangan.