
Sudah dua bulan berlalu semenjak kejadian di Istana. Pada akhirnya pelaku dari insiden pemadaman masih belum di temukan.
Meskipun terdapat insiden menghilangnya Marquis Giovanne yang dapat mengakibatkan keretakan pada politik Kekaisaran Solfilyan dan Kerajaan Rozen, dengan kembalinya Marquis, masalah tersebut dapat diselesaikan dengan damai.
Dengan keputusan dari kaisar, pilar Jubah Hitam akan mengambil alih penyelidikan atas insiden tersebut dan pilar lainnya dapat kembali ke pos mereka masing-masing.
Forde juga kembali melakukan tugas lapangannya mengecek perbatasan.
Sebagai pertahanan Rantai Ungu, Marquis Grandall ditugaskan dalam keamanan perbatasan sehingga sering mendapatkan misi untuk melakukan pengecekan ke perbatasan wilayah dalam mengamati area luar wilayah kekuasaan atau disebut dengan ‘tebing’.
Tebing adalah retakan raksasa yang terdapat di perbatasan antara kerajaan Solfilyan dengan kerajaan Welsentein. Tebing muncul saat labirin kelima muncul di dunia pada 100 tahun yang lalu.
Tidak jarang juga kejadian aneh terjadi di area sekitar tebing sehingga pengamanan pada area tersebut sangatlah ketat seperti medan perang. Dengan kemunculan retakan tersebut, kini batas pemisah antar kerajaan dapat terlihat dengan jelas dan menjadikannya batas pemisah yang absolut.
Tetapi ada sesuatu yang aneh dengan Forde beberapa hari ini.
Ia terlihat lebih lelah dari pada hari-hari sebelumnya. Wajahnya yang dihiasi oleh kantung mata adalah sesuatu yang tidak pernah dilihatnya di kehidupan pertamanya.
Beberapa hari ini, Forde meminta Leana untuk bekerja di sampingnya dan krmudian akan bekerja dengan satu tangannya yang melingkari tubuhnya.
Meskipun ia berfokus kepada dokumen dihadapannya, tangannya tidak sedikitpun mengurangi kekuatannya dan membuat Leana tidak mampu melepaskan diri darinya.
Pada saat itu jugalah ia baru mengetahui bahwa Forde dapat menulis dengan rapi dengan menggunakan kedua tangannya. Untuk pertama kalinya Leana merasa cemburu dengan suaminya.
Di dunia modern dahulu pernah ada yang mengatakan bahwa mereka yang mampu menggunakan kedua tangannya untuk menulis adalah seorang yang cerdas. Ia tidak menyangka akan menemukan orang tersebut tepat disampingnya, terlebih suaminya sendiri.
Meskipun kerja Leana lebih cepat dibandingkan dengan Forde, ia merasa seperti dikalahkan dari dalam.
Saat Leana bertanya kepada Albert mengenai kondisi Forde, ia juga tidak mengetahui penyebabnya.
Leana melirik kearah Forde yang tengah menyantap sarapannya. Ia terlihat lesu seperti kehabisan tenaga. Matanya tidak memiliki cahaya semangat yang biasa ia temukan saat keduanya bersama.
Leana menghentikan makannya dan membuka suara.
“Forde, kamu baik-baik saja?”
Forde tersentak tetapi ia segera mencoba untuk bersikap tenang dan kembali memakan sarapannya.
“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah.” Jawabnya.
Leana menaikan sebelah alisnya melihat sikap Forde yang aneh.
“Jangan paksakan dirimu…” ucap Leana.
Forde hanya mengangguk dalam diam. Leana terus menatap Forde yang sepertinya menyembunyikan masalahnya darinya. Namun Leana juga tidak dapat memaksakan Forde jika ia tidak ingin memberitahunya.
Dalam hati Leana membuat rencana untuk meminta Alscan membuat ramuan tertentu yang dapat mengatasi masalah yang dialami suaminya.
Menjalani pekerjaannya seperti biasa, malam hari pun tiba.
Hari ini pun Leana berhasil menyelesaikan dokumen dan laporan dari Alphiella dengan cepat. Leana yang kelelahan segera menuju kasurnya setelah selesai mandi.
Ia melepas sandalnya dan naik keatas tempat tidur
Tok Tok
Leana berhenti menarik selimutnya dan menatap pintu kamarnya. Tidak ada pelayan di mansion ini yang akan datang kepadanya pada jam segini, itu artinya…
Leana keluar dari kasur dan berjalan menuju pintu. Saat ia membukanya, Forde tengah berdiri di depan kamarnya.
Leana terkejut dan menatap Forde dengan seksama.
Wajah lelahnya semakin jelas dimatanya seiring berjalannya waktu. Ia tidak mengatakan apapun dan hanya terdiam seperti patung.
“Forde? Kenapa kamu diam saja di depan sini? Apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan?”
“…”
“Forde?”
Forde terdiam namun Leana merasakan suaminya seperti ingin mengatakan sesuatu.
Tidak ingin membiarkan Forde terus berdiri, Leana mempersilahkan Forde masuk. Keduanya duduk berhadapan di sofa dalam diam dan Forde sesekali melirik kearahnya dengan mulutnya yang mengatup.
“Anu, Forde? Apakah ada sesuatu yang kamu pikirkan?”
Forde mengepalkan erat tangannya dan menutup mata seakan sedang mengumpulkan keberanian. Tidak lama mata giok Forde bertemu dengan mata ungunya.
“Leana.”
“I-iya?” jawab Leana dengan sedikit terkejut karena Forde tiba-tiba menjadi serius.
“Bolehkah aku tidur bersamamu?”
Ha?
Seketika otak Leana berhenti bekerja.
Bukan. Mungkin ia tidak mau lagi berpikir karena terlalu lelah dan ingin segera memukul mati kesadarannya.
Saking terkejutnya, Leana tidak sadar telah meninggalkan Forde tanpa jawaban.
“Leana… Apakah tidak boleh?” tanya Forde dengan memiringkan sedikit kepalanya.
Leana segera menarik sedikit dirinya untuk menghindari wajah Forde yang terlalu dekat kepadanya.
‘Di-dimana dia belajar memasang pose seperti itu?! Wajahnya terlalu tampan! Sialan!’
Leana menahan hasrat ingin berteriaknya dan mencoba menggenggam gaun malamnya dengan kuat. Ia terlalu lelah untuk menghadapi fanservice dari suaminya itu.
Apa yang harus ia lakukan? Terima? Tolak?
‘SIAPAPUN TOLONG BANTU AKU!!’ seru batin Leana, ingin menangis.
Leana makin kebingungan namun ia tidak bisa menggantungkan jawabannya lebih lama lagi dan membuat Forde menunggu. Dengan nekat ia pun menjawab…
“Ti-tidak apa-apa kok! Ayo kita tidur bersama!” ujar Leana dengan wajahnya yang merah.
‘Lagi pula cuman tidur ‘kan? ‘KAN?!?!’ seru batinnya dengan tidak tenang.
Saat Leana tersadar, ia sudah terbaring di kasur dan bertemu dengan wajah Forde diatasnya. Leana mulai panik dan mulai kuwalahan dibuatnya.
“Fo-Forde! Ki-kita hanya tidur ‘kan ya?! Tidur seperti biasa?!” tanya Leana dengan gelagapan.
Forde tidak menjawab dan hanya menatapnya. Leana tidak yakin ekspresi apa yang sedang di pasang oleh suaminya itu.
Perlahan Forde mendekat kearahnya. Leana segera menutup matanyadan berseru.
“Tunggu, Forde! Terlalu dekat! Terlalu de—”
Leana yang merasakan hal aneh pun membuka matanya dan menoleh ke arah Forde yang sudah tertidur disampingnya.
Ia membenamkan kepalanya di pundak Leana dan memeluk tubuh Leana mendekat kearahnya, menghilangkan semua jarak diantara mereka.
“Leana…” panggil Forde dengan lemas.
“I-Iya?” Leana kembali terkejut.
Forde kembali terdiam sesaat dan mengeluskan dahinya ke pundak Leana. Ia juga mengeratkan pelukannya hingga membuat Leana sedikit sesak.
Keheningan membuat Leana khawatir jika Forde dapat mendengar detak jantungnya yang tidak tenang itu.
Dengan ragu, Leana meraih punggung Forde dan menepuknya beberapa kali dengan pelan.
“Forde?”
“Leana… beberapa hari ini… aku tidak bisa tidur…” ujar Forde.
Napas tenang Forde membuat ketegangannya berkurang dan Leana terus menepuk punggung Forde untuk menenangkan dirinya.
“Aku pikir… dengan memelukmu di siang hari saja sudah cukup… tapi semakin hari, rasanya aku semakin menginginkan sesuatu yang lebih…”
Suara Forde yang lemas perlahan semakin memudar.
“Maafkan aku, Leana… tapi tolong bantu aku… untuk kali ini…”
Menunggu Forde yang tidak kunjung melanjutkan kata-katanya, Leana menyadari bahwa suaminya kini sudah tertidur.
Tidak dapat bergerak, Leana hanya menyerahkan diri dan mencoba untuk tidur dam ia berharap pagi segera datang.
***
Saat pagi tiba, wajah Forde sudah kembali ke keadaan sehatnya namun tidak dengan Leana. Ia yang sepanjang malam dipeluk oleh Forde tidak dapat tidur dengan tenang.
Bukan berarti ia tidak nyaman hanya saja syok yang diterimanya saat Forde menyarankan mereka tidur bersama membuat sensitivitasnya naik dan ia selalu menyadari hal kecil di sekitarnya.
Ditengah pikirannya, ia bisa merasakan Forde bergerak dan kekuatan pelukannya sedikit berkurang.
Dengan sedikit kesal, Leana menyapa Forde yang baru bangun dari tidur nyenyaknya.
“Selamat pagi, Forde. Aku senang kamu sepertinya mendapatkan tidur yang nyenyak.”
Forde yang masih setengah sadar menatap Leana tanpa henti. Tidak lama senyuman manis terlukis di wajahnya.
“Selamat pagi, istriku. Aku sangat senang bisa melihatmu saat membuka mataku.”
Leana segera mengepalkan tangannya dan menutup rapat matanya. Ia untuk kesekian kalinya menahan diri untuk berteriak.
Wajah tampan suaminya dengan senyuman bak mentari yang tidak pernah ia terima darinya itu terlalu menyilaukan hingga membuat matanya sakit.
Hari masih pagi tapi Leana sudah memacu jantung seperti tengah berlari dengan nyawanya.
Setelah Forde kembali ke kondisi awalnya, Leana pikir masalah Forde kini sudah terselesaikan dan ia bisa menjalani kesehariannya dengan tenang.
Namun malamnya, ia mendapati Forde kembali berdiri di depan kamarnya seperti pada malam sebelumnya. Dengan tatapan ragu dan malu-malu, ia mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada Leana.
Leana menghela napas kecil dan mengulurkan tangannya kepada Forde.
“Mau… tidur bersama?” ajaknya.
Seketika mata Forde berbinar. Ia meraih tangan Leana dan keduanya berbaring di tempat tidur dengan posisi yang sama seperti kemarin.
Leana sangat bersyukur karena mereka hanya tidur di ruangan yang sama namun ia masih belum terbiasa harus dipeluk semalaman oleh suaminya.
Terlalu canggung dalam keheningan, Leana pun angkat bicara.
“Forde bukankah kamu sudah baikan tadi pagi?”
Ia dapat merasakan tubuh Forde tersentak dengan pertanyaannya.
“Maaf, sepertinya sekarang aku tidak bisa tidur kalau tidak memelukmu…” ucap Forde dengan pelan.
Leana menutup matanya dan menarik napas kemudian mengeluarkannya dengan pelan. Dalam batinnya, ia sudah mengeluarkan air mata pasrah dan akan mencoba untuk mulai membiasakan menghadapi kebiasaan baru suaminya.
Tentu saja. Entah bagaimana Leana seperti sudah mengetahui ujung dari rentetan kejadian ini. Ia sudah dapat menebaknya.
“Apakah kamu tidak suka tidur bersamaku, Leana?”
Nada yang dikeluarkan Forde seakan seperti anak kecil yang ketakutan. Pelukannya juga menjadi semakin erat seakan tidak ingin melepaskan dirinya.
“Aku… tidak masalah kalau kamu mau tidur bersama…” jawab Leana dengan malu-malu.
Forde yang mendengarnya segera bangkit menatap wajah Leana dengan tertegun.
“Apakah tidak apa-apa mulai sekarang kita tidur bersama?” tanya Forde, mengkonfirmasi.
Leana mengerutkan dahinya dan segera memalingkan muka. Kedua tangannya bersikeras menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang memerah.
“Aku bilang tidak apa-apa! Jadi kamu tidurlah dengan nyenyak!”
Forde tersenyum senang dengan jawaban Leana. Ia pun mencium pipi istrinya sebelum akhirnya membenamkan wajahnya di rambut Leana.
“Terima kasih Leana. Aku mencintaimu.”
Disaat Forde memulai tidur nyenyaknya, Leana sudah berlinang air mata karena tidak dapat menahan rasa malunya.
Sepertinya malam ini pun Leana tidak dapat tidur dengan nyenyak.