
"Haha, akhirnya kita tiba…" ujar Baron Zenesia dengan senyuman, menatap kesal apa yang ada di hadapannya.
Labirin sihir, tidak seperti namanya, memiliki bentuk sebagai menara raksasa yang terbuat dari tumpukan batu bata putih.
Di dalamnya terdapat banyak ruangan dengan banyak jalur yang mengarahkan ke berbagai pintu. Ketika memasuki labirin, semua orang akan setuju jika yang pertama kali mereka pikirkan adalah sebuah 'dungeon'.
Menara tersebut memiliki sepuluh lantai dan di lantai paling atas di pintu paling benar, mereka akan mematikan sistem sihir yang nantinya akan meniadakan monster serta jebakan di dalamnya.
Setelah selesai, nantinya mereka akan dipandu dengan tanda sihir di setiap lantai sehingga dapat keluar dengan tenang dan aman.
Meskipun hanya memiliki sepuluh lantai, tingkat kesulitan di labirin akan meningkat semakin bertambahnya lantai.
Hingga saat ini, waktu tercepat dalam menaklukan labirin adalah enam bulan dan beberapa hari. Waktu paling lama adalah lima tahun dua bulan.
Selain para kesatria yang diperlukan untuk bertarung melawan monster, penyihir juga diperlukan tidak hanya untuk memecahkan teka-teki sihir tetapi juga untuk menyembuhkan serta membantu pasukan tempur di medan perang.
Tidak ada satupun yang dianggap tidak berguna, bahkan orang paling lemah dalam pasukan sekalipun akan dianggap berharga.
Karena tingkat kesulitan yang semakin meningkat, tidak hanya kualitas orang tetapi kuantitas juga sangat dibutuhkan.
Setiap labirin mempunyai kesulitannya masing-masing. Walaupun Lima Pilar telah menaklukan puluhan labirin, mereka tidak akan pernah menebak seberapa lama mereka akan terperangkap di dalamnya.
Sebagaimana cara satu-satunya untuk keluar adalah dengan mematikan sistem labirin. Oleh karena itulah setelah mereka masuk, pilihan untuk mundur akan dihapuskan.
Setelah puas memperhatikan labirin, Baron Zenesia yang telah menerima laporan dari Jubah Hitam pun memajukan pasukannya memasuki labirin.
Tanpa rasa takut. Tanpa penolakan. Lajur mereka hanya ada satu. Yaitu menuju labirin.
Begitu semua orang memasuki labirin, pintu labirin akan tertutup dengan sendirinya dan orang di dalamnya tidak dapat membukanya kecuali dari luar.
Dengan cuaca yang sangat ekstrim akibat perubahan alur sihir di sekitar labirin, tidak ada satupun orang yang mampu bertahan di luar area labirin selama berbulan-bulan bahkan tahunan.
Bahkan terkadang terdapat kejqdian aneh yang tidak dapat dijelaskan terjadi jika mereka menetap di luar sana.
"Sayap putih, beristirahatlah selama setengah jam. Minum ramuan yang sudah disediakan dan pulihkan mana sihir kalian." Seru Count Vivaldi.
Dengan perintah tersebut, Sayap putih pun beristirahat dan mengisi ulang mana sihir mereka. Sementara itu Jubah Hitam akan menyusuri setiap ruangan yang dapat mereka temukan tanpa membukanya dan sisa pasukan lainnya akan menjaga Sayap putih.
Saat waktu istirahat selesai, semua kembali bersiap. Dengan informasi yang dikumpulkan oleh Jubah Hitam, mereka pun menyusuri labirin lantai satu.
Dari dekorasi hingga bentuk, labirin tersebut sama seperti labirin yang pernah mereka temui sebelumnya. Namun entah kenapa ada sesuatu yang menjanggal di benak mereka.
Seakan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana berbaur dan mereka tidak menyadarinya.
Di pintu pertama, mereka menemukan sebuah teka-teki sihir yang terukir di sana.
Sayap Putih maju ke barisan depan dan mencoba untuk memecahkannya. Mereka terlihat sibuk sementara pasukan lainnya berjaga dan mengawasi mereka.
Berbagai dokumen sihir dikeluarkan dan mereka mencoba berbagai cara untuk memecahkan teka teki tersebut. Setelah beberapa saat, salah satu dari mereka pun membuka mulutnya.
"Ketua, sepertinya kita punya masalah."
Pasukan yang berjaga dekat dengan mereka seketika menjadi was was.
Count Vivaldi yang sedari tadi sibuk bersama dengan bawahannya pun menutup dokumen di tangannya dan bangkit dari duduknya.
Ia meraba ukiran di pintu, menelaah bentuknya dengan sesama. Sayap Putih terdiam dan memperhatikan ketua mereka yang sedamg dalam mode sangat fokus.
Tidak lama, ia pun menarik tangannya dan mencari sesuatu dari tumpukan dokumen dengan kasar. Sayap Putih dengan lekas mengambil dokumen yang dilempar dengan sembarang oleh ketua mereka itu sebelum menyentuh tanah.
Count Vivaldi menarik dokumen yang dicarinya dan beberapa kali menoleh balik antara dokumen tersebut dengan teka teki sihir di pintu.
Ia pun mulai mencoba sesuatu dan berkali-kali gagal. Hingga pada percobaan ke-20, dengan tangannya yang mulai meneteskan darah akibat penalti kegagalan, teka teki itu pun berhasil terpecahkan.
Semua orang berseru kagum dan melepas nafas lega mereka.
“Keluarkan kertas dan pena kalian! Catat semua yang ada di pintu itu. Jangan biarkan ada yang tertinggal.”
“Siap ketua!”
Count Vivaldi menyingkir untuk memberi ruang kepada pasukan Sayap Putih agar dapat menjalankan tugasnya.
Menghela napas lega, ia mendapati ketiga pemimpin Pilar datang mendekatinya.
“Apa yang terjadi?” Tanya Baron Zenesia.
“Saya belum yakin tapi sepertinya labirin ini memiliki teka-teki dengan ukiran dan bahasa yang belum pernah ditemukan sebelumnya.”
Mereka semua terkejut. Labirin adalah tempat penuh dengan misteri, jadi tidak aneh jika mereka menemukan hal baru di sana. Tetapi mengetahui bahwa hal baru itu ditemukan setelah 10 tahun lamanya, mereka mulai mengkhawatirkan apapun yang akan terjadi kedepannya.
“Lalu bagaimana tadi kau bisa memecahkannya?” tanya Margrave Santica.
“Karena polanya yang terasa familiar. Hal ini sama seperti membuat pertanyaan yang sama dengan dua bahasa yang berbeda.” jelas Count Vivaldi.
“Apakah itu artinya kita dapat menjalankan misi seperti biasa atau memakan waktu yang lebih lama??”
“Saya belum bisa memastikannya. Tetapi jika memang benar tekta-teki hanya menggunakan bahasa dan ukiran berbeda namun memiliki pola yang sama, maka kita bisa menanganinya seperti biasanya.”
“Hanya saja…” Count Vivaldi menghentikan kata-katanya dengan ragu. Melihat hal itu saja sudah cukup untuk membuat semua orang memahami artinya.
“Tidak perlu dipikirkan. Untuk saat ini kita akan melakukan misi ini seperti biasa. Selama apapun waktu yang dibutuhkan.” ujar Baron Zenesia dan ia pun kembali ke pasukannya.
Labirin terlalu penuh dengan misteri dan mara bahaya yang cukup untuk membuat mereka tidak dapat memecah tim mereka.
Insiden yang terjadi pada lima labirin terdahulu sangat memberi Lima Pilar pelajaran yang cukup berat. Rencana untuk mempercepat proses penaklukan itu berakibat sangat fatal dan memakan banyak korban. Hanya satu per lima dari Lima Pilar yang berhasil pulang dengan selamat.
Semenjak itu Lima Pilar membuat sumpah untuk tetap bersama meskipun harus memakan waktu yang lama dalam menaklukan labirin.
***
Lima hari kemudian, Eclipse datang menyusul mereka dengan senyum ramah di wajahnya, namun hanya pasukan Jubah Hitamlah yang dengan senang hati menyambutnya.
Melihat reaksi rekannya yang tidak meriah akan kedatangannya, ia menjadi merasa canggung.
"Bukankah kalian cukup dingin kepada saya?" Ujarnya.
"Untuk orang yang telat, bukankah anda tidak punya alasan untuk protes?" Ujar Margrave Santica dengan dingin.
"Hm! Aku tidak bisa mengelak itu!"
Dahulu saat Eclipse belum menjabat sebagai pemimpin Jubah Hitam, semua bangsawan menghormatinya sebagaimana ia adalah penerus Grand Duke Volfelance.
Ia banyak dihormati dan disegani banyak orang. Bahkan tidak ada yang berani berbicara dengan tidak sopan kepadanya.
Pribadi Eclipse sendiri sangatlah berwibawa seperti seorang bangsawan sejati. Ia cukup dikagumi dan dijadikan contoh oleh para bangsawan.
Namun ketika Eclipse menjadikan para petinggi sebagai rekannya, ia yang memiliki kebijakan untuk terbuka pada rekannya seketika menghancurkan gambarannya di muka publik.
Mereka yang mengetahui sifat lain Eclipse pun menyerah pada kenyataan dan benar-benar mendalami peran mereka sebagai rekannya.
Alhasil, beberapa percakapan mereka yang sungkan berubah menjadi non-formal bahkan terkadang menjadi candaan seperti teman pada umumnya.
"Kemarilah, saya akan memberitahu anda mengenai rencana selanjutnya."
"Ah, itu saya sudah tahu!"
"Hah?"
Eclipse tersenyum sementara Margrave menatapnya dengan kesal.
"Baiklah, baiklah. Sampai mana kita bergerak?" Tanyanya, kali ini dengan serius.
Melihat perubahan sikap tersebut, Margrave pun menghentikan kekesalannya dan bersikap profesional. Keduanya pun mulai membahas mengenai pergerakan mereka di labirin.
"Monster dan teka-teki sihir baru?"
Margrave Santica membenarkan. "Labirin ini tidak sesulit labirin sebelumnya, namun cukup untuk membingungkan kita. Labirin ini dipenuhi dengan hal yang tidak pernah kita temui sebelumnya."
Eclipse menaruh tangan di dagunya dan berpikir.
"Apakah ada sesuatu yang harus diawasi?"
"Selain kecemasan menghadapi hal yang tidak diketahui, tidak ada."
"Aneh sekali, baru-baru ini saya juga mengalami hal serupa. Bukan mengenai labirin tentunya."
"Tolong simpan percakapan pribadi anda untuk nanti, Grand Duke."
"Iya, iya. Aku mengerti."
Eclipse melirik ke arah Rantai Ungu yang sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Menyadari tatapannya, Forde pun datang menghampiri mereka.
“Ada sesuatu yang perlu disampaikan?” tanyanya dengan tenang.
Forde Grandall adalah orang yang tidak banyak bicara kecuali untuk membicarakan sesuatu yang penting. Semua orang mengetahui fakta itu.
'Aku sudah mengetahui kurang lebih sifatnya selama menjadi sesama pemimpin, namun itu juga tidak jauh berbeda dengan apa yang publik lihat darinya.'
Eclipse memperhatikan Forde dengan seksama. Sebagai rekan pemimpin, ia bisa bilang bahwa ia dapat mempercayai hampir sepenuhnya kepada Forde.
Sebagaimana karakternya seperti danau yang tenang. Selama tidak ada yang mengganggunya, tidak akan ada masalah yang terjadi.
Mengingat pertemuan keduanya di kastil, sosok Marquis Forde Grandall pada saat itu membuka lembar informasi baru baginya.
Sepertinya sekarang danau itu bukanlah sekedar danau saja. Seseorang sudah berada ditengah-tengah danau tersebut dan tidak ada yang boleh mengusiknya.
Itulah gambaran Eclipse mengenai Forde Grandall.
Eclipse kembali memasang senyum ramahnya.
"Bagaimana pendapat anda mengenai monster baru ini, Marquis?"
"Monster yang ditemui benar-benar jenis yang tidak pernah ditemukan sebelumnya. Saya pikir saat ini kekuatan mereka termasuk yang dapat kita atasi dengan mudah, namun jumlah mereka cukup mengkhawatirkan."
"Jumlah... Ya.."
Eclipse diam-diam melirik ke arah Forde.
Mengetahui bahwa labirin ini adalah tempat terakhir bagi sang Marquis, ia dapat menduga bahwa keanehan yang mereka alami sejauh ini barulah permulaan saja.
Sesuatu pasti akan terjadi. Entah kenapa ia sangat yakin dengan hal itu hingga bulu kuduknya berdiri.
***
Mereka terus melanjutkan misi dengan tenang dan tanpa adanya hambatan.
Kekhawatiran mereka atas teka-teki dengan bentuk baru dan monster jenis baru perlahan memudar. Lima Pilar pun kembali dalam kondisi awal mereka yang percaya diri dan berani.
Tanpa disadari, mereka telah melangkahkan kaki mereka di lantai terakhir, ruang terakhir, dan kemudian mematikan sistem labirin.
Saat Sayap Putih berhasil sepenuhnya mengkonfirmasi kematian sistem labirin, semua pasukan pun dapat tersenyum lega diambang rasa lelah mereka.
Margrave Santica yang memperhatikan isi ruangan pun membuka suara kepada rekan pemimpinnya.
"Aku merasa kita belum begitu lama di labirin, tidak seperti biasanya." Ujarnya.
Baron Zenesia yang menyadari maksud dari rekannya itu segera menoleh ke arah Count Vivaldi.
"Count Vivaldi, kali ini berapa lama waktu kita dalam menaklukan labirin?"
Count Vivaldi mengeluarkan sebuah alat seperti jam yang menunjukan suatu angka. Ia mengotak-atik jam tersebut sebelum akhirnya menjawab.
Matanya dipenuhi dengan kilauan.
"Ini sungguh menakjubkan, sepertinya kita baru saja menaklukan rekor tercepat." Ujar Count Vivaldi dengan takjub.
"Apa kau bilang?!"
Baron Zenesia dan Margrave Santica segera datang mendekati Count Vivaldi dan memperhatikan jam sihirdi tangannya dengan seksama.
Seperti yang telah mereka dengar, hanya tiga bulan berlalu semenjak kepergian mereka dari kerajaan Solfilyan.
Sorak sorai kagum Baron dan Margrave mulai mengisi ruangan, membuat pasukan lain mulai membicarakan topik yang tengah dibahas.
Forde dan Eclipse hanya memperhatikan dari kejauhan dengan pasukan mereka masing-masing.
Eclipse hanya tersenyum senang, begitu juga dengan pasukan Jubah Hitam. Mereka tidak banyak berkomentar, namun pandangan mereka yang melembut menyuarakan kesenangan mereka.
Forde juga ikut senang meski tidak menunjukkannya dengan terbuka. Ia lega karena bisa bertemu dengan istrinya lebih cepat dari perkiraannya.
Ia melirik pasukan Rantai Ungu yang juga terlihat kagum dan senang. Bahkan mereka mulai membuat rencana untuk berpesta saat kepulangan mereka nanti.
"Jangan terlalu senang dulu, kita belum melangkahkan kaki keluar dari tempat ini."
Seketika suara Eclipse membuat sorak kesenangan menghilang. Tubuh mereka perlahan mendingin dan susah untuk digerakan.
Mereka tahu bahwa itu hanya peringatan kecil yang biasa mereka dengar dari sesama rekan mereka untuk menangkis kesombongan atas suatu kemenangan.
Namun mendengarnya dari Grand Duke Volfelance yang biasanya acuh tak acuh pada situasi merubah semua makna dari kata-kata tersebut.
Mereka bahkan tidak dapat meluhat sedikitpun candan dari sang Grand Duke.
Scheregraff mendekati komandannya dan membisikan sesuatu. Ia pun mengangguk dalam diam.
Pemimpin Pilar lainnya mendekati Eclipse dengan ekspresi heran dan serius di wajah mereka.
"Ada apa? Tidak biasanya kau membuka suara seperti ini." Ujar Baron Zenesia.
"Apakah ada sesuatu yang anda temukan, Grand Duke?"
Eclipse menoleh ke arah pintu ruangan yang tertutup dan mengarahkan perhatian semua orang dengan ibu jarinya.
"Akan lebih baik jika anda sekalian melihatnya secara langsung."
Beberapa dari mereka menelan ludah dengan berat dan memperhatikan pintu tempat mereka terakhir memasukinya.
Pintu yang seharusnya sama kini mulai terasa berbeda.
"Scheregraff."
Sang wakil komandan mengangguk dan ia beserta seorang Jubah Hitam pun membuka pintu dua daun tersebut.
"A-Apa-apaan ini?!"