
"Leana, apa kamu sudah siap?"
Leana berbalik saat suara ketukan terdengar.
Ia mendapati Forde yang menggunakan jas perpaduan antara hitam dan hijau tosca tengah menyandarkan pundaknya di pintu ruangan tersebut.
Leana bangkit dan mengibarkan gaun berwara padu antara putih dan tosca miliknya. Tangannya meraih uluran tangan suaminya dengan lembut.
Ia berhenti di hadapan suaminya dan menatapnya beberapa saat hingga membuat Forde tanpa sadar sedikit memiringkan kepalanya.
Hal tersebut membuat senyuman terlukis indah di wajahnya. Ia dengan samar melihat sipu kemerahan di sisi mata gioknya, disamping lekukan matanya yang indah.
"Aku sudah siap."
Tangannya dengan nyaman merangkul Forde dan keduanya pun berjalan bersama menuju aula pesta.
Saat pintu terbuka bersamaan dengan nama mereka yang di serukan, cahaya gemerlap menyelimuti mereka dan menampilkan suasana megah yang terlihat ramah namun juga serius.
Area di sekitar mereka sempat menjadi hening karena kemunculan keduanya namun hal tersebut tidak berlangsung lama.
Leana dengan percaya diri mengabaikan berbagai pandangan yang tertuju ke arahnya.
Di benaknya ia berpikir apakah masih ada wanita yang cukup bodoh untuk jatuh hati kepada sosok suaminya dan bersikeras mengejarnya.
Mengingat bahwa suaminya itu sangatlah tampan hingga ia masih mempertanyakan statusnya sebagai istri sahnya adalah kenyataan atau bukan.
Ia sesaat mengingat kejadian di pesta minum teh Permaisuri sebelum kembali kepada apa yang tengah berada di hadapannya sekarang.
Pesta yang diadakan setelah rapat besar menggunakan aula besar yang sama dengan pesta perayaan kemenangan sebelumnya.
Seluruh tamu delegasi berkumpul dan berbincang bersama, membahas berbagai topik yang dapat mereka temukan.
Aura ketegangan yang mereka ciptakan selama rapat seakan tidak pernah terjadi tergantikan dengan cerah senyum penuh kebanggaan membawa nama negara dan kerajaan mereka dibawah terangnya kemewahan pesta.
Meski begitu, tidak jarang pula terdapat beberapa dari mereka yang masih dengan hati-hati menganalisa sekitarnya dan memyusun berbagai rencana dalam mengambil langkah selanjutnya.
Mencoba memanfaatkan kesempatan yang tengah terbuka di sekitar mereka.
Tidak seperti pada saat rapat, dimana ia berada di samping sang Kaisar, kali ini Leana hadir dengan di dampingi oleh Forde.
Selama rapat besar berlangsung, Leana menyadari keresahan di mata Forde saat ia diperkenalkan kepada dunia sendirian. Tanpa dirinya.
Karena hal itulah Leana mengambil tindakan dan memilih Forde sebagai pendampingnya saat pesta.
Tidak lama memasuki aula, mereka disambut oleh rekan Forde, pemimpin Lima Pilar. Grand Duke Volfelance, Margrave Santica, Count Vivaldi dan Baron Zenesia.
Keempatnya mengajak Forde untuk bergabung dalam perbincangan mereka dengan Pilar pertahanan dari kerajaan lain namun seperti biasa, Forde yang berada di sampingnya menolak untuk bergabung bersama dengan rekanya dan kali ini ia menjadi lebih keras kepala bahkan setelah Leana membujuknya hingga memelas.
Eclipse yang melihat hal tersebut hanya menghela napas dan mendorong tiga rekannya untuk memberi ruang kepada pasangan Grandall tersebut.
"Saya akan mengurus mereka, jadi nikmatilah waktu berdua kalian." Eclipse menoleh dengan usil kepada Forde. "Marquis, anda akan berhutang dengan saya."
Eclipse pergi sambil melambaikan tangannya dengan ceria, meninggalkan Forde yang menatap tajam kepadanya, seakan bisa membuat lubang di tubuhnya.
Tatapan tersebut membuat beberapa orang di sekitar mereka menyingkir dan bagi mereka yang mengetahui sifat Forde hanya dapat memalingkan muka atau menganggap bahwa mereka tidak melihat apa-apa.
Leana hanya dapat membalas lambaiannya dengan tawa kecil. Satu tangannya yang mengikat dengan Forde menepuknya pelan untuk menenangkan suaminya itu.
Leana merengut tidak mengerti akan sikap suaminya sangat keras kepala ingin berada di sampingnya dan saat ia bertanya, jawaban yang di dapatnya adalah "Aku hanya tidak suka meninggalkanmu sendirian di tempat ini."
Jawaban tersebut sukses membuat Leana menyerah. Memberikan kemenangan tidak tertulis bagi Forde.
Sembari berjalan menyisir ruangan aula tersebut, ia memperhatikan setiap tamu penting yang berada di area pandangnya.
Dalam perjalanan mereka, beberapa tamu datang mendekati keduanya. Pakaian asing yang tidak pernah ditemui di Kekaisaran Solfilyan. Mereka adalah tamu delegasi.
"Selamat malam, Marquis Grandall, Marchioness Grandall. Bolehkah anda menyempatkan diri untuk berbincang dengan saya?"
Delegasi negara Njurgan atau jika diperhatikan dengan seksama, ia mengingat kesamaan pakaian mereka dengan negara 'India' di dunia modern.
Dengan relfeks, Leana melirik ke sekitarnya. Mata yang sebelumnya terus mengikuti pergerakannya kini bertambah.
Pandangan mereka seperti tengah mengintai mangsa untuk di tangkap. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk mengambil langkah pertama.
Mereka seakan menunggu waktu yang tepat, seperti apa yang tengah terjadi saat ini.
Salah satu delegasi telah mengambil start awal, kini yang lain dipastikan akan memulai langkah mereka juga dari belakang.
Leana yang mulai mempersiapkan dirinya untuk menghadapi mereka perlahan mencoba untuk melepaskan rangkulan tangannya dari Forde namun terhenti karena tangannya yang seperti terjepit di tengah jalan tidak dapat ia tarik lagi.
Hm?
Leana menoleh kepada Forde, masih dengan senyum di wajahnya, menatap dengan keheranan.
Forde hanya menggerakan bola matanya ke arahnya dan mengerutkan sedikit alisnya seakan tidak suka dengan apa yang ingin Leana lakukan.
'Ah... Lucu...'
Leana menahan mulutnya yang mulai membuat senyuman aneh karena menahan tawa melihat tingkah Forde.
Ia segera menutup mulut dengan tangannya karena senyuman aneh tersebut tak kunjung menghilang dan semakin melebar.
Tangannya tanpa sadar menggenggam erat baju Forde dan dengan perlahan kembali membenarkan posisi tangannya untuk kembali merangkul suaminya.
Salah satu tamu yang menyadari hal aneh pada Leana pun membuka mulutnya.
"Apakah ada sesuatu, Marchioness?" Delegasi kerajaan Dorgaim bertanya kepadanya.
"Tidak. Tidak ada apa-apa." Jawabnya cepat.
Leana yang menyadari ekspresi samar Forde yang penuh dengan kepuasan semakin mengeratkan genggamannya hingga kerutan mulai terbentuk di lengan baju Forde.
Ia mulai merindukan teknologi smartphone dari dunia modern karena ia sangat ingin menyimpan kejadian saat ini utnuk di tontonnya ulang saat mereka kembali ke kamar.
Setelah berhasil menenangkan dirinya, ia menyikut pelan Forde dan kembali mepanjutkan perbincangannya dengan pihak delegasi di hadapannya.
***
Setelah lebih dari satu jam, akhirnya Leana pun dapat mengambil napas.
Seperti dugaannya, kebanyakan dari mereka mengangkat topik untuk menjalin hubungan kerja sama dengan penjaga labirin sihir, baik itu Telsia maupun Leana.
Namun sejujurnya Leana tidak mempunyai rencana lebih jauh setelah mereka menyelesaikan portal labirin dan menghentikan perang besar.
Hal tersebut karena rencana mereka memiliki tujuan tidak hanya untuk menghentikan portal labirin tetapi juga untuk menghentikan aktivasi labirin sihir kedepannya.
Pada saat itu, Leana bahkan tidak yakin ia masih akan memegang kontrak dengan Telsia. Begitu juga dengan Telsia yang mungkin saja akan berpindah ke dunia lain.
Leana melirik ke sisi aula, tempat balkon berada.
Ia berpikir untuk beristirahat di balkon seperti biasa namun mengingat setiap kejadian yang terjadi di sana, Leana pun mengurungkan niatnya.
Masih memikirkan tempat untuk beristirahat, Leana tersadar saat Forde memberinya gelas minuman.
"Suaramu sudah sampai hilang begitu. Minumlah."
Leana membuka mulutnya tanpa mengeluarkan kata-kata dan kemudian mengangguk sembari mengambil gelas yang disuguhkan oleh suaminya.
Ketika air membasahi tenggorokannya, kini ia benar-benar sadar bahwa ia sangat haus karena telah terllau lama berbicara tanpa henti.
Masih dengan gelas yang menempel di bibirnya, matanya kembali menyisir keadaan sekitarnya.
Ia dapat melihat ketua pasukan pertahanan seperti Lima Pilar milik kerajaan Dolgefhan.
Di sisi lain, ia juga melihat sosok penjaga menara sihir yang tengah berkumpul bersama anggotanya, menikmati hidangan yang disajikan.
Matanya juga sesekali bertemu dengan mereka yang memperhatikannya dari kejauhan. Ia segera mengalihkan pandangannya dan kembali mengenali siapapun sosok tamu yang melewati pandangannya.
Ia bahkan melihat saintess datang ke tempat mereka.
'Oh, sial.'
Meski sudah mengetahui bahwa Saintess bukanlah musuhnya, saat ini ia sedang tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghadapinya karena tenggorokannya yang kering.
Leana pun mempersiapkan dirinya.
Senyuman bak mentari dihadirkan di hadapannya. Dalam hatinya, ia mencoba menghalau sinar yang menyorot tersebut dengan usaha yang sia-sia.
Ia melirik sejenak suaminya dan berpikir, 'Tidak, Forde jauh lebih menyilaukan.'
Kata 'Suamiku the best' terlintas di benaknya.
Umn, mengetahui hal tersebut Leana pun menyadari hasrat yang tengah menyuruhnya untuk kabur dari ruangan. Sepertinya ia kelelahan.
Memulai perbandingan absurd di dalam otaknya dan perlahan melupakan sosok Saintess yang tengah menunggu balasannya.
"Marchioness?"
Forde pun menggantikan Leana menjawab.
"Maaf, Saintess, tapi istri saya lelah setelah terlalu lama berbincang dengan para tamu. Jika anda berkenan, bagaimana kalau perbincangan anda dilakukan di lain waktu?"
Leana seketika tersentak sadar saat mendengar pernyataan Forde.
Seperti biasa, suaminya sangat blak-blakan dan tidak memperdulikan hal lain selain istrinya.
Ia sendiri mulai sedikit panik saat menyadari bahwa ia sempat tenggelam dalam pikirannya disaat Saintess menyapanya dengan ramah.
Ia dengan takut melirik sedikit ke arah pengikut Saintess dan dugaannya sangatlah tepat sasaran. Leana dapat dengan jelas melihat urat keluar di dahi sang pendeta.
Saintes menaruh tangan di pipi Leana dan ia tersentak karenanya.
"Hmm, benar juga. Bukankah anda terlihat sedikit pucat, Marchioness?"
Ibu jari Saintes mengelus pelan wajahnya dengan seksama. Leana tanpa sadar menahan napasnya.
Ia mencoba sekuat tenaga untuk menutupi ketegangannya itu.p
"Ti-Tidak, saya tidak..."
Sayangnya suara yang keluar dari mulutnya terdengar pecah dan kasar hingga membuat Forde yang berada di sampingnya kembali mengerutkan keningnya.
Leana mengatup mulutnya rapat dan berencana untuk tidak membukanya lagi. Ia berserah diri kepada apapun yang akan terjadi selanjutnya kepadanya.
Sejujurnya ia tengah dilanda rasa malu karena usahanya dalam menutupi kekurangannya kembali kepadanya seperti bumerang.
Ia mulai merutuki ketidakpercayaan dirinya yang terus membuatnya berpikir berlebihan. Disaat yang sama, ia merasa berpikir lebih jauh adalah yang yang seharusnya dilakukan untuk menghadapi apa yang ada di depannya.
Saintess kini memindahkan tangannya ke leher Leana dan cahaya yang terasa hangat keluar dari ujung jarinya.
Seruan kecil dari pengikutnya dapat ia dengar dari belakang namun Saintess hanya meneruskan apa yang sedang dilakukannya.
Ditengah penyembuhannya, Saintess yang merasakan sesuatu meraih pinggangg Leana dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada lehernya.
Leana sedikit terkejut karena area yang sedang disembuhkan Saintess adalah dimana lukanya berada.
Perlahan rasa aneh yang terus berada di area tersebut menghilang. Tubuhnya seakan menjadi ringan hingga ia berpikir dapat melakukan hal tidak mungkin sekalipun.u
Saintess menarik tangannya saat cahaya tersebut meredup. Menyisakan hanya kehangatan lembut di area leher dan pinggangnya.
"Bagaimana perasaanmu?"
Leana menggerakan sedikit tubuhnya untuk memastikan dan ia melebarkan matanya kepada Saintess.
Ia merasa lebih baik. Jauh lebih baik bahkan dari sebelum ia memasuki aula pesta ini.
"Terima kasih Saintess."
Forde sedikit membungkuk dan Saintess hanya membalasnya dengan senyuman.
"Saya bukanlah Saintess di bidang penyembuhan, tetapi kekuatan suci saya cukup untuk mengembalikan vitalitas anda."
Saintess kembali menatapnya sejenak aebelum akhirnya berbalik pergi.
"Saya menantikan perbincangan kita nanti, Nyonya Leana."
"Saya juga berterima kasih dan saya juga akan menantikan pertemuan kita selanjutnya."
Leana hampir saja gagap karena merasakan tekanan dari pandangan para pengikut Saintess menjadi semakin tajam namun tidak lama.
Ia sudah mempersiapkan diri akan potensi musuh namun ia tidak pernah berpikir untuk membuat musuh. Meskipun sepertinya tanpa sadar ia sudah membuatnya.
Menghela napas lega, ia pun berbalik mencari tempat untuk beristirahat tapi untuk kesekian kalinya, terhenti.
"Sepertinya anda sudah berteman baik dengan Saintess." ucap Eclipse dengan santai berjalan mendekati keduanya.
Leana dapat mendengar Forde dengan pelan menggeram.
"Kenapa anda berada di sini? Bukankah tadi anda bersama dengan Pilar Pertahanan dari kerajaan Simuin?"
Karena pangkat mereka, Forde menggunakan Formalitas. Tapi Eclipse yang berpegang teguh pada prinsip 'rekannya' hanya bersikap ramah seperti biasa.
Eclipse menjentikan jarinya kepada Forde dan Leana seketika mengingat acara quiz di salah satu stasiun tv.
"Benar sekali. Seperti biasa, anda sangatlah teliti."
"Grand Duke, tolong jawab pertanyaan saja."
Eclipse mendengus dan memutar pelan wine yang berada di tangannya. Ia beralih kepada Leana.
"Apa salahnya ingin bertemu dengan rekan, benar bukan, Nyonya Leana?"
Leana memberikannya tatapan kesal.
Eclipse kembali mendengus lucu kemudian memberikan gelas winenya kepada pelayan yang lewat.
Pelayan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalag Illiam yang tengah menyamar.
Mengingat kembali, saat ini yang berjaga adalah giliran dari bayangan Volfelance. Tapi Leana yakin Adde pasti mengirimkan satu atau dia bayangan Alphelia atas perintah dari Forde.
Semenjak suaminya mengetahui eksistensi dari bayangan, ia tidak ragu untuk menggunakannya secara efektif. Walau keperluan tersebut lebih berfokus kepada keamanan istrinya.
Sungguh, Leana mendapatkan suami sempurna yang dapat melakukan apa saja.
Eclipse pun menjawab pertanyaan Forde.
"Saya mungkin spesialis informasi, tapi saya tidak terlalu suka untuk membentuk perbincangan yang hanya membuang waktu saja."
Leana menoleh ke arah pandangan Eclipse berada.
Beberapa orang yang jatuh di pandangannya adalah beberapa yang sempat berbincang dengannya mengenai pembentukan relasi dengan penjaga labirin sihir.
Sementara beberapa diantaranya adalah mereka yang mencoba untuk memanfaatkan kesempatan demi keuntungan mereka. Tentu saja dalam konteks yang tidak baik.
"Sayangnya saya harus mengawasi mereka karena kontra akan hubungan penjaga labirin sihir dengan kekaisaran Solfilyan. Agar mereka tidak bertindak diluar garis aman."
Dengan kata lain, Eclipse saat ini sedang bekerja lembur.
Eclipse memberikan sebuah kertas panjang dengan lambang bunga di sepanjang kertas itu kepada Forde. Kertas itu adalah lambang dari ruangan ekslusif yang berada di istana kekaisaran.
"Beristirahatlah. Disana tidak akan ada yang mengganggu kalian berdua."
Kembali melambaikan tangannya, sosok Eclipse pun menghilang dibalik keramaian.
Keduanya terdiam sejenak. Kembali tertimbun dengan suara keramaian pesta.
Dengan Leana yang tak kunjung bergerak, Forde mengambil inisiatif.
"Jika kamu terlalu lelah untuk berjalan, aku akan menggendongmu--"
"Tidak, Terima kasih! Ayo kita segera ke ruang istirahat!"
Leana memotong Forde sebelum suaminya itu dapat bertindak meskipun ia akan menolak tawarannya.
Bagaimana pun, ia tidak akan bisa menahan rasa malu akan tatapan orang-orang jika memang Leana digendong di tengah pesta.
Leana menyayangkan kesempatannya untuk menggali informasi lebih lanjut, namun saat ini ia terlalu lelah untuk menjaga pikirannya agar tetap bekerja dengan benar.