This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Ignited Spark



Forde menatap wajah Leana yang tengah tidur dengan damai dalam diam. Mata keduanya sedikit bengkak akibat terlalu banyak menangis setelah percakapan mereka sebelumnya.


Ia mengelus sisi mata Leana dan tersenyum akan kebahagiaan yang bermekaran di dadanya.


Dengan sipu di pipinya, ia menutup mulut dengan tangannya dan menutup matanya.


'Tadi sangat berbahaya…'


Jika ia tidak mengingat kondisi Leana saat ini, mungkin ia tidak akan segan menyentuh Leana sepanjang malam.


Forde sangat bersyukur ia dapat menahan hasratnya yang hampir saja lepas karena perasaan bahagianya. Ia bersedia menunggu seberapa lama pun selama istrinya baik-baik saja.


Ditengah kedamaian hatinya, mata Forde seketika memicing tajam pada sesuatu yang terbesit di benaknya.


Duke Leon. Orang yang telah memanfaatkan perasaan istrinya.


Leana berkata bahwa ia tidak memiliki hak untuk berada di samping Forde karena telah mengkhianati perasaannya namun Forde sama sekali tidak merasa dikhianati karena istrinya telah bersama dengan orang lain.


Semua itu terjadi karena Forde di kehidupan pertama telah melepaskan Leana, sehingga ia tidak punya alasan untuk membenarkan perasaan bersalah Leana kepadanya.


Leana hanyalah korban dari kelicikan Duke Leon. Memanfaatkannya kemudian membuangnya seperti mainan saat ia kehilangan ketertarikannya.


Forde tidak dapat memaafkan Duke Leon dan apapun yang dilakukannya.


Kini ia mengetahui bahwa terlalu berlebihan dalam memikirkan apa yang diperlukan istrinya untuk bahagian selain dirinya adalah tindakan bodoh.


Ia merasa tidak hanaya Leana, tetapi Forde juga harus bertanggung jawab membayar dosanya karena telah membuat Leana mengalami ketidak bahagiaan di kehidupan pertamamya.


Forde akan dengan senang hati ikut membantu Leana dalam membalaskan tindakan Duke Leon kepadanya jika Leana menginginkannya.


Selain itu, Duke Leon berani menyentuh Leana.


Meskipun hal tersebut tidak terjadi di dunia ini, namun mengetahui bahwa hal tersebut terjadi di kehidupan lain sudah cukup untuk membuat darahnya mendidih.


Membayangkan seseorang telah menyentuh istrinya, terlebih orang itu bukanlah orang yang dapat memberikan Leana kebahagiaan. Hanya perasaan marah dan ingin membunuh orang tersebut yang muncul di hati Forde.


Forde menghela napas dan menenangkan dirinya. Jemarinya kembali mengelus pipi Leana. Ia mengambil sedikit rambutnya dan mengecupnya.


Dalam hati ia bersumpah akan menghapuskan Duke Leon dari ingatan Leana dan menggantikan dengan miliknya.


Ia akan membuat Leana hanya dapat memikirkannya kapanpun dimana pun ia berada.


"Leana, aku akan membuatmu bahagia. Aku berjanji dan bersumpah akan hal itu."


Forde mengecup kening Leana dan membawanya dalam pelukannya. Ia pun menutup mata dan menyambut tidur yang datang kepadanya.


***


Beberapa hari kemudian, Forde memanggil Adde dan Iscan untuk berbincang di gazebo taman mansion Alphiella.


Seperti biasa, keadaan di Alphiella gersang tanpa tanaman kecuali tanaman keajaiban yang ditanam oleh penghuni Alphiella.


Adde menyiapkan teh dan makanan ringan untuk ketiganya sebelum ikut duduk bersama mereka.


Forde memandang keduanya dengan tegas seakan sedang melakukan interogasi ssrius kepada mereka.


"Jadi, sejak kapan kalian mengetahui cerita tentang kehidupan istriku?"


Alasan mengapa Forde memanggil keduanya adalah karena mereka berdua bertindak dengan setia kepada perintah Leana tanpa banyak bertanya.


Adde yang bekerja sebagai butler Alphiella bergerak sebagai orang terpercaya Leana dalam waktu singkat.


Iscan yang mencoba untuk mengawasi dan melindungi Forde meskipun mengetahui konstitusi Forde tetap bersikeras menjalankan perintah yang duberikan Leana.


Sudah jelas kedua orang ini mengetahui sesuatu mengenai Leana yang tidak ia ketahui.


Sejujurnya hal tersebut membuatnya kesal. Mungkin saja Forde cemburu dengan kepercayaan yang diberikan Leana kepada mereka.


Adde membuka mulut pertama kali di antara keduanya untuk menjawab.


"Nyonya memberitahu saya saat beliau merekrut saya." jelasnya.


"Nyonya memberitahu kepada saya beberapa hari sebelum misi penaklukan kemarin."


"Begitu ya…"


Forde sedikit kecewa karena mengetahui dirinya adalah satu-satunya yang tidak apa-apa di tempat itu. Tetapi kini ia sudah mendapatkan kepercayaan Leana, ia akan munutup mata akan perasaannya tersebut.


"Aku belum menanyakan ini kepada Leana, tapi jika kau mengetahui rencana apa saja yang sedang dijalankannya, segera beritahu aku sekarang juga."


Forde tidak ingin melewatkan satu hal pun kegiatan yang dilakukan Leana.


"Saya mengerti, Marquis. Mohon tunggu sebentar."


Adde menoleh ke arah mansion dan tidak lama Arcan datang membawa dokumen dalam pelukannya.


Ia menyimpan dokumen tersebut di hadapan mereka dan kembali ke dalam mansion.


Adde melihat isi dokumen sesaat sebelum ia menyerahkannya kepada Forde. Dokumen pertama yang di dapatnya adalah mengenai bayangan Alphiella.


"Saya akan menjelaskannya dari awal. Jika ada pertanyakan, anda bisa langsung tanyakan kepada saya. Saya akan mencoba menjawabnya."


Forde menyimak dengan serius bagaimana Adde menjelaskan rencana besar Leana kepadanya.


Sebagaimana Leana bergerak di belakamgnya, Ia juga mencoba untuk membuat koneksinya sendiri.


Forde mengingat kejadian saat Leana berjalan bersama sang Grand Duke di istana. Mendengar dari cerita Adde, sepertinya hubungan antar keduanya baik-baik saja tetapi yang terdapat di ingatannya adalah sikap Leana yang seakan tidak menyukai Grand Duke.


Bisa jadi itu hanyalah akting belaka Leana, namun Forde merasakan sebaliknya. Mengapa ia bisa merasa seperti itu?


Forde juga sedikit lega begitu mengetahui bahwa Leana menyembunyikan rencananya bukan karena tidak mempercayainya tetapi karena Leana menggunakan terbaik dalam menjalankan rencananya itu.


Leana yang dipenuhi rasa bersalah terhadap Grandall memutuskan untuk menaruh keberadaannya kepada Forde namun tidak dengan kepercayaan penuh.


Mungkin saja Leana tidak ingin melibatkan Grandall dalam rencananya.


Tidak. Sedari awal, setelah Leana memutuskan untuk memasukan Grandall dalam salah satu rencananya, urusan yang dilakukan Leana kini tidak hanya mengenai dirinya saja.


Kini Forde memiliki hak untuk berpartisipasi dalam menjalankan rencana tersebut.


Mengingat kondisi istrinya saat ini, ia memutar kembali ingatannya satu tahun terakhir.


'Dua kali…'


Leana telah terluka dua kali dalam satu tahun ini. Kejadian tersebut terjadi setiap ia kembali dari misi penaklukan labirin. Selalu di tempat yang tidak dapat diketahuinya.


Forde sangat menyayangi dan mencintai istrinya. Terlebih kedekatan keduanya setahun terakhir kini membuatnya memiliki kebiasaandimana ia tidak dapat tenang jika tidak berada di dekat istrinya.


Alasan mengapa Forde sanggup untuk menahan dirinya dan pergi menjalankan misi penaklukan adalah karena semua demi Leana.


Agara dapat menjaga kebahagiaan istrinua, iabperlu menjaga kedamaian dubia dari ancaman labirin sihir.


Ia pikir dengan dirinya pergi menghadap ancaman dunia, Leana dapat hidup dengan tenang di kediaman grandall.


Namun kenyataannya Leana juga menyentuh mara bahaya yang tidak dapat dilihatnya dari sisi lain.


Forde menghela napas dan menaruh dokumen di tangannya. Ia pun mengesap teh yang sedikit dingin itu.


"Apakah ini semuanya?"


"Benar. Untuk saat ini, semuanya seperti yang telah saya sampaikan kepada anda."


Adde membereskan dokumen tersebut dan menaruhnya di sampingnya. Forde menarik satu dokumen yang berisi informasi mengenai Alphiella.


"Bukankah sulit bagi kalian dalam mengurus mansion sebesar ini? Aku bisa saja mengirim orang untuk mengisi peran yang kosing di sini."


Adde menggelengkan kepalanya.


"Terima kasih atas pengertian anda, Marquis. Tetapi mansion Alphiella hanya akan di huni oleh orang-oramg pilihan nyonya sampai perang besar selesai."


"baiklah kalau begitu."


Adde mengangguk dan kembali melanjutkan kegiatannya.


Iscan yang sedari tadi terdiam pun membuka suara.


"Tuan Adde, saya ingin bertanya mengenai Hardie."


"Ada apa dengan Hardie?"


Adde menatap Iscan. Pandangannya yang tenang dan acuh tak acuh itu sedikit membuat Iscan canggung namun ia melanjutkan.


"Kau bilang nyonya pergi ke labirin besar untuk membuat kontrak. Tapi kenapa Hardie tidak ikut dengan nyonya Leana?"


"Sepertinya nyonya hanya mengizinkan bayangan Alphiella untuk mengikutinya ke labirin besar sementara Hardie menjaga keamanan mansion Alphiella bersama Alscan."


"Dan ia setuju dengan hal tersebut? Meskipun ia adalah pengganti saya dalam menjaga nyonya Leana??"


"Hardie hanya menjalankan perintah nyonya Leana."


"Hardie..."


Iscan menghela napas. Matanya sedikit lelah dan kecewa namun ia tidak dapat berbuat banyak.


Majikannya yang terluka tanpa pengawasannya cukup membuat harga dirinya terluka.


"Sepertinya istriku sangat mempercayai kemampuan kalian ya."


Forde yang tertawa kecil menarik perhatian keduanya. Adde sempat merinding namun ia menahan dirinya.


Ia pun bangkit dari tempatnya dan menatap Adde yang baru saja selesai membereskan dokumen.


Forde tersenyum penuh percaya diri kepadanya. Kata-katanya selanjutnya cukup membuat Adde menjadi panik meski hanya sesaat.


"Kumpulkan mereka yang bisa datang, sekarang. Aku ingin melihat kemampuan kalian yang diakui oleh istriku itu dengan tanganku sendiri."


Adde tersentak. Ia hampir menjatuhkan dokumen di tangannya.


"Maaf, apa??"


Forde meninggalkan Adde yang masih melongo kepadanya dan berjalan meninggalkan gazebo


Saat Adde tersadar, ia segera memanggil anggota bayangan untuk segera datang ke area pelatihan.