This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Alphiella Shadow’s Life



Setelah sukses menjalin kerjasama dengan Grand Duke Volfelance, Leana kembali menjalani kesehariannya. Ia beteleportasi ke Alphiella dan mengerjakan dokumen yang menumpuk di ruang kerja.


Saat ia selesai, matahari sudah berada diatas kepalanya dan Leana pun memutuskan untuk berjalan melihat-lihat mansion Alphiella. Saat berjalan di lorong, ia menemui sosok Arcan.


“Arcan”


Arcan berhenti dan menoleh kearahnya.


“Nyonya Leana, selamat siang.” Salamnya dengan sopan.


“Apakah kamu sendirian? Adde tidak ada?”


“Jika anda mencari tuan Adde, ia sedang menjalani misinya dalam mencari anggota bayangan lainnya.” Ujar Arcan.


Leana mengedipkan matanya dan berpose seakan mencoba untuk mengingat sesuatu kemudian kembali menatap Arcan.


Arcan terlihat sama seperti apa yang diingatnya di kehidupan pertamanya.


Rambut berwarna ungu gelap lurus dengan poninya yang menutupi sebagian mata dengan warna yang sama. Ia memiliki sifat pendiam namun bertanggung jawab tinggi.


Codename Veil diberikan kepadanya karena ia sangat ahli dalam menyembunyikan sesuatu, baik itu dirinya atau sesuatu yang ingin ia sembunyikan.


Sebagai Veil, mata yang ditutupi adalah mata sebelahnya dan rambutnya berubah menjadi warna hitam. Sifatnya menjadi lebih pendiam dan lebih banyak menggunakan isyarat tubuh untuk berkomunikasi.


Veil sangat ahli menggunakan belati sama seperti Dean. Dalam medan pertarungan, keduanya adalah pasangan kombo terbaik dan hampir tidak terkalahkan.


Arcan sendiri awalnya merupakan rakyat biasa yang diculik dan dijadikan budak.


“Bagaimana pelatihanmu sebagai butler?”


“Semuanya berjalan lancar. Tuan Adde juga banyak membantu dan memberi saya tips.”


Mendengar kata 'tips', tiba-tiba saja Leana merasakan sebuah deja’vu.


“Tips apa?”


“Salah satunya seperti bagaimana saya harus berhati-hati agar anda tetap dalam keadaan baik-baik saja baik secara mental maupun fisik jika saya ingin menjaga nyawa saya ini.”


‘Adde… tips macam apa yang kau berikan kepada Arcan?! …tidak, apakah ini tips yang berawal dari Albert?’ Leana memasang wajah aneh.


Leana memijit pelipisnya dan kemudian menepuk pundak Arcan dengan ekspresi serius.


“Arcan, tolong jangan jadi Albert yang ketiga.”


Leana sendiri tidak yakin apakah Adde sudah menjadi Albert keduaatau tidak. Ini semua hanyalah firasatnya saja.


“Maaf, saya tidak mengerti maksud anda, nyonya…” Tanya Arcan sambil mengedipkan matanya berkali-kali.


“Tidak perlu dipikirkan. Kalau begitu aku akan berkeliling dulu.”


“Baik, nyonya. Semoga hari anda menyenangkan.”


Veil membungkuk memberi salam dan Leana kembali berjalan menyusuri mansion Alphiella.


Saat ia melewati dapur, ia dapat mendengar suara berisik seseorang. Di sana sedang berkumpul Zenox, Lester, Akin dan koki mereka, Nela.


Nela adalah seorang rakyat jelata yang suka memasak. Karena ia miskin, biasanya ia membantu di sebuah pub dan terkadang belajar memasak dari koki tempat tersebut. Meski begitu, uang yang diperolehnya tidak cukup untuk sepenuhnya menyembuhkan adiknya, Finn.


Leana menawarkan pekerjaan kepada Nela dengan ganti ia akan memberikan akomodasi agar Finn dapat disembuhkan.


Karena Alphiella yang belum mempekerjakan dokter, ia terpaksa harus memisahkan keduanya untuk sementara waktu, Nela setuju untuk bekerja di Alphiella selama Finn dapat disembuhkan.


Saat ini Finn sedang dirawat di rumah sakit ternama di Adreandel dan Nela sesekali datang menjenguknya.


“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”


“UWAAHHH!!” Zenox, Akin, dan Lester berteriak.


Mereka dengan ekspresi terkejutnya menoleh ke belakang dan mendapati Leana yang tengah berdiri di depan pintu dapur.


“Nyonya Leana!” Seru Lester.


“Nyonya! Ada apa anda kemari?” Tanya Zenox.


“Nyonya… tolong sayangi jantung saya…” ujar Akin yang mengelus dadanya. Entah kenapa kata-katanya mengingatkan kepada seseorang.


Leana menatap Akin dengan seksama.


Akin memiliki rambut hitam dan kulit yang gelap dan mata berwarna kemerahan. Akin memiliki sifat yang bebas dan sedikit kekanak-kanakan namun ia adalah orang yang mempunyai kesetiaan tinggi.


Codename Eson diberikan kepadanya karena ia mengingatkan Grand Duke kepada rekannya yang memiliki sifat yang sama. Ia berharap Akin dapat tumbuh hebat seperti rekannya tersebut.


Sebagai Eson, ia memiliki rambut merah dengan warna kuning diujungnya. Warna matanya juga berubah menjadi kekuningan. Eson memiliki sifat yang lebih tajam dibandingkan Akin.


Eson memiliki kemampuan di tinjunya sehingga ia menggunakan gauntlet sebagai senjatanya.


Eson juga merupakan rakyat biasa yang diculik dan dijadikan budak.


Leana mengangkat tangan kanannya dan mencoba untuk menenangkan mereka.


“Tarik napas terlebih dahulu. Wajah kalian masih acak-acakan.” Ucapnya.


Leana menarik miring sedikit kepalanya untuk melihat sosok Nela di belakang ketiganya.


“Nela, apa yang sedang kau buat sampai membuat tiga orang ini jadis eperti sekarang?"


Ketiganya dengan segera memberikan celah untuk menampilkan sosok Nela yang masih memegang sendok masak.


“Maafkan saya nyonya. Mereka ingin makan siang lebih awal jadi saya sedang membuatnya.” Jelas Nela.


“Hmm, ternyata begitu.” Leana menatap ketiganya lagi dan mendekati Nela. “Apa menu hari ini?”


“Hari ini menunya adalah omelette dan roti lapis keju.”


Leana mengangguk. Ia menangkap sebuah buku resep tidak jauh dari mereka.


Ketika Nela mulai bekerja di Alphiella, Leana memberinya resep dari dunia modern yang dapat diingatnya agar dapat dibuat olehnya.


Kini perlahan ia dapat merasakan kembali makanan yang pernah di makannya di dunia modern. Ia cukup merindukan masakan dari sana.


“Baiklah kalau begitu. Lanjutkan tugasmu, Nela.”


“B-Baik, nyonya!” jawabnya dan langsung melanjutkan tugasnya.


Leana tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan dapur. Sebelum benar-benar pergi, ia mengintip dari sisi pintu dan menatap ketiga orang yang tidak ada hubungannya di dapur masih berdiri di sana.


“Akin, Zenox, Lester! Jangan terlalu dekat dengan Nela karena kalian akan mengganggunya. Jika kalian tidak mau duduk manis di meja makan, lebih baik kalian kembali bekerja dahulu sampai makanan kalian selesai!” ujar Leana dan kemudian pergi.


Diperjalanannya Leana bertemu dengan Celitta yang tengah membawa banyak gelas kaca dipelukannya.


“Ilya, mau kemana kau membawa banyak gelas begini?”


“Ah! Nyonya Leana, selamat siang!” sapa Celitta.


Codename Ilya diberikan karena saat Grand Duke bertemu dengannya, Ilya memiliki sifat yang sangat berhati-hati dengan sekitarnya. Hal tersebut mengingatkannya kepada salah satu karakter dalam cerita yang terlihat lemah namun memiliki peran sangat penting.


Sebagai Ilya ia memiliki rambut berwarna putih dan matanya sedikit lebih merah. Ia membawa sikap waspada dan jarang menunjukan senyumannya.


Ilya memiliki bakat dan pengetahuan mengenai racun dan obat-obatan.


Cellita adalah anak dari seorang alkemis di suatu desa kecil. Suatu hari tiba-tiba saja desa tersebut di serang dan hanya membawa anak-anak yang selamat dari penyerangannya itu


“Saya ingin membuat ramuan baru jadi saya mengambil beberapa gelas kaca dari Alscan! Saya sedang dalam perjalanan menuju laboratorium!” ujarnya dengan ceria.


“Apakah kau perlu bantuan?”


Ilya segera menggelengkan kepala dan mundur sedikit dari Leana.


“Tidak, nyonya! Anda pasti sibuk, membawa sebanyak ini bukanlah masalah untuk saya! Kalau begitu saya permisi duluan, nyonya.” Ucap Ilya dan melesat pergi meninggalkan Leana.


Leana menghela napas dan tersenyum menatap punggung Ilya yang makin mengecil. Ia pun melanjutkan perjalanannya berkeliling mansion.


Saat tiba di taman, ia mendapati Corrian dan Solas sedang mengurus pot tanaman.


Keduanya yang menyadari kedatangan Leana segera menghentikan pekerjaan mereka dan menyambutnya.


“Selamat siang nyonya Leana.” Ucap keduanya.


“Apakah anda sedang beristirahat?” tanya Corrian.


“Benar. Aku sedang berkeliling melihat keadaan disekitar mansion.” Jawabnya.


Corrian memiliki rambut hitam dan mata sipit berwarna hijau gelap. Ia memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi hingga mampu bersikap normal dalam menghadapi siapapun.


Codename Liam diberikan kepadanya untuk menutupi identitasnya yang merupakan warga dari negara lain.


Sebagai Liam ia memiliki rambut kuning pastel dengan mata berwarna biru. Ia memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan Corrian namun biasanya orang yang memiliki insting tajam tidak akan mampu mempercayai dirinya yang mampu berubah sikap berdasarkan situasi.


Liam mampu mengendalikan benang dan rantai kemudian menggunakannya sebagai senjatanya.


Corrian merupakan imigran dari wilayah timur. Ia selalu mendapatkan caci maki dari orang di sekitarnya karena ia adalah orang luar. Suatu hari ia diculik bersama dengan anak yang sering merendahkannya dan menjadi budak.


Solas memiliki rambut hitam kehijauan dan mata berwarna hijau. Ia memiliki sifat pendiam namun memiliki banyak kata saat sedang menjelaskan sesuatu.


Codename Xero diberikan kepadanya dengan harapan agar ia mendapatkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan.


Sebagai Xero ia memiliki rambut hijau daun dan mata berwarna jingga. Ia memiliki sifat yang sama dengan Solas namun hanya membuka mulutnya jika diperlukan.


Xero memiliki keahlian dalam menyempurnakan teknik bayangan paling tinggi dibandingkan dengan anggota lain.


Solas dijual oleh keluarganya yang sedang terlilit hutang cukup dalam.


“Jika anda ingin beristirahat di taman, apakah perlu saya bawakan teh dan kue untuk anda ke sini?” tanya Solas.


“Tidak perlu. Aku hanya ingin melihat-lihat saja sekaligus mencari hal baru untuk dilihat.” Ucap Leana.


Keduanya mengangguk dan terdiam menunggu Leana membuka suara.


“Ekhm, aku tidak sempat menanyakan hal ini ke yang lain tapi aku hanya ingin bertanya menganai bagaimana kesan kalian tinggal di Alphiella.” Tanya Leana dengan sedikit malu.


“Bagi saya tidak ada yang lebih baik daripada tinggal di Alphiella.” Jawab Corrian.


“Saya setuju dengan Corrian. Bagi saya sendiri, tidak ada yang lebih saya syukuri dibandingkan dengan tinggal di sini. Memberikan identitas dan kehidupan baru untuk kami adalah sebuah berkah yang tidak semua orang dapat temui.” Jelas Solas.


Leana hanya mengangguk dan tersenyum.


“Aku senang kalian bisa hidup dengan baik di sini. Meskipun harus kuakui, Alphiella bukanlah tempat terbaik…”


“Jangan bilang begitu, nyonya!” seru Corrian.


“Nyonya mengatakan bahwa anda akan menghidupkan kembali Alphiella! Saya percaya dengan kata-kata anda dan kami akan berusaha untuk mewujudkan hal tersebut!” tambah Solas.


Leana sedikit terkejut dengan keduanya yang tiba-tiba panik jadi ia segera menenangkan mereka.


“Be, benar. Alphiella akan kembali menjadi wilayah yang hidup, itu bukanlah kata-kata belaka. Maafkan aku karena mengatakan hal seperti itu.” Ujar Leana.


Corrian dan Solas menggelengkan kepalanya.


“Tidak nyonya, anda tidak salah.” Ucap Liam.


“Nyonya Leana tidak perlu mengkhawatirkan hal tidak penting dan cukup memberi kami arahan agar dapat mencapai impian tersebut.”


Leana mengangguk dan tersenyum lembut kepada keduanya. Ia menepuk pelan pundak keduanya untuk memberi semangat.


“Kalau begitu aku akan mempercayai kerja bagus kalian untuk kedepannya.”


“Serahkan kepada kami, nyonya.” ucap keduanya.


“Sepertinya aku telah mengambil waktu kalian cukup lama, aku akan segera pergi.”


“Baik, nyonya.”


Leana berjalan masuk kembali ke mansion. Kali ini tujuannya adalah laboratorium milik Alscan.


Ketika Leana mengetuk pintu laboratorium beberapa kali, ia tidak mendapat jawaban apapun.


“Alscan, kau masih hidup?” seru Leana sembari membuka pintu.


Di dalam laboratorium yang sedikit berantakan terdapat Alscan yang tersungkur di mejanya tidak bergeming dan Andrea yang tengah mengerjakan kristal tidak jauh darinya.


Andrea yang mendengar pintu terbuka pun tersadar akan kedatangan Leana.


“Nyonya Leana! Ada keperluan apa anda di sini?”


“Aku hanya ingin melihat kondisi Alscan, kau sendiri bagaimana Andrea? Kenapa tidak bekerja di ruanganmu?”


“Ah! Saya sedang mengerjakan pesanan dari tuan Alscan jadi saya bekerja disini untuk sementara waktu.” Jelas Andrea.


“Jika memang kau tidak masalah maka tidak apa-apa.”


Leana mengelus kepala emas Andrea dengan lembut dan Andrea hanya dapat menganguk dengan sipu di pipinya.


“Sepertinya aku tidak bisa menyapa Alscan sekarang jadi bilang saja kepadanya aku sempat mampir untuk menyapa dan jaga kesehatan juga.”


“Saya akan sampaikan kepada tuan Alscan!”


“Oke, terima kasih Andrea. Aku pamit dulu.”


Puas melihat-lihat mansion, Leana pun berjalan kembali menuju kamarnya untuk berteleportasi ke Grandall. Melihat kondisi Aphiella yang perlahan tumbuh dengan baik membuatnya lega.


Awalnya ia khawatir benih yang ditemukannya bukanlah kunci dari rencananya untuk menghidupkan kembali wilayah Alphiella, tetapi sepertinya teorinya benar dan rencananya dapat berjalan dengan lancar.


Ia juga senang karena penghuni Alphiella dapat menjalani kehidupan barun mereka dengan bahagia meskipun tidak sempurna.


Leana sendiri sebenarnya meniru cara Grand Duke Volfelance dan ia juga ingin seperti dirinya yang memberikan kehidupan lebih baik bagi seseorang yang berhak mendapatkannya. Seperti dirinya dahulu.