This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
The Grand Meeting



7 Agustus tahun Imperial 23XX


Hari rapat internasional pun telah tiba.


Setelah 10 tahun lamanya, rapat besar yang melibatkan seluruh negara yang berpartisipasi dalam mengatasi labirin sihir kembali diadakan.


Rapat yang hanya akan diadakan untuk membuat keputusan atas persetujuan penghuni dunia.


Pertama kalinya diadakan adalah untuk membahas bagaimana dunia dapat mengatasi fenomena labirin sihir yang muncul di dunia dengan maksimal.


Pada dasarnya banyak negara yang tidak terlalu ingin mengikuti rapat besar sebagaimana mereka memiliki kekuatannya sendiri untuk melawan labirin sihir.


Namun karena kabar terungkapnya keberadaan akan penjaga labirin sihir yang tidak pernah mereka sadari, dunia pun menjadi terguncang dan mereka tidak punya pilihan lain selain menyetujui usulan untuk membuka rapat besar kembali.


Kekaisaran Solfilyan yang memiliki hubungan dengan kontraktor dari penjaga labirin sihir menjadi tuan rumah yang mengadakan rapat besar tersebut.


Awalnya banyak yang tidak memyetujui hal tersebut namun karena keberadaan kontraktor yang bertempat tinggal di kekaisaran, mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa.


Rapat yang diadakan di aula agung yang merupakan aula terbesar kedua di kekaisaran Solfilyan yang tidak kalah megahnya dengan aula besar pertama.


Interiornya tidak terlalu berlebihan namun tidak menurunkan derajat dari kekaisaran Solfilyan seakan membuat kesan yang melambangkan kebijakan.


"Yang Mulia Kaisar Rugold Wessatein Solfilyan dan Marchioness Leana Grandall memasuki aula agung!"


Leana berdiri di dekat Kaisar saat akan memasuki aula dan masuk bersamanya.


Matanya berenang menatap para peserta rapat tanpa memutuskan fokusnya.


Di meja panjang tersebut terdapat banyak petinggi dan delegasi begitu juga dengan pemimpin lima pilar.


Tidak jauh dibelakang mereka adalah tangan kanan atau kiri terpercaya dari para peserta dan menjadi saksi bagi rapat besar ini.


Mata yang masih memperhatikan sekitarnya bertemu dengan suaminya untuk sesaat. Ekspresi mereka tidak berubah namun keduanya seakan mengerti akan pesan yang disampaikan satu sama lain. Perlahan ia sedikit melebarkan senyum percaya diri di wajahnya.


Kaisar pun duduk di kursi singgasananya dan Leana berdiri tidak jauh di sampingnya. Bersamaan, para peserta rapat ikut duduk di kursi mereka.


"Para hadirin terhormat rapat besar. Saya mengucapkan terima kasih karena telah menyetujui usulan pembukaan serta kehadiran anda di rapat ini."


Kaisar memulai pidato pembukaannya.


Sementara itu Leana yang kembali melanjutkan observasinya terhadap peserta mulai memahami urutan penempatan mereka.


Dari urutan kanan paling dekat ada lima pilar yang berasal dari kekaisaran, kemudian ada kota suci yang berada di posisi netral, kemudian ada negara aliansi.


Lalu di bagian kiri terdapat negara dengan ranking istimewa hingga negara yang ingin ikut berpartisipasi.


Kemudian yang duduk di ujung meja panjang itu adalah asosiasi sihir, ahli sihir dari menara sihir.


"Oleh karena itulah dengan ini mari kita mulai rapat besar kali ini yang akan membahas mengenai penanganan lima labirin sihir yang akan muncul."


Para petinggi yang mengetahui topik pembicaraan mereka hanya duduk tenang menunggu diskusi mereka di mulai, namun mereka yang tidak mengetahuinya mulai membuka suara dan berdiskusi kecil diantara mereka.


Dengan berakhirnya pidato, Leana mempersiapkan dirinya.


"Baiklah, kalau begitu kita mulai saja. Saya persilahkan, Marchioness."


Leana mengangguk. Ia pun berjalan maju dan berhenti tidak jauh dari meja rapat.


Ia mengulurkan tangannya dan memanggil namanya.


"Telsia."


Cahaya kuning kehijauan muncul bersamaan dengan angin yang bertiup kencang berputar cepat di samping Leana.


Saat angin tersebut perlahan mereda, sebuah cermin sihir muncul dan Telsia datang dengan tubuh aslinya. Seperti biasa, Croselia berada di dekapannya.


Kemunculannya membuat semua orang di ruangan itu tertegun hingga tidak dapat berkata-kata.


Bahkan Leana tidak memperkirakan sang ahli sihir untuk ikut tertegun melihat sosok Telsia.


"Saya perkenalkan kepada anda sekalian, sang penjaga labirin sihir, Telsia."


Telsia perlahan membuka matanya dan kedua maniknya itu seakan memberi salam kepada mereka.


Ia berdiri diam seperti biasanya dan tidak terpengaruh pada pandangan dari manusia yang memiliki ranking di antara mereka.


"Permisi Yang Mulia, tapi sebelum rapat ini dimulai, pihak kami ingin bertanya dengan penjaga labirin sihir."


Semua mengalihkan pandangan mereka kepada pihak kota suci. Sang pendeta mengulurkan tangannya cukup tinggi hingga semua orang dapat melihatnya.


Ia dapat melihat pandangan tidak suka dari pihak lain yang berpikir bahwa kota suci sekarang tengah membuang waktu mereka.


Leana menatap mereka seakan telah menantikan hal tersebut akan terjadi.


Tentu saja pihak kota suci pasti akan mulai mempertanyakan sosok dari penjaga labirin sihir.


Labirin sihir yang mungkin sudah mereka anggap sebagai inkarnasi dari iblis dan hal negatif semacamnya.


Sebagaimana kenyataan bahwa labirin sihir memang benar hanya membawa kabar buruk di dunia ini, ia hanya bisa diam.


Kaisar melirik ke arah keduanya. Telsia hanya menutup mata dan Leana pun mengangguk menyetujui hal tersebut.


Kaisar kembali kepada pendeta tersebut dan memberikan jawabannya.


"Anda diperbolehkan."


Senyuman... atau mungkin seringai terlukis di wajah pendeta itu. Ia menatap Telsia dan Leana dengan tatapan yang tidak menyenangkan.


Keduanya tidak menyukai apapun yang akan terjadi setelahnya namun mereka tidak punya pilihan lain selain mengikuti aturan rapat besar seperti yang telah dijanjikan.


Pendeta itu bangun dari tempatnya dan meninggikan suaranya serta mengulurkan tangannya tinggi untuk menarik perhatian sekitarnya.


"Ini mungkin topik yang sedikit bertentangan dengan apa yang ingin dibicarakan, tetapi 'kami' hanya ingin memastikan saja."


Melihat bagaimana para pendeta lain tidak menghentikan tindakannya, sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama dengannya.


Bahkan Saintess hanya menutup matanya dan tidak menghentikannya.


Sosok Saintess yang belum diketahui wajah aslinya. Saat inilah yang akan menjadi penentu baginya untuk menilai.


Leana melirik kepada Telsia yang tetap tenang.


Leana yang menyerahkan keputusan menjawab kepada Telsia jadi ia berencana untuk tetap berada di garis yang telah ditentukan untuknya.


"Apakah ini tentang saya?"


Diluar dugaannya, Telsia membuka mulutnya terlebih dahulu. Bahkan sebelum sang pendeta mengungkit topiknya.


"Benar sekali. Sungguh tajam firasat anda."


Leana dapat mendengar kekehan kecil darinya karena kondisi ruangan yang hening.


Keheningan yang dibuat karena rasa penasaran dan juga merupakan cara mereka semua untuk menarik keluar informasi yang dibutuhkan.


Licik, tentu, tapi Leana sudah memperkirakannya.


"Apa yang ingin anda pastikan?"


Seringai yang dimiliki oleh pendeta itu mengingatkan Leana terhadap seseorang.


"Anda adalah penjaga labirin sihir, bukan? Sebagai penjaga, bukankah tugas anda untuk mengawasi labirin sihir? Mengapa anda membiarkan labirin sihir mengacaukan dunia ini?"


Dari perkataannya saja semua orang tahu bahwa sang pendeta sedang mencoba untuk menggali kesalahan dari Telsia. Mencoba untuk menjatuhkan posisinya.


Tidak. Sejak awal sosok Telsia yang merupakan penjaga labirin sudah dipertanyakan sejak awal.


Leana melirik Telsia dengan khawatir namun yang ditatapnya hanya tenang dan tidak terganggu sama sekali.


Melihat reaksinya, senyuman di wajah pendeta itu sedikit menghilang. Leana mendengus pelan dengan akting amatirnya.


"Sebagai penjaga labirin sihir, saya hanya mengikuti kehendak dari labirin sihir. Tindakan, sikap, perasaan, semua itu berada dibawah kehendak labirin sihir dan saya tidak bisa sembarangan membuat tindakan."


"Jadi anda hanya melihat saja dan tidak melakukan apapun saat labirin sihir menginjak-nginjak dunia ini?"


Para pengawas menjadi was was sementara mereka yang berada di meja tetap terdiam.


"Lalu apakah tindakan anda dalam menjadikan Marchioness Grandall sebagai kontraktor juga merupakan kehendak labirin sihir?"


Leana mendengar suara di dekat suaminya namun ia tidak bisa melepas matanya yang menatap tajam kepada pendeta itu.


"Awalnya tidak seperti itu. Namun kemudian, ini jugalah yang merupakan kehendaknya."


"Apa maksud anda? Jadi yang benar yang mana?"


Telsia mengarahkan tangannya kepada Leana seakan mempersembahkannya kepada mereka.


Leana sempat menjadi ciut untuk sesaat.


"Awalnya semua sama, tidak ada tindakan apapun hingga pada titik kehancuran dunia namun kemudian Marchioness diberikan kessmpatan kedua."


Leana melebarkan matanya.


Mereka memang berencana untuk membagi ceritanya di kehidupan pertama, tapi bukankah sekarang terlalu cepat untuk di ungkapkan??


"Apa maksudnya kesempatan kedua? Bukankah Marchioness memiliki 'pemglihatan'?"


"Penglihatan yang kalian maksudkan bukanlah sekedar mengintip masa depan. Apa yang diketahui Marchioness sudahlah terjadi dan kini ia berdiri di tempat keduanya."


Leana mengernyit dengan kata-kata Telsia yang berputar. Tapi dengan begitu, ia tidak perlu sepenuhnya memberikan jawaban bersih kepada mereka.


'Jika mereka ingin mengetahui kenyataannya, maka carilah sendiri' Adalah tindakan yang dilakukan Telsia sekarang.


"Maksud anda dengan dunia--"


"Saya menggunakan kekuatan labirin sihir untuk memindahkan jiwa Marchioness ke dunia dengan waktu sebelum kehancuran tiba."


Ruangan tersebut seketika dipenuhi dengan banyak suara.


"Tentu saja jika bukan karena kehendak labirin, hal tersebut tidak akan dapat terjadi."


Kata-kata lanjutan Telsia tenggelam dalam banyak suara.


Forde dan Eclipse yang sudah mengetahui ceritanya tetap tenang di aula yang ramai tersebut. Cukup membuat rekannya bertanya-tanya terhadap sikap mereka.


Kaisar segera mengetuk tongkatnya dan menghentikan suara mereka.


Leana mengernyit saat pendeta itu menjilat bibirnya dengan senang, seakan telah mendapatkan kesempatan yang telah di nantinya. Sungguh menjijikan.


"Memindahkan jiwa ke dunia lain. Kekuatan yang melewati ruang dan waktu. Apa maksud anda, anda menyatakan bahwa anda adalah dewa?" ucapnya dengan nada lantang.


Pendeta yang terlihat sedang membodohi dirinya sendiri ternyata adalah orang yang sangat tajam dan cerdik.


"Saya bukanlah dewa karena saya juga adalah makhluk yang diciptakan oleh sang pencipta. Begitu juga dengan labirin."


Ekspresi di wajah Leana berubah kaku.


'Apa boleh penjaga labirin berbicara seperti itu?' Walau itu adalah fakta, tapi Telsia yang mengikuti kehendak labirin sihir seharusnya tidak bisa berbicara mewakili kehendak labirin sihir itu sendiri.


Leana mulai mengukur ulang persentase kehendak labirin sihir dalam membantunya.


Tentu saja dengan berdirinya Telsia di sampingnya sudah menjadi bukti kuat akan persetujuan labirin. Tetapi seharusnya tidak sampai membuat Telsia mewakili kehendak dari labirin sihir tersebut.


Namun jika Telsia merasa tidak masalah dengan pernyataan yang dikeluarkannya, itu artinya labirin sihir telah menyetujui tindakan dari sang penjaga.


"Seperti bagaimana Saintess menjalankan perintah sang pencipta, saya hanya menjalankan kehendak labirin sihir."


Jawaban yang simpel dan masuk akal. Apa lagi yang diperlukan selain itu?


"Dengan diam saja dan melihat dunia hancur! Kehendak macam apa yang--"


"Bahkan Saintess tidak bisa menyelamatkan dunia seorang diri. Sebagaimana tugasnya hanya menyampaikan rahmat dan memberikan sedikit keajaiban." potong Telsia.


Saintess membuka matanya dan tersenyum manis kepada mereka. Saking manisnya, ia berharap ia memiliki kacamata hitam sekarang.


"Jangan bercanda! Saintess adalah sosok sempurna yang dikirim oleh sang pencipta!"


"Saintess juga adalah manusia. Manusia yang punya kesalahan dengan sedikit rahmatNya. Dan rahmat itu harus digunakan dengan sebaik-baiknya."


Wajah pendeta itu menjadi merah karena geram. Tangannya mengepal kuat hingga nadinya seakan akan menyembur keluar.


Perkataan Telsia seharuanya sudah menjadi fakta yang tidak bisa dielak lagi namun pendeta itu tetap melanjutkan kata-katanya.


"Beraninya--!! BERANINYA KAU--!!"


"Pendeta Dough."


Pendeta itu terhenti saat mendengar nada berat dari Saintess. Ia dengan khawatir menoleh kepada Saintess.


"Sudah cukup, mari hentikan ini."


"Tapi Saintess! Dia telah mencoreng sang pencipta--"


"Saat ini tindakan anda adalah apa yang mencoreng kita, pendeta Dough."


Pendeta itu membeku. Ia menggertak giginya dan nadi di kepalanya seakan mau pecah.


Dengan tidak rela ia duduk kembali di kursinya.


Saintess bangkit dari kursinya dan menatap sang Kaisar.


"Kami sudah selesai dengan bagian kami jadi silahkan dilanjutkan kembali rapat besar ini."


Ia kemudian menatap kearah Telsia dan Leana berada kemudian sedikit membungkukan badannya.


"Saya juga minta maaf akan ketidak sopanan kami terhadap anda, wahai penjaga labirin sihir."


Hal tersebut membuat semua orang terkejut. Terutama para pendeta yang segera mencoba untuk menghentikan tindakannya.


"Saintess!!"


"Saintess!! Anda tidak perlu membungkuk pada--"


Saintess tidak menghiraukan mereka dan hanya diam menunggu jawaban dari Telsia.


Telsia tidak langsung menjawab dan menatap sosok Saintess yang serius meminta maaf kepadanya.


Leana melirik Telsia untuk segera menyelesaikan masalah ini.


"Tidak masalah. Saya harap hal seperti ini tidak terjadi kedepannya lagi."


"Kau--!! Beraninya--!!!"


"Pendeta Dough!"


Sang pendeta pun menciut dengan tatapan yang diberikan oleh Saintess. Rekan pendetanya juga mulai menatapnya dengan kesal karena hal tersebut dan ia pun terdiam.


Leana lega karena masalah dengan kota suci akhirnya telah terlewati. Ia pun melirik Telsia dan berbisik.


"Kau tahu kan kalau kau baru saja memberikan pernyataan seakan Saintess itu bukanlah orang yang istimewa? Kau berencana menjatuhkan kota suci dan membuat musuh?"


"Aku hanya ingin membuka jendela mereka yang sepertinya tertutup rapat dengan tafsiran mereka sendiri tanpa melihat arti aslinya. Lagi pula Saintess juga setuju denganku."


Benar. Diluar dugaannya, Saintess memberikan reaksi positif kepada Telsia, seakan setuju dengan pernyataannya.


Mereka tidak pernah bertemu namun pernyataan duniawi itu cukup untuk menarik keduanya.


"Orang suci pun tidak memiliki kehidupan penuh bunga."


Kata-kata yang melintas memberikannya katuk palu untuk membuat keputusan.


Pada akhirnya, prinsip 'melihat lebih dalam' adalah keputusan yang tepat.


Setelah aula kembali mendapatkan ketenangannya, Leana menoleh kepada Kaisar dan memberinya isyarat untuk melanjutkan.


"Baiklah, jika tidak ada pertanyaan lagi yang ingin disampaikan. Mari kita lanjutkan rapat ini."