
Lima hari setelah keluar dari labirin Orzxenberg, Forde akhirnya sampai di kediaman Grandall. Dengan perasaan berbunga di dadanya, ia menunggu sosok Leana yang datang menyambutnya.
Tetapi sampai pada saat ia memasuki mansion pun, sosok istrinya tidak dapat ditemukan. Perasaannya menjadi tidak enak.
Forde bertanya kepada Albert yang tengah mengambil mantelnya.
“Albert, dimana istriku sekarang?”
Albert sedikit tersentak sebelum menjawab. Ia sedikit menundukan kepalanya, membuat Forde menjadi heran.
“Nyonya Leana saat ini berada di Alphiella.”
Ekspresi Forde seketika menggelap.
“Apa?”
“Nyonya Leana seharusnya pulang hari ini, tetapi sampai saat ini beliau belum kembali."
Perasaan tidak enak semakin tumbuh di benak Forde. Ia merasakan firasat buruk yang tidak biasa.
"Apakah kau mendapat pesan darinya?"
"Nyonya berpesan jika ia terlambat, mungkin ia akan tiba esok hari."
Forde semakin risih.
"Ck, bukan itu. Apakah tidak ada yang lain?"
"Maaf tuanku."
Forde merasa tidak bisa tenang jika ia tidak melihat sosok Leana. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan dalam misinya, ia tidak pernah merasa resah seperti saat ini.
Ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia tidak tahu apa itu.
Apakah kebiasaannya memburuk? Ataukah ada alasan lain untuk kondisinya saat ini?
Albert memandang khawatir majikannya yang mengerutkan keningnya.
"Tuanku, apa yang akan anda lakukan?"
Forde menghela napas dengan berat.
"Aku ingin beristirahat. Aku tidak lapar jadi tidak perlu menyiapkan apapun."
"Saya mengerti."
Forde pergi menuju kamar Leana. Saat memasuki ruang tersebut, batu api menyala secara otomatis menerangi ruangan tersebut.
Aura dingin yang dirasakan sudah memberitahunya bahwa ruang tersebut tidak di tempat untuk beberapa waktu.
Rasa kesepian mulai menyelimuti dirinya.
Semenjak keduanya semakin dekat, Forde menjadi tidak tahan untuk berpisah dengan Leana.
Ia berjalan dan duduk di kasur, memperhatikan tempat tidur Leana dengan ekspresi sedih.
Tangannya
Tiba-tiba saja ia merasakan antingnya menjadi panas. Saat ia menyentuhnya, perasaan tidak enak yang dirasakannya kembali di benaknya dan bertambah kuat.
"Leana…?"
Forde menggertakkan giginya. Ia segera bergerak keluar dari sana dan berjalan menuju pintu utama.
Albert yang berpapasan dengannya segera berseru kepada majikannya.
"Marquis! Anda mau pergi ke mana?!"
"Aku akan pergi menjemput istriku."
Albert tersentak.
"Ta-tapi, sebentar lagi sepertinya akan terjadi badai hujan! Jadi bagaimana kalau anda pergi besok–"
"Albert, tidak usah banyak bicara dan jagalah Grandall selama kepergianku."
Albert berhenti menyusul Forde dan terdiam di tempat. Dengan berat hati ia memberi salam atas kepergiannya.
"Saya mengerti. Harap berhati-hati dalam perjalanan anda, tuanku."
Ketika Forde sudah sampai di depan, ia mendapati Iscan sudah bersiap dengan kudanya dan miliknya.
Melihat hal tersebut membuat Forde menjadi tidak tenang dan ia pun mulai merasakan amarah dalam dirinya.
Tanpa memberi penjelasan apapun, keduanya mulai pergi ke Alphiella tanpa menghabiskan banyak waktu lagi.
Perlahan rintik hujan turun hingga menjadi deras.
***
Perjalanan yang dilakukan mereka tanpa henti membuat perjalanan beberapa tersebut menjadi perjalanan beberapa jam saja.
Saat mereka sampai di depan gerbang Alphiella, sihir pelindung yang menyelimuti area mansion menghalangi keduanya.
Awalnya Iscan menarik keluar pedangnya yang masih dibubuhi oleh sihir, namun Forde sudah mengeluarkan kapaknya terlebih dahulu dan menghancurkan paksa sihir tersebut.
Tanpa menghiraukan siapapun yang akan datang kepadanya, ia berlari ke pintu utama dan membukanya dengan kasar.
BAM
Mereka yang berada di ruang utama terkejut saat pintu terbuka dengan keras.
Awalnya mereka bersiap mengambil posisi untuk menyerang namun karena salah satu prinsip mereka untuk memahami siapa lawan mereka, semua orang berhenti dan mulai membeku di tempat.
Sosok yang belum lama ini mereka jumpai datang kembali di depan mereka dengan aura yang menyeramkan namun berbeda dengan yang mereka ketahui.
Sosok Forde yang basah dengan memegang kapak di tangannya terlihat seperti seorang pembunuh berantai yang memasuki rumah mencari korban.
Mengetahui apa yang terjadi pada kontraktor mereka beberapa menit yang lalu sudah membuat mereka semua pucat pasi.
Kali ini mereka merasa tidak dapat kabur dari kematian.
"Istriku…"
Mereka tersentak saat nada berat keluar dari tamu mereka, Marquis Forde Grandall.
"Cepat beritahu aku dimana istriku sekarang!"
Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Lebih tepatnya mereka sangat takut menghadapi Forde dibandingkan dengan menghadapi monster raksasa sekalipun.
Tidak mendapat jawaban, Forde menjadi semakin kesal.
"Cih!"
Tanpa menunggu, ia langsung menggerakan kakinya menuju ke lantai dua dan berencana untuk membuka setiap ruangan di tempat itu.
Saat Forde telah sampai di lantai dua, Arcan datang di hadapan mereka.
"Marquis, untuk apa anda–"
"Aku disini mencari istriku yang tidak ada di rumah."
"Tuanku, saat ini nyonya sedang sibuk. Bagaimana jika anda beristirahat di salah satu kamar."
"Aku tidak punya waktu untuk itu! Sedari aku menginjakan kaki kembali di Grandall perasaanku sudah risih dan tidak tenang! Jadi sekarang ku harap kau segera tunjukan dimana istriku berada sekarang!" Ujar Forde menahan amarahnya.
Arcan menelan ludah dengan berat. Aura yang dikeluarkan Forde sangatlah berbahaya hingga instingnya terus berbunyi kepadanya.
Iscan yang berada di belakangnya hanya terdiam dan menatap Arcan seakan menuntut penjelasan.
"Dimana Hardie sekarang? Saya tidak melihatnya sedari kami datang ke sini." Tanya Iscan.
Arcan dengan ekspresi tenang menjawab.
"Saat ini ia sedang bersama nyonya."
"Begitukah? Kalau begitu cepat panggil dia–"
"Tidak perlu. Aku sudah cukup dengan omong kosongmu." Potong Forde.
Ia kembali melanjutkan langkahnya menyusuri lorong hingga dapat menemukan tempat istrinya berada.
Ia tidak menghiraukan bagaimana Arcan dan beberapa pelayan mencoba untuk menghentikannya. Bahkan Iscan tidak dapat menjaga ketenangannya.
Forde menatap sebuah ruangan yang sedikit terbuka. Dari sana ia dapat merasakan sesuatu tengah memanggilnya.
Saat ia berjalan ke sana, Arcan semakin panik dan Iscan dengan paksa menghentikannya.
Ketika Forde membuka pintu itu, bau darah yang familiar dapat ditemukannya. Tidak seperti sebelumnya, bau itu terlalu pekat hingga ia tidak dapat menahan amarahnya lebih lama lagi.
Terutama di saat ia menemukan sosok istrinya yang terbaring dengan wajah pucat.
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut melihat kedatangannya dan tidak mampu berkata-kata sampai Forde akhirnya membuka suara beratnya.
"Apa-apaan ini…"
Ia berjalan ke samping Leana dan menatap sosoknya yang lemah tidak sadarkan diri dengan seksama.
Forde menatap tajam apa yang berada di ruangan itu. Kilatan membunuh terus keluar dari matanya.
"JELASKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI KEPADA ISTRIKU SEKARANG!!"
Suhu di tempat itu langsung jatuh sangat dalam hingga mereka yang tidak dapat melepas matanya dari sosok Forde kini kehilangan sensasi di kaki mereka.
Mereka tidak tahu apakah kaki mereka benar-benar menatap tanah atau tidak.
Adde tanpa memperdulikan pakaiannya, ia mengumpulkan keberanian dan berjalan kehadapan Forde.
"Marquis Grandall…"
Saat Forde menoleh dan bertemu dengan Adde dalam seragam bayangannya, ia semakin menggelap.
"Aahh… ternyata kau rupanya…"
Adde mengatupkan beberapa kali mulutnya. Ia terus memutar otak agar dapat menjelaskan situasi ini kepada Forde.
"Tuanku, mari kita bicarakan di ruangan lain."
"Kau pikir aku bisa meninggalkan istriku saat ia dalam keadaan seperti ini pertama kali aku melihatnya dalam 3 bulan ini?"
"Nyonya sudah dirawat oleh dokter dan juga penyihir Alphiella. Saya juga tidak ingin mengganggu nyonya yang sedang beristirahat untuk memulihkan dirinya. Jadi saya mohon pengertian anda, tuanku." Ucap Adde dengan membungkuk.
Forde menggertakan giginya dan menatap kembali istrinya dengan cemas.
Dengan perasaan risih, ia pun memilih saran yang diberikan Adde kepadanya.
"Lakukan dengan cepat. Aku tidak dapat meninggalkan istriku terlalu lama."
"Terima kasih banyak, ruanku."
Adde pun berjalan menuntun Forde ke ruangan sebelah untuk menjelaskan semuanya.
Dalam kepergiannya, Adde menyuruh Corrian, Celitta, Alscan dan Hardie untuk menjaga Leana.
Forde juga melihat Leana untuk terakhir kali sebelum akhirnya menghilang bersama dengan Adde.
Iscan yang ditinggal segera menarik kerah Hardie dengan kasar dan menyeretnya untuk berbicara di tempat lain.
Alscan yang sangat kaget dan panik dengan keadaan yang berjalan terlalu cepat itu mencoba untuk menyibukkan dirinya dengan sihir penyembuhan.
***
Kini Forde dan Adde tengah duduk berhadapan di ruangan yang telah dibubuhi oleh sihir kedap suara. Tidak akan ada orang di luar ruangan itu yang dapat mendengar mereka.
Forde yang terdiam menunggu Adde memberikan penjelasannya dengan tidak sabaran.
"Kau… adalah orang yang membantuku di labirin Orzxenberg, bukan?"
"Anda benar sekali, tuanku." Jawab Adde tanpa ragu.
"Bukankah kau adalah orang suruhan Grand Duke? Apa yang kau lakukan di sini?"
Adde mengatupkan mulutnya dengan ragu. Ia menyusun jawaban dan keputusan yang tepat untuk diberikan kepada Forde.
Apa yang harus disampaikan? Apa saja dan bagaimana?
Adde terus memutar otaknya tanpa henti. Saat ia merasa tidak dapat diam lebih lama, ia akhirnya telah memutuskan.
"Tuanku. Saya akan menjelaskan siapa sebenarnya kami dan apa yang sebenarnya terjadi kepada nyonya."
Adde menguatkan kepalan tangannya.
"Saya harap anda dapat mempercayai apa yang akan saya katakan kepada anda."
Pandangan Forde kepadanya semakin memberat hingga ia merasa tidak dapat bernapas.
“Katakan saja. Semuanya.”