This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
New Light Festival



Hari festival pun tiba. Acara tahunan yang dinamakan Festival Sinar Baru diadakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Marquis Grandall yang menjadi pelindung mereka.


Kota Adreandel akan dihiasi oleh lampu hias dan dipenuhi oleh banyak gerai disepanjang jalanan. Selain itu akan ada pertunjukan, performa tarian, kembang api, dan masih banyak lagi.


Semua orang bersemangat menanti festival tersebut.


Di hari yang akan dipenuhi dengan kesenangan itu pun, Forde dan Leana mengerjakan dokumen di ruang kerja seperti biasa.


Ditengah keheningan mereka, Forde membuka suara.


“Leana, bagaimana kalau kita pergi ke festival bersama?”


“Eh, tidak apa-apa?!” Jawab Leana dengan senang.


Untuk pertama kalinya Forde mengajak Leana untuk pergi ke festival bersama. Leana sangat senang sampai tidak dapat menyembunyikan


kebahagiaannya.


Forde tersenyum dan berjalan ke sofa tempat Leana bekerja. Ia mengambil tangan Leana dan menatap langsung ke matanya.


“Bagaimana kalau kamu mulai bersiap? Kita akan berangkat malam ini. Aku dengar akan ada kembang api hari ini.”


Leana tertegun dan menarik sedikit badannya karena wajah Forde yang sangat dekat.


Saat ia membuka mulut namun ia teringat dokumen yang sedang berada di mejanya.


“Kamu tidak perlu khawatir dengan dokumen-dokumen ini. Kita nikmati saja hari ini bersama, bagaimana?”


Leana segera mengangguk dengan senang dan bangkit dari tempatnya.


“Kalau begitu aku akan segera bersiap!” dan Leana pun meninggalkan ruang kerja.


Forde tersenyum dan membereskan dokumen di mejanya sebelum ikut mempersiapkan diri.


***


Ketika langit berubah menjadi gelap, Leana dan Forde yang menggunakan jubah segera pergi menuju festival.


Karena menginginkan waktu berdua saja, Forde mengistirahatkan Iscan dan Hardie yang merupakan kesatria pribadi Leana. Kini kedua kesatria itu tengah menjalankan jatah mereka untuk berpatroli di kota pada malam hari.


Pada hari festival pasukan Grandall diperbolehkan bergiliran mengambil bagian untuk menikmati festival. Banyak dari mereka yang ingin mengambil jatah di malam hari karena adanya kembang api.


Leana masih ingat bagaimana ia tidak sengaja melihat pasukan Grandall dengan semangat mengambil jatah mereka dari dalam kotak secara acak. Ia tidak bisa berhenti tersenyum melihat reaksi mereka yang tidak mendapatkan jatah yang sesuai keinginan.


Seperti festival pada umumnya, kota sangatlah ramai hingga tidak jarang Leana hampir terdesak ketika menyusuri jalan.


Forde segera mengambil tangan Leana dan mendekatkan keduanya.


“Jangan terlalu jauh dariku. Di sini cukup padat. Aku tidak mau kehilangan kamu jadi pegang terus tanganku.” Ucap Forde dengan serius.


Leana hanya dapat mengangguk sambil menahan senyumannya. Ia masih tidak dapat terbiasa dengan Forde yang dapat mengatakan hal-hal memalukan itu dengan muka datar.


Setelah berjalan beberapa saat, mereka akhirnya dapat mencapai area jantung kota Adreandel. Di sana banyak performa yang di tampilkan begitu pula dengan gerai makanan dan minuman.


Leana senang bisa mendatangi festival secara langsung.


Dikehidupan pertamanya, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk menikmati festival di kota secara langsung dan di dunia modern pun festival besar sangatlah jarang ia temukan.


Dengan tangannya yang berpautan, keduanya mencoba berbagai jajanan dan permainan yang tersedia di sana. Entah sudah berapa kali ia terpukau dengan keahlian suaminya yang dapat menyelesaikan permainan dengan sempurna.


Leana merasakan deja’vu saat menyadari tangannya tidak dapat menampung apapun lagi namun ia menepis perasaannya tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka.


Dengan banyak benda di tangan mereka, keduanya pun pergi ke area taman kota yang sedikit lebih sepi. Meskipun sedikit gelap dari area festival, kini Leana akhirnya dapat menikmati makanannya dengan tenang sembari menyaksikan kemeriahan festival dari sana.


Keduanya terdiam menikmati makanan mereka masing-masing sembari melihat kemeriahan festival.


Leana yang fokus makan tidak menyadari suaminya yang terus memperhatikannya dalam diam seakan menikmati reaksinya.


Forde menyadari remah di bibir Leana dan mengulurkan tangannya.


“Leana, ada remah di dekat bibirmu.”


Forde meraih wajah Leana dan mengambil remah tersebut kemudian memakannya dengan muka tenang. Leana tertegun menatap Forde dengan mulutnya yang terbuka.


Saat mata Forde kembali kepadanya, ia sedikit tersenyum. Tidak, menyeringai?


“Kenapa ekspresimu begitu?”


‘Memangnya salah siapa coba?!’ seru batin Leana.


Forde menopang tangan Leana yang memegang makanan dan mendorong mendekatinya.


“Ayo lanjutkan makananmu.” Ucap Forde.


“Aku tidak bisa memakan semuanya! Kalau aku jadi gemuk bagaimana?!” seru kesal Leana.


“Tidak perlu khawatir, aku akan membantumu makan.”


“…”


Leana memasang wajah sebal kepada Forde dan kembali melahap jajanannya. Forde merasa puas dan kembali menatap kemeriahan festival.


Ia dapat melihat orang-orang bersorak ria dan ada juga yang menari. Leana menoleh kearah Forde dengan penasaran. Ia pun terpikir ide untuk menjahili suaminya.


“Bukankah tariannya cantik?”


Forde menoleh kearah Leana dengan bingung.


“Uh, ya?”


“Sepertinya matamu terpaku pada mereka.” ucap Leana dengan usil. Forde seketika menyadari maksud tersembunyi pertanyaan tersebut dan tersenyum.


“Apakah kamu cemburu?” tanya Forde dengan jahil.


‘Hah? Aku cemburu?’ Leana tertegun.


Otak Leana menyadari bahwa suaminya sedang menjahilinya balik dan ia sendiri tidak sedang cemburu kepadanya. Tetapi sebelum ia dapat membalasnya dengan tenang, rasa malu telah duluan keluar dan membuat rencananya seketika terhempas.


“Ti-tidak! Aku sama sekali tidak cemburu! Aku hanya bilang kalau tariannya cantik!” seru Leana mencoba menjelaskan dengan cepat.


Ia segera menghabiskan makanan yang tersisa dan mengalihkan perhatiannya. Forde tidak hentinya melihat tingkah lucu istrinya, lebih tepatnya ia tidak dapat mengalihkan pandangan darinya.


“Leana, aku…”


BLEDAR


Keduanya menoleh keatas langit dan mendapati acara kembang api telah dimulai.


Forde kembali melirik istrinya yang tertegun menatap kembang api dan tidak menyadari suaminya yang sedaritadi memperhatikannya. Ia pun meraih dagu Leana.


“Forde, lihat! Kembang apinya—”


Ketika Leana menoleh kearah Forde yang ia dapat adalah rasa kehangatan dibibirnya.


Dengan matanya yang melebar, pupil ungunya bertemu langsung kepada mata giok Forde yang perlahan membentuk sabit. Setelah beberapa detik terlewat, ia baru menyadari bahwa Forde telah menciumnya tepat di bibirnya.


Saat bibir mereka terpisah, keduanya menatap satu sama lain.


“Forde…”


“Leana, aku akan menjadi sedikit kesal karena kamu tidak memberiku perhatian.”


Forde menyentuh pipi Leana dan mengelusnya dengan ibu jarinya. Saat Leana mencoba untuk mundur, Forde sudah menangkapnya tubuhnya.


“Dan asal kamu tahu saja, aku tidak punya ketertarikan kepada wanita lain selain kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir.” Ujar Forde dengan serius.


Forde kembali mendekatkan wajahnya dan Leana pun mulai panik.


“Tunggu, Forde! Ini di luar—”


BLEDUM!!


Keduanya segera menoleh kearh datangnya suara. Kali ini suara keras terdengar bukan dikarenakan kembang api melainkan sebuah ledakan besar yang terjadi di area tidak jauh dari mereka.


Melihat asap tebal yang bermunculan dan suara teriakan histeris orang yang berlari menjauh dari tempat tersebut, Leana menjadi pucat.


“Sial! Jika aku tahu akan begini, aku seharusnya membiarkan Iscan dan Hardie di sampingmu,” Forde segera bangkit dari tempatnya.


“Leana, aku akan segera mengirim kesatria kepadamu untuk mengantarmu pulang. Jadi sampai mereka tiba, tetaplah berada di sini. Di sini seharusnya cukup aman.” Tambahnya.


“Aku mengerti.” Leana mengangguk dan Forde pun segera pergi melihat situasi. Ia juga dapat melihat beberapa kesatria berlari menuju ke tempat kejadian.


Leana memeriksa sekitarnya dan menyadari sebuah cahaya yang berkedap-kedip dari sebuah gang.


Leana sadar kalau cahaya itu adalah sebuah kode yang dibuat oleh bayangan Alphiella dan ia pun segera pergi ke sana.


Ia akan minta maaf pada Forde nanti karena tidak mengikuti kata-katanya, tetapi saat ini ia memiliki prioritas yang harus segera dilaksanakan.