
Lima Pilar sudah dalam posisi dan formasinya masing-masing, menunggu monster yang sedang berlari ke arah mereka.
Gratak Gratak
Getaran di tanah semakin terasa dan suara yang makin lama makin mengeras pun mulai terdengar.
Tetapi kemudian untuk sesaat semua menjadi hening. Lima Pilar tetap menjaga formasinya dan dan meningkatkan ketajaman indera mereka.
Kehening terus berlanjut hingga sesuatu melompat keluar dengan keras dari balik pepohonan.
Saat memperhatikannya, yang terlempar adalah salah satu anggota Jubah Hitam yang sudah penuh dengan luka.
Tidak lama, sosok monster seperti serigala raksasa dengan matanya yang menatap tajam keluar dari balik pepohonan. Tidak hanya satu tetapi puluhan monster telah mengelilingi mereka.
Baik Lima Pilar maupun monster itu bergerak secara bersamaan. Suara pedang membentur taring terdengar dari segala arah.
Seperti biasa, Pilar Tombak Merah dan Pilar Perisai Kuning membuat kerja sama yang dapat membuat semua orang takjub.
Masing-masing pasukan saja sudah sudah cukup kuat, tapi ketika keduanya dikombinasikan, mereka seakan tidak terkalahkan.
Karena mereka berspesialis di medan pertempuran, kedua pasukan baris depan itu mendapatkan lebih banyak kontribusi dalam mengalahkan monster.
Sementara itu Pilar Sayap Putih menjadi suporter dari kejauhan. Pilar Jubah Hitam dan Pilar Rantai Ungu menjaga Sayap Putih dan mengawasi pertempuran sembari memberikan bantuan.
Kali ini karena monster yang mereka hadapi lebih sulit dari biasanya, Rantai Ungu ikut menyamakan posisinya ke baris depan dan menyerahkan penjagaan Sayap Putih kepada Jubah Hitam.
"GAAAH!!"
Sayap Putih menatap beberapa pasukan Tombak Merah dan Perisai Kuning yang membeku dimakan es dan mulai kalah melawan monster. Dengan cepat mereka melelehkan es dari tubuh mereka dengan menggunakan sihir api.
Scheregraff segera memantau situasi ke seluruh area dan mendapati beberapa pasukan lainnya juga yang mengalami hal serupa.
"Monster ini menggunakan sesuatu untuk membuat pasukan membeku! Berhati-hatilah!"
Bersamaan dengan seruan tersebut, Sayap Putih mempercepat gerakan mereka untuk menyelamatkan pasukan yang membeku sebelum dilukai oleh monster yang dihadapinya.
Iscan dengan beberapa seniornya mencoba untuk menaklukan satu monster dihadapan mereka. Meskipun ia seharusnya berfokus pada monster dihadapannya, iaa sesekali mencuri pandang ke arah Forde yang berjarak cukup jauh darinya.
Wakil komandan Weiss berada di dekat Forde. Walaupun hanya berdua, keduanya terlihat dengan mudah melawan monster. Tidak satupun dari mereka yang terlihat kelelahan menghadapi monster tersebut.
Meski keduanya terlihat baik-baik saja, Iscan yang membawa perintah dari Leana dengan tidak sabaran sedikit kehilangan fokusnya. Tanpa ia sadari, salah satu serangan monster tengah menuju ke arahnya.
"ISCAN FOKUS!"
Faunt berlari ke depannya dan menahan serangan dari monster yang mereka hadapi. Ia mendorong mundur monster tersebut dan menarik kasar Iscan untuk menjaga jarak.
"Apa yang kau pikirkan di saat seperti ini?! Jika kau tidak fokus, kau bisa mati!" Seru Faunt dengan marah.
Iscan mengernyit mengetahui kesalahannya, namun ia hanya dapat menunduk.
"Maafkan saya, senior Faunt."
Faunt menatap Iscan dengan sedikit kesal namun ia tidak punya waktu untuk menceramahinya.
Percival yang masuh bertarung segera berseru ke arah keduanya.
"Faunt! Cepat kembali dan bantulah kami!"
Faunt mengacak rambutnya dan segera berbalik ke area perang mereka.
"Ayo cepat, kita harus segera kembali."
Keduanya berjalan kembali ke area mereka namun dari ujung matanya, Iscan melihat Weiss yang terkena serangan monster.
Dengan pikiran yang seketika menjadi kosong, tubuhnya bergerak ke arah yang berbeda dari tempatnya bertempur. Iscan bahkan tidak dapat mendengar seniornya yang meneriaki namanya.
Saat Weiss tersungkur dan serangan kedua dilajukan ke arahnya, Iscan maju dan menahan serangan tersebut.
"Iscan!"
Iscan yang sedang bertahan mencoba untuk mendorong serangan tersebut namun karena posisi kakinya yang salah, ia tidak dapat bergerak.
Tidak lama Forde datang dan menebas monster tersebut hingga serangan yang ditahan Iscan pun ditarik mundur.
Forde tanpa menoleh membuka suara.
"Weiss, kau baik-baik saja?"
"Saya… baik-baik saja. Kaki saya yang membeku sudah disembuhkan."
Weiss segera bangkit dengan bantuan Iscan. Saat ia melepas tangannya, tangan Iscan merah dengan darah.
Iscan dapat melihat tangan Weiss bergetar untuk sesaat.
"Jika kau terluka jangan memaksakan dirimu. Alihkan semua serangannya padaku dan serang monster itu dari belakang."
"Saya benar baik-baik saja. Saya masih bisa mengalahkan dua atau tiga monster lagi." Ujar Weiss.
Iscan dengan ragu mencoba kembali ke tempatnya bertarung bersama dengan seniornya tetapi Weiss menahan bahunya.
"Tetaplah di sini dan bantu aku." bisik Weiss.
Iscan terkejut dan segera mengangguk. Ia pun memposisikan dirinya di dekat Weiss dan Forde.
Ia sedikit bersalah karena telah meninggalkan seniornya namun ia memfokuskan dirinya pada tujuan utamanya.
Tanpa keraguan, Iscan bergerak dengan lihai dan ketiganya pun akhirnya berhasil mengalahkan monster tersebut.
Beralih ke monster lainnya, dengan tubuhnya yang perlahan membeku, Iscan menjadi sedikit sulit untuk bergerak.
Saat ia lengah dengan serangan monster, tiba-tiba saja monster itu ambruk di hadapannya tanpa sebab.
Iscan yang kebingungan menangkap sebuah belati yang tertancap di tubuh monster itu.
"Berhati-hatilah."
Mendengar suara Dean di kepalanya, ia menoleh mencari keberadaannya tapi tidak menemukannya.
Perjuangan mereka berlanjut hingga hitungan jam, Lima Pilar yang gigih akhirnya dapat mengalahkan monster tersebut satu demi satu hingga hanya tersisa tiga yang masih hidup
Melihat jumlah mereka yang semakin berkurang, tiga monster yang tersisa pun mulai ragu untuk maju dan memutuskan untuk mundur.
Scheregraff yang menyadari arah perginya monster tersebut segera berteriak.
"JANGAN BIARKAN MEREKA KABUR! DI ARAH SANA TERDAPAT SEBUAH DESA!"
Orang-orang yang dekat dengan monster tersebut mencoba mencegah mereka namun karena langkah ketiganya sangat cepat, tidak ada satu pun orang yang mampu menghentikannya.
Merasa bahwa tidak ada yang dapat mencapai ketiganya, Forde menyentuh anting di telinga kirinya kemudian menarik cepat sebuah kapak dari kristal tersebut.
Mereka yang melihat Forde mengeluarkan kapaknya tertegun dibuatnya.
“Itu…!”
“Kemampuan unik Grandall!”
“Kita bisa melihat aksinya!”
Beberapa orang berseru seakan menanti Forde menggunakan kekuatan sejatinya.
Ketika Forde menggunakan kapak sebagai senjatanya, serangannya akan 100% mengenai targetnya.
Kemampuan tersembunyi Grandall untuk meningkatkan akurasi dan kekuatan dalam bertarung dengan menggunakan senjata yang menjadi bagian dari dirinya. Senjata sejatinya.
Forde mengumpulkan kekuatan di tangannya dan melempar kapak tersebut sekuat tenaga ke arah monster yang kabur.
Kapak yang melesat secepat kilat itu langsung mengenai targetnya hingga ambruk dan tak bergerak lagi.
Forde melempar kapak keduanya dan berhasil menghentikan monster kedua. Kini tinggal satu yang masih hidup.
Namun dengan digunakannya dua kapak, kini Forde tidak dapat melakukan serangannya lagi.
Jubah Hitam pun melesat dari belakang menggantikan Forde untuk mengejar sisa monster yang masih hidup.
Wakil komandan Scheregraff mendekati Forde.
"Kali ini biarkan Jubah Hitam yang mengejar sisanya. Anda bisa beristirahat dulu sebelum kita dapat melanjutkan perjalanan ini."
Forde hanya mengangguk dan berjalan ke arah pasukannya. Ia mendekati Weiss yang sedang disembuhkan oleh Pilar Sayap Putih.
"Weiss, kau baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja. Hanya saja, tadi cukup berbahaya." Ujar Weiss dengan nada lelah.
"Beristirahatlah yang cukup. Kita semua perlu kekuatanmu untuk kedepannya."
"Saya mengerti, komandan."
Ia kini berjalan mendekati kelompok Iscan yang sepertinya sedang beradu argumen. Forde datang memotong pembicaraan mereka.
"Ada apa ini?"
"Komandan!?"
Kelompok tersebut terkejut dan segera memberinya salam.
"Maafkan atas keributan kami, komandan. Saya hanya sedang menegur Iscan yang pergi dari pertarungan dan tidak kembali."
Forde menatap Iscan yang tidak berkata apa-apa. Sepertinya ia berniat untuk menerima teguran atas kesalahannya.
"Iscan datang menolong Weiss yang sempat lengah. Ia tidak kembali karena Weiss meminta bantuannya. Jadi berilah sedikit keringanan padanya."
Mereka terkejut dan akhirnya menunduk.
"Saya mengerti, komandan. Tapi Iscan, lain kali tolong jangan asal pergi dan beritahukan kami, mengerti?" Ujar Faunt dan kemudian pergi.
"Saya mengerti, senior."
Dengan kepergian rekan Iscan, kini hanya berdua, Forde pun bertanya kepadanya.
"Sepertinya kau tidak fokus dalam pertarungan tadi. Ada apa?"
Iscan tersentak.
"Ah…. Itu…"
Iscan terlihat ragu, namun dengan Forde yang terus menunggunya, ia tidak punya pilihan lain selain menjawab.
"Maafkan saya, komandan. Nyonya Leana memberi saya pesan untuk menjaga anda dari dekat."
Forde sedikit terkejut dengan hal tersebut dan Iscan yang menyadari sesuatu segera menambahkan.
"Bukan berarti nyonya tidak percaya dengan kekuatan anda! Hanya saja ia sangat khawatir, jadi nyonya memberikan pesan tersebut kepada saya."
Forde biasanya tidak suka jika seseorang mencoba menjaganya karena ia berpikir orang tersebut tidak mempercayai kekuatannya. Namun entah kenapa ia merasa senang dengan kekhawatiran istrinya.
"Begitukah. Kalau begitu bergeraklah di samping Weiss dan bantulah dia."
Forde tanpa memyembunyikan rasa senangnya, berbalik dan meninggalkan Iscan yang terdiam kehilangan kata-kata.
Untuk bersama wakil komandan Weiss artinya ia bisa berada di dekat komandannya. Seketika Iscan menjadi senang.
"Terima kasih, komandan!"
Iscan memberi salutan hormat dan membenahi barang-barangnya bersama dengan rekannya.
Pada akhirnya Lima Pilar pun menetap untuk semalaman untuk memulihkan diri mereka.
Tiga hari kemudian, di saat cuaca mulai menjadi semakin ganas seakan berniat membunuh seseorang, di saat Sayap Putih akan jatuh terlebih dahulu dibandingkan dengan pasukan lain karena terlalu banyak menggunakan kekuatan mereka.
Lima Pilar pun akhirnya sampai pada tujuan mereka.
Labirin sihir di Orzxenberg.