
Setelah gugur di medan perang, Leana mendapati dirinya bereinkarnasi di dunia modern sebagai Riana. Ia yang membawa ingatan dari kehidupan pertamanya dan cukup kesulitan beradaptasi di dunia yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Pada umurnya yang ke-7 tahun, ia pun menerima kehidupan barunya dan menjalaninya selayaknya orang normal pada umumnya.
Hingga pada umurnya yang ke-22, ia menemukan sebuah buku novel.
Ia tidak ingat bagaimana buku tersebut dapat jatuh di tangannya tetapi saat ia membukanya, ia seakan dihadapkan kembali oleh masa lalunya.
Buku tersebut tidak menceritakan sebuah cerita novel pada umumnya tetapi menceritakan sebuah biografi kehidupan seseorang yang berasal dari kehidupan pertamanya.
Di dalamnya tidak hanya bertuliskan sesuatu yang sudah ia ketahui tetapi juga terdapat hal yang belum pernah diketahui sebelumnya.
Buku tersebut menceritakan tiga orang yang menjadi point di kehidupannya pertamanya.
Ia masih ingat bagaimana ia merasa frustasi dan depresi setelah selesai membacanya. Tidak lama kesadarannya terputus dengan kedatangan cahaya dari langit.
Sampai akhir pun, Leana tidak pernah mengetahui apa sebenarnya buku novel tersebut.
"Buku… novel…"
Nada yang dikeluarkan Leana penuh dengan getaran. Ia merasakan kekosongan dalam ingatannya jika mengikat buku tersebut.
Sesuatu seakan terpotong dalam ingatannya pada saat itu.
"Kau menemukan sebuah buku, yang kau anggap sebagai novel. Di dalamnya adalah cerita mengenai seseorang dari kehidupan pertamamu."
Ujung tangan Leana perlahan menjadi dingin. Setiap kata yang dikeluarkan Telsia membuatnya semakin cemas.
"Tapi seharusnya sekarang kau sudah menyadari, bahwa buku novel itu bukanlah buku biasa."
Jangan-jangan...
"Buku itu adalah Croselia."
DEG
Seketika Leana merasakan waktu di sekitarnya terhenti. Ia tidak dapat mendengar suara apapun kecuali suara Telsia yang datang kepadanya.
"Permohonan yang dibuat olehku di dunia sebelumnya adalah untuk memberimu kesempatan dalam menyelamatkan dunia ini."
Mata keduanya bertemu. Emas yang memancarkan sendu dan ungu widuri yang memancarkan kecemasan.
Leana mengepalkan tangannya. Menahan perasaannya yang perlahan terguncang.
"Tetapi untuk membawamu kembali dari dunia lain diperlukan kekuatan yang besar, oleh karena itu dibuatlah sebuah ketentuan yang harus terpenuhi oleh dirimu."
Leana tidak ingat pernah melakukan sesuatu yang istimewa di dunia modern. Satu-satunya hal aneh dikehidupan Riana adalah buku novel, Croselia yang ditemukan olehnya.
“Ada dua ketentuan yang harus terpenuhi. Yang pertama adalah untuk mendapatkan kembali tekad untuk menjalani kehidupan dan yang kedua adalah keinginan untuk mengulang kembali kehidupanmu.”
Leana terkejut.
Itu sama saja dengan…
“...Aku membuat permohonan?”
“Benar.” Telsia mengangguk.
Leana merasa tercekik. Perasaan selain cemas mulai tumbuh di benaknya. Ia mulai merasa kesal.
Apakah itu artinya sedari awal ia sudah bergerak dibawah takdir Croselia?
Telsia pun melanjutkan.
“Setelah kau berhasil mengumpulkan kembali tekad hidupmu, Croselia menggunakan sisa kekuatannya untuk menuntunmu. Ia kembali muncul di hadapanmu dan memberitahumu apa yang perlu kau ketahui.”
Croselia, yang dianggapnya sebuah buku novel, menuntun kembali Riana dengan menunjukan apa yang perlu diketahuinya sebagai Leana.
Riana memang merasa bersalah dan berharap jika ia diberi kesempatan sebagai Leana lagi, ia ingin mengubah nasib buruknya itu.
Apakah Croselia memanfaatkan perasaannya agar dapat kembali sebagai Leana?
“...Tapi aku… tidak benar-benar…”
Leana tidak benar-benar berharap untuk kembali. Ia hanya memikirkan kemungkinan saja. Tetapi ia tidak berpikir bahwa harapan kecil itu akan dikabulkan oleh Croselia.
Tidak. Sedari awal ia tidak tahu asal muasal buku yang ditemukannya itu.
“Apakah kau tidak mau membuat perubahan kepada dunia ini?’”
“Apakah aku punya pilihan sekarang?!” Seru Leana. Tanpa sadar sudah melepas formalitasnya.
Telsia terdiam.
Kali ini Leana merasa marah. Ia selalu merasa dunia seperti mempermainkannya, tapi ini sudah kelewatan egois hingga ia tidak dapat menahan perasaannya lebih lama lagi.
“Kejadian yang seperti keajaiban ini… yang biasanya tidak semua orang mendapatkannya…”
Ia mengambil napas perlahan untuk menenangkan dirinya. Ia ingin menyampaikan semua perasaan di benaknya namu tidak satupun kata yang cocok dapat ia temukan.
“Aku tahu semua ini memiliki arti tersendiri, bagaimana kehidupanku berjalan, bagaimana aku bisa terkirim ke dunia lain…”
Kepalanya yang bercampur aduk seakan menjadi berat dan ia tidak mampu menghadap Telsia dengan benar.
“..Mau sampai kapan…”
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Leana menatap Telsia seakan meminta pertolongan.
“Mau sampai kapan aku harus terus meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja disaat kehidupanku sendiri terus terombang-ambing?!”
Telsia menutup matanya. Kerutan terbentuk di antara kedua alisnya. Ekspresinya seperti menunjukan sebuah penyesalan.
“Aku mendapatkan kegagalan, kembali bangkit, menerima kesalahan itu dan mencoba untuk membangun sesuatu yang baru… hanya untuk mengulang kesalahan yang sama dan melepasnya… Bagaimana aku harus meyakinkan diriku dalam kondisi seperti itu? Apakah kau mau mengatakan bahwa dua kehidupan belum cukup untukku belajar dari keasalahan?! Katakan padaku, Telsia! Apa--”
Leana menarik napas menahan isakannya. Penahanan yang tiba-tiba itu membuat dadanya sakit.
"Apa yang harus kulakukan?"
Bersamaan dengan kata-kata lemah yang keluar dari mulutnya, Leana menutup muka dengan kedua tangannya seakan sudah sangat muak dengan segalanya.
Apakah Leana senaif itu hingga ia harus mengalami cobaan bertubi-tubi tiada henti. Ia hanyalah manusia biasa yang dapat merasa lelah.
Pada satu titik ia ingin mengakhiri semuanya.
Tidak. Mungkin Leana dikehidupan pertamanya sudah melakukannya sejak awal. Ia yang kehilangan kehangatan keluarganya sendiri hanya dapat melihat keluar jendela. Merasa cemburu pada langit biru yang tidak dapat di gapainya.
Bahkan dalam kegagalannya ia mencoba untuk meraih secercah harapan yang muncul di hadapannya.
Apakah ia tidak diperbolehkan untuk mengharapkan kehidupan yang lebih baik?
Jika dunia ini memang ingin mengakhiri dirinya, setidaknya lakukanlah dengan cepat karena Leana tidak berencana untuk memperpanjang penderitaannya lebih lama lagi.
Melihat Leana yang berjuang untuk menarik emosinya, Telsia pun mengangkat tangannya.
Dengan uluran tangannya itu, ekspresinya tetap datar seperti biasa. Mata emasnya masih menatapnya lurus.
“Berikan tanganmu.”
Leana menoleh ke arah Telsia. Ia sempat termenung menatap uluran tangannya. Dengan perasaan ragu dan bingung, Leana memberikan tangannya.
Saat tangan Telsia menggenggamnya dengan lembut, simbol berwarna kuning muncul diatas kedua tangan mereka. Sesuatu yang hangat mengalir dalam tubuhnya, menenangkan perasaannya hingga menghempas perasaan campur aduknya.
Ia merasa sedikit lebih lega.
Ketika simbol tersebut menghilang, Telsia melepaskan tangannya. Leana mendapati sebuah simbol terukir tipis di atas punggung tangannya sebelum akhirnya menghilang.
“Dengan begini, kontrak telah terbentuk.”
Leana menatap Telsia dengan pikiran kosong. Ia masih tidak dapat mencerna apa yang baru saja terjadi.
Telsia memiringkan sedikit kepalanya melihat reaksi Leana.
“Ada apa? Bukankah ini yang kau inginkan?”
“Ah.. iya…”
Leana kembali menatap tangannya untuk sesaat. Saat ia kembali menatap Telsia, ia merasa heran kepadanya.
Apakah Telsia dihadapannya membuat kontrak dengan Leana karena sependapat dengan Telsia di kehidupan lamanya?
Leana memandangi Telsia penuh dengan tanda tanya.
“Karena kau telah membuat kontrak denganku, kau dapat memiliki sebagian dari kekuatan yang kumiliki.”
Leana perlahan melebarkan matanya.
“Bukan sebagian kecil, tetapi sebagian?”
“Dahulu kau hanya dapat mengamati pergerakan dan waktu kemunculan labirin, tetapi dengan kontrak kedua yang telah terikat denganku, kau dapat menggunakan kekuatan lebih besar dari sebelumnya." ujar Telsia.
“Kekuatan lebih besar?”
“Kau dapat memanggilku.”
Leana terdiam dan berkedip beberapa kali. Apa yang baru saja di dengarnya?
“Dan tergantung dari permintaanmu, aku mungkin saja bisa membantumu secara langsung.”
Leana menatap Telsia dengan tidak percaya. Telsia yang selalu tidak ingin turun tangan dan memutuskan untuk mengamati kini akhirnya memutuskan untuk membantu?!
“Kenapa…”
“Bagi seorang penjaga labirin, tindakan selain kehendak labirin bukanlah hal yang harus dilakukan. Tetapi Croselia yang merupakan bagian dari labirin mengambulkan permintaanku dan membantumu untuk mengubah takdir dunia. Jika itu adalah kehendak labirin maka tidak ada salahnya jika aku ikut turun tangan.” Jelas Telsia.
Sebagaimana Telsia adalah penjaga labirin sibir, ia memiliki kekuatan untuk menghentikan labirin dalam membuka portal. Oleh karena itulah Leana menganggapnya sebagai kunci dari rencana besarnya.
“Jika kau tidak keberatan, aku akan menggunakannya sesuai kebutuhanku."
"Tentu saja jika aku setuju. Jadi berilah alasan yang cukup untuk meyakinkanku."
Telsia mengangkat tangannya ke arah pintu masuk dan pintu itu pun terbuka.
"Sepertinya kita sudah cukup memakan waktu. Akan lebih baik jika kau segera kembali."
Bola mata emas Telsia kembali menatap Leana.
"Sama seperti diriku yang mempunyai kekuatan tapi tidak dapat berbuat apapun, kau yang dapat bergerak dengan bebas namun tidak memiliki kekuatan, kita akan bekerja sama untuk saling melengkapi."
Telsia mengarahkan tangannya mepada Leana dan seketika tubuhnya terangkat dan terhempat ke arah pintu.
Leana yang terkejut mencoba meraih ke arah Telsia namun pintu dihadapannya perlahan menutup dan ia semakin tenggelam ke dimensi lain.
"Kau tidak perlu memikul semuanya sendirian karena kau juga adalah korban dari keegoisan takdir dunia."
Suara Telsia adalah satu-satunya yang berada di bersamanya hingga ia membuka matanya lagi di tempat lain.
***
"..nya..."
"nyo..na..."
"NYONYA LEANA!"
"Hah!!"
Leana membuka matanya dan mendapati ekspresi khawatir bayangan Alphiella di hadapannya.
Selain kelima bayangan yang dibawanya, ia melihat sosok lain yang familiar.
"Dean..."
Dean mengencangkan giginya. Ia mengangkat tangannya tinggi dan kemudian mengayunkannya cepat kepada Leana.
"Dasar BODOH!!"
"Uegh!!"
Sembari membulatkan tubuhnya di lantai, Leana meringis memegangi kepalanya. Ekspresi Dean saat ini sangatlah seram lebih dari yang pernah dilihat mereka. Bahkan sosok iblis bisa saja muncul di belakangnya.
Saat denyutan di kepala Leana mereda, ia pun menoleh dengan air mata di sisi matanya.
"Kenapa kau memukulku?!"
"Aku yang seharusnya bertanya! Apa yang selama ini kau lakukan?!"
"Apa??"
Leana membenarkan posisinya dan duduk menghadap Dean.
"Seperti rencana, aku ke sini untuk bertemu dengan penjaga labirin sihir dan membentuk kontrak dengannya!"
"Setidaknya beritahu kami terlebih dahulu! Tidakkah kau lihat bayangan Alphiella khawatir setengah mati mencarimu?!"
"Itu... Aku minta maaf tapi aku juga tidak tahu kalau bakal di teleportasi seperti itu! Lagi pula aku hanya beberapa jam menghilang!"
"DUA MINGGU!"
Leana tertegun. Matanya melebar tidak percaya.
"Apa...?"
"Kau menghilang selama dua minggu di sini! Apakah kau tahu betapa paniknya aku saat mengetahui kau belum kembali bahkan setelah satu minggu saat kepergianmu?!"
Leana terdiam. Ia memikirkan kata-kata yang dilontarkan oleh Dean kepadanya.
"Dua... Minggu..?"
"Benar, bodoh."
'Berhenti menyebutku bodoh!' Leana memicingkan matanya kesal kepada Dean.
"Hari ini...?"
"Hari ini pas dua minggu semenjak kepergianmu dari Alphiella."
Leana melebarkan matanya.
"HAAA?!"
Dua minggu. Bertepatan pada hari ini adalah hari kepulangan Forde, suaminya. Hari ini juga ia seharusnya sudah kembali ke keduaman Grandall.
Leana segera bangkit dan berlari ke arah pintu keluar yang telah diberi tanda oleh Telsia. Ia hampir tidak menghiraukan seruan dari Dean dan bayangan Alphiella.
Saat Dean berhasil menyusulnya, ia berteriak di sampingnya.
"Jangan asal berlari! Kita tidak tahu jalan keluar--"
"Aku mengetahuinya! Berikan tanganmu!"
Sambil berlari, Leana menarik paksa tangan Dean dan simbol di tangannya pun kembali bercahaya.
Dean yang merasakan sesuatu dari tangannya pun menoleh ke jalan di hadapannya dan mendapati sebuah tanda menuju jalan keluar.
"Ugh! Dasar!"
Menahan rasa kesalnya, Dean berlari di depan Leana untuk menjaganya.
Setelah berlari setidaknya selama setengah jam, mereka pun akhirnya menemukan pintu keluar tidak jauh dihadapan mereka.
'Akhirnya! Aku harus segera bergegas!"
Seketika Leana melebarkan matanya. Ia mendapati sesuatu datang ke arah Dean dari samping kanannya.
Leana menggunakan teknik bayangan untuk mempercepat gerakannya dan berhasil menarik Dean menghindari sesuatu yang menyerangnya.
Saat keduanya tersungkur, mereka menoleh dan melihat sebuah monster tidak jauh dari mereka.
"TIDAK PERLU MELAWAN MONSTER ITU! AYO CEPAT PERGI KELUAR DARI LABIRIN!" seru Leana.
Mereka pun bergerak cepat keluar dari labirin besar dan saat menginjakan kaki di area luar, monster tersebut tidak dapat mengikuti mereka karena adanya sihir penghalang.
Melihat hal tersebut, mereka pun bernapas lega.
"Sepertinya kita aman sekarang. Sebelum kembali berangkat, lebih baik kita--"
Brugh
Dean menoleh cepat kepada Leana yang terjatuh ke lantai. Ia menjadi pucat saat melihat sebuah cairan merah mengalir keluar dari tubuhnya.
"NYONYA LEANA!!"
Mereka berseru dan lekas mengecek kondisinya. Sepertinya serangan dari monster tadi telah mengenai Leana hingga sisi badannya sobek dengan cukup besar.
"Nyonya Leana! Rein!! Bertahanlah, Rein!!"
Tanpa pikir panjang, Dean segera mengangkat Leana.
"TELEPORT!"
Dalam sekejap, ia sudah berada di kamar Leana dan menaruh tubuhnya di kasur. Saat bayangan lain datang menyusulnya, ia segera memberi perintah.
"Siapkan air hangat dan kain! Panggil Alscan dan dokter segera! Bilang kepada penghuni Alphiella bahwa tidak ada yang diperbolehkan berkunjung ke sini siapapun dirinya! SEKARANG!"
"Segera Laksanakan!"
Ketika bayangan Alphiella pergi menjalankan perintah mereka, Dean lekas mengecek luka di tubuh Leana.
Leana yang tidak sadarkan diri bernapas dengan berat dan tubuhnya perlahan memucat serta menjadi dingin.
Saat ia mendapatkan air dan kain, Dean segera membersihkan luka majikannya. Ia bahkan tidak menghiraukan Alscan dan Arcan yang datang meminta penjelasan.
Ia terlalu fokus kepada keselamatan Leana.
'Tolong bertahanlah, Rein! Jangan berani kau berhenti samapi di sini!'
Di saat yang sama, Forde telah melangkahkan kakinya di kediaman Grandall bersama pasukannya. Ia tidak sabar untuk bertemu kembali dengan istrinya setelah sekian lama.