This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Crazy Step



Disaat mereka terdiam memperhatikan Osca yang tengah membenahi dirinya, Dean maju sendirian kearahnya.


“Kalian semua, mundur.” Ujar Osca


“Dean!”


Eson yang berteriak kearah ketuanya seketika membeku saat melihat tatapan tajam Dean. Dengan ragu ia berjalan mundur dan memberi isyarat yang lain untuk mundur.


Anggota yang lain pun ikut mundur dan menghilang dibalik bayangan pepohonan.


Veil yang masih terdiam menatap Dean dengan Marquis dibahunya seakan menunggu sesuatu. Namun saat Dean kembali membelakanginya, ia bergerak mundur dan pergi dari tempat tersebut.


Kini ditempat itu hanya ada Dean dan Osca.


Osca melirik ke sekitarnya dan merasakan keberadaan tipis seseorang yang bersembunyi dibalik bayangan. Sosok mereka terdiam tidak melakukan apapun. Hanya memandangi setiap gerakannya.


Sepertinya rekan musuhnya tidak sepenuhnya mundur dan berkomplot untuk menjatuhkannya.


Osca menatap kesal Dean yang berdiri sendirian menatapnya balik tanpa ekspresi.


‘Apakah dia ingin melawanku sendirian? Dasar bocah sombong.’


Meskipun musuh dihadapannya terlihat tenang, Osca dapat merasakan bahwa musuhnya tersebut merupakan seorang amatir.


Hal tersebut dapat dibuktikan sebagaimana Osca dapat merasakan kemarahan dibalik mata tenang miliknya itu.


“Kalian… bayangan, bukan…”


Dean terdiam tidak membuka mulutnya. Osca yang melihat reaksi tersebut membenarkan tebakannya.


“Kenapa?...Diammu itu… mengingatkanku… dengan seseorang… yang belum lama ini… kutemui…”


Dean masih tidak bergeming seakan menjadi batu. Osca menjadi semakin kesal.


“Apa?...Kau benar… sama… dengan dia…?”


Dean masih tidak menjawab. Ia sama sekali tidak jatuh dalam pancingan Osca.


“Haaa… menyebalkan…”


Osca dengan perlahan membenarkan posisinya dan detik kemudian, sebuah belati telah meluncur kearah Dean. Ia dengan tenang menangkisnya cepat. Osca terlihat kagum.


“Sungguh… menarik…kekeke”


Diantara kata-katanya, tawa kikuk keluar dari mulutnya. Osca menunjukan senyuman lebar yang sama seperti saat ia melihat kemampuan Leana.


“Sungguh… aku tidak tahu… kalian… berasal… darimana…” Osca menundukan kepalanya seakan menyembunyikan tawanya.


“Aku ingin sekali… bermain… bersama kalian…”


Dean diam-diam menaikan kewaspadaannya melihat tingkah aneh Osca. Jemarinya perlahan mengeluarkan belati dari sela lengannya.


“Tapi… aku sedang buru-buru… oleh karena… itu… aku—”


Osca bergerak sangat cepat hingga saat Dean sadar, wajahnya telah berada di hadapannya. Mata mereka bertemu tetapi Dean sama sekali tidak terpengaruh dan tetap diam dengan tenang.


“AKU TIDAK PUNYA WAKTU UNTUK BERMAIN DENGAN KALIAN!”


Osca mengayunkan tangan kanannya yang memegang belati panjang keatas dan mengayunkannya cepat kearah Dean.


Dean menangkis serangan itu hingga keduanya terpental kebelakangsecara bersamaan.


Keduanya masih terlihat tenang dan memasang posisi masing-masing. Dean masih menatapnya dengan datar sementar Osca mencoba untuk mengamati musuhnya.


Ketika keduanya saling pandang, Osca seketika kembali menggunakan teknik andalannya, eye of confusion. Dean dengan cepat menutup matanya dan menghilang dari hadapan Osca seperti angin.


Osca lekas menoleh kebelakang begitu mendengar sesuatu bergerak dan mendapati Dean sudah berada di sana menghunuskan senjatanya.


Osca menangkis serangan tersebut dan segera menarik tubuhnya kebelakang. Ketika Osca kembali membuat jarak diantara mereka, ia kembali membuka mulutnya.


“Apakah kalian adalah bagian dari Grand Duke?” tanya Osca yang seketika berbicara dengan lancar.


Dean masih terdiam dengan penuh ketenangan namun ia kemudian mengepalkan erat tangannya dengan gerakan cepat.


Ia berpikir bahwa jika ia bersikap terlalu tenang akan membuat Osca menyadari asal muasal identitas mereka, jadi ia berencana untuk memalsukan reaksinya. Membuat kesalahpahaman untuk musuhnya.


Saat Osca menyadari Dean yang mengepalkan tangannya, Ia pun tersenyum seakan menemukan jawaban yang tepat. Ia semakin memperdalam senyumannya.


“Dasar amatir.”


Osca kembali bergerak cepat kearah Dean namun kali ini ia mengerahkan serangannya berkali-kali tanpa henti. Meskipun kekuatan yang dihasilkan tidak seberat sebelumnya, serangan bertubi-tubi tersebut cukup membuatnya kewalahan.


Dean mencoba mencari celah untuk kabur dan disaat itulah senjata lain datang kearah Osca yang terpaksa menghentikannya serangannya.


Melihat celah tersebut, Dean menarik tubuhnya kebelakang dan melempar dua senjata sekaligus, disusul oleh senjata lainnya yang datang dari balik pepohonan.


Osca berhasil menangkis semua senjata tersebut dengan sangat cepat dan memantulkan beberapa senjata kembali ke tempat mereka datang. Ia dapat mendengar bunyi dari dua senjata yang dipantulkannya terdengar.


Osca menatap Dean seakan mengejek.


“Kenapa jadi keroyokan begini? Bukankah itu curang?”


Dean menatapnya tajam.


“Jangan bercanda. Siapa yang cukup bodoh melawanmu sendirian?”


Dean kembali menyerang dan Osca sudah bersiap untuk membalas serang tersebut namun tiba-tiba ia tidak dapat menggerakan kaki kirinya.


Kakinya yang terhenti itu seakan dibelenggu oleh sesuatu dan hal tersebut membuatnya sulit untuk bergerak bebas.


Osca kembali menatap kakinya dan kini menyadari sebuah benang cukup halus hingga tidak dapat terlihat yang tengah melilit pergelangan kakinya. Saat ia mencoba untuk memutuskannya, benang tersebut tidak dapat dipotong.


Ilya tanpa suara muncul dari udara dan menyerang Osca dari belakang namun Osca dengan mudahnya melumpuhkan serang Ilya dengan menggunakan belati di sikunya.


Osca menanamkan sebuah belati panjang ditangannya sehingga ia dapat menyerang balik Ilya dan membuatnya mundur, kembali menghilang dalam bayangan.


Dengan menambahkan lebih banyak tenaga, Osca akhirnya dapat melepaskan diri dari benang tersebut namun saat ia menoleh, Eson telah mengarahkan tinjunya kepada dirinya.


Tinju menghantam udara dan Osca telah dengan anggun telah berpindah dan menjaga jarak dari musuhnya.


Osca masih dengan tatapan merendahkan menatap Dean dan Eson yang berdiri dihadapannya.


“Hei, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Karena aku belum pernah melihat wajah kalian...”


Dean dan Eson mulai kembali memasang posisi untuk menyerang. Osca mendecak kesal dibuatnya.


“Aku tidak mengerti kenapa kalian begitu marah kepadaku.”


Eson yang menjadi semakin kesal pun bergerak duluan kearah Osca. Dean sedikit pusing dengan tindakan gegabah Eson namun ia segera menutup kekosongan tersebut dan membantu serangannya..


Saat tinju Eson kembali dielak oleh Osca, benang Liam menghentikan tinjunya sebelum mampu menyentuh tanah dan menarik Osca dengan kuat hingga ia menghilang dibalik pepohonan dengan suara kasar.


Dean kembali menyerang Osca yang juga kembali berhasil ditangkisnya. Saat keduanya terpental kebelakang ubtuk kedua kalinya, sebuah belati melesat disamping wajahnya dan membuat luka goresan di pipi Osca.


‘tck, bisa-bisanya aku ditahan oleh kumpulan amatiran…’


Jika Osca tidak segera mengejar targetnya, maka rencana majikannya akan gagal. Alasan kenapa ia tidak segera mengejar targetnya


tadi adalah untuk menghabisi musuh yang dihadapinya sekarang dengan cepat.


Namun ia tidak bepikir bahwa musuhnya dapat menahannya selama ini. Osca pun memutuskan untuk menyudahi permainan tidak berguna ini.


Osca segera menghapus darah yang mengalir dari luka tersebut dan memandang musuh amatir yang sepertinya ingin sekali menyerangnya.


Saat ia ingin menggunakan eye of confusion, tiba-tiba saja kepalanya menjadi pusing dan tubuhnya menjadi lemas. Ia teringat kembali dengan luka di wajahnya.


Karena eye of confusion hanya dapat bertahan beberapa detik, Osca yang menjadi lemas tidak mampu menggunakan tekniknya dengan maksimal.


‘Apakah dia melemparkan belati dengan racun?’


Meski begitu ada hal aneh yang dirasakannya di tempat yang berbeda. Bukan di pipinya melainkan ditempat lain di tubuhnya.


Saat Osca mencoba untuk mengembalikan kesadarannya dangan menggunakan rasa sakit, ia menyadari bahwa tangan kanannya susah untuk digerakan.


Dengan sekuat tenaga ia mengangkat dan memperhatikan tangannya dengan seksama. Dari sikunya terdapat sebuah bercak aneh yang tidak ia ketahui.


Merasakan dirinya dalam bahaya, Osca mencoba untuk pergi namun tubuhnya susah untuk digerakan. Dengan matanya yang tidak dapat ia fokuskan, ia menangkap sesuatu dibelakang musuhnya.


Dibelakang Dean terdapat sepasang cahaya berwarna hijau yang menyala.


Saat ia menyadari cahaya apa itu, semua sudah terlambat. Osca telah jatuh dalam teknik tersebut dan mulai mengalami halusinasi.


“Aaargh… AAAAAARRRHGGGHH!!”


Osca seketika berteriak kesakitan. Perlahan busa keluar dari mulutnya dan matanya pun mulai menggila.


Tidak mampu mengendalikan tubuhnya, Osca pun tersungkur ke tanah.


Xero yang menggunakan eye of confusion menutup matanya dan menyudahi teknik tersebut. Kemudian Ilya, diikuti oleh Liam dan Eson, keluar dari balik bayangan.


Kelimanya menatap Osca yang kesakitan karena halusinasi dengan dingin. Mereka saling menatap satu sama lain dan mengangguk.


Dean berjalan mendekati Osca yang  meringis tanpa henti. Ia mengeluarkan sebuah belati dengan ukiran indah berwarna biru seperti warna musim dingin.


Liam memasangkan benangnya kepada Osca untuk berjaga-jaga dan saat kelimanya berpijak mengelilingi Osca dengan menjaga jarak, Dean menatap Osca dari atas untuk yang terakhir kalinya. Ia dapat melihat pupil mata Osca yang sedikit bergerak kearahnya.


“Kau tidak perlu tahu kenapa kami marah kepadamu.”


Dean mengangkat tinggi belati tersebut.


“Karena dengan begitu, tidak akan ada satupun penyesalan. Baik untukmu maupun untuk yang lain.”


Dengan cepat, belati tersebut menancapkan diri di tubuh Osca dan meskipun merasakan sakit, ia tidak dapat mengeluarkan suara dari tenggorokonnya. Yang keluar dari mulutnya hanyalah cairan merah yang sangat familiar baginya.


Belati yang menancap seketika berubah warna menjadi merah seakan menyerap darah dari dalam Osca. Tidak lama kemudian belati tersebut berubah warna menjadi keabuan dan hancur bersatu dengan tanah.


Saat sudah memastikan bahwa Osca telah tiada, Dean bangkit dan berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.


“Kalian tahu apa yang harus dilakukan. Kalian bebas melakukan apa saja dengannya asal tidak meninggalkan jejak.” Ucap Dean tanpa menoleh kebelakang. Ia terus berjalan meninggalkan tempat tersebut.


“Dimengerti.” Jawab keempatnya dan mulai mengurus tubuh Osca.


“Veil, bagaimana dengan target kita?” tanya Dean yang menyentuh alat komunikasinya.


“Target telah sampai di Alphiella. Tidak ada keanehan lainnya selama perjalanan.”


“Baiklah. Kami akan segera ke sana.”


“Di pahami.”


Saat sambungan terputus, Dean yang telah kembali masuk ke perbatasan ibukota mengangkat kepalanya kearah langit dan menatap rembulan.


Ia pun menutup matanya seakan sesuatu yang membelenggunya kini telah menghilang. Ia merasa sedikit bebas.


Dalam keheningan, hanya suara Dean yang terdengar.


“Dengan ini, misi tahap dua dinyatakan selesai.”