
Selama digendongan Forde, Leana hanya dapat memeluk leher suaminya dan membenamkan wajah di pundaknya.
Ia tidak sanggup menerima pandangan tertegun setiap pelayan mereka temui di sepanjang perjalanan.
“Fo-Forde, turunkan aku…” Leana mengencangklan genggamannya pada baju Forde.
“Aku tidak bisa. Aku merasa kamu akan melesat hilang begitu aku lepaskan.”
‘Memang begitu sih, tapi bukan begini juga!’ Leana berseru dalam hatinya. Ia ingin segera mengubur dirinya bersama dengan rasa malu yang dirasakannya saat ini.
“Albert, sampai aku mengizinkannya, tidak ada yang boleh memasuki ruangan ini. Paham?”
“Saya mengerti, tuanku.”
Leana yang sepanjang perjalanan menyembunyikan wajahnya tidak mengetahui kemana mereka berjalan tetapi saat Forde memberikan perintah kepada Albert, ia dapat mendengar pintu tertutup dibelakang Forde.
Forde berjalan beberapa langkah dan kemudian berhenti.
“Leana, kita sampai.”
Saat Forde berbisik di samping telinganya, Leana segera melepaskan pelukannya dari leher Forde dan ia diturunkan di kasur. Saat ia melihat sekitarnya, ia menyadari bahwa ia dibawa ke kamarnya.
Forde kemudian duduk di sampingnya dan meraih Leana ke dalam pelukannya. Kedua lengan kekarnya melingkari tubuhnya dan ia dapat merasakan napas suaminya di belakang kepalanya.
Merasakan lengan Forde yang menghangatkan bagian bawah dadanya, Leana merasa wajahnya mulai memanas. Ia pun meronta.
“Forde! Lepaskan aku!”
“…”
“Fo-Forde! Tolong lepaskan aku!”
Forde tidak menjawab. Kedua tubuh mereka terus menempel seakan berbagi kehangatan. Disaat Leana ingin melepaskan diri, Forde terus mengekangnya agar tidak pergi.
Dalam keheningan, kepanikan Leana mulai mereda dan ia merasa canggung dengan suaminya yang tidak bergeming.
“Forde…?”
Masih tidak ada jawaban. Leana ingin berbalik dan melihat kondisi suaminya namun tubuhnya sama sekali tidak dapat ia gerakan. Tidak lama ia dapat merasakan tubuh Forde sedikit bergerak.
“Leana, apakah kamu tidak suka di sini?”
Kali ini Leana yang terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka pertanyaan tersebut akan dilontarkan pada saat itu. Leana pun menjadi bingung.
“Aku… tidak membencinya…”
Leana mencoba untuk menyentuh tangan Forde untuk menenangkannya. Saat kedua tangan mereka bersentuhan, ia dapat merasakan Forde yang tersentak namun segera meredakan ketegangan di tubuhnya.
Merasa ia berhasil menenangkan suaminya, Leana mengelus lengan Forde dengan ibu jarinya.
Leana menyerah untuk melepaskan diri dan hanya tenggelam dalam pelukan suaminya. Mereka menghabiskan waktu bersama berpelukan dalam diam untuk beberapa saat.
“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“… Aku hanya khawatir…”
‘Khawatir? Kenapa?”
“Aku merasa kamu akan pergi ke suatu tempat dan tidak kembali.”
‘Apakah kesannya seperti itu di mata Forde?’
Leana hanya ingin mengecek Alphiella secara langsung agar tidak meninggalkan sesuatu dalam pengembangannya. Ia juga ingin memastikan bahwa organisasi bayangannya tumbuh dengan baik.
Ia pikir Forde yang juga mengalami perkembangan yang sama akan memahami hal tersebut. Tetapi diluar dugaannya, sikapnya saat ini sangat membuatnya bingung.
Apakah karena ia menganggap Leana lemah ataukah Forde mempertimbangkan kondisi di Alphiella? Hanya alasan itu yang terlintas di benaknya.
Leana membenamkan kepalanya kepada Forde dan mulai membuka suara.
“Forde, suamiku.” Ia dapat merasakan Forde tersentak dibelakangnya. “Aku dapat meyakinkanmu bahwa aku tidak berniat untuk pergi dari Grandall, karena aku tidak mempunyai tempat untuk kembali selain di sini.”
Leana benar-benar tidak dapat pergi kemana pun, bahkan ke kediaman Wordlock. Ia sudah tidak punya tempat lain lagi selain disamping Forde.
“Aku hanya merasa bertanggungjawab dengan pemulihan Alphiella dan tidak bisa melepasnya jadi aku tidak punya pilihan lain selain pergi secara langsung. Jadi aku harap kamu mengerti.”
Ibu jarinya masih mengelus lengan Forde yang mengitari tubuhnya. Entah kenapa ia merasa nyaman dalam posisinya tersebut.
Forde masih terdiam tidak menjawab dan membenamkan kepalanya di rambut Leana.
“Forde, apa yang bisa aku lakukan untuk meyakinkanmu?”
Seperti dugaannya, tubuhnya masih tidak dapat ia gerakan. Kemudian Fode tiba-tiba saja menariknya jatuh ke kasur.
“Uwaa! Forde?! Ada apa?!”
Saat tubuhnya terbaring dan menatap Forde diatasnya, Leana kembali panik. Posisinya itu membuat jantungnya berpacu seperti kuda.
“Fo, Forde…?
“Berjanjilah…”
“Apa?”
“Berjanjilah untuk terus berada disisiku, Leana.”
Leana perlahan meraih wajah Forde dan mengelusnya.
“Aku berjanji akan terus di sisimu. Jadi aku harap kamu juga melakukan hal yang sama, Forde.”
Forde mengangguk kecil kemudian mengambil tangan Leana dan mengeluskan wajahnya. Leana kembali terkejut dengan tindakan Forde. Untuk pertama kalinya ia dapat melihat ekspresi lembut dari suaminya.
Ia ingin segera menarik tangannya namun genggaman Forde semakin mengerat. Tidak lama wajah Forde datang mendekatinya, membuat Leana panik.
Ia dengan cepat menggunakan tangan lainnya dan menaruhnya di mulut Forde. Menghalanginya bergerak maju.
Leana dapat melihat kerutan di kening Forde.
“Leana, apa yang kamu lakukan?”
“Tidak, tidak! Apa yang kamu ingin lakukan?!” Seketika mata Forde memelas.
“Apakah tidak boleh?”
‘Tidak, bukan itu! Kenapa kamu memasang ekspresi begitu?’ Leana mencoba untuk melawan Forde.
“Lagipula, bukankah aku pantas mendapatkan sesuatu sebagai permintaan maaf?”
Hah?
Leana merasa bahwa mata Forde tiba-tiba saja berubah menjadi berbahaya.
“Leana, tadi kamu baru saja mengaku akan pergi ke Alphiella dengan menggunakan alasan akan pergi ke kota hari ini.”
Leana menghantam keras kepalanya ke dinding bayangan dalam benaknya. Ia menyadari bahwa tadi saat percakapan mereka menjadi serius dan mendalam, secara tidak sadar Leana mengakui bahwa ia akan pergi ke Alphiella.
Kini suaminya yang mengetahui fakta tersebut sepertinya marah terhadap hal itu.
“Aku sudah melarangmu untuk tidak pergi ke sana tapi sepertinya kamu masih bersikeras untuk pergi.”
“Apakah sebegitunya kamu ingin pergi sampai berbohong kepadaku, Leana? Kemana perginya janji manismu tadi kepadaku?”
‘Bukankah janji itu baru saja dibentuk?!’ seru Leana dalam benaknya.
Bukan berarti kalaupun mereka tidak berjanji maka ia berencana untuk pergi dari Grandall, tapi apa-apaan kesalahpahaman yang Forde buat?!
Lagipula ia memiliki pesanan di kota tidak sepenuhnya kebohongan, meskipun barngnya sudah jauh hari ia dapatkan.
Benar juga, ia punya barang itu!
“Fo, Forde! Aku sungguh tidak membohongimu! Aku benar-benar punya sesuatu untukmu!”
Forde berhenti dan menatap Leana dengan penasaran.
“Kau punya sesuatu untukku?”
“Iya. Jadi bisakah kita bangun untuk sementara waktu?” Forde menatapnya dengan curiga, masih tidak mau melepasnya.
“Kamu berjanji tidak akan kabur?”
“Aku berjanji tidak akan pergi!”
Saat Forde melepasnya, keduanya bangun dan Leana pergi untuk mengambil barang untuk Forde yang tersimpan dalam laci meja di samping kasur.
Keduanya terduduk di kasur dan Leana memberikan sebuah kotak berwarna tosca yang dihias rapi kepada Forde.
Saat dibuka, di dalamnya adalah cufflink yang dibeli Leana dihari insiden yang tidak sempat ia berikan kepada Forde sebelumnya.
Leana tidak berani menatap Forde karena terlalu malu..
“Saat aku menemukannya, aku teringat dengan warna matamu jadi aku sempat terpikat.”
“…”
“Apakah kamu menyukainya?”
“…”
“Forde…?”
Leana melirik Forde yang tidak menjawabnya dan terkejut. Forde di hadapannya kini tengah tertegun menatap hadiah yang ia berikan. Pipinya sedikit tersipu dan matanya seakan berkaca-kaca.
“Forde, apa kamu—”
“Terima kasih Leana, aku akan menjaganya dengan baik.”
Forde tersenyum lembut kepadanya dan Leana pun ikut tersipu malu.
Forde mengambil cufflink dari kotaknya dan memasang di kemejanya dengan lihai. Saat cufflink sudah menghiasi kedua lengan kemejanya, Forde memandangi cufflink tersebut dengan bahagia.
Reaksi yang di dapatkannya membuat Leana menahan emosinya yang terlalu senang karena hadiahnya diterima dengan sangat baik.
Untuk pertama kalinya ia melihat Forde seperti itu dan mulai berpikir bahwa ia sangat lucu dan menggmaskan.
Leana mulai bertanya lagi pada dirinya apakah selama ini Forde selalu menunggu sesuatu darinya. Sepertinya ia terlalu lama mengabaikan Forde hingga mendapatkan reaksi semewah ini.
“Leana, sebagai ganti hadiah ini aku juga ingin memberimu sesuatu. Ulurkan tanganmu.”
Forde melepas anting kristal di telinga kanannya dan memberikannya kepada Leana. Leana menatap anting di tangannya dengan takjub.
Anting berbentuk kristal panjang dengan warna ungu dan tosca yang menyatu di tengahnya terlihat sangat ajaib di matanya. Seakan anting tersebut menyimpan suatu kekuatan.
“Forde, ini…”
“Ini adalah salah satu benda pusaka milik Grandall.”
Leana seketika membeku di tempat dan segera memegang anting tersebut dengan hati-hati. Ujung jemarinya mulai mendingin.
Apa tadi katanya?
“Tunggu, kenapa kamu memberikan benda sepenting ini kepadaku?!”
“Aku hanya membalas hadiah darimu, Leana.”
“Tapi hadiahku tidak sebanding dengan pusaka Grandall!”
“Aku baru saja mendapatkan hadiah pertama darimu, tentu saja ini adalah balasan yang sebanding. Tidak perlu kamu pikirkan.”
Leana ingin sekali melempar dirinya di masa lalu yang telah mengabaikan suaminya selama setengah tahun terakhir ini. Terlebih ia mulai mengkhawatirkan perbandingan suatu benda di mata Forde.
“Kamu tidak perlu khawatir. Anting ini adalah batu permata yang kudapatkan saat menaklukan labirin sebelum menjadi Grandall.”
Forde mengambil anting tersebut dan memasangkannya di telinga kanan Leana.
“Alasan kenapa anting ini ku anggap sebagai benda pusaka karena batu kristal ini memiliki kemampuan untuk menyimpan dua benda apapun di dalamnya. Kristal ini sudah membantuku dalam banyak misi dan aku merasa kamu juga harus memilikinya.”
Saat Forde selesai memasangkan anting di telinganya, Leana menyentuh anting itu seakan mencoba untuk memperlihatkannya.
“Ba, bagaimana? Apakah cocok denganku?” tanya Leana malu-malu.
“Kamu sangat cantik.”
Wajah Leana langsung memerah mendengar pujian dari Forde. Rasanya ia ingin segera kabur dari hadapannya.
“Haha, terima kasih. Aku akan menjaganya dengan baik.”
Merasa canggung, Leana perlahan beranjak keluar dari kasur.
“Um, bagaimana kalau kita pergi sarapan? Tadi aku belum—Uwaah!”
Sebelum dapat turun dari kasur, Forde menarik Leana dan kembali memeluknya dari belakang.
Kedua lengan Forde kembali melingkari tubuhnya dan wajahnya terbenam di rambutnya. Leana kembali malu dan panik dengan posisi mereka yang kembali ke awal.
Forde membuka mulut dengan pelan seakan berbisik.
“Leana… aku sangat senang dengan hadiah darimu. Terima kasih.”
“I-iya, sama-sama? Sekarang ayo kita sarapan… Forde? Forde??”
Saat memanggil, ia tidak mendapatkan jawaban dari Forde. Saat terdiam, Leana dapat mendengarkan napas stabil Forde di belakangnya. Sepertinya Forde tertidur.
‘Aku ditinggal tidur??’
Meskipun tertidur, Forde tidak melepas pelukannya dari Leana. Dengan perlahan ia mencoba untuk keluar namun lengan yang melingkari tubuhnya tidak bergeming. Leana tidak bisa keluar dari Forde.
“Forde, kita harus sarapan! Setidaknya lepaskan aku!”
Leana tidak mendapat jawaban dan Forde tidak berkutik sedikit pun. Sepertinya masalah baru datang kepadanya dan Leana tidak dapat berbuat apa-apa.
“Albert! Apakah kau disitu?! Vivy!”
Ia tidak mendapat jawaban.
Menahan rasa kesalnya, Leana menyerahkan diri kepada Forde yang tidur dengan tenang.
Saat Forde terbangun, dua jam telah berlalu dan Leana ikut tertidur bersamanya.